
Cashel merubah raut wajahnya setelah membaca surat dari Ayah kandungnya. Surat pertama dan terakhir, hadiah ulang tahun pertama dan terakhir, semua nampak menyedihkan bagi Cashel saat menatap dua benda yang berada dalam pangkuannya kini.
Hari-hari yang terlewati saat ia sering dengan Arga kini kembali berputar di memori.
"Kamu sedih, Nak?" tanya Bian.
"Iya Ayah. Aku baru aja ketemu sama Ayah tapi dia pergi lagi. Meskipun Ayah dulu yang ninggalin aku dan Ibu, tapi Ayah udah minta maaf dan menggantinya dengan darah. Coba aja Ayah nggak ngasih darah ke aku, apa aku yang akan sekarang ada menggantikan posisi Ayah di atas sana?" Cashel menatap kedua orang tuanya.
"Jangan pernah sekalipun kamu bicara seperti itu, Ibu nggak suka, Cashel. Ibu akan marah kalau kamu bicara seperti itu lagi!"
"Maaf," kata Cashel menunduk lemah.
Bian seketika mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala sang anak. Ia tahu pasti sedih mendapat sedikit bentakan dari ibunya.
"Yang kita bisa lakukan sekarang hanya doa, doa untuk Ayah. Cashel sama Ayah Bian itu sama. Bedanya, Cashel masih punya Ibu, masih punya Ayah Bian, nenek, kekek, Ayah udah nggak punya. Jadi ada hal yang wajib untuk kamu syukuri. Udah sedihnya, ya. Bisa, kan Cashel bahagia lagi buat kita? Buat Ayah Arga juga. Sayang nggak kamu sama Ayah Bian?"
"Sayang banget."
"Ya udah sini peluk. Ayah juga sayang sama kamu sama seperti Ibu sayang ke kamu. Meskipun kasih sayang Ibu sama Ayah lebih besar Ibu, tapi buat Ayah, apa pun yang berhubungan dengan Cashel dan Ibu juga terhubung dengan Ayah. Kamu harus percaya sama Ayah, meskipun Ayah bukan Ayah kandung kamu. Ayah akan berikan limpahan kasih sayang yang tidak pernah kamu dapatkan sebelumnya. Selalu ingat pesan Ayah Arga. Jadi anak sholeh." Bian mengecup kening anak kecil itu. Senyum tiba-tiba kembali terukir di bibir Cashel.
"Terima kasih udah mau jadi Ayah aku. Aku juga sayang Ayah." Anak itu membalas pelukan Bian dengan erat.
Malam itu berlanjut dengan bercerita dan bersenda gurau. Tawa yang renyah dari ketiga manusia yang berada di bawah saung itu menunjukkan bahwa ketiganya sedang merajut kebahagiaan dengan harapan semoga tawa itu akan selalu ada di setiap waktu dan saat.
Hingga tiba akhirnya mereka sudah lelah dan memutuskan untuk mengistirahatkan diri di kamar masing-masing.
__ADS_1
"Mas," panggil Nuna ketika mereka sampai di kamar dan sudah siap untuk tidur.
"Apa Sayang?" jawab pria itu seraya merebahkan diri di pangkuan sang istri.
Sikap manja dari Bian rupanya membuat senyum Nuna muncul. Ia mengelus pelan puncak kepala sang suami sembari menatap pria yang berada di bawahnya dengan tatapan dalam. Mendapat tatapan seperti itu membuat Bian mengubah posisinya menjadi menghadap perut sang istri.
"Cepet hadir di perut Ibu, ya, Nak. Biar Ayah bisa ngerasain direpotin pas Ibu minta apa-apa dan fitnah kamu bahwa ini keinginan kamu. Biar nanti Ayah juga ngerasain begadang," ujar Bian mengusap perut Nuna dengan kepalanya.
"Sabar, Mas. Baru beberapa hari kamu jadi suami aku masa iya mau minta aku lansung hamil, ya, nggak bisa. Kamu adalah laki-laki yang baik untuk jadi suami dan Ayah. Aku yakin, Tuhan akan kasih cepat kamu momongan karena Tuhan tahu, kamu sudah siap jadi keduanya. Siap jadi Ayah dan suami. Tuhan pasti melihat interaksi kamu dan Cashel selama ini, jadi tenang dan sabarlah, Mas."
"Mas masih belajar menjadi yang terbaik untuk kalian. Kalau tiap pulang kerja Mas begini terus kayaknya capenya akan ilang," goda Bian.
"Mas, aku minta maaf, ya, kalau ada omongan Cashel yang nyakitin kamu. Tadi kamu pasti sedih sama omongan Cashel yang ingin mencetak fotonya sama Arga. Dan melupakan kenangan kamu sama dia."
Bian seketika bangkit dari berbaringnya dan duduk di samping wanita itu. Menggenggam tangan halus wanitanya dan, "Mas nggak apa-apa, kalau ditanya sedih, sih iya ada sedih. Tapi nggak apa-apa, Sayang. Cashel masih kecil, dia akan bicara sesuai sama apa yang ada dalam pikirannya, dia masih polos. Itu sebabnya selalu Mas bilang kita harus jejali dia dengan hal baik. Pikirannya dia ibarat kertas masih bersih, kita coret kertas itu dengan apa pun hal yang baik. Mas nggak masalah kok dia mau apa yang terpenting masih dalam hal positif. Masih hal dalam hal yang baik. Sebagai orang tua kita hanya bisa dukung dan arahin kalau salah jalan. Jangan terlalu dipikirkan hal yang seperti ini. Kita istirahat sekarang, nyonya Bian nggak boleh begadang dan banyak pikiran."
Sesuai dengan janji Bian untuk datang ke rumah Bu Ningsih di hari libur, mereka di hari sabtu pagi sudah dalam perjalanan menuju kesana. Sepanjang perjalanan di penuhi dengan suka cita dan cerita bahagia. Entahlah, mereka seperti sedang dilimpahi kebahagiaan oleh Tuhan.
Begitu sampai di rumah Bu Ningsih, kebahagiaan dan kesempurnaan keluarga itu terasa semakin lengkap dan terlihat nyata. Mereka bercengkrama seakan hubungan mereka tidak pernah ada masalah. Bu Ningsih pun tampak jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu. Beliau sudah kembali beraktivitas seperti biasa.
Weekend dua hari itu mereka habiskan di rumah Bu Ningsih. Semua foto Arga dan Cashel sudah Bian kantongi. Akan mereka cetak saat perjalanan pulang nanti. Bian sudah menata hatinya sejak semalam, bahwa ia harus legowo dengan hal kecil yang dilakukan Cashel ini. Ia tak boleh lagi menunjukkan kecemburuannya di depan Nuna agar wanita itu juga tidak kepikiran.
"Sering-sering main ke sini, Ibu senang kalian kunjungi Ibu seperti ini."
"Insyaallah, Bu. Kami akan sering ke sini jika ada waktu. Atau kalau Ibu mau ke rumah kami juga nggak masalah, bilang aja sama istri saya, nanti biar supir saya jemput Ibu. Nggak merepotkan kok Bu. Kita, kan keluarga."
__ADS_1
"Pasti, Ibu akan kabari anak gadis Ibu kalau mau nginep di sana. Hati-hati di jalan, ya. Mudah-mudahan Ibu bisa cepat dapat cucu lagi," kata Bu Ningsih mengelus perut datar Nuna yang dijawab aamiin oleh sepasang suami istri itu.
"Nak, ini foto yang kamu kirim di HP Ayah banyak banget. Mau dicetak semua?" Bian bertanya saat ia melihat foto layar ponselnya. Mobil sudah melaju dengan perlahan.
"Enggak, sepuluh aja."
"Nggak kebanyakan? Nanti kamar kamu foto Ayah semua dong. Foto kamu nggak ada."
"Kan udah sama Ayah. Nanti yang sama Ayah Arga tiga, sisanya foto kita."
Bian yang semula menundukkan kepala di layar ponsel seketika menatap ke atas lalu bergeser pada Cashel.
"Mau cetak foto Ayah juga?"
"Iya, kenapa? Kalau Ayah Arga dapat sesuatu dari aku, Ayah Bian juga pasti dapat. Dan lebih banyak, soalnya yang jagain aku sama Ibu, yang bikin aku bahagia, yang rawat aku, yang besarin aku, yang kasih aku rumah bagus, kasih kamar besar, semuanya Ayah Bian yang kasih. Jadi Ayah Bian dapat bagian yang banyak. Makasih udah buat Ibu banyak ketawa lagi, Ayah." Cashel memeluk pinggang Bian dengan erat.
Bian terharu dengan segala ucapan dari Cashel. Tak ia sangka Cashel akan mengatakan bahwa apa pun yang diberikan pada Arga, ia juga akan mendapatkannya dan lebih banyak.
"Ayah aja yang dipeluk, ibunya enggak?" sela Nuna merasa cemburu.
Bian seketika merentangkan kedua tangannya, kedua manusia itu akhirnya berada dalam pelukan Bian.
...TAMAT...
*terima kasih buat yang udah mengawal Bian dan Nuna hingga akhir cerita, ya. maaf jika banyak kekurangan dalam cerita. salam sayang dan sehat untuk kalian semua đŸ˜˜.
__ADS_1
monggo main ke rumah Dave dan Rinjani jika berkenan ☺*