
"Alhamdulillah, Bu. Mas Bian mau nerima aku apa adanya. Mau nerima Cashel sebagai anak juga, sayang dan cintanya dia ke Cashel seperti anak sendiri. Ibu mau makan apa? Biar aku masakin." Nuna merangkul pundak Bu Ningsih dan menuntunnya masuk rumah.
"Jangan terlalu baik sama Ibu. Ibu malu kalau kamu kayak gini. Biarin aja Ibu urus diri Ibu sendiri. Ibu masih bisa kok. Rasanya Ibu untuk minta maaf aja Ibu terlalu malu. Minta maaf aja nggak cukup buat menebus apa yang sudah Ibu lakukan dulu. Hukumlah Ibu, Nuna!"
"Ibu ini ngomong apa? Semuanya buat aku sudah berlalu. Sudah jangan dibahas lagi, yang sudah-sudah, ya sudah. Kita lupakan saja, toh semuanya sudah baik-baik saja. Aku sudah sembuh, aku sudah mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari apa yang aku mau. Jadi nggak usah merasa bersalah apalagi malu karena Ibu banyak salah. Kita sama-sama pendosa, hanya beda jalur saja."
"Meskipun Ibu tahu ini sangat percuma, tapi Ibu tetap ingin melakukannya. Ibu tetap ingin minta maaf sama kamu. Maafin Ibu, ya. Seharusnya Ibu mendengar kata-kata Arga. Coba saja Ibu mendengar apa kata dia, pasti setidaknya dia masih ada di sini sekarang. Dia nggak pergi ninggalin Ibu, dia pasti marah sama Ibu." Bu Ningsih kembali terisak.
"Ibu, semua yang terjadi di diri kita, apa yang terjadi sama kehidupan kita, itu sudah ada campur tangan dari Tuhan. Kita tidak perlu menyesalinya karena apa pun yang terjadi itu sudah pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Hal terpahit dan sesakit apa pun itu pasti ada sesuatu yang bisa kita jadikan pelajaran, untuk kita bisa menjadi lebih baik kedepannya. Ini memang cara Tuhan untuk menegur kita, untuk mengingatkan kita. Tapi terkadang kita yang salah paham dengan berpikir yang tidak-tidak. Sudah, ya Bu. Lebih baik sekarang kita masuk, Ibu main sama Cashel, aku yang masak. Aku masih ingat makanan kesukaan Ibu. Nak, Bawa nenek masuk. Ibu mau belanja dulu."
Nuna lalu melenggang pergi sebelum Bu Ningsih menjawab ucapannya. Padahal beliau tak berselera untuk makan, beliau tak merasakan lapar sama sekali meski sejak kemarin belum terisi makanan yang mengenyangkan.
Nuna berjalan santai di pinggiran perkampungan yang cukup padat penduduk itu. Delapan tahun yang lalu ia sering kali menapaki aspal yang terdapat banyak lubang di tengah-tengah aspal. Ia berjalan pelan sembari menikmati penampakan rumah-rumah yang ternyata sudah banyak yang berubah. Banyak rumah yang jauh lebih bagus dan besar dari delapan tahun yang lalu.
Nuna jadi ragu apakah penjual sayur yang dahulu ia jadikan langganan masih berjualan atau tidak. Dan jawabannya rupanya terjawab ketika pertanyaan itu muncul di dalam kepalanya.
__ADS_1
"Syukurlah masih jualan. Lebih besar tokonya sekarang," gumam Nuna pelan. "Bu, ayamnya masih ada? Sekalian bumbu sotonya."
"Kamu Nuna, ya? Makin cantik aja kamu. Dulu udah cantik, sekarang makin cantik. Tadi yang bawa bawa mobil hitam itu suami kamu?" Penjual itu bertanya sembari menyiapkan apa yang diminta Nuna.
"Ah Ibu bisa aja. Iya, tadi itu suami saya."
"Kamu kok masih baik sama mantan mertua kamu itu, dia dulu jahat sama kamu. Ngapain dibaikin? Nanti dia ngelunjak. Habis kamu tinggal juga dulu suka ngejelekin Lita. Padahal awalnya di puja, setelah Lita keguguran dijelekin sana sini."
"Saya nggak mau peduli itu, Bu. Saya hanya mau berbuat baik saja sama setiap orang yang kenal saya. Saya mau bermanfaat untuk orang lain. Untuk masalah balasan, saya nggak mau berharap lebih banyak dari apa yang saya beri. Semakin saya berharap sebuah balasan, maka saya nggak akan dapat apa-apa dari Tuhan. Jadi semua berapa, Bu?" Nuna ingin menyudahi saja pembicaraan yang dirasa kurang bermanfaat itu.
Nuna menyerahkan satu lembar uang 100 ribu dan, "Kembaliannya buat Ibu aja. Atau nanti barangkali Bu Ningsih belanja di sini, bisa buat bayar makanannya." Nuna melenggang pergi dari sana.
Beberapa orang yang baru datang untuk belanja hanya melihat Nuna dengan senyum ramah dan rasa kagum yang mereka simpan dalam hati. Tidak bisa dipungkiri bahwa apa pun yang menempel di tubuh Nuna terlihat mewah. Sangat berbanding terbalik dengan beberapa tahun lalu saat ia masih menjadi korban lidah mertuanya.
Nuna bejalan dengan cepat agar segera sampai di rumah. Selain Bu Ningsih dan anaknya yang harus segera makan, ia juga merasa perutnya sudah sangat perih sejak tadi.
__ADS_1
Begitu sampai rumah, ia melihat Cashel dan Bu Ningsih yang sedang berada di kamar yang pernah menjadi saksi bisu bahwa ia dan Arga pernah tidur di ranjang yang sama. Senyum tipis tersungging saat melihat Cashel dan Bu Ningsih melihat mainan yang dibeli Arga dan rupanya semua mainan itu diperuntukkan untuk Cashel, hanya saja Arga tak punya keberanian untuk diberikan pada sang anak.
Nuna pergi dari pintu kamar beberapa saat setelah menikmati pemandangan hangat itu. Ia cepat-cepat masak agar bisa segera makan.
"Ibu bantuin, ya." Bu Ningsih muncul di tengah-tengah proses memasaknya.
"Aduh, Ibu jangan. Ibu duduk diam aja sama Cashel. Nanti aku panggil kalau udah matang." Tangan Nuna yang tadinya sibuk tiba-tiba berhenti. Ia teringat dengan ucapan Bu Ningsih yang tidak menyukai rasa masakannya.
"Maaf Bu, aku lupa kalau Ibu nggak suka sama rasa masakan aku. Kalau gitu Ibu yang ngasih bumbu, ya. Biar aku yang cuci sayurannnya."
"Tidak perlu." Tangan Bu Ningsih menahan tangan Nuna. "Masakan kamu sebenarnya enak. Cocok juga di lidah Ibu, hanya saja dulu Ibu terlalu gengsi untuk mengakui kalau masakan kamu lebih enak daripada Ibu. Ibu nggak mau kalau Arga jadi makin sayang sama kamu karena masakan kamu yang jauh lebih enak. Ibu nggak mau kamu lebih unggul dalam hal apa pun. Makanya Ibu dulu bilang kalau Ibu nggak cocok sama rasa masakan kamu."
"Ya udah kalau gitu Ibu balik lagi aja ke depan. Aku akan selesaikan ini dengan cepat."
"Terima kasih, ya, Nuna. Dulu kehadiran kamu sangat tidak Ibu harapkan. Tapi sekarang Ibu tahu kenapa Tuhan menghadirkan kamu dalam hidup Ibu. Harapan Ibu kali ini cuman satu. Ibu diberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik seperti Arga. Supaya nanti ketika Ibu dipanggil sama Tuhan, Ibu sudah...yah setidaknya ada kebaikan di diri Ibu."
__ADS_1
"Sejahat apa pun orang pasti punya setitik nilai kebaikan di dalam dirinya. Ibu masih punya kesempatan untuk merubah semuanya. Tuhan berikan kesempatan itu, Tuhan sayang sama Ibu. Jangan merasa sendirian, ada aku dan Cashel yang akan selalu berdiri di samping Ibu." Nuna memeluk Bu Ningsih agar beliau merasa tak sendirian.