
Tidak pernah hidup jauh dari anak semata wayangnya membuat bu Ningsih akhir-akhir ini tidak memiliki semangat untuk hidup. Beliau seperti tidak tahu lagi apa gunanya hidup tanpa anaknya. Kesehariannya beliau gunakan untuk menangisi sang anak saja.
Bu Ningsih sudah lelah mencari anaknya itu kemana-mana. Satu persatu semua teman Arga sudah beliau tanyai. Bahkan teman-teman sekolah Arga juga tidak luput dari sasaran beliau. Namun, hingga detik ini tidak membuahkan hasil sedikit pun. Tidak ada setitik pencerahan atau sedikit harapan untuk bisa menemukan keberadaan anaknya.
Tubuh beliau kini sudah kurus kering. Seolah-olah beliau hidup sebatang kara di dunia ini, padahal setiap harinya Lia mengurusnya dengan memberikan makanan, membujuknya untuk agar lebih kuat, dan melakukan hal-hal lain untuk menguatkan Ibu mertuanya. Meskipun dirinya sendiri sedang diambang kehancuran.
Ya, awalnya Lia memang tidak akur dengan Ibu mertuanya, tapi lambat laun setelah kepergian Arga dan melihat Bu Ningsih yang seakan kehilangan anak untuk selama-lamanya membuat ia teringat pada kedua orang tuanya yang juga meninggalkannya untuk selama-lamanya. Meskipun konteksnya kali ini berbeda, intinya mereka saat ini sama-sama kehilangan orang yang sama. Lia pernah berada di posisi Bu Ningsih. Sendirian, tidak ada harapan untuk kebahagiaan apalagi kelanjutan hidup. Ia tahu bagaimana hancur dan perihnya kehilangan satu-satunya orang yang paling dekat dengannya.
Meskipun Lia mendapatkan Arga dengan caranya yang salah, Lia memiliki rasa yang cukup tulus untuk suaminya. Rasa yang terpendam lama bagaiamana mungkin pudar dengan cepat dan hilang begitu saja. Pasti butuh proses dan waktu yang cukup lama untuk sampai di titik seperti Nuna sekarang, yakni berada di titik ikhlas.
"Bu, nasib kita itu sama. Sama-sama ditinggal oleh orang yang paling kita sayangi. Tapi setidaknya Ibu harusnya juga tidak begiini. Ibu harus jaga diri, jaga kesehatan, barangkali Arga segera sadar dan pulang ke sini. Jujur saja aku merasa menyesal karana nggak nurutin apa mau Arga. Aku kayak gini karena aku belum siap lahir batin kalau harus ngurusin anak orang."
__ADS_1
"Penyesalanmu nggak akan bawa Arga kembali. Sudah berapa kali saya bilang untuk turuti apa mau Arga. Nggak ada laki-lakin yang seperti dia. Kalau saya jadi Arga, hari di mana kamu keguguran sudah saya talak kamu. Nggak ada laki-laki yang sudi bertahan dengan wanita yang nggak punya rahim. Masih untung dia hanya minta adopsi anak, nggak minta poligami. Nggak mikir sampai sana, kan kamu?" Ditengah sakit dan lemahnya, Bu Ningsih masih punya cukup tenaga untuk menyalahkan Lia.
"Yang salah itu bukan aku aja, tapi ibu juga. Ibu juga terlalu memaksakan kehendak untuk meminta Arga mengambil anaknya yang ada sama Nuna. Itu nggak mudah, Bu. mengingat apa yang sudah pernah kalian lakukan sama Nuna, dia pasti akan melakukan apa pun untuk tetap mempertahankan anaknya. Aku juga perempuan, kalau aku jadi Nuna juga aku akan melakukan hal yang sama. Apalagi Ibu, yang statusnya juga sama seperti Nuna. Pasti Ibu juga akan melakukan hal yang sama."
"Tapi Nuna, kan, masih bisa menikah lagi. Dia masih bisa hamil lagi, dia masih bisa untuk melahirkan anak lagi. Sedangkan kamu dan Arga? Saya maksa Arga untuk mengambil anaknya dari Nuna karena dia juga kekeh untuk mempertahankan pernikahan kalian. Kalau kamu nggak mau mengadopsi anak, nggak mau ngurus anak orang lain, seenggaknya seharusnya kamu tuh mau mengurus anak dari suamimu. Karena cuman anaknya Nuna yang mengalirkan darah Arga."
Merasa kesal dan berpikir tak mungkin lagi untuk mendebat wanita yang berstatus Ibu mertuanya itu, Lia lebih memilih untuk diam dan pamit pulang. Ia memang peduli dengan keadaan Bu Ningsih, ia memaksakan dirinya untuk peduli karena mengingat mereka memiliki nasib yang sama. Apa salahnya berubah dan saling menguatkan, tapi nyatanya apa yang ada dalam kepalanya tak sesuai dengan kenyataan.
Dalam perjalanan pulang yang hanya di tempuh beberapa langkah saja, ia mulai merenungkan jalan hidupnya yang begitu penuh liku dan batu kecil yang tajam. Dimulai dari kehidupan bebas saat ia berada di luar negeri, saking bebasnya ia sampai lupa bagaimana cara mempertahankan kesuciannya dan menjadi pembunuh untuk janin yang tidak bersalah demi mempertahankan perkerjaan di negeri orang. Sekali melakukannya ternyata tak membuat ia berubah, justru ia kembali melakukan itu berkali-kali hingga ia pulang ke tanah kelahirannya.
Tak terasa air matanya menetes begitu Lia sampai rumah. Sama seperti Bu Ningsih, ia sendiri sudah putus asa dengan keadaan. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain bertahan dengan kesendirian. Mencari laki-laki lain? Lia tersenyum getir saat pikiran itu melintas di kepalanya. Apa yang bisa ia banggakan untuk di miliki seorang laki-laki?
__ADS_1
Sementara itu, manusia yang menjadi korban dari keegoisan mereka kini juga sedang berjuang untuk kehidupannya. Memulai semuanya dari nol di tempat yang baru bukanlah perkara mudah. Sepasang suami istri siri itu juga berjuang keras untuk hidup.
Sama sekali bukan keinginan Anita untuk menjadi istri siri dan memperoleh suami dari hasil yang buruk seperti ini. Kehidupannya yang tidak mudah dari kecil, cobaan hidup yang menimpanya sejak ia berusia dini membuat ia mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri.
Wanita yang berjuang hidup dengan caranya sendiri hingga detik ini membuat ia berada di titik lelah. Dan datanglah Arga dalam kehidupannya, menawarkan cinta, kasih sayang, tapi ada keinginan dari pria yang memberikannya kasih sayang itu.
Arga akan melimpahkan kasih sayangnya pada Anita jika ia bisa memberikan setidaknya satu anak dan bersedia menjadi istri sirinya. Anita tak langsung mengatakan iya pada saat itu, tapi lambat laun ia melihat Arga dengan sisa kewarasannya tetap datang ke kantor untuk bekerja. Hingga mengalirlah kisah hidup Arga yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Yakni, ia kehilangan jejak mantan istri dan darah daging satu-satunya.
Lambat laun, Anita merasa iba dan dengan seiring berjalannya waktu ia melihat Arga yang mendekatinya seakan sungguh-sungguh dengan tawaran yang pernah ia dengar beberapa waktu lalu. Dan akhirnya terjadilah mereka menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka berlanjut hingga dua tahun berikutnya dan Arga dengan berani memutuskan untuk meninggalkan rumah. Meninggalkan Ibu dan istrinya tanpa pamit dan jejak.
Kehidupan mereka kini memang tidak mudah, tapi setidaknya kedua manusia itu sama-sama menerima keadaan dan sama-sama mau berjuang dari awal. Sosok Anita benar-benar membuat Arga ingat dengan Nuna. Seandainya saja ia dahulu berani mengambil keputusan untuk pergi dari rumah. Mungkin dosanya tidak akan menumpuk seperti ini. Dan pasti ia memiliki keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
Teruntuk anakku, yang bahkan hingga sekarang tidak aku ketahui namanya, Ayah minta maaf. Beribu-ribu maaf dan mencium kakimu saja sepertinya tidak bisa menebus dosa Ayah. Ayah? Pantaskah aku yang pernah tidak mempercayaimu ini kau sebut Ayah? Sekarang kau pasti sudah besar. kau sudah berusia tujuh tahun. Ayah tidak ingat kapan kau lahir, Ayah saat itu tidak ada bersama dengan ibumu. Mungkin Ayah tidak pantas untuk kau panggil Ayah. Tolong temui Ayah sekali saja, Nak. sekali saja.
Arga menitikkan air matanya di tengah malam. Pria itu sering memandang kertas usang yang tujuh tahun yang lalu merobek hatinya. Kertas yang penuh kenangan pahit itu selalu ia bawa ke mana-mana.