Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
29. Perhatian


__ADS_3

Keesokan harinya, pukul lima sore Nuna sudah diizinkan untuk pulang. Bian persis seperti suami siaga pada umumnya. Jangan tanyakan perasaan Nuna, rasa sungkan nampaknya sudah tidak pantas lagi ia sandang. Mungkin di mata orang lain ia sudah tahu diri dan tak tahu malu karena terlihat seperti menggantungkan hidup pada orang lain.


"Ayo, silakan masuk. Kenapa hanya berdiri saja, Bu? Kasihan Cashel di luar terlalu lama. Ini hampir petang, udara dingin tidak baik untuk dia." Bian membukakan pintu mobil taksi online yang ia bawa untuk mengantar Nuna dan ibunya ke rumah yang akan ditempati Nuna sementara.


Bian meminta sang supir untuk melaju ketika semua orang sudah berada di dalam mobil. Nuna memperhatikan jalan seraya berpikir akan dibawa ke mana ia dan ibunya.


Sama sekali tak tahu jalan yang akan ditempuh membuat Nuna terpaksa buka suara, "Bian kita ke mana?"


"Ke rumah kalian yang baru. Sebentar lagi sampai."


Dan yang benar saja, hanya sekitar dua menit dari pertanyaan Nuna, mereka sudah sampai di sebuah rumah yang berukuran sedang. Mempunyai halaman yang berukuran sedang pula, ada sebuah pohon mangga di depan rumah itu.


Bian bertindak seolah ia adalah benar-benar kepala keluarga yang bertanggung jawab bagi Nuna dan ibunya, mungkin itu yang terlintas di pikiran sang supir yang sejak tadi melihat Bian seperti sedang kagum dengan sosoknya.


"Maaf, ya Bu, Na. Rumahnya nggak besar, ini sebenarnya rumah budhe udah lama nggak ditempati. Masih bersih dan barang-barangnya banyak yang ditinggal." Bian mengajak masuk ke dua wanita itu dan menunjukkan kamar yang bisa mereka tempati bersama.


"Kenapa harus minta maaf, Bian? Apa yang kamu berikan ini sudah lebih dari cukup. Bahkan aku sangat merepotkanmu, aku nggak tahu harus balas semua ini pakai apa? Aku merasa aku mengenalmu hanya untuk merepotkanmu saja." Mata Nuna berkaca-kaca.


"Aku melakukan ini karena aku bisa membantumu, makanya aku bantu. Jangan pikirkan apa pun selain anakmu, fokus saja padanya. Dia butuh kamu, kamu orang tua satu-satunya yang dia punya. Kalau mau balas apa yang aku kasih, kamu harus bahagia."


Kamu? Tumben?


"Kami punya hutang banyak padamu, Bian." Ibu Nuna menyahut sungkan. Jika saja Nuna tidak bersikeras untuk melakukan tes DNA, mungkin mereka bisa kembali lebih cepat, pikir Ibu Nuna.

__ADS_1


"Tidak perlu Bicara begitu, Bu. Saya tidak menganggap ini hutang. Saya rasa sepertinya saya harus pulang supaya kalian juga bisa istirahat."


Ibu Nuna hanya mengangguk tersenyum, "Hati-hati, ya. Sekali lagi Terima kasih."


Nuna mengantar kepergian Bian hingga teras.


"Oh, ya, Na. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Kalau suatu saat nanti kamu bisa tes DNA anakmu, kamu menunjukkannya pada suamimu. Apakah kamu akan kembali padanya?"


"Aku nggak tahu, Bian. Di satu sisi dia menyakitiku, tapi di sisi lain dia menyakitiku karena kesalahpahaman ini. Aku jadi bingung mau apa setelah aku bisa melakukan tes DNA itu."


"Tapi laki-laki seperti itu tidak patut untuk dipertahankan. Kalian itu sepasang suami istri, nggak bisa dia hanya mendengar dan mempercayai satu pihak saja. Apalagi nggak ada bukti yang menunjukkan tuduhannya itu benar. Artinya dia gegabah, tidak pikir panjang, dan dan sifat seperti ini nanti pasti akan terjadi kedua dan ketiga kalinya."


Nuna terdiam, ia sibuk memikirkan ucapan dari Bian. Dalam hati mungilnya, ia membenarkan pemikiran pria baik itu. Merasa lelah berdiri, ia akhirnya melipir dan duduk di kursi panjang yang terpasang di teras. Dan pergerakannya itu diikuti oleh Bian.


Nuna hanya tertunduk lesu. Di saat kepalanya tertunduk itu, ekor matanya tak sengaja melihat pergelangan tangan Bian yang nampak terdapat bekas luka. Bekas luka yang kecil dan berjumlah lebih dari satu itu mengingatkannya pada momen kemarin. Momen di mana ia mencengkram pergelangan tangan pria itu dengan kukunya. Refleks wanita itu meraih tangan Bian dan ia perhatikan dengan seksama.


"Itu adalah tanda lahir dari Cashel."


"Aku minta maaf, Bian. Ini lukanya dalam. Aku kasih obat, ya."


"Nggak usah, jangan. Biarin aja. Cuman luka kecil. Ya udah aku langsung pulang aja, ya. Kamu istirahat, kalau minta bantuan apa-apa jangan sungkan kasih tahu aku, ya."


Nuna hanya mengangguk tersenyum. Ia masuk rumah begitu Bian menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Waktu yang terus berjalan membawa mereka ke hari-hari berikutnya. Nuna yang belum sepenuhnya pulih pasca melahirkan berkeinginan untuk bekerja. Namun, ia juga bingung dengan posisinya. Ditengah kebingungan itu, Bian berkunjung ke rumah setelah beberapa hari tidak bertemu muka.


Bian datang bukan hanya sekedar bertandang. Ia datang dengan membawa secarik kertas yang begitu Nuna harapkan kedatangannya. Ia berpikir pasti wanita itu akan senang jika ia mendapatkan ini dengan cepat tanpa ia duga.


Namun, siapa sangka ia yang berniat memberikan kejutan pada Nuna justru ia yang terkejut. Ada sebuah motor yang terparkir di halaman rumah, yang membuat Bian bingung sekaligus terkejut adalah tidak adanya yang tahu keberadaan Nuna di situ selain dirinya.


Dengan segera ia berjalan menuju rumah dan


Jeduar


Biar benar-benar tidak menyangka siapa manusia yang sedang terduduk di sofa yang warnanya sudah mulai memudar itu. Seorang pria yang beberapa hari lalu ia hajar habis-habisan kini sedang duduk santai dengan Nuna dan juga ibunya. Mereka saling tatap di bawah keheningan.


"Dari mana kau tahu Nuna ada di sini?"


"Itu tidak penting kawan, yang penting adalah sekarang aku dalam proses perceraian dan kau nggak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini hanya untuk bertemu." Arga berdiri dari tempatnya,laalu beralih menatap Nuna. "Ayo tanda tangani surat perceraian itu supaya kau juga tidak dianggap zina ketika menemui laki-laki lain selain suamimu."


"HEI! Jaga bicaramu, kau katakan apa tadi? Pertemuanku dan Nuna zina? Lalu aku harus menyebut apa hubunganmu dengan wanita yang kini sudah hamil anakmu. Kau menghamili wanita untuk yang kedua kalinya, kan? Kau menghamili mereka tanpa menikahinya terlebih dahulu. Aku harus menyebut itu apa kalau kau sebut pertemuan aku dengan Nuna zina, ha?"


Nuna sontak membuka mulut dan matanya secara bersamaan setelah mendengar ucapan bian. Saking terkejutnya, ia menatap ibunya untuk memastikan apakah apa yang ia dengar salah atau tidak.


"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu Bian?"


"Tanyakan pada suamimu, Nuna. Apa yang sudah dia lakukan selama kamu megandung anaknya."

__ADS_1


Nuna ketika menoleh pada Arga yang menampilkan wajah penuh amarah. Ia sedikit memajukan langkahnya agar bisa lebih dekat.


__ADS_2