
Untuk yang kedua kalinya, Nuna harus kembali duduk menunggu Bian. Sejauh ia mengenal pria itu, tatapan tajamnya masih saja menakutkan. Ia duduk ditemani dengan segelas jus kesukaannya. Namun, tidak sedikit pun ia menyentuh gelas tersebut.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Bian kembali. Nuna memperhatikan laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya. Tak ada yang berubah dari pria itu selain gaya pakaian dan ketampanan yang semakin sempurna di usianya yang sudah lebih dari 35 tahun.
Nuna menggelengkan kepala samar ketika ia tersadar tidak seharusnya ia memuji ketampanan suami orang.
"Ikuti aku!" titah Bian tanpa menghentikan langkahnya.
Semua karyawan yang melihat adegan itu mulai kasak kusuk seraya menatap Nuna.
Wanita itu tak bergeming, ia masih duduk diam dengan menatap hamparan luas halaman yang belum terisi oleh kendaraan. Ia masih memasang wajah dingin, berharap Bian bisa mengerti bahwa ia tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Bian yang sudah menginjakkan kakinya di tengah tangga menghentikan langkahnya karena merasa tak ada bunyi ketukan dibelakangnya. Ia memejamkan mata seraya membuang napas kasar.
"Nuna, aku tidak perlu menyeretmu untuk ke sini, bukan?"
Tak ada jawaban. Beberapa detik menunggu, akhirnya Bian hilang kesabaran. Ia memutar tubuhnya dan menarik lengan Nuna hingga wanita itu berdiri menghadapnya dengan jarak dekat.
Mereka sangat serasi jika dilihat secara kasat mata. Tinggi Nuna yang tak seberapa bersanding dengan Bian yang memiliki tubuh sempurna membuat mereka terlihat sempurna menjadi sepasang kekasih.
Entah sudah berapa detik yang terbuang hanya untuk saling tatap tanpa kata. Hanya hembusan napas yang terdengar dan terasa menyapu wajah keduanya.
__ADS_1
"Jangan buat batas kesabaran aku habis, Nuna. Aku sudah sangat lama menantikan momen ini, ada banyak hal yang harus kita bicarakan dan luruskan. Ikut aku sekarang!" Tak ada nada bercanda di sana.
Nuna seperti terhipnotis oleh Bian. Wanita itu diam saja ketika Bian menggeretnya untuk ikut denganya. Ia baru tersadar ketika terdengar pintu yang terkunci dan ia berada di satu ruangan yang sama bersama pria itu.
"Apa-apaan ini, Bian? Apa yang kamu lakukan ini tidak benar. Biarkan aku pergi." Nuna kemudian berjalan menuju pintu, namun baru beberapa langkah wanita itu menghilang dari hadapan Bian, langkah kakinya sudah terhenti karena tiba-tiba Bian mendekapnya dengan erat.
Nuna tersentak dan seketika mematung tatkala tangan kekar Bian melingkar di sepanjang perutnya. Tidak hanya itu, degup jantungnya yang semula normal tiba-tiba bergemuruh dengan kencang. Mulutnya pun terasa terkunci, teramat sulit baginya untuk mengucapkan satu kalimat agar Bian tidak melakukan hal seintim ini.
Bukankah ini sebuah kesalahan besar? Bian sudah beristri, jika istrinya tahu pasti ini akan menyakitkan untuknya. Ini bukan hal yang benar. Pikiran Nuna berputar-putar. Di satu sisi ada hati yang menghangat mendapat dekapan seperti ini, tapi di sisi lain ia sadar bahwa ia salah dengan membiarkan Bian seperti ini. Apa yang harus ia lakukan agar Bian bisa menjauh darinya? Kenapa harus seperti ini jika sudah ada wanita yang harus ia jaga hati dan raganya?
"Lepaskan Bian! Ini tidak benar, biarkan aku pergi." Nuna meraih tangan Bian yang menempel di perutnya, tapi pelukan itu begitu erat hingga ia kesusahan untuk melepaskan.
Sentuhan itu membuat Nuna semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia dengan susah payah melupakan Bian beserta kenangannya, namun yang terjadi justru membuatnya semakin sulit untuk melupakan.
"Tidak ada yang salah, Bian. Kamu nggak salah apa-apa. Aku hanya ingin kehidupanku kembali seperti dulu. Aku sudah cukup bahagia dengan keluarga dan juga anakku. Tolong biarkan aku pergi, ini salah Bian. Ini nggak akan baik untuk kita kedepannya. Kamu harus bisa lupain aku." Nuna bergetar saat mengatakan itu. Ia tidak ingin menangis, tapi entah kenapa kedua bola matanya tiba-tiba mengembun.
"Berikan satu alasan kenapa aku harus melupakan kamu kalau aku nggak punya salah."
"Aku tidak perlu menjelaskannya, Bian. Kenapa kamu bersikap seperti ini? Ini buka Bian yang aku kenal." Dengan kasar dan kencang Nuna menyingkirkan tangan Bian.
Mereka kemudian kembali saling tatap. Tanpa sepatah kata pun, Nuna pergi dengan tetesan air mata yang menetes ketika ia membalikkan badannya. Ia membuka kunci dengan tergesa-gesa, sementara Bian hanya menatap punggung wanita itu. Entahlah, ia hanya bingung dengan sikap Nuna yang berubah seperti itu. Nuna mengatakan bahwa ia tidak punya salah, lalu kenapa ia bersikap seolah Bian susah menghancurkan kehidupannya?
__ADS_1
Nuna terjingkat begitu pintu berhasil ia buka. Sosok Bianca berdiri tegak dengan mata sembabnya. Mereka sama-sama terkejut dengan pertemuan itu.
"Mbak Nuna udah pulang?"
"Iya. Aku Permisi, ya, Ca. Aku harus pulang." Nuna pergi tanpa memberi kesempatan Bianca untuk bicara lebih banyak.
Bianca hanya menatap punggung wanita itu hingga menghilang ditelan oleh jarak. Pandangannya lalu bergeser pada sang Kakak yang terduduk lesu di ujung meja kerjanya. Raut wajah yang Bian pancarkan membuat Bianca iba dengan nasib kakaknya.
Dari raut wajah yang diperlihatkan oleh Bian, Bianca sudah menebak bahwa ia baru saja ditolak oleh wanita yang ia idamkan beberapa tahun terakhir.
Ini pasti karena Mas Bian sakit. Tapi sakitnya masih bisa sembuh, kenapa Nuna yang aku kenal baik dan bisa mengubah kehidupan Mas Bian tidak bisa memberinya harapan atau setidaknya memberi semangat agar Mas Bian bisa sembuh.
Ibu satu anak itu berjalan pelan menghampiri kakaknya yang entah sadar atau tidak dengan kehadirannya.
"Mas Bian sabar, ya. Jadikan ini sebegai motivasi untuk kesembuhan Mas Bian. Kamu harus semangat untuk sembuh, supaya Nuna juga mau nerima kamu. Aku yakin dia melakukan ini tidak sungguh-sungguh. Dia pasti mau Mas Bian punya semangat untuk berobat. Sebelum terlambat lebih baik Mas Bian segera ambil tindakan untuk penyembuhan sakitnya Mas."
"Ini nggak akan sembuh. Penyemangat dan kehidupan Mas kembali semenjak Nuna datang ke dalam kehidupan Mas. Bagaimana bisa sembuh kalau obatnya menjauh dari kehidupan Mas."
Dengan langkah lunglai Bian meninggalkan ruangannya. Lebih baik ia pulang dan kembali menenggelamkan kepalanya di bawah bantal untuk menenangkan pikiran dan juga hatinya yang entah bagaimana bentuknya sekarang.
Kenapa jadi begini sih, Mas? Aku harus melakukan sesuatu biar Mas Bian punya semangat untuk sembuh. Dia pasti insecure dengan sakitnya.
__ADS_1