
Bian kembali ke ruang tamu begitu selesai debat dengan sang adik. Ia berjalan seraya memikirkan bagaimana keadaan ini agar membaik tanpa harus mengorbankan siapa pun.
Kalau aku lanjutkan ini terus Nuna tahu aku bohong, pasti dia akan marah dan merasa ditipu. Tapi kalau aku bilang yang sebenarnya, kalau dia menjauh bagaimana?
Bian berjalan dari belakang ke ruang tamu seakan jarak kedua ruangan itu berpuluh-puluh kilometer. Pikirannya yang sedang kacau dan bingung membuat langkahnya pelan dan tak kunjung sampai ke tujuan meski jarak dapur ke ruang tamu hanya puluhan langkah.
"Auuu." Kaki Bian tak sengaja tersandung sekat lantaran berjalan dengan melamun.
Nuna yang mendengar teriakan Bian dari jarak dekat refleks berdiri dan berjalan ke arah sumber suara. Mengingat pria itu mempunyai penyakit membuat Nuna sedikit khawatir.
"Ada apa, Bian?" Wanita itu berlutut di samping Bian yang duduk dengan menggengam jari kakinya.
"Nggak apa-apa, terbentur aja."
Bian memperlihatkan jari jemarinya yang sedikit memerah. Kulit pria itu memang sedikit sensitif, ia akan meninggalkan bekas jika terkena benturan atau barang yang sedikit keras.
Bianca yang baru melihat kejadian itu tiba-tiba memiliki ide cemerlang untuk membuat keduanya lebih dekat. Ia berpikir semuanya sudah terlanjur basah, tidak ada salahnya jika diteruskan.
"Ya ampun, merah banget. Ini pasti karena penyakitnya Mbak. Penyakit Mas Bian berpengaruh juga ke kulit. Dia jadi lebih sensitif." Bianca ikut berlutut di samping Bian.
Bian seketika melotot ke arah adiknya, "Bianca, nggak ada hubungannya kanker testis sama sensitifnya kulit. Udah kamu pergi sana!" Bian yang tak mau semuanya tambah runyam semakin frustasi dengan kelakuan sang adik.
__ADS_1
"Tuh, kan, Mbak lihat sendiri. Mas Bian selalu marah saat aku bahas penyakitnya."
"Pergi!" titahnya sembari membulatkan mata dengan tajam.
Melihat tatapan Bian yang sepertinya akan mengamuk membuat Bianca melipir pergi. Tak lupa ia memberikan pesan pada Nuna untuk tetap membujuk sang kakak agar tetap semangat untuk sembuh. Lemparan sandal yang mengenai kaki Bianca sudah cukup menjadi jawaban bagi Bian.
"Nuna tolong jangan dengarkan apa kata dia. Kulit aku memang sensitif dari dulu." Bian memberikan klarifikasi seraya berusaha untuk berdiri.
"Tapi itu merah banget Bian, aku obati, ya."
"Nggak usah, nggak sakit kok. Ayo kita kembali ke ruang tamu."
Hening.
"Iya ... ee tidak ... maksudnya begini, Bian. Aku hanya tidak tega melihat Bianca yang memohon seperti itu. Aku ingat bahwa kalian saling memiliki satu sama lain, maksudku kalian sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi aku hanya membayangkan kemungkinan terburuk. Aku dan Bianca sama sama perempuan, kalau aku di posisi dia juga pasti akan melakukan apa pun untuk membuat kakakku sembuh. Simpelnya jika posisinya dibalik, Bianca yang sakit. Pasti kamu juga akan melakukan hal yang sama. Jadi jangan pikirkan dirimu sendiri, pikirkan juga adikmu. Dia sampai memohon ke aku untuk bicara sama kamu pasti dia juga sangat takut jika kehilangan kamu. Dia juga mengkhawatirkan masa depan kamu, Bian. Apa yang membuat kamu menyerah seperti ini?"
"Apa yang akan kamu lakukan setelah tahu penyebab aku menyerah? Kamu ingin mengabulkan sesuatu untukku kalau kamu tahu alasannya."
"Akan aku lakukan jika aku bisa."
"Sebelum kita membahas itu, ada yang jauh lebih penting untuk kita bahas."
__ADS_1
Mendengar kalimat itu entahlah, Nuna merasa lebih gugup dari yang tadi. Ia tau arah pembicaraan yang akan menjadi topik pembahasannya kali ini.
"Pertanyaan aku masih tetap sama, aku akan terus bertanya dengan pertanyaan yang sama kalau aku belum dapat jawaban. Apa yang membuat kamu mengingkari janji kamu sendiri?"
"Bian, kenapa kita selalu bahas itu? Bukankah itu sudah berlalu, kenapa masih dibahas?"
"Itu memang sudah berlalu dan aku juga tahu janji kamu memang simple, tapi nggak buat aku, Nuna. Kamu janji untuk selalu mengabari aku, tidak akan pernah pergi dari hidup aku, nyatanya kamu mengingkari itu tanpa alasan yang jelas. Kalau aku menyakiti kamu, aku akan terima itu. Tapi ini apa? Tiba-tiba kamu menghilang, bahkan nggak cuman kamu yang hilang, tapi semuanya. Apa ini sudah direncanakan? Kalau, iya aku bener-bener nggak terima ini. Jadi ini alasan kamu nggak pernah izinin aku untuk pergi ke rumah dan nyimpen nomor keluarga kamu selain kamu. Untuk ini Nuna?"
Nuna tak mampu menatap sorot mata Bian. Bukan tatapan tajam yang ia lempar, justru sebaliknya. Sorot mata yang sakit dengan perlakuannya membuat ia memilih untuk menatap lantai rumah megah pria itu.
Bukannya ia tidak mau menjelaskan alasannya, tapi alasan klise ini pasti tidak akan diterima oleh Bian. Lalu ia harus bagaimana? Seandainya saja Bian tahu menjadi Nuna tidak mudah dan butuh perjuangan keras untuk melupakannya, ia pasti tidak akan bertanya terus-menerus, batin Nuna.
"Kamu pernah bilang kalau tidak semuanya butuh alasan dan tidak semuanya bisa dijelaskan. Masih ingat, kan?"
"Baiklah kalau begitu silakan pulang dan jangan harap untuk kesembuhanku." Bian yang menyerah dengan wanita itu akhirnya bangkit, belum sempat ia melangkah untuk menjauh, tangannya sudah dicekal oleh Nuna.
Mereka sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Nuna, "Duduklah. Jika kamu mau mendengar, akan aku jelaskan. Tapi kamu juga harus sembuh. Jika kamu tidak mau melakukan ini untuk dirimu sendiri, lakukan ini untuk adikmu."
Dengan mempertahankan raut wajah datar ia kembali duduk di samping Nuna.
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku udah buat kamu bingung. Aku melakukan ini karena aku merasa aku nggak pantas buat kamu, Bian. Apa kamu nggak bisa lihat bahwa perbedaan kita ini sangat jauh? Aku perempuan kotor, aku pernah melakukan kesalahan besar, aku tidak mampu mempertahankan rumah tanggaku. Aku tidak terlalu pantas untuk diperjuangkan oleh seseorang. Aku juga malu sama kamu, aku sudah terlalu merepotkan, menyusahkan, dan..."
__ADS_1
"Cukup, Nuna. Kamu tahu apa yang kamu katakan sangat menyakiti aku. Masa lalu kamu, kegagalan kamu dalam mempertahankan rumah tangga. Apakah itu salah kamu? Apakah kamu yang salah dalam hal itu? Enggak, kan? Kamu mengambil keputusan itu karena memang menyelamatkan diri kamu sendiri dari orang-orang yang membuat kamu sakit. Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu. Kenapa kamu berpikir sejauh itu? Pikiran kamu itu sangat picik, Nuna."
Mendengar kalimat panjang dari Bian membuat Nuna merasakan sakit yang pria itu rasakan. Kepalanya semakin tertunduk ke dalam lantaran tak mampu lagi memberikan alasan untuk menyangkal. Tahukah ia bahwa Nuna sendiri juga merasakan sakit saat melakukan itu?