Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
63. Semua Laki-laki Sama Saja


__ADS_3

"Cashel Jangan dengarkan Om Bian!"


Nuna yang sejak tadi berdiri di depan ruangan Cashel seketika membuka pintu saat Cashel menanyakan perihal pernikahan.


Bian hanya berdecak kesal melihat Nuna yang lagi-lagi memperlambat hubungan mereka agar segera resmi.


"Udah makannya, kan? Sekarang kita minum obat dulu, kamu harus istirahat. Besok kata dokter kamu udah boleh pulang?"


Raut wajah bahagia tercetak di wajah Cashel saat mendengar bahwa ia besok sudah diizinkan pulang dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Ia sudah merindukan teman-teman dan sekolahnya.


Bian sudah hafal, ia pasti sebentar lagi akan mendapatkan omelan dari wanita itu. Akhirnya ia memilih untuk melipir pergi dari ruangan dan duduk di depan ruangan Cashel seraya memainkan ponselnya dengan penuh kewibawaan. Melihat banyak wanita dan suster yang masih berlalu lalang membuat ia ingin sekali digoda oleh salah satunya, atau mungkin cari perhatian. Ia ingin melihat bagaimana respon Nuna. Kenapa tidak kepikiran dari dulu? Begitu pikirnya.


Tak berselang tak berselang lama, Nuna membuka pintu ruangan. Ia sudah memasang wajah siap untuk memberikan omelan panjang pada pria itu.


"Bian, tidak bisakah kamu tidak membahas pernikahan dulu di depan anak kecil. Dia belum mengerti."


"Ya terus kapan mau bahasnya? Sampai kapan hubungan kita nggak jelas begini? Kamu aku ajak pacaran nggak mau."


"Usia kita tidak pantas untuk pacaran, Bian."

__ADS_1


"Ya udah kalau nggak pantes pacaran nikah, kan pantesnya. Ya udah ayo nikah. Orang mah di mana-mana yang ngebet perempuan, ini aku yang ngebet. Apa masih ada yang kamu ragukan dari aku?"


"Aku masih..."


Benar-benar situasi yang pas. Pikiran Bian yang sempat terbesit akan mengetes kecemburuan Nuna kini bisa ia praktekkan setelah ponselnya berdering cukup lama. Tertera sebuah nama perempuan yang seringkali memasok bahan makanan untuk restonya. Bahkan perempuan yang bernama Lita itu tidak hanya sebagai pemasok, tapi juga berperan sebagai teman lama yang cukup cantik dan menjadi rebutan di zaman ia SMA kala itu.


"Iya Lita ada apa?"


"Ha? Kamu di restoran aku? Kenapa nggak bilang? Biasanya bilang dulu, ya udah aku ke sana, ya. Ini aku ada urusan sebentar." Bian bicara cukup kencang agar kalimat per kalimat yang ia ucapkan masuk dengan jelas tanpa hambatan di telinga Nuna, dengan sesekali ia melirik ke arah wanita itu demi melihat Respon yang ia berikan.


"Aku balik ke restoran dulu nggak apa-apa, kan? Ini ada temen aku namanya Lita, teman lama sih, tapi cukup dekat juga. Dia datang ke restoran katanya ada yang mau dibicarakan, ada yang penting."


"Kamu nggak kasih izin aku, kok jawabnya gitu? Kalau nggak sih juga nggak apa-apa. Kita bisa ketemu lain waktu."


"Aku nggak ada hak untuk larang kamu ke sana. Kalau mau ke sana, ya udah ke sana aja kasihan temen kamu udah nungguin. Ah maksudku teman dekat kamu." Nuna menekankan kata teman dekat, dan itu sungguh membuat Bian ingin tertawa terbahak-bahak saat itu juga. Ini baru permulaan dan Bian sudah berhasil membuat Nuna cemburu. Sangat terlihat jelas di wajahnya dan juga caranya bicara bahwa wanita itu keberatan akan pertemuan Bian dengan Lita.


"Kamu jawabnya dari tadi nggak enak banget sih. Cemburu kamu?"


"Jangan ngaco, Bian. Ngapain aku cemburu? Udah sana berangkat, kasihan temen kamu nungguin lama. Sebagai sesama perempuan aku tuh tahu rasanya menunggu itu nggak enak. Udah sana berangkat."

__ADS_1


Bian hanya merespon dengan mengatupkan mulutnya menahan tawa. Ia mendekatkan kepalanya ke kepala Nuna hendak memberikan kecupan yang beberapa hari terakhir seringkali ia curi-curi kecupan. Respon yang diberikan Nuna biasanya akan biasa saja atau hanya kalimat protes yang ia dengar, namun kali ini mendapatkan respon yang tidak dari biasanya. Wanita itu dengan cepat memundurkan kepalanya dan menutupi keningnya dengan tangan.


"Untuk kali ini aku tidak akan membiarkan kamu untuk mencuri-curi cium. Sana pergi!" Nuna berdiri dan masuk ke dalam ruangan Cashel. Terlihat anak itu sudah tertidur dengan pulas. Sementara Bian hanya tertawa dengan tingkah lucu wanitanya itu.


Nuna berjalan dengan kesal dan mendudukkan dirinya disofa dengan kasar. Ia sangat kesal, ia tadi belum sempat menyelesaikan kalimatnya dan Bian malah meninggalkannya untuk menemui temannya. Tapi nampaknya bukan hanya itu saja yang membuatnya kesal. Dua kata dari Bian dari sungguh menyita pikirannya.


Kira-kira teman dekat siapa yang sedang dekat dengannya itu? Bagaimana wajahnya? Kenapa di saat ia punya teman dekat ia juga mendekati dirinya? Setidaknya beberapa pertanyaan itu muncul di kepalanya begitu saja.


Siapa yang tidak kesal menjadi dirinya? Di saat ia merasa dikejar-kejar oleh pria itu, merasa istimewakan, diratukan, tapi rupanya ia juga mempunyai teman dekat yang lain, bahkan mengenal sudah lama. Siapa pun akan kesal jika berada di posisi Nuna.


Malam itu belum terlalu larut, rasanya tidak enak jika ia tidur lebih awal dari biasanya. Dan akhirnya sembari menunggu mengantuk, Nuna memainkan ponselnya dengan berbaring di sofa. Malam ini ia berjaga sendirian, karena kedua orang tuanya sedang ada kepentingan.


Beberapa saat berselancar di dunia maya, Nuna membelalakkan matanya begitu melihat postingan Bian yang baru saja ia unggah. Nampak pria itu sedang duduk berdekatan dengan seorang wanita cantik berambut panjang sebahu berwarna coklat. Posisi tubuhnya yang semula berbaring kini sudah duduk dengan tegap dalam beberapa detik saja.


"Apa ini yang namanya Lita? Yang dia ceritakan tadi? Dia bukan hanya cukup cantik, tapi dia cantik sekali," gumam Nuna dengan pelan seakan tak bertenaga.


Nuna akhirnya mulai kumat dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Semakin lama ia semakin insecure dengan kecantikannya sendiri. Wajah dan tubuh yang semula ia dambakan dan ia banggakan kini seperti terlihat tidak ada apa-apanya dibandingkan Lita.


Kekesalannya semakin bertambah ketika Bian tidak cukup mengunggah satu fotonya, tapi tiga foto sekaligus dengan posisi yang sama berdekatan. Semakin lama semakin kesal dengan unggahan pria itu membuat Nuna meletakkan ponselnya di tas dan kembali merebahkan dirinya lalu tak lupa ia menutup mata berusaha untuk tidur agar bisa lupa dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Bisa-bisanya dia memposting foto saat bersama dengan wanita lain, tapi saat denganku dia tidak pernah. Padahal yang diajak nikah itu aku, yang katanya dia juga seriusin itu aku, dan dia nggak pernah sama sekali posting foto aku. Dasar semua laki-laki sama saja, ngomongnya sok romantis, perlakuannya sok perhatian, tapi ujung-ujungnya juga memberi harapan palsu. Dasar Bian kurang ajar, awas aja, aku tidak akan pernah mengizinkan dia untuk datang ke rumah. Mana aku udah baper lagi sama perlakuannya yang manis. Dasar bodoh!"


__ADS_2