Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
22. Debaran Jantung Bian


__ADS_3

"Jadi tadi hanya kontraksi palsu?"


"Iya, Pak. Akan lebih bagus jika Bu Nuna berada di sini dulu, mengingat ini adalah hari-hari mendekati Bu Nuna melahirkan jika dilihat dari perhitungannya. Kalaupun nanti tidak ada tanda-tanda melahirkan jika sudah waktunya, kita bisa melakukan tindakan."


Bian menoleh pada Nuna dan wanita itu menggeleng cepat. Ia tidak mau berada di rumah sakit dalam waktu yang tidak tahu hingga kapan. Ia pasti akan merasa bosan, belum lagi uangnya pasti tak cukup untuk biaya rumah sakit.


"Iya, Dok. Saya nurut aja."


Nuna seketika mendudukkan dirinya ketika dokter berhijab itu pergi.


"Bian, aku nggak mau di sini. Aku mau pulang aja, perut aku udah nggak sakit lagi kok."


"Tidak bisakah kau menurut pada ucapan dokter? Dia bicara begitu pasti ada alasannya dan itu yang terbaik buatmu."


"Bian..."


"Bisa diem nggak? Udah si nggak usah berisik. Kau tinggal duduk diam di sini, makan, tenangkan pikiran. Orang melahirkan juga butuh tenaga. Kau mau melahirkan dengan badan kurus kering begitu?"

__ADS_1


Bian beranjak pergi hendak mencari sesuatu yang bisa di makan untuk Nuna. Meski sedang kesal, entah kenapa pria itu begitu mengkhawatirkan Nuna. Dalam hati sebenarnya ia memaki diri sendiri kenapa harus se khawatir itu dengan istri orang.


"Mau ke mana? Aku ikut, aku nggak mau di sini Bian." Nuna turun dari ranjang dan berjalan mengikuti prai itu.


Sadar bahwa Nuna turun dan berjalan, seketika Bian memutar tubuhnya secara mendadak. Nuna yang terlanjur berjalan cepat tak bisa mengerem langkahnya dan akhirnya terjadilah tubrukan diantara mereka.


"Aduh, kenapa tiba-tiba balik badan?" Nuna mengusap kening yang terbentur dada lebar Bian.


Bian berkacak pinggang dan menatap Nuna dengan air muka datar. Tidak perlu ekspresi marah atau kesal seperti yang sudah-sudah, wanita itu biasanya akan segera menundukkan kepala atau melihat ke arah lain jika ia sudah begitu. Namun, entah kenapa kali ini berbeda. Wanita muda yang sedang hamil tua itu malah menatap balik Bian dengan wajah mengejek dan menantang. Tak lupa tangannya juga membuat posisi yang sama dengan pria keras kepala dan mudah uring-uringan itu.


Baru beberapa detik saja, Nuna membalas tatapannya, gemuruh jantung Bian kembali bergaduh. Menyadari ada yang salah dengan jantungnya, ia perlahan membuang muka dan sedikit salah tingkah. Ia khawatir jika Nuna mendengar detakan jantung yang membuatnya tak nyaman ini.


"Bulshit. Permainan apa yang kau ciptakan ini? Udah sana balik ke ranjang!"


"Nggak berani, kan? Bian ayolah, aku nggak mau di sini, aku mau pulang. Aku nggak betah." Tiba-tiba saja Nuna merengek seraya menggengam jari jemari pria itu. Detakan jantung yang belum normal seketika kembali bertalu-talu di dalam.


"Kenapa kau susah sekali untuk diberi tahu? Kau bisa melakukan ini untuk anakmu. Dokter lebih tahu apa yang terbaik buat kalian, kenapa masih ngeyel juga?" Bian bicara lembut kali ini.

__ADS_1


Nuna menggigit bibir bawahnya, perhatian dari Bian sungguh membuatnya menghangat dan sedikit berdebar. Namun, di saat bersamaan ia juga merasa tersayat karena yang peduli dengannya orang lain, bukan suaminya sendiri.


Sementara pergerakan bibir Nuna membuat Bian salah tingkah sendiri.


"Yang hamil aku, Bian. Aku tahu apa yang harus aku lakukan kalau memang aku waktunya melahirkan. Apa yang harus aku lakukan di sini? Apa kamu hanya minta aku buat duduk sama makan aja sementara aku bisa melakukan hal lain?"


"Melakukan hal lain? Nuna perkiraan dari dokter itu kau akan melahirkan beberapa hari lagi. Tidak bisakah kau mempersiapkan fisikmu itu dengan baik?"


"Nggak harus di rumah sakit, kan?"


"Nuna, kau tahu memancing amarah seseorang itu dosa, kan?"


"Aku memancing amarahmu dengan keras kepala ku? Kau juga memancing amarahku karena kau terlalu memaksaku."


"Kalau bukan saran dari dokter, aku juga nggak akan maksa kamu untuk tinggal di sini. Aku hanya menurut sama ucapan dokternya." Entah sadar atau tidak Bian menaikkan tangannya ke pundak wanita itu. "Kau nggak selamanya tinggal di sini. Hanya sampai anakmu lahir."


Pandangan Bian begitu teduh, lagi-lagi hati Nuna menghangat. Ia hampir menitikkan air mata saking terharunya. Ia sudah melewati banyak hal selama kehamilannya. Lelah secara fisik dan batin, air mata, sakit hati, dan masih banyak lagi rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan untaian kata yang bisa mewakilkan rasa apa saja yang pernah ia lewati selama ini.

__ADS_1


Nuna terdiam untuk beberapa saat, ini dijadikan Bian kesempatan untuk memutar tubuh Nuna dan mendorong pelan wanita keras kepala itu ke ranjang. Nuna sadar dengan pergerakan tubuhnya, tapi entah kenapa ia diam saja.


"Jangan ke mana-mana. Aku keluar sebentar. Kalau aku kembali dan tidak aku temui kau di sini. Tas yang masih ada di rumahku akan aku kembalikan pada suamimu. Pergi saja dari sini jika kau ingin menunjukkan pada mereka bahwa harga dirimu benar-benar tidak ada."


__ADS_2