
Tidak ada yang menyadari kehadiran Nuna dan Bian. Pintu rumah yang terbuka lebar, tapi nampak sepi membuat keduanya masuk tanpa permisi. Tak masalah bagi Nuna dianggap tidak sopan, apa yang dilakukan Bu Ningsih terhadapnya lebih tidak sopan lagi bahkan cenderung tindakan kejahatan.
Nuna dan Bian masuk tanpa berteriak atau bersuara. Begitu masuk ke ruang tamu, mata Nuna seketika tersorot pada pintu kamar yang saat ia berada di sini tak pernah terbuka. Ia mendengar lamat-lamat suara Cashel. Tanpa mengeluarkan suara, Nuna mendorong kursi roda Bian dan ternyata ia mendengar Cashel yang sedang bicara dengan menahan isak tangis.
Nuna hendak masuk ke dalam kamar, namun tangan Bian memberikan respon untuk tetap diam dan mendengar obrolan mereka terlebih dahulu.
Mendengar Cashel bicara kepedihannya selama di sekolah membuat ia merasa menjadi ibu yang gagal. Bagaimana bisa ia tak tahu soal ini? Penghinaan yang diterima anaknya rupanya sejauh itu? Bagaimana bisa anak seusia Cashel membicarakan soal anak haram pada temannya? Dan bagaimana Cashel menghadapai temannya saat itu?
Pikiran Nuna saat ini justru bukan hanya pada amarahnya pada Bu Ningsih, tapi juga amarah pada dirinya sendiri yang rupanya menjadi ibu yang gagal.
Sementara pahit getir dan kelunya hati dirasakan oleh Arga. Ia sangat menginginkan anaknya itu memanggil dirinya ayah, tapi bukan dalam kalimat seperti ini. Dalam satu kalimat ia merasakan setitik haru, tapi juga kepahitan dalam kata yang dikeluarkan anaknya. Anak haram, rasanya hatinya sakit sekali mendengar kalimat itu diucapkan oleh temannya untuk sang anak.
"Ayah minta maaf. Ayah tahu kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya. Ayah memang bersalah dalam hal ini, Ayah memang meninggalkan Ibu dan kamu yang masih berada di dalam perut. Yang terjadi di masa lalu memang sudah lewat, tapi biarkan Ayah menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi."
__ADS_1
Arga menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan lalu menggenggam jari jemari sang putra. Menatap manik-manik mata yang mengandung air itu dengan tatapan sendu. Dan beberapa detik kemudian, nengalirlah cerita delapan tahun yang lalu. Tahun di mana semua kesalahpahaman itu berawal. Arga tentu saja menceritakan itu dengan bahasa anak-anak yang mudah dipahami oleh putranya yang baru saja berusia delapan tahun.
"Kamu benci Ayah? Nggak apa-apa, Ayah terima kalau kamu benci Ayah. Terima kasih sudah memanggil ayah hari ini. Sudah sangat lama yang menantikan ini. Ayah dulu juga pernah cari kamu sama Ibu, tapi Ayah gagal menemukan kalian. Jadi kesannya Ayah nggak peduli dan nggak mau nemuin kamu. Ayah juga pernah berusaha untuk membujuk Ibu supaya menerima uang dari Ayah untuk biaya sekolah kamu sama keperluan kamu, tapi Ibu nggak mau. Ibu marah sama Ayah, makanya semenjak itu Ayah memilih untuk mengalah dan tidak lagi berusaha untuk memberi nafkah ke kamu. Ayah minta maaf ya, Nak. Ayah sudah menjadi Ayah yang gagal."
"Aku nggak benci sama Ayah. Nenek, kakek, ibu, sama Om Bian selalu ngajarin aku untuk tidak menyimpan kebencian sama orang. Karena itu hanya akan menyakiti dan mengotori hati. Sebesar apa pun kesalahannya kita tidak boleh membenci orang, beri dia maaf dan menjauh dari kehidupannya itu adalah cara yang benar untuk melindungi diri dari sakit hati. Mungkin aku belum terlalu mengerti dengan kata-kata yang sedikit sulit untuk aku pahami, tapi yang paling aku mengerti dari nasihat orang yang aku sayang adalah aku nggak boleh benci sama orang yang sudah jahat sama aku. Bohong kalau aku nggak pernah benci Ayah. Dulu sebelum aku mendapatkan nasihat itu, aku benci sama Ayah karena Ayah udah jahat sama Ibu. Tapi sekarang udah nggak. Aku juga mau terima kasih sama Ayah, karena Ayah sudah kasih aku darah biar aku bisa bareng sama Ibu lagi."
Arga semakin terisak dalam pangkuan kaki kecil sang anak. Bagaimana tidak? Anak sekecil Cashel bisa berpikir begitu dewasa. Terlepas dari didikan keluarganya, ia yakin keadaan juga turut andil dalam pendewasaan Cashel yang sebenarnya belum waktunya anak itu berpikir dewasa.
"Ayah sayang sama kamu. Tapi sekarang kamu harus kembali dulu sama Ibu. Nanti Ibu marah sama Ayah. Ayah boleh, kan kalau ketemu kamu tiap hari? Nanti coba bujuk Ibu sama ayah Bian biar Ayah Arga boleh main sama Cashel. Nggak lama kok. Satu jam aja setiap hari. Pelan-pelan aja bujuk Ibu, ya. Ibu pasti marah sama Ayah setelah ini. Masih mau, kan, ketemu sama Ayah?" Arga sangat berharap bahwa Cashel menyanggupi untuk membantunya membujuk mantan istrinya itu. Mungkin sangat terlihat tidak tahu diri, tapi setelah kejadian ini pasti semuanya akan merugikan untuknya.
"Boleh cium kamu sebentar sebelum Ayah antar pulang?"
Cashel hanya menganggukkan kepala. Arga tanpa membung waktu lagi mengecup lama kening anak itu. Segelah itu turun ke pipi dan tangan. Ada secelah kebahagiaan di hati kecil Arga, bicara sedekat ini dan seintim ini membuat ia senang. Namun, ia tak bisa egois dengan membiarkan Cashel terus di sini.
__ADS_1
Sementara di luar kamar. Bian dan Nuna merasakan hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Antara, trenyuh, haru, bangga, amarah, dan kesedihan seakan bercampur menjadi satu dan sulit untuk diuraikan satu persatu.
"Sudah Arga, kamu jangan bodoh dengan mengembalikan Cashel. Lihat dia sama sekali nggak benci sama kamu, dia itu nurut. Nanti lama kelamaan dia juga terbiasa hidup tanpa ibunya."
Arga tak menghiraukan ucapan ibunya, ia membawa Cashel ke dalam gendongannya dan membawanya keluar. Tentu saja tidak semudah itu, Bu Ningsih dengan berani menghadang jalan sang anak untuk keluar rumah.
"Sampai kapan pun Ibu nggak akan pernah izinin dia keluar dari dekapan Ibu. Kembalikan dia, Arga." Wanita tua itu berusaha untuk merebut Cashel dari tangan Arga.
"Ibu sudah cukup! Tolong jangan buat aku bentak Ibu di depan anakku. Aku nggak mau apa yang aku lakukan dilakukan juga sama anakku. Tolong jangan buat aku marah, Bu." Arga bicara dengan nada memohon di akhir kalimat. "Aku nggak bisa didik Cashel setiap waktu, setidaknya jangan buat kenangan aku bertemu dengannya menjadi momen yang buruk, Bu," imbuhnya.
"Berikan dia padaku, kamu bisa urus ibumu supaya tidak mengulangi hal konyol seperti ini diusianya yang bukan lagi waktunya bermain apalagi bergurau."
Kalimat lantang dari Nuna membuat sang pemilik rumah seketika tersentak kaget. Dengan gerakan cepat Bu Ningsih berdiri di depan Arga yang sedang menggendong Cashel seolah beliau tidak memberikan izin pada Nuna untuk membawa sang cucu pergi.
__ADS_1
"Jangan pernah berharap kamu bisa ambil apa pun yang sudah saya ambil."