
Satu tahun setelah kepergian Nuna ke luar negeri nyatanya membuat Bian benar-benar lost contact dengan Nuna. Bahkan tak lama dari kepergian Nuna, nomor yang terpasang di HP Nuna juga tak bisa dihubungi. Tak punya nomor siapa pun yang bisa ia jadikan untuk bahan informasi membuat Bian tak bisa apa-apa, alamat rumah yang selama ini selalu Bian tanyakan pada Nuna pun tak pernah ia dapat jawaban hingga sekarang.
Bian tak tahu apa yang terjadi hingga Nuna beserta yang lain menghilang seperti ini. Entah apa alasannya sungguh dari hari menghilangnya Nuna hingga sekarang ini Bian masih memikirkannya.
Setelah hilangnya kabar Nuna, ia menjadi pribadi yang lebih dingin dari yang dahulu. Ia marah pada wanita itu dan tak percaya lagi dengan wanita. Baginya, apa pun yang diucapkan dan dilakukan oleh wanita sama saja. Hanya menghasilkan luka hati yang dalam dan entah bagaimana cara sembuhnya. Bian sakit hati perkara wanita untuk yang kedua kalinya.
Yang membedakan sakit hatinya sekarang adalah ia bisa bangkit dalam keterpurukan. Ia menyibukkan diri dengan bekerja lebih giat seakan ia membalaskan rasa sakitnya dengan menjadikan dirinya orang berada.
Namun, sejarah dan se kecewa apa pun Bian. Pikiran pria itu tetap berpusat pada Nuna. Pria itu baru-baru ini sampai sengaja berlibur ke negeri orang demi harapannya untuk bertemu dengan Nuna. Meskipun persentase mustahil lebih besar, tak ada salahnya ia mencoba. Ia pernah berdoa pada Tuhan untuk menjaukan kehidupannya dari Nuna jika memang bantuannya tidak diperlukan. Tapi apa nyatanya? Mereka memang sempat berjauhan, namun akhirnya mereka tetap dipertemukan bahkan setelah perpisahan itu mereka justru lebih dekat. Dan sekarang, ia kembali dipisahkan.
"Kamu di mana sih, Na? Salah aku apa coba kamu ngilang gitu aja? Aku masih ingat kamu pernah bilang ke aku kalau kamu kerja cuman lima tahun, kan? Sekarang sudah lima tahun Nuna. Kenapa masih nggak ada kabar juga?"
Bian bicara sendiri dengan kepala menengadah ke langit. Hingga sekarang, ia meyakini satu hal, ia dan Nuna tetap memandang langit yang sama meskipun mereka berada di tempat yang berbeda bahkan tempat mereka lebih jauh dari sebelum-sebelumnya.
Hari-harinya sangat terasa menyakitkan dan kesepian setelah adiknya menikah dan ikut suaminya pergi ke luar kota. Ia benar-benar sendirian di rumah besar ini. Rumah besar dua lantai yang ia sendiri juga bingung kenapa harus membuat rumah sebesar ini sementara ia tinggal seorang diri.
Dan keyakinan Bian memang benar adanya, kini Nuna pun sedang memandang langit-langit yang bertebaran ribuan bintang. Ia memandang langit dengan dalam, seakan ia merindukan banyak orang. Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi Nuna. Ia mengira bahwa lima tahun bukanlah waktu yang lama, tapi nyatanya ia begitu berat melewati lima tahun ini.
Jauh dengan kedua orang tua dan anaknya sangat menyiksanya, meskipun setiap hari mereka bertukar kabar, nyatanya semua itu tak mampu membendung kerinduan yang berada di puncak. Tapi tak apa, melihat anaknya dan juga kedua orang tuanya yang selalu bahagia membuat ia sedikit lega.
__ADS_1
Dua bulan lagi, hanya tinggal dua bulan saja waktu Nuna untuk berada di negeri orang. Di satu sisi ia ingin memperpanjang kontrak, tapi di sisi lain ia juga rindu keluarganya, lagipula kedua orang tuanya juga mendesak untuk pulang.
Ditengah mengingat ia akan segera kembali ke Negara kelahirannya, tiba-tiba ia teringat dengan Bian. Ada banyak hal mengapa Nuna memilih untuk menghilang dari kehidupan Bian. Lost contact dengan pria itu juga membawa beban tersendiri bagi Nuna. Ia tak tak tahu, apakah setelah ini ia bisa menghadapi pria itu atau tidak. Cepat atau lambat, jika ia sudah kembali pulang, mau tak mau sudah pasti ia akan bertemu muka dengan pria yang hadir untuk membuat sejuta kenangan dengannya.
Apa kabar kamu, Bian? Apa kamu sudah menikah? Atau justru sudah punya anak?
Nuna tersenyum getir membayangkan jika seandainya pemikirannya itu benar-benar terjadi.
°°°
Seperti biasa, Bian yang sudah menjadi pengusaha cukup sukses itu hanya sesekali datang ke restoran dan sisanya ia hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. Dengan memantau pekerjanya dari rumah sudah cukup baginya.
Begitu sampai di lantai bawah, ia mendapati banyak customer yang memenuhi kursi yang berjejer di sana. Sempat berhenti sejenak dan lalu melanjutkan berjalan.
Bruk.
Tak sengaja pria yang kini sedingin kulkas itu menubruk seorang anak kecil yang memakai seragam SD. Tangannya terulur untuk membantu anak itu berdiri.
Pandangan mata itu, seperti ia pernah melihat sorotan mata itu, tapi di mana? Pikir Bian memandang anak itu dengan seksama.
__ADS_1
"Maaf om, saya nggak sengaja."
"Iya. Lain kali hati-hati jalannya, ya."
Anak kecil itu mengangguk seraya tersenyum dan kembali berlari dari hadapan Bian.
"Cashel, kita pindah di sini. Di sini enak, adem," ujar seorang anak kecil yang sedikit berteriak.
Bian yang sempat melangkah itu seketika berhenti mendengar nama yang ia dengar. Seketika ia menoleh ke sumber suara dan mengamati anak yang tadi tak sengaja bertubrukan dengannya.
Cashel? Apa dia adalah anak yang sama dengan anak yang aku kenal? Cashel yang aku kenal pasti seusia dia.
Beberapa detik terdiam, ia akhirnya sadar dan melanjutkan langkah. Ia berpikir nama Cashel tidak hanya satu. Meskipun sebenarnya dari sorot anak itu ia seperti mengingat seseorang, namun ia menepis ingatan itu dengan segera.
Bian membenarkan letak brazernya ketika ia tak sengaja berpapasan dengan Arga. Kedua pria itu mematung di tempat dengan pandangan yang sama-sama terkunci. Di mata Bian, Arga tetap sama, tak ada perubahan yang signifikan. Bahkan ia cenderung terlihat lebih kurus dari tujuh tahun yang lalu.
Beberapa saat kemudian, mata Bian tertuju pada wanita yang berada di samping pria itu. Dengan tangan yang saling terpaut mesra, Bian hanya menyunggingkan senyum kecil untuk merespon pautan tangan itu.
Sadar dengan kebodohannya, Bian meninggalkan Arga dan wanita yang entah siapa. Ia tak kenal dan tak pernah melihatnya juga. Ia rasa Arga sudah kembali cerai dengan istri keduanya dan menjalin hubungan dengan wanita lain. Atau justru yang paling parah ia kembali menduakan istrinya, entahlah. Ia tak peduli dan tak mau peduli. Kehidupannya saja sudah bak benang kusut yang entah bagaimana ia mengurainya nanti. Haruskah ia mengurai sendiri atau butuh bantuan orang lain untuk mengurainya?
__ADS_1