
Nuna tak peduli dengan ucapan Bu Ningsih, ia tetap maju dengan keberanian untuk mengambil Cashel yang berada dalam gendongan Ayah kandungnya.
"Jangan mendekat!" Dengan tegas Bu Ningsih melarang Nuna untuk melanjutkan langkah. Jari telunjuk yang diacungkan di depan wajahnya membuat Bian menatapnya dengan sorot mata tajam, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan ruang geraknya.
"Jangan sampai saya bawa polisi untuk ambil anak saya, Bu. Jangan sampai di sisa usia Ibu malah mendekam di penjara. Kembalikan atau saya akan nekat." Nuna tak mau kalah.
"Silakan saja, kamu pikir saya takut? Kamu juga bersalah karena tidak memberikan hak untuk Arga. Meskipun kalian berpisah, harusnya kamu tetap izinkan dia untuk ketemu sama anaknya."
"Ibu tolong jangan tunjukkan kebodohan Ibu di depan saya. Memangnya yang tidak mengakui Cashel darah daging kalian itu dulu siapa? Yang menebarkan fitnah di mana-mana itu siapa? Lalu sekarang setelah semuanya berubah, kalian tiba-tiba mengakui Cashel sebagai anak. Bu, Ibu seperti ini pasti bukan karena mau menuntut atau menyesal atas perbuatan Ibu di masa lalu, tapi Ibu melakukan ini karena memang Arga seakan tidak diizinkan Tuhan untuk memiliki anak. Bayangkan saja, dia menikah dua kali tapi berakhir dengan kehilangan. Dia tidak memiliki anak satu orang pun. Coba bayangkan kalau Arga sudah punya anak dari wanita lain. Saya yakin Ibu tidak akan merendahkan diri Ibu hanya untuk mengambil Cashel."
Ada hati yang sakit saat mendengar kalimat Nuna. Bukan Bu Ningsih, tapi Arga. Kalimat seakan tidak diizinkan Tuhan untuk tidak memiliki anak terlalu menyakitkan untuk ia dengar. Memang ia pernah terbesit pikiran semacam itu, tapi rupanya jika ia mendengar kalimat itu dari orang lain, rasanya jauh lebih sakit. Terlebih orang yang mengatakan itu adalah orang yang pernah ada dalam hidup dan hatinya, orang yang pernah ia cintai meski tidak mendapat keadilan.
"Sudah, Bu. Ibu sudah pernah kehilangan aku, kan? Sekarang apakah Ibu ingin kehilangan aku untuk yang kedua kalinya? Jika tidak, aku mohon untuk kali ini aja, Bu. Biarkan aku mengembalikan Cashel pada ibunya."
"Arga...."
"Jangan mempersulit keadaan aku. Lakukan ini buat aku, Bu. Aku sudah berjuang sejauh ini dan Ibu mau rusak semuanya? Cashel mau sama ibunya, coba bayangkan kalau Ibu dan Nuna bertukar posisi. Ibu mau mengikhlaskan aku hidup dengan orang yang pernah tidak mengakui aku?"
Bu Ningsih seketika buang muka. Baru kali ini ia melihat Arga bicara dengan nada melas asih, mata sendu, dan berkaca-kaca. Entah beliau yang baru melihatnya atau memang selama ini beliau tutup mata dengan kesedihan Arga.
Melihat ibunya yang merespon dengan diam, Arga perlahan membawa Cashel ke arah Nuna. Menyerahkan anak itu pada ibunya. Pelukan erat begitu jelas di mata Arga, anak itu seolah mengkhawatirkan ibunya.
"Kamu nggak apa-apa, kan, Nak? Maafin Ibu nggak bisa jaga kamu."
"Nggak apa-apa, Bu. Aku baik-baik aja di sini, Ibu jangan nangis."
__ADS_1
Arga sedikit menundukkan kepala. Ia merasa bersalah saat melihat wajah Nuna yang begitu khawatir.
"Atas nama Ibu aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau Ibu ke rumah sakit dan bawa Cashel pulang. Aku juga baru pulang dari luar kota. Sekali lagi aku minta maaf."
Nuna hanya mengangguk, "Kalau gitu aku permisi."
Nuna sedikit kerepotan saat akan mendorong kursi roda Bian. Ia kesulitan karena Cashel juga berada dalam gendongannya.
"Berjalanlah dulu, Na. Biar aku yang dorong Bian."
Nuna menatap sedikit lama manik mata Arga, seakan ia memastikan apakah yang ia dengar ini salah atau tidak.
"Nggak usah, Arga. Biar Nuna aja yang dorong aku. Kau yang gendong Cashel."
Mata Nuna beralih menatap Bian yang juga menatapnya. Apa-apaan ini? Kenapa Bian melalukan ini? Tidak sadarkah ia apa yang baru saja terjadi? Batin Nuna kesal.
"Kasih, Sayang. Kasihkan Cashel ke ayahnya. Cuman antar ke mobil aja, kan? Nggak jauh, nggak sampai rumah." Bian mengelus pelan punggung tangan calon istrinya dan sesaat kemudian, wanita itu menyerahkan Cashel pada Arga.
Arga sedikit tertegun, betapa indah pemandangan yang ia lihat barusan. Cinta seakan tergambar jelas dari keduanya. Saling menenangkan dan menjaga satu sama lain. Tidak ada yang tau betapa dalamnya penyesalan dalam diri Arga sudah melepas berlian karena ia yang tak mampu merawatnya.
"Cashel mau digendong sama Ayah?" Arga bertanya demi kenyamanan anak itu juga.
"Mau," jawab Cashel singkat sembari merentangkan tangannya di depan Arga.
Senyum seketika terbit begitu saja di bibir Arga. Dengan jarak ruang tamu ke halaman yang tidak terlalu jauh, ia memeluk erat sang anak seakan ini adalah pelukan yang terakhir. Begitu sampai di mobil pun, Arga tak membiarkan Cashel lolos begitu saja. Ia sekali lagi memberikan kecupan di seluruh wajah anak kecil itu dengan brutal. Karena merasa geli, akhirnya tawa Cashel pecah sebelum akhirnya ia benar-benar masuk mobil.
__ADS_1
Hati Arga menghangat bisa membuat Cashel tertawa meski hanya sesaat.
"Ayah minta maaf, udah buat Ibu kamu khawatir dan sedih, ya."
"Iya. Nggak apa-apa. Yang penting sekarang aku udah sama Ibu. Makasih udah mau kembalikan aku ke Ibu, ya, Ayah."
"Hati-hati di jalan. Nanti insyaallah Ayah akan datang ke rumah kalau ada waktu, ya. Cepat sehat. Bye," ujar Arga melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Di detik berikutnya, mobil milik Bian melaju dengan kecepatan sedang. Nuna tetap memeluk anaknya dengan erat meski keadaan sudah aman.
"Kamu tadi diapain aja sama nenek sama Ayah? Dijahatin apa enggak?" Sebenarnya Nuna tahu, ini pernyataan konyol, tapi entah kenapa ia tetap menanyakan hal itu.
"Enggak. Nenek juga nggak jahat sama aku. Dia baik, dia kasih aku sarapan tadi, tapi nggak aku makan. Aku kepikiran sama Ibu. Pasti Ibu lagi nangis mikirin aku. Jadi aku nggak bisa nelan apa-apa."
Jawaban dari Cashel mengundang tawa Bian. Pria itu tertawa sedikit kencang karena Cashel rupanya hafal betul dengannya kebiasaan ibunya.
"Apa yang lucu? Kenapa kamu ketawa?"
"Ya Nggak apa-apa, emang kenapa? Nggak boleh? Lagian kamu kenapa spaneng banget idupnya."
Nuna semakin dibuat kesal oleh Bian. Ia membuang muka saat Bian menatapnya.
"Atututu, calon nyonya Abian ngambek. Cantik deh kalau cemberut gini, jadi makin sayang."
Nuna seketika mengatupkan mulutnya dengan pipi yang memerah. Sungguh perlakuan Bian membuatnya jatuh cinta pada laki-laki itu setiap hari. Ia pernah seringkali menangis untuk orang yang tak menghargainya, namun sejak bersama Bian, ia merasa ingin menangis karena Bian yang selalu menghujaninya dengan cinta.
__ADS_1
"Cie pipinya Ibu merah," ledek Cashel.