Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
85


__ADS_3

"Jangan digituin, Ibu malu," kata Bian yang justru menambah Nuna menjadi salah tingkah.


"Kamu juga diam, Bian. Aku masih kesel sama kamu."


"Kenapa lagi?"


"Kamu nyebelin. Kenapa tadi kamu malah nyaranin aku untuk dorong kursi roda kamu, sedangkan Arga gendong Cashel ke sini? Kamu apa nggak lihat bagaimana kelakuan ibunya tadi?"


"Itu, kan ibunya, bukan Arga. Lagi pula kamu juga denger sendiri, kan, tadi gimana Arga belain kamu. Dia udah berubah beneran, kamu tahu itu dari obrolannya sama ibunya tadi, kan? Kamu juga dengar, kan? ya masa harus aku jelasin lagi sih, Sayang. Dia udah jauh lebih baik. Kamu pelan-pelan juga harus buka maaf kamu, berusaha mengobati luka kamu yang dulu pakai cara kamu sendiri, yaitu dengan cara memberi maaf nggak hanya di mulut, tapi diperlakuan juga. Kita harus hargai perubahan seseorang. Masa kamu kalah sama Cashel? Dia aja udah maafin ayahnya masa kamu enggak? Aku tuh cuman mau kamu juga ada perubahan setelah kenal aku, setelah deket sama aku, setelah menjadi istri aku nantinya. Aku juga mau kamu bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.  Kamu nggak mau apa nunjukin ke Arga kalau kamu beruntung punya aku. Kamu nggak lagi kekurangan kasih sayang dan cinta, kamu juga nggak pengen nunjukin ke dia kalau aku beruntung punya kamu? Dengan kamu menghargai perubahan dia dan menjadi Nuna yang baru, nanti dia juga nantinya akan berpikir bahwa aku akan membawa pengaruh yang lebih baik. Aku cuman mau itu. Memangnya pada kenyataannya aku merubah hidup kamu, kan? Tunjukin ke dia juga."


Bian mengelus pelan puncak kepala Nuna. Ia tahu wanita jika dberitahu dengan cara yang baik dan penuh kelembutan maka ia akan bisa menerima nasihat itu dengan baik tanpa tersinggung apalagi merasa disalahkan.


Banyak yang mengatakan bahwa perempuan itu sulit untuk dimengerti. Memang iya, wanita memang sulit dimengerti bagi para laki-laki yang tidak memiliki perasaan lembut atau tidak tahu cara menangani mereka.


"Apa selama ini aku belum menjadi obat buat kamu?"


"Kenapa ngomong gitu? Kamu lebih dari obat, kamu dan Cashel sama-sama vitamin dalam kehidupan aku. Kalian adalah hal penting. Maaf, aku belum menjadi seperti yang kamu inginkan."


"Nggak perlu menjadi apa yang aku inginkan. Cukup menjadi Nuna yang tidak pernah berubah dengan hati dan cinta yang dia punya. Jangan karena satu orang, hati kamu berubah menjadi ternoda meski hanya setitik. Setitik jika terus dipelihara akan menjadi lebar dan nanti akan benar-benar merubah hati kamu."


Nuna mengangguk patuh, ia lalu meletakkan kepalanya di pundak Bian dengan memejamkan mata. Ia sangat berharap waktu bisa cepat berputar agar ia bisa hidup bersama dengan cepat. Rasanya ia sudah sangat tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Waktu di mana ia tinggal di bawah satu atap yang sama, mengurus Bian dan anaknya, bangun dan menutup mata bersama dengan laki-laki yang merubah hidupnya. Nikmat mana lagi yang harus diingkari oleh Nuna?

__ADS_1


Hari demi hari yang terlewat akhirnya membawa Nuna dan Bian semakin dekat dengan hari di mana mereka akan menjadi sepasang suami istri. Hari istimewa yang sempat tertunda beberapa minggu itu akhirnya terlaksana dua hari lagi. Sudah satu minggu ini Bian dan Nuna tak boleh berkomunikasi apalagi bertatap muka.


Mereka sudah pernah melewati masa ini sebelumnya, bahkan bertahun-tahun lamanya mereka tak bersua. Tapi rasanya sangat berbeda kali ini. Mereka sangat merindukan satu sama lain hingga membuat Bian frustasi sendiri.


Hingga akhirnya malam itu ia nekat untuk menemui Nuna diam-diam. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sengaja ia menunggu sedikit tengah malam untuk menemui calon istrinya itu.


"Bodo amat sama pingit-pingitan, nggak tahu apa orang kangen begini. Perasaan dulu Bianca nikah nggak gini-gini amat," gerutu Bian membawa motor matic nya dan melaju dengan kencang.


Nuna juga merasakan hal yang sama. Rindu yang sedang naik di puncak kepalanya itu membuat ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa tak sabar dan rindu yang bercampur menjadi satu membuat wanita itu memutar-mutar tubuhnya lantaran ingin tidur, namun matanya enggan terpejam.


Tak berselang lama, ia mendengar sebuah ketukan di jendela. Ia bangun dengan sedikit takut, takut jika itu orang yang berniat jahat dan lain sebagainya.


Nuna seketika membuka mata dan mulutnya lebar-lebar mengetahui bahwa Bian yang mengetuk jendela kamarnya malam-malam begini.


"Bian, kamu ngapain malam-malam ke sini? Nanti ketahuan sama Ayah, Ibu gimana? Aduh kamu jangan bikin perkara deh," omel Nuna membuka jendela.


"Kangen. Emang kamu nggak kangen apa sama aku? Seminggu nggak ketemu kayaknya kamu biasa aja. Ini udah modern, kenapa mesti pakai pingin-pingitan? Aku nggak betah tahu. Kamu minggir, aku mau masuk."


"Bian kamu jangan konyol, ya. Selama ini kamu nggak pernah konyol kayak gini. Kamu selalu berwibawa dan dewasa, sekarang kenapa jadi kayak gini? Jadi kayak abg jatuh cinta deh. Jangan masuk lah, nanti kalau Ayah sama Ibu tahu gimana?"


"Ya mereka nggak bakal tahu kalau kamu nggak berisik. Ini, kan udah malam, mereka udah pasti istirahatlah. Ayo buruan aku nggak bisa lama-lama."

__ADS_1


"Kamu cuman kangen, kan? Ya udah sekarang udah ketemu kamu pulang sekarang."


"Aduh aku mau itu," rengek Bian seperti anak kecil.


"Apa?"


Bian menujuk bibirnya, "Sebentar aja, buat pemanasan dua hari lagi."


Nuna reflkes memukul lengan Bian dengan keras, "Jangan main-main kamu, Bian. Udah sana pulang, ah."


Tak mau pertemuannya malam ini menjadi malam yang sia-sia, Bian menarik kepala Nuna tanpa izin dan melahap bibir wanita yang terlihat cantik meski tanpa polesan itu.


Entah kapan ia terakhir kali menikmati bibir mungil wanita kecil yang selalu ia puja ini, seingat Bian ia mencumbu Nuna hanya sekali saat wanita itu datang ke rumah karena kesalahpahaman yang ia ciptakan sendiri.


Nuna yang tadinya tidak mau lantaran alibinya yang takut ketahuan orang tuanya nyatanya tetap menikmati sentuhan itu. Sesapan yang sangat lembut itu mampu membawa Nuna terbang entah ke langit ke berapa. Tidak hanya perlakuan Bian saja yang lembut, tapi caranya menyentuh Nuna sangatlah membuat wanita itu lupa menginjak tanah.


Bian melepas pagutan bibir itu saat merasa nafsunya melebihi apa yang ia mau. Napas keduanya sama-sama terengah-engah lantaran cumbuan yang nampak cukup lama.


"Makasih, ya. Aku bisa tidur sekarang. Kamu juga tidur, jangan malam-nalam tidurnya, bidadari cantik ini dua hari lagi akan menjadi pengantinnya Bian." Laki-laki itu lalu mengecup lama kening Nuna dan beranjak pergi.


"Sampai ketemu dua hari lagi nyonya Daniyal Abian," teriak Bian seraya melambaikan tangan dengan berjalan mundur.

__ADS_1


__ADS_2