Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
70.


__ADS_3

Beberapa minggu dari kepergian Anita dan anaknya, Arga kembali pulang ke rumah ibunya. Ia akan kembali menjadi  Arga lajang yang menjadi penanggungjawab kehidupan ibunya. Ia tak punya rencana apa-apa untuk kedepannya. Ia hanya ingin bekerja untuk bertahan hidup saja. Rasanya ia sudah tak punya selera untuk memikirkan yang lain.


Namun, tidak bagi Bu Ningsih. Beliau yang tidak belajar dari apa yang menimpa Arga justru dijadikannya kesempatan untuk menghasut Arga agar mau mengambil Cashel dari ibunya.


"Bu, aku nggak mau lagi berurusan lagi sama yang sudah-sudah, rasanya sudah cukup aku mengalami ini semua. Ibu tidak sadarkah selama ini yang menimpaku ini juga bagian dari masa laluku yang salah sama Nuna?"


"Semua punya salah, mana ada orang yang nggak buat salah? Yang penting kamu, kan udah minta maaf, ya udah. Ngapain kamu mikirin dosa? Lagian nih, ya, Nuna masih bisa punya anak sama suaminya. Kamu nggak akan punya siapa-siapa lagi kalau Ibu pergi."


Arga hanya diam, ia merasa ibunya sudah tak mengerti dengan perasaannya, beliau tak peduli dengan apa yang ia rasa. Sudah banyak hal yang ia alami dan rasakan, tapi ibunya seakan tak peduli, yang beliau tahu hanya mendesak dan memberi makan egonya saja.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal seperti ini, Bu. Aku baru saja kehilangan anak istri, tapi Ibu sudah mendesak ku. Udahlah, Bu. Biarkan aku tenang dulu. Beri aku napas untuk istirahat. Semua ini melelahkan untukku."


"Kalau kamu nggak di desak terus, kamu nggak akan gerak. Udah dibilang dari dulu, rebut sampai dapat, kamu jadi laki lembek banget."

__ADS_1


Desakan itu terus berlanjut hingga beberapa bulan kemudian. Arga tak sekalipun menanggapi, ia berusaha bertahan dengan pendirian untuk tetap pada keinginannya yang merubah dan memperbaiki diri.


Dari sekian banyak bulan yang ia lewati, hari ini ia merasakan rindu yang membuncah di ujung kepala. Hari ini adalah hari di mana ia masuk ke dalam lubang yang ia kira memiliki lampu terang benderang, namun rupanya lampu itu perlahan meredup dan akhirnya gelap hingga detik ini. Entah ia bisa keluar dari kegelapan ini atau tidak hanya waktu yang bisa menjawab.


Di pagi hari yang ia jadikan sebagai hari kelahiran anaknya sekaligus hari perpisahan ikatan pernikahannya dengan Nuna, ia manfaatkan sebegai alasan untuk menemui Cashel. Ia tak tahu kapan tepatnya anak itu lahir, ia bukan Ayah yang baik, bukan juga sosok pria yang bertanggung jawab, tapi ia sedang berusaha untuk menjadi keduanya. Meskipun ia tak tahu apa dan bagaimana respon Nuna dan keluarganya nanti ketika melihat dirinya, entah penolakan atau pengusiran, ia akan tetapl menjalankan apa yang ia rencanakan. Sakit hati karena penolakan bukan hal yang luar biasa baginya. Ia sudah banyak melewati masa sakit dan luka yang bisa saja membuatnya mati perlahan.


Sebuah hadiah berukuran sedang menemani perjalanannya dia pagi hari itu. Besar harapannya untuk bisa setidaknya hanya berbicara sebentar saja, hanya melepas rindu agar ia bisa tertidur dengan nyenyak tanpa membawa beban kerinduan yang akhir-akhir ini ia tahan.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Arga untuk ke rumah Nuna jika dari rumah Bu Ningsih. Namun, jarak tempuh yang jauh itu tidak mengurangi sedikit pun niat Arga untuk mengunjungi anaknya. Perjalanan jauh itu rupanya tidak terasa jika ditemani dengan prasangka baik. Sepanjang perjalanan Arga hanya membayangkan ia bisa bercengkrama dengan anak semata wayangnya yang mirip dengannya.


Beberapa saat terdiam di sana, ia melihat Cashel yang sedang memutari halaman rumahnya yang tak kalah besar dengan rumahnya. Ia berputar-putar dengan tawa bahagia sembari mengayuh sepeda yang nampak baru. Anak itu tidak sendirian, ia tertawa bersama ibunya dan juga Bian.


Bibirnya ikut melengkung saat melihat pemandangan itu. Tapi tidak dengan hatinya, ada sedikit keirian yang menyelimuti hati kecilnya. Seandainya saja ia yang berada di sana, seandainya saja ia mempercayai Nuna sepenuh hatinya, mendengar apa katanya, menyelidiki terlebih dahulu apa yang sesungguhnya, dan seandainya-seadainya yang lain, pasti kehidupannya akan lebih sempurna dan tidak seberantakan ini.

__ADS_1


Niat Arga yang semula ingin memberikan sekotak mainan itu berubah menjadi ratapan penyesalan. Entah berapa lama ia berdiam diri di sana dan akhirnya tersadar degan tindakannya yang hanya akan membuat perih hatinya saja. Akhirnya ia putuskan untuk urung bertandang ke rumah Nuna hari itu, ia terburu-buru memutar setirnya untuk kembali ke rumah. Dan saking buru-burunya ia tak melihat keadaan jalan yang terdapat truk melintas. Alhasil ban motor depan Arga tersenggol dan akhirnya ia terjauh bersama dengan motornya. Suara motor terjatuh dan teriakan dari Arga membuat Nuna dan Bian sejenak menolehkan kepala ke arah jalanan. Melihat ada yang terkapar refleks Bian berlari untuk memberikan pertolongan.


"Mas, nggak apa-apa? Apa ada yang parah? Mari saya ban..." Ucapan Bian tergantung ketika melihat wajah Arga yang terlihat kesakitan. Kakinya yang terjepit motor dan aspal seakan sangat menyakitinya.


"Arga, ayo aku bantu." Bian tetap membantu pria itu berdiri. Terlepas dari bagaimana masa lalunya, baginya Arga tetap butuh pertolongan.


"Kakimu berdarah, harus segera di beri obat. Ayo ikut aku!"


"Tidak, Bian. Tidak usah, aku bisa tahan. Aku mau pulang saja."


Bian memperhatikan wajah dan badan Arga yang nampak tak sesegar dulu. Wajah yang tirus dan seakan tak terawat sangat kentara. Ditambah lagi badan yang begitu kurus semakin menambah kesan bahwa Arga tak baik-baik saja setelah kepergian istri dan anaknya. Dari fisik Arga, Bian bisa mengambil kesimpulan bahwa pria itu memang benar-benar terpuruk kehidupannya dan bisa jadi ia sudah tak punya semangat untuk melanjutkan hidup.


Bian tetaplah manusia biasa yang punya perasaan. Sebenci apa pun dirinya terhadap Arga, tetap saja melihat keadaan yang mengenaskan membuat rasa ibanya muncul begitu saja.

__ADS_1


"Bahaya, Ar. Setidaknya bersihkan dulu darah di kakimu. Akan sakit jika dipaksa untuk berkendara." Mata Bian tak sengaja melihat kotak yang terbungkus kertas kado. Tak perlu bertanya lagi Bian sudah paham untuk siapa benda itu.


"Udah, ayo ikut aku ke rumah. Jangan khawatir Nuna akan mengusirmu, aku yang jamin.


__ADS_2