Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
78


__ADS_3

Senyum yang hilang beberapa hari terakhir kini telah kembali terukir di bibir ranum Nuna. Hari ini ia sangat lega, dua laki-laki yang menjadi udara dalam kehidupannya kini sudah terjamin keselamatannya.


"Bian ini aku, kamu nggak lupa sama aku, kan? Udah dua hari kamu tidur. Kepala kamu sakit? Aku panggil dokter sebentar." Nuna bangkit hendak memanggil dokter, namun tangan lemah Bian mencegah wanita itu untuk meninggalkannya. Tatapan lemah sedang menatap intens kedua mata Nuna yang menyipit lantaran bengkak dan juga bola mata yang seperti berair.


"Duduk aja."


"Nggak ada yang sakit, kan? Kamu mau apa? Mau sesuatu?"


"Cashel mana? Gimana keadaannya? Dia nggak parah, kan? Ke mana sekarang dia?"


"Dia ada di sebelah kamu. Nggak apa-apa, jangan pikirkan yang lain dulu. Kesehatan kamu juga penting. Kamu nggak ada yang sakit beneran? Kamu lapar nggak?"


Bian hanya menggeleng lemah. Ia melihat raut wajah sedih yang tersisa di setiap sudut bagian wajah Nuna. Wajah wanita itu juga banyak luka dan dahi yang masih diperban. Ia merasa menjadi manusia yang gagal karena membuat calon istrinya penuh luka seperti, ditambah lagi Cashel yang bahkan belum sadarkan diri.


Kepala Bian hendak bergeser ke arah Cashel berbaring. Namun, dengan cepat Nuna menahan pipi Bian agar tak melihat anaknya.Ia arahkan kembali wajah Bian agar tetap melihatnya saja.


"Kenapa? Aku mau lihat Cashel."


Nuna menghela napas panjang, "Fokus sama sehatnya kamu dulu, Cashel nggak  apa-apa. Dia memang belum sadar, tapi nggak apa-apa. Sebentar lagi dia juga bangun."


"Maaf aku gagal jaga kalian. Maafkan aku." Bian berkaca-kaca melihat wajah Nuna. Lama kelamaan ia merasa bersalah juga melihat wajah wanita itu yang banyak luka.


"Nggak ada yang mau mengalami musibah, apa yang terjadi sama kita sudah ada campur tangan Tuhan, kan? Nggak perlu merasa bersalah, yang terpenting sekarang kita semua diberi kesempatan untuk bareng lagi." Nuna menghapus air mata yang hendak keluar di ujung netra Bian.


Bian lalu beranjak duduk dengan pelan. Ia mengalami kesulitan karena tangan dan kakinya mengalami patah tulang. Nuna sudah memberi peringatan untuk tetap tiduran, tapi Bian dengan alasan lelah berbaring dan keras kepalanya mampu membuat Nuna tergerak untuk membantu ia duduk.

__ADS_1


"Ayah sama Ibu marah nggak sama aku bikin anak cucunya kayak begini?"


"Nggak kok. Ayah sama Ibu malah sama khawatirnya sama kalian. Kamu bikin aku khawatir, udah dua kali kamu bikin aku takut, jangan lagi, ya."


"Maaf. Maafin aku." Bian menggenggam tangan Nuna dan membawanya ke bibirnya untuk ia kecup lama.


"Kita mau nikah, tapi aku buat wajah kamu jadi begini. Pernikahan kita juga tinggal satu minggu lagi. Tapi keadaan aku kayak gini."


"Nggak usah ngomongin itu dulu, kita bisa undur sampai semuanya sehat dan bisa melaksanakan pernikahan. Masih banyak hari, Sayang. Nggak harus sesuai sama tanggal yang kita tentukan. Ini ujian buat kita."


"Kenapa ujian terus? Aku dari awal juga udah berasa di uji."


"Semakin kita banyak ujian, semakin kuat juga cinta kita. Anggap saja Tuhan sedang menguatkan cinta kita, semakin kuat badai ujian dalam hubungan kita, selagi itu tidak dari diri kita sendiri, cinta kita akan semakin kuat."


"InsyaAllah, aku akan selalu jaga apa yang aku punya dan aku dapatkan dengan susah payah. Tetap begini terus, ya."


Bian hendak kembali melihat .Cashel yang belum tersadar, namun belum sempat ia melakukan itu pintu ruangan terbuka dari luar. Setelah itu memperlihatkan sepasang suami istri yang sedikit terkejut saat mengarahkan pandangan ke arah Bian dan Nuna.


"Bian, kamu sudah sadar. Bagaimana keadaan kamu?"


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, Yah. Maaf sudah sudah lalai."


"Musibah. Tidak perlu ada yang disesali. Alhamdulillah kalau begitu, kita tinggal tunggu Cashel sadar."


Disaat itulah Bian mengikuti gerak kapala Pak Lukman. Di detik itu juga akhirnya ia tahu bahwa Cashel juga sama parahnya dengan dirinya. Hembusan napas berat dan panjang ia perdengarkan. Penyesalan semakin melebar ke mana-mana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka dari luar. Seorang suster membawa sebuah nampan berisi piring, mangkok, dan satu gelas minuman. Tentu saja hal itu membuat kening Bian mengernyit, untuk siapa makanan yang di atas nampan itu?


"Loh, bapak yang donorin darah tadi ke mana?"


"Udah pulang sus, katanya tadi udah dibolehin pulang makanya saya biarin dia pulang." Pak Lukman yang menjawab.


Donor darah? Siapa yang donor darah untuk siapa? Cashel kah?


Nuna menelam ludah kasar, niat hati ingin menyembunyikan hal ini terlebih dahulu nyatanya lagi-lagi ekspetasi tak berjalan sesuai dengan keinginannya.


"Sebenarnya tadi masih suruh istirahat, Pak. Tapi karena sudah terlanjur pulang, ya sudah. Kalau begitu saya permisi." Suster itu sedikit menganggukkan kepala sebagai tanda berpamitan.


"Siapa yang butuh donor darah?"


"Cashel. Tadi Arga yang ke sini dan kasih darah buat anaknya."


"Arga?" ulang Bian menoleh pada Nuna. "Dia tahu kami kecelakaan?"


"Dari Nizar, katanya Arga sempat datang ke rumah terus ketemu sama Nizar dan dikasih tahu sama dia kalau kalian mengalami kecelakaan dan Cashel butuh donor darah karena darah Cashel langka, jadi kami dan juga pihak rumah sakit sedikit kesulitan untuk mencari pendonor darah untuk Cashel dan alhamdulillahnya Arga datang tepat pada waktunya." Masih Pak Lukman yang bersuara.


Bian hanya menganggukkan kepala pelan. Sudut netranya melirik Nuna yang nampak gusar dan sedikit merubah ekspresi wajahnya. Seakan mengerti apa yang dirasakan wanita itu, tangan Bian yang sempat terlepas dengan tangan Nuna kembali terpaut dengan erat. Melihat pergerakan itu, kedua orang tua Nuna pamit dengan beralasan mencari makan siang yang tertunda.


"Kamu kenapa mukanya ditekuk begitu? Apa yang terjadi selama aku nggak sadar? Cerita sama aku."


"Seperti yang kamu dengar tadi, Cashel kehilangan banyak darah dan darahnya langka. Ayah, Ibu, Nizar, dan pihak rumah sakit sudah berusaha untuk mencari darah yang sesuai sama Cashel, mereka dapat tapi nggak seberapa, masih kurang. Aku sudah berusaha untuk menolak dan mencegah Arga memberikan darahnya. Aku nggak mau ada darah dia mengalir di dalam tubuh anakku. Meskipun tidak bisa dipungkiri tanpa Arga kasih darah pun ada darah Arga yang mengalir di tubuh Cashel. Aku nggak mau punya hutang budi sama dia, tapi Ayah nggak ngerti perasaan aku. Dia membiarkan Arga untuk memberikan darahnya dan aku takut, Bian. Aku sangat takut kalau hal ini dijadikan Arga untuk mengambil anakku." Air mata Nuna kembali berlinang.

__ADS_1


"Sssstt. Nggak akan aku biarkan siapa pun membuat wanitaku menangis seperti ini. Dalam hal apa pun, meskipun aku nggak ada hak seratus persen atas anak kamu yang akan jadi anakku juga. Aku nggak akan biarkan Arga melakukan apa yang kamu takutkan. Udah berapa kali aku bilang kamu harus percaya sama aku, kan? Tolong Sayang, fokus ke aku dan Cashel aja. Nggak usah mikirin apa yang kamu takutkan, aku yakin Arga nggak akan seperti itu, hm?"


__ADS_2