Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
25. Situasi Yang Tidak Mudah


__ADS_3

Pagi itu, Bian berjalan melewati koridor Rumah Sakit dengan membawa sebuah tentengan makanan. Ia sengaja datang lebih pagi agar bisa memberikan makanan yang ia masak sendiri kepada kedua orang tua Nuna. Mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya ingin ngobrol dengannya membuat Bian sedikit gugup. Meskipun sebenarnya secara garis besar obrolan mereka nanti sudah pasti seputar Nuna dan suaminya tetap saja hal itu membuat jantungnya tak tenang.


Saat sampai di depan pintu ruangan Nuna di rawat, tiba-tiba kegugupan menghampirinya lebih parah, ditambah lagi dengan ingatan saat ia mengusap pelan puncak kepala Nuna muncul begitu saja.


Tangan yang sudah ia letakkan di gagang pintu akhirnya kembali ia lepas. Tubuhnya ia singkirkan untuk bersandar pada dinding seraya memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Hanya ngobrol sebentar dan pergi kenapa jadi se gugup ini? Pikirnya dalam hati.


Tok tok tok


Bian mengetuk pintu ruangan masih dengan wajah pucatnya. Tak beselang lama, pintu tertarik ke belakang. Nampak seorang wanita sekitar berusia 47 tahun menyambut kedatangan Bian degan senyum ramahnya.


"Selamat pagi, Bu. Saya Bian." Bian merendahkan sedikit kepalanya untuk menyapa, sedetik kemudian ia menyodorkan tangan untuk bersalaman. Uluran tangan itu disambut baik oleh Ibu Nuna.


"Iya, Nuna sesudah menceritakan kamu juga semalam. Silakan masuk."


Dengan debaran jantung yang masih bertalu-talu, Bian membawa tubuhnya masuk. Ia melihat Ayah Nuna yang berdiri dari sofa untuk menyambut kedatangannya.


"Jadi ini yang namanya Bian?"


Ramah, itulah kesan yang didapat dari Ayah Nuna di mata Bian. Pria itu hanya mengangguk seraya melengkungkan bibirnya.


"Oh, ya. Ini saya bawa sarapan buat kalian. Saya masak sendiri." Bian menyerahkan kotak bekal bersusun ukuran sedang itu pada Ibu Nuna.


"Wah jadi merepotkan. Terima kasih, ya."

__ADS_1


Ibu Nuna duduk seraya membuka kotak bekal yang sudah beliau letakkan di meja. Beliau membagikan nasi beserta lauk pauk lengkap itu ke beberapa wadah untuk disantap bersama-sama.


Bian duduk tepat menghadap Nuna. Meski ada jarak beberapa langkah dari tempat tidurnya, tetap saja ia bisa melihat Nuna dengan jelas tanpa hambatan. Ia lebih memilih untuk menatap lantai saja seraya berusaha menutupi kegugupannya.


"Bu, kayaknya enak. Aku mau," bisik Nuna pada ibunya yang masih sibuk membagi makanan.


Letak meja kecil yang berada tepat di samping kepala Nuna membuat wanita itu dengan mudah mencium aroma masakan Bian. Ia pernah makan masakan pria itu, dan memang masakannya seenak aromanya.


"Iya nanti Ibu ambilin. Sebentar Ibu antar ini ke mereka dulu."


"Ah tidak, Bu. Saya sudah makan," ujar Bian saat diberikan sepiring nasi yang tadi ia bawa.


Ibu Nuna hendak membujuk Bian agar tetap makan meski sedikit saja, bukankah rasanya tidak enak hati jika keluarganya saja yang menikmati makanan sementara ia tidak? Namun, belum sempat beliau melengkapi kalimat bujukannya, salah seorang suster masuk dan memanggil Bian.


Akhirnya mau tak mau mereka bertiga sarapan bersama dengan dibuka pujian dari Ayah Nuna.


"Aku akan pulang setelah apa yang aku targetkan sudah aku capai, Yah. Ayah tenang aja, aku di sini baik-baik saja, aku bisa menjaga diriku sendiri. Ayah sama Ibu nggak perlu khawatir."


"Ini Bukan soal dirimu saja Nuna, tapi sebentar lagi kamu akan mempunyai anak. Kamu harus ada teman untuk merawat anakmu. Kalau kamu fokus merawat anakmu saja, kamu tidak bisa memenuhi kebutuhanmu, tapi kalau kamu fokus pada memenuhi kebutuhanmu, siapa yang akan menjaga anakmu? Pikirkan itu! Ibu sama Ayah juga nggak mungkin di sini terus, nanti adikmu bagaimana?"


"Begini saja Bu, setelah ini biar Ayah aja yang balik ke kampung. Ibu di sini sama Nuna. Ya seengaknya, sampai bayi Nuna nanti bisa di bawa perjalanan jauh. Nggak mungkin kalau kita tinggalkan dia sendirian di sini. Kita turuti saja apa mau Nuna. Nanti kalau apa yang dia mau sudah terwujud, dia bisa pulang kampung dengan tenang juga. Nggak kepikiran apa-apa karena urusannya di sini sudah selesai."


"Ayah sama Nizar gimana? Siapa yang urus?"

__ADS_1


"Ibu kayak nggak tahu Ayah aja, Ayah bisa melakukan semuanya. Udah tenang aja, Ibu fokus aja di sini sama Nuna. Jangan pikirkan Ayah sama Nizar, kalau pikiran Ibu bercabang-cabang, nanti malah Ibu kecapean sendiri, sakit, malah jadi tambah runyam."


Akhirnya setelah beberapa saat terdiam untuk memikirkan yang terbaik, ketiga manusia yang ada ikatan darah itu menyetujui apa yang diputuskan oleh kepala keluarga yang dikenal sabar dan penyayang di keluarganya.


Tak berselang lama, Bian kembali dengan wajah yang sudah tak se pucat tadi.


"Bian, ada urusan apa suster tadi memanggil kamu apa soal administrasi? Katakan saja berapa uang yang harus Bapak bayar."


"Bukan, Pak. Ini tadi hanya diberi tahu kalau Nuna sebenarnya sudah memasuki waktu melahirkan saja, dan kalau tidak ada respon apa-apa dari bayi Nuna. Nanti akan ditindaklanjuti dengan operasi. Itu aja, dan ini. Ini surat pernyataan yang harus ditandatangani suami Nuna." Bian menyodorkan sebuah kertas.


"Sini, biar Bapak yang tanda tangan. Lalu untuk administrasi?"


"Saya sudah mengurusnya, Pak. Nanti Bapak tinggal melunasi biaya Nuna melahirkan dan setelahnya saja."


"Nuna bukan tanggung jawabmu, Bian. Bapak akan ganti, katakan saja berapa!"


"Tidak perlu Pak, saya melakukan ini juga karena Nuna pernah menolong adik saya dari kecelakaan. Saya Ikhlas membantu, saya hanya niat membantu saja. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung atau niat-niat yang lainnya. Jadi saya harap Bapak dan Ibu bisa menerima balas budi saya."


Nuna tentu saja terenyuh dengan apa yang dilakukan Bian. Ia sangat merasa tidak bisa menerima kebaikan sebanyak ini dari pria itu.


"Ayah, aku bisa pulang sekarang dan bisa melahirkan di bidan saja. Aku yakin, aku bisa melahirkan normal." Nuna tak mau merepotkan semua orang, ia sudah merasa sangat tak berguna kali ini.


"Jangan! Dalam kasusmu ini banyak prosedur yang harus dilewati. Dokter mengatakan akan menginduksimu terlebih dahulu, jika memang tidak ada peningkatan, kamu akan dioperasi. Coba bayangkan saja kalau kau dibawa ke bidan, jika bidan itu tidak bisa menangani mu, tetap ujung-ujungnya akan dibawa ke rumah sakit. Jadi tolong, diam di sini." Bian refleks menunjukkan perhatiannya seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


Semua manusia yang berada di situ diam seketika termasuk Bian. Kedua orang tua yang berada di sana saling tatap seakan mempertanyakan pertanyaan yang sama. Sementara Bian seketika mengeluarkan peluh di dahinya.


"Bisa kita bicara sekarang, Bian? Kita bicara di luar." Ayah Nuna berjalan keluar ruangan lebih dulu.


__ADS_2