
Setelah beberapa saat dipaksa untuk membuka kedai, akhirnya Bian dengan berat hati meninggalkan Nuna sendirian di puskesmas. Jangan betanya kenapa Bian merasa berat untuk meninggalkan Nuna, karena ia sendiri tak tahu apa yang ia rasakan ini.
Sebelum benar-benar pulang, ia melihat pedagang rujak buah dan jus buah yang sedang melewati puskesmas. Refleks ia memanggil pedagang itu dan membeli jus buah untuk Nuna. Serta beberapa buah segar untuk wanita itu. Mungkin ini tidak akan mengenyangkan, tapi setidaknya perut wanita itu tidak kosong selama menunggu badannya kembali pulih.
"Kamu kuat, kan di dalam? Ibu yakin anak Ibu kuat. Harus terus sehat dan bertahan sampai kita ketemu, ya. Maaf kalau Ibu harus ngajak kamu bekerja keras setelah ini. Kalau Ibu nggak kerja, gimana nanti sama kebutuhan kamu? Kita berjuang bareng, ya Nak. Ibu juga harus mengumpulkan uang untuk tes DNA nanti. Biar Ayah bisa kembali ke kita." Nuna bicara dengan buah hati yang berada dalam perutnya. Mulutnya bergetar menahan air mata dengan tangan yang tak berhenti mengelus perutnya.
Bian yang berada di ambang pintu sejak Nuna bicara seketika merasa ada yang tercubit dibagian ulu hatinya. Ia hampir menjatuhkan bawaannya ketika mendengar seruan hati Nuna yang bisa saja itu belum sepenuhnya.
Apa maksudnya? Kenapa Nuna harus bekerja?
Bian terdiam memikirkan ucapan Nuna. Beberapa saat berpikir membuat Bian menyimpulkan bahwa masalah ini pasti menyebabkan suami Nuna tidak ingin memberi nafkah padanya. Mengingat suaminya yang tempramen, belum juga Ibu Mertua yang menginginkan perpisahan mereka membuat Bian semakin yakin dengan pemikirannya.
Itu artinya di rumah itu Nuna benar-benar sendirian? Aku baru ingat dengan perselisihannya dengan ibu mertuanya. Kenapa aku baru ingat sekarang?
Setelah tak lagi mendengar kata-kata Nuna untuk menguatkan dirinya sendiri, Bian menekan gagang pintu, ia mencetak wajah biasa saja seakan ia tak mendengar apa-apa.
"Ada yang ketinggalan?" Nuna bertanya seraya menyelimuti perutnya yang sempat ia buka.
"Nggak. Ini tadi aku papasan sama pedagang buah. Aku membelikannya untukmu. Buat camilan." Bian meletakkan tas kresek itu ke meja dekat ranjang.
"Kenapa harus repot-repot, Bian?"
"Nggak. Cuma buah doang. Ya udah, aku ke kedai, ya. Ini, aku tinggalin nomer HP aku di sini, barangkali kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk hubungi aku. Kau masih tanggung jawabku selama kau di sini. Kau bisa di sini karena adikku."
__ADS_1
Nuna tertawa kecil, "Ini berlebihan, Bian. Tapi, terima kasih, ya."
Bian hanya menggangguk untuk merespon tawa kecil dari Nuna. Ia merasa bersalah tadi sempat berpikir bahwa Nuna adalah wanita yang bodoh hanya karena tak mau menceritakan sedikit keluh kesahnya. Apalagi jika ia mengingat Nuna tak ingin cerita karena melindungi aib suaminya yang tempramen itu.
Wanita seperti Nuna sudah langka di dunia ini. Berlagak kuat dengan keadaan ditambah lagi dengan tak ada teman di sisinya, sungguh tak semua manusia bisa sekuat Nuna. Ditambah lagi dengan kebaikan hati Nuna yang tidak ingin mengumbar aib suaminya. Sungguh itu adalah wanita idaman Bian. Ia jadi berpikir ingin menikah dengan wanita seperti Nuna.
Eh tunggu, kenapa ia jadi berpikir sejauh ini? Bian menepuk kepalanya pelan ketika ia terus memikirkan Nuna.
"Tapi bukankah aku wajar memikirkannya? Siapa pun pasti akan memikirkan wanita itu ketika mendengar ucapannya tadi. Harus dengan cara apa aku membantunya?"
Bian sudah sampai di kedai. Bukanya mempersiapkan kedai untuk ia buka. Ia justru duduk di pantry dengan menopang dagunya.
Apakah aku harus mempekerjakan dia di sini lagi? Tapi rasanya itu bukan pilihan yang tepat. Ini akan menimbulkan masalah lagi untuk Nuna. Kalau aku carikan dia kerja, aku takut dia malah kecapean dan membuat bayinya kenapa-napa, aku pasti nggak akan bisa hidup dengan tenang kalau itu terjadi.
[Mas, bagaimana keadaan Nuna? Nggak ada yang parah, kan? Tadi aku minta bidannya untuk memeriksa keseluruhan, termasuk kehamilannya. Aku takut jika terjadi apa-apa]
Sebuah pesan membubarkan lamunan Bian.
[Iya, dia tidak apa-apa. Hanya saja tadi darahnya rendah, makanya dia belum bisa pulang. Mas udah di kedai. Nanti pulang ngampus kamu beliin makanan buat dia, ya]
[Oke. Masih ada satu kelas lagi. Aku akan langsung ke sana setelah ini]
[Ca, bisa Mas minta tolong? Carikan pekerjaan untuk Nuna. Pekerjaan yang ringan saja. Kalau bisa berangkat pagi pulang sore. Jangan menghabiskan waktu sehari penuh, jaga toko mungkin, atau apa gitu]
__ADS_1
Beberapa jam Bian menunggu, tak ada lagi sahutan dari adik sekaligus keluarga satu-satunya itu. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka kedai dengan semangat yang masih tersisa.
°°°
Sore harinya, Bian kembali ke puskesmas setelah mentup kedai. Untuk pertama kalinya, ia membuka kedai hanya beberapa jam karena pikirannya benar-benar tersita pada Nuna.
Sebelum ia ke puskesmas, ia mampir terlebih dahulu ke sebuah supermarket. Ia membeli banyak camilan dengan berbagai jenis. Saat sedang berkeliling menyusuri rak demi rak, tak sengaja ia mendengar suara yang tak asing. Ia menemukan Arga dan seorang perempuan yang sedang asyik berbelanja juga. Obrolan mereka terdengar akrab di telinga Bian.
Tak ingin ketahuan dengan kehadirannya, ia segera melipir ke kasir. Bian harus antri sebelum ia bisa melakukan transaksi dan pergi dari sana. Di dalam diamnya menunggu antrian, ia memikirkan kemungkinan terburuk.
"Mbak, apa ada alat pengamanan untuk hubungan friends with benefits?"
Note: Arti friends with benefits merujuk pada hubungan pertemanan yang melibatkan aktivitas ranjang. 'Benefits' di sini mengarah pada kepuasan ranjang yang didapatkan satu sama lain.
Bian seketika tersedak mendengar pertanyaan dari wanita yang baru saja datang ke kasir. Bian memang tidak sekolah hingga tingkat tinggi, tapi setidaknya ia tahu arti dari apa yang baru saja diucapkan wanita yang tidak jauh darinya itu.
"Apakah ada?" Arga datang menyusul dengan bertanya pada wanita itu.
Bian yang sadar bahwa wanita itu adalah wanita yang ia lihat bersama Arga tadi seketika membuang muka ke arah lain, berusaha untuk menutupi wajahnya dari suami Nuna. Ia melakukan itu bukan karena takut dengan Arga. Ia hanya menghindari pertengkaran dengan Arga. Ia khawatir jika pria itu melihat dirinya, hal itu membuat emosi Arga kembali muncul dan menimbulkan keributan di tempat umum. Ia malu jika harus membayangkan itu.
Beberapa saat berada dalam situasi menegang. Akhirnya Bian berhasil keluar supermarket dengan aman. Belum usai pikirannya dengan membantu Nuna soal pekerjaan, ia sudah ditibani dengan kenyataan baru yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Sudah kuduga, laki-laki bodoh seperti suami Nuna akan berbuat sejauh itu. Bagaimana bisa Tuhan membiarkan Nuna menikah dengan laki-laki seperti itu?
__ADS_1