Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
12. Rencana Jahat


__ADS_3

Nuna punya keyakinan besar bahwa hari ini hubungannya dengan sang suami akan kembali seperti semula. Ia mengembangkan senyum ketika Arga baru sampai di rumah. Senyuman yang diperuntukkan suaminya itu dibalas dengan tatapan kemurkaan.


"Wanita tidak tahu diri. Aku nggak tahu maksudnya kamu apa dengan meminta pertanggung jawaban aku atas kehamilan kamu. Aku bukan ayah dari anak yang kamu kandung, tapi kamu minta aku buat tanggung jawab. Setelah aku melakukannya, kamu diam-diam menemui ayah dari anak ini. Mau kamu apa?"


"Mas kamu salah paham. Dengarkan penjelasan aku dulu, kalau kamu nggak mau dengar aku bicara, setidaknya dengarkan Bian. Aku dan dia murni atasan dan bawahan. Aku bekerja karena aku merasa aku harus menabung untuk keperluan anak kita. Aku nggak akan bekerja diam-diam kalau kamu juga bisa kasih aku uang. Kamu bisa kasih aku uang, tapi kamu lebih berat ke Ibu. Kamu hanya ngasih aku buat periksa kandungan. Terus kalau aku atau kamu nggak pegang uang sendiri nanti aku melahirkan bagaimana? Belum lagi peralatan dan keperluan bayi itu banyak, Mas." Nuna mengeluarkan segala unek-uneknya.


"Itu bukan tanggung jawabku. Kamu nggak malu bilang gini ke aku? Bodoh kalau aku mau tanggung jawab dan menanggung beban hidup kalian setelah aku tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Aku tak mau mendengar penjelasan apa pun dari siapa pun."


"Sudahlah Ar, usir saja dia dari rumah. Ibu nggak mau ada benalu di sini."


Suasana semakin tegang dan mencekam. Pandangan Ibu dan anak itu terasa membunuh Nuna secara perlahan. Dalam keheningan dan ketegangan itu, Nuna juga menunggu kedatangan Bian yang seharusnya ia sudah sampai sini. Mengingat kedai tak pernah tutup melebihi jam empat sore. Ekor matanya beberapa kali melirik pintu dan sialnya, Arga memergoki pergerakan mata istrinya.


"Kamu nunggu dia datang ke sini? Sampai kapan pun dia tidak akan pernah ke sini. Aku sudah memberi pelajaran kecil, laki-laki pengecut itu pasti tidak akan berani menampakkan wajahnya di sini."


"Apa yang kamu lakukan, Mas?"


"Khawatir?" tanya Arga menyunggingkan senyum mengejek.

__ADS_1


"Jelas dia...."


Bu Ningsih berhenti bicara ketika tatapan Nuna beralih pada wanita itu. Tatapan tajamnya membuat Bu Ningsih seketika diam, namun pandangan mata yang beliau lempar juga tak kalah tajam. Kedua wanita itu seakan sedang bertengkar melaui tatapan mata.


"Ibu, alangkah jauh lebih baik jika Ibu tidak ikut ke dalam urusan rumah tangga kami jika kami tidak meminta pendapat atau saran. Kami sudah dewasa dan kami bisa menyelesaikan masalah kami sendiri." Nuna bicara dengan nada serendah mungkin. Rasa kesal pada Bu Ningsih berusaha keras untuk ia redam sesaat.


"Lihat, Ar! Kamu lihat, kan betapa kurang ajarnya istrimu ini? Untuk apa lagi kamu membiarkan dia di sini?"


"Bagaimana bisa Ibu menilai aku kurang ajar jika nada bicaraku saja sangat rendah. Tidak ada kemarahan, bentakan, dan tidak ada nada mengitimidasi di dalamnya. Kalau kalian mau usir aku, yang kelihatan jahat kalian, bukan aku. Apa? Kalian mau bilang sama orang-orang kalau aku hamil bukan anak Mas Arga? Kalian bisa kasih bukti apa kalau anak yang aku kandung bukan anak Mas Arga? Apa mau tes DNA? Tes DNA bisa dialukan di usia kehamilan 10 sampai 18 minggu. Kita bisa tes DNA sekarang jika kalian meragukan anak yang aku kandung adalah darah daging kalian. Ayo kita berangkat sekarang, Mas!"


Tantangan dari Nuna membuat Bu Ningsih kalang kabut dibalik ketenangan wajahnya. Bagaimana bisa Nuna mengembalikan keadaan menjadi menyerang dirinya? Masalah ini timbul karena cerita karangan dari beliau. Jika tes DNA itu benar-benar dilakukan, maka tamatlah riwayatnya, pikir Bu Ningsih bingung.


"Jangan Arga, dia bilang begitu pasti sudah menyiapkan sesuatu. Dia sangat yakin dengan tes DNA. Bisa saja nanti hasilnya dimanipulasi, kamu jangan bodoh, Arga. Sudah, jangan melakukan apa pun hingga dia melahirkan dan tinggalkan dia. Nggak usah terima kalau dia ngajak kamu melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa dia nggak salah. Orang yang sudah ketahuan salah, pasti akan berbuat apa pun untukĀ  membenarkan tindakannya."


"Ibu membicarakan diri ibu sendiri?"


"SUDAH CUKUP! Kita berangkat ke rumah sakit besok! Sebelum hasil tes DNA keluar, aku tidak ingin membicarakan apa pun mengenai masalah ini."

__ADS_1


"Arga! Kamu jangan gegabah, kamu pikir tes DNA bisa pakai uang receh kamu itu? Percaya sama Ibu, Arga! Ini akal-akalan dia aja."


Pertengkaran dan perdebatan itu akhirnya berlanjut hingga malam. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Semuai ingin menang dan akhirnya entah pukul beberapa Nuna merasa lelah dan mengalah.


Pertengkaran dan rencana tes DNA akhirnya menguap begitu saja hingga beberapa hari kemudian. Perdebatan sungguh tidak ada lagi setelah itu, yang ada hanya saling diam dan bertindak seakan tak saling kenal padahal mereka pasangan. Lebih tepatnya Arga yang melakukan itu. Ia sangat menghindari istrinya, tiap kali istrinya berusaha untuk mengajaknya bicara, tak ada sahutan atau hanya bentakan yang ia terima.


Sementara itu, Bu Ningsih masih terus saja memikirkan cara untuk membuat perpisahan anaknya itu benar-benar terjadi. Beliau merasa sudah tak mungkin lagi jika beliau memakai Bian sebagai umpan. Nuna sudah tak pernah keluar rumah setelah hari pertengkaran hebat itu.


Sedang sibuk memikirkan, tiba-tiba terlintas pikiran yang lebih jahat. Tak apa ini termasuk kriminalitas, tapi siapa yang peduli? Yang terpenting adalah tujuannya untuk memisahkan Nuna dengan Arga bisa terlaksana. Apa pun caranya, akan beliau lakukan jika itu memiliki peluang untuk membuat mereka terpisah.


Kebencian Bu Ningsih terhadap Nuna sebenarnya hanya masalah sepele saja, hanya karena Nuna bukan tipe menantu dan bukan orang yang kaya raya. Alasan klise yang seharusnya hal itu dijadikan alasan orang tua terhadap menantu laki-laki.


Pagi hari, Nuna sedang berada di dapur. Ia sedang membuat susu khusus ibu hamil. Ia bisa membeli itu hasil dari beberapa hari bekerja dengan Bian.


Bu Ningsih yang akan melaksanakan aksinya dengan ide kemarin dengan liciknya membuat ponsel Nuna berdering dengan nomer lain.


Mendengar gawainya berdering tentu saja membuat Nuna meninggalkan dapur. Dan seakan semesta sedang mendukung niat jahat Bu Ningsih, Nuna meninggalkan dapur tanpa membawa susunya.

__ADS_1


Bu Ningsih bergegas ke dapur dan mencampurkan sesuatu di sana. Begitulah kebanyakan manusia. Jika sudah buruk dan kotor hatinya, akan melakukan hal apa pun demi terwujudnya keinginan. Terobsesi dengan hal buruk, pasti akan didapatkan dengan cara yang buruk pula.


Tak berselang lama, Nuna kembali dan langsung meminum susunya.


__ADS_2