
Nuna terbangun dari tidur saat merasakan perutnya terdengar berbunyi. Kebiasaan Nuna yang bangun di pagi buta dan langsung terjun ke dapur untuk memasak sembari mengunyah rupanya menyusahkannya akhir-akhir ini. Sejak menikah dengan Bian, ia tidak diizinkan beranjak dari tempat tidur jika belum diminta oleh suaminya.
Nuna menatap pria di sampingnya dengan senyuman hangat. Tidak ada satu pun orang yang tahu betapa tampannnya laki-laki yang menikahinya ketika tertidur. Jarak dekat dan tangan yang melingkar di sepanjang pinggangnya tentu saja membuatnya selalu bahagia. Hal sederhana yang patut untuk disyukuri, merasakan bangun tidur dengan pelukan sayang dari suami tercinta adalah hal yang tidak semua orang dapatkan.
Mudah-mudahan kita selalu seperti ini apa pun yang terjadi, masalah sebesar apa pun yang menghadang nantinya, aku hanya berharap rasa sayang kita nggak akan pernah berkurang. Baik aku mau pun kamu dalam selalu terbangun dalam keadaan seperti ini. Aamiin.
Tangan lembut Nuna membelai pipi halus yang terawat itu. Beberapa detik kemudian, sang pemilik pipi pun membuka mata.
"Selamat pagi, Tuan Bian."
"Selamat pagi, nyonya. Pasti cacing di perut nyonya ku ini sedang kelaparan," ujar Bian dengan tawa kecilnya. "Kamu boleh masak, tapi temenin Mas mandi dulu." Bian bangkit dan menggeret tangan istrinya dengan lembut.
"Boleh Mas minta satu hal sama kamu?" tanyanya setelah pintu kamar mandi terkunci.
"Kamu kasih aku banyak hal, kenapa harus bertanya jika hanya untuk satu hal? Memang mau apa?"
"Aku nggak mau nunda momongan. Kamu siap kalau hamil lagi?"
Senyum dibihir Nuna perlahan memudar. Pernah beberapa kali terlintas dalam pikirannya jika hal ini terjadi. Cepat atau lambat memang pasti Bian akan menuntutnya hal ini bukan? Sempat terpikir juga dalam benaknya jika ia memiliki anak dengan Bian, ia takut jika rasa kasih sayangnya terhadap Cashel akan berkurang dan bahkan hilang.
"Kenapa kamu harus bertanya?"
__ADS_1
"Yang namanya nitip yang harus izin. Maunya Mas, maunya kamu, harus diomongin meskipun hal kecil. Mas pengen punya anak cepat, tapi kan yang menanggung kamu nantinya. Hamilnya, mualnya, ngidamnya, perasaan yang suka berubah-ubah, nggak nyamannya, semuanya yang susah, kan, kamu yang tanggung. Kamu yang rasain, meskipun aku nggak pernah hamil dan nggak akan pernah hamil, aku sudah melihat kamu dan adikku ketika mengandung. Aku tahu jadi kalian pasti nggak mudah, kalian rela bersusah payah untuk memberikan keturunan pada laki-laki yang bahkan mengambil kalian dari orang tua kalian untuk memgabdikan hidupnya sama suaminya."
"Omongan kamu tuh jauh banget, Mas. Saking jauhnya sampai aku merasa ucapan kamu sederhana, tapi bermakna dalam. Aku kayak baru kenal sama kamu, selama ini nggak pernah terlihat kalau kamu begitu menghormati dan menghargai perempuan. Aku semakin takut kalau ini hanya semu."
"Kenapa jadi ngelantur begini sih sayangnya, Tuan Bian. Kalau begitu mari kita buktikan ini semu atau nyata. Mas nggak mau ngomong untuk menjanjikan apa pun lebih banyak. Mas laki-laki, yang kamu butuhkan bukan ucapan, tapi tindakan. Nilai sendiri nantinya kalau kamu mau tahu ini hanya semu, sementara, atau selamanya. Jadi gimana? Mas boleh nitip benih di rahim kamu? Kita besarkan bareng-bareng, kita didik dengan sebaik-baiknya, dan kita buat sebanyak-banyaknya."
Pipi Nuna sedikit memerah, ia menahan malu dan tawa mendengar ucapan Bian.
"Harusnya kamu bertanya ketika di malam pertama pas kita jadi pengantin. Ibaratnya kamu udah masukin bola ke gawang, kamu baru izin boleh cetak gol apa nggak. Itu, kan, melanggar aturan."
Bian tertawa, "Iya juga, ya. Tapi, kan, masukin bola ke gawang belum tentu dihitung gol juga, bisa jadi pelanggaran. Jadinya, kan, masih tetap kosong. Mas belum terlambat untuk izin, kalau udah dapat izin, kan enak, mau cetak gol di mana aja, setiap pertandingan durasi berapa menit, berapa kali setiap pertandingan. Mau nggak?" Bian mendekatkan tubuh Nuna pada tubuhnya, sehinga tubuh keduanya menempel satu sama lain.
"Cashel dan adik-adiknya tidak ada bedanya. Cashel anakku, adik-adiknya nanti juga anakku, mereka lahir dari rahim wanita yang berhasil menyita kehidupanku hanya untuknya. Lalu kenapa Mas harus ngasih kasih sayang yang beda?"
"Adik-adik?"
"Ya, adik-adik. Kamu pikir Mas cuman minta satu keturunan aja? Oh tidak bisa." Bian tanpa basa basi lalu membawa Nuna ke dalam gendongannya dan membawanya ke bathtub.
°°°
Hari ini adalah hari pertama Bian mengantar sekolah Cashel sebagai status baru. Status yang ia sandang sebagai Ayah, ternyata begini rasanya mengantar anak sekolah, pikir Bian yang geli sendiri dengan pikirannya.
__ADS_1
Seusai mengantar ke sekolah, Bian kembali pulang. Ia teringat sesuatu saat berada di jalan. Ia teringat bahwa ada amanah dari Arga yang belum ia sampaikan. Bahkan Nuna belum tahu soal kado dari Arga yang beberapa bulan belakangan ia simpan.
"Katanya mau ke resto," sambut Nuna dengan pertanyaan.
"Lupa ada amanah yang belum Mas sampaikan. Kamu bikin apa? Jangan cape-cape, Sayang."
"Amanah apa?"
"Taruh dulu itu apa tepung segala macem. Mau bikin apa, sih?"
"Camilan doang. Aku juga mau tetap produktif, nanti aku gendut kalau aku duduk doang." Nuna mengikuti langkah sang suami seusai mencuci tangan.
"Nggak apa-apa kamu gendut juga. Malah aman nggak ada yang suka sama kamu selain Mas."
"Ya kamunya yang suka sama perempuan lain kalau aku gendut. Udah nggak usah mendebat. Kita mau ngapain ke kamar? Amanahnya ada di kamar? Mas kamu jangan macem-macem, ya. Rambut aku baru kering," kata Nuna waspada.
"Nanti aja macem-macemnya." Bian membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado.
"Mas nggak tahu kamu masih ingat apa nggak, Arga dulu pernah datang ke rumah beberapa hari setelah ulang tahun Cashel, kan? Yang dia jatuh dari motor itu, nah dia sebenarnya mau ngasih ini ke Cashel, tapi dia masih ragu, ada rasa minder juga di dalam dirinya dia karena melihat Cashel dan segala jenis mainan yang dia punya. Bisa jadi dia menganggap bahwa apa yang dia kasih ini nggak ada artinya, nggak seberapa dengan apa yang sudah kamu kasih. Dia nggak mau ngasih ini sebenarnya dulu, tapi Mas paksa minta. Biar bagaimanapun dia itu seorang Ayah, akan sangat menyakitkan jika kita membawa sebuah hadiah lalu dibawa pulang kembali, kan? Mas mau kasih langsung waktu itu ke Cashel. Tapi melihat kondisi perasaan kamu yang kayaknya nggak baik, jadi Mas simpan, Mas bawa pulang."
Beberapa detik berlalu respon Nuna hanya diam. Tidak mengambil bingkisan kado itu, maupun mengucapkan sesuatu.
__ADS_1