Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
71.


__ADS_3

Begitu menginjakkan kaki di teras, rasa malu dan sungkan tiba-tiba menjalar. Ia tak bisa membayangkan hal apa pun selain respon Nuna dan kedua orang tuanya. Raut wajah terkejut ditampakkan Nuna saat berjalan ke depan dan berpapasan dengan Bian yang sedang menuntunya. Sangat jelas di mata Arga jika wanita itu berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


"Dia yang jatuh tadi?" tanyanya pada Bian.


"Iya, tolong ambilin kotak obat, ya."


Nuna berbalik dan berjalan tanpa menjawab. Wanita itu kembali ke ruang tamu tak lama setelah ia duduk. Bian hanya meminta kotak obat, tapi ternyata ia membawakan segelas teh hangat juga.


"Bian aku bisa melakukannya sendiri. Tolong jangan buat aku semakin malu dengan perlakuan kalian." Arga berusaha untuk merebut peralatan yang akan digunakan untuk mengobati lukanya.


"Nggak apa-apa. Kenapa harus malu? Barengi rasa malu mu itu dengan perubahan itu jauh lebih ada artinya dibandingkan hanya rasa malu." Bian menjawab dengan fokus pada kaki Arga. Lukanya cukup lebar akibat dari jepitan badan motor dan juga aspal.


Arga hanya diam, ia memang sedang berusaha untuk konsisten dalam niatnya. Meski cobaan dan godaan setiap hari datang melalui ibunya, tekadnya masih bulat untuk berubah. Baginya apa yang menimpanya hingga detik ini sudah cukup untuk dijadikan bahan pertimbangan bahwa ini semua adalah teguran dari Yang Maha Kuasa agar dirinya bisa menjadi manusia berkepribadian baik.


Saat semuanya hening, Cashel yang sempat dibawa masuk ibunya keluar dari arah belakang.


"Ibu aku mau main ke rumah temen naik sepeda boleh, ya."


"Jangan, jalan kaki aja. Kan dekat, banyak kendaraan."


"Nggak apa-apa. Nyebrang jalannya lihat-lihat kayak kamu pas jalan kaki, ya. Naiknya pelan-pelan aja. Jangan sepedaan di pinggir jalan."

__ADS_1


"Makasih, Om."


Kedua manusia itu memang sangat berbeda memperlakukan Cashel. Nuna yang lebih banyak khawatir dan tidak memberikan kebebasan penuh, sementara Bian bersikap sebaliknya. Meski memberi kebebasan, tapi masih dalam batas kewajaran.


Cashel tanpa aba-aba langsung melesat ke jalan dan menyambar sepeda baru hadiah dari Bian saat merayakan hari lahirnya dua hari yang lalu.


Nuna hanya menghembuskan napas berat saat melihat anaknya sudah mengayuh sepeda. Merasa tak tenang, ia mengantar kepergian Cashel yang penuh senyum sumringah hingga ujung halaman. Ia memastikan bahwa anak itu sampai di rumah temannya dengan selamat tanpa luka.


"Kau dan Nuna belum menikah?" Pertanyaan itu mencuat saat mengingat Cashel memanggil Bian dengan sebutan Om.


Bian tersenyum kecil, "Segera. Kau pernah bilang kalau kau pernah mencari Nuna dan nggak ketemu, kan? Kau pikir aku bersamanya? Tidak, dia pun sempat menghilang dari kehidupanku. Selama lima tahun lamanya aku menunggu dan mencari tapi sama sepertimu, aku nggak menemukan jejak Nuna sama sekali. Saat aku bertemu dengannya aku sempat mengira kalau aku bisa segera menikah, tapi nyatanya aku harus berjuang lagi dan akhirnya aku berada di titik ini sekarang. Sulit bagiku untuk bisa duduk di sini. Aku harap meskipun kau sudah menyesali apa yang kau buat di masa lalu, kau tidak ada niatan untuk kembali pada Nuna," ujarnya seraya tertawa.


"Kau bodoh jika menakutkan hal itu. Kalaupun aku berniat kembali. Apa kau pikir Nuna aja mau begitu saja kembali denganku?"


"Bian, sepertinya memang aku harus pergi dari sini. Kehadiranku tidak diinginkan di sini. Aku nggak mau kalau kemunculan aku malah membuat orang tidak nyaman."


"Kau yakin? Kau bisa bawa motor dengan kondisi kaki seperti ini?"


"Yakin. Aku nggak apa-apa. Sakit ini nggak ada apa-apanya dibandingkan sakit kehilangan."


"Kau tahu rasanya sakitnya kehilangan sekarang, kan? Itulah yang dirasakan Nuna dulu. Dia pergi dari rumahmu dalam kondisi di mana hatinya masih untukmu. Dia bahkan masih ada niatan untuk membawamu kembali ke dalam kehidupannya setelah kau buang dia. Mungkin kau pernah bertanya-tanya apa tujuan aku memberikan surat tes DNA padamu dan buat apa aku membuang banyak uang untuk orang yang aku hamili dan tidak aku tanggung kehidupannya setelah dia hamil anakku. Aku yakin itu yang ada dalam pikiranmu sebelum kau tahu hasil dari kertas yang aku berikan. Aku melakukan itu selain untuk membersihkan nama dan diriku sendiri aku melakukannya untuk Nuna. Aku hanya merasa ini tidak adil saja. Seandainya kau tahu betapa Nuna sangat merahasiakan apa yang kau lakukan terhadapnya. Sebagai seorang istri dia tahu cara memperlakukanmu, dia tahu mana yang harus diceritakan dan tidak. Dari situ aku timbul rasa yang aneh dan lambat laun aku sadar kalau aku jatuh cinta padanya. Aku menceritakan ini bukan untuk membuat kau semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan. Aku hanya ingin kau tahu Nuna tidak sebenci apa yang kau pikirkan. Dia tidak membencimu hingga saat ini, hanya saja semua butuh proses untuk sembuh, kan? Luka fisik saja perlu waktu untuk pulih."

__ADS_1


"Iya, kau benar. Dengan dimaafkan saja aku sudah bersyukur. Aku nggak berhak minta lebih."


"Kau ke sini pasti mau bertemu Cashel?"


"Iya. Aku ingat hari ini aku datang ke sebuah rumah yang pernah disinggahi Nuna dan membawa sebuah surat, memintanya untuk tanda tangan dan aku juga menerima selembar kertas yang jujur saja membuat aku hancur. Aku tidak tahu kapan tepatnya Cashel lahir, aku yakin sebelum hari ini. Aku tahu ini sangat terlambat untuk semua kado ulang tahun, tapi entah kenapa aku sangat ingin memberikan ini meski hanya sekali seumur hidup. Ini bukan hadiah yang mahal apalagi mewah, aku hanya berharap suatu saat nanti Cashel bisa mengenaliku seumur hidupnya sebagai Ayah. Tak apa sekarang aku tak dipanggil Ayah, aku hanya ingin dia kenal ayahnya saja. Tapi besar harapanku untuk dipanggil Ayah meski hanya sekali, Bian. Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah atau berkeinginan punya anak. Bagiku punya Cashel saja sudah cukup."


Rentetan kalimat dari Arga membuat Bian ikut trenyuh. Mata Arga yang berkaca-kaca dan menerawang membuat Bian juga ikut merasakan sakitnya.


"Sini hadiahnya, biar aku yang kasih ke Cashel."


"Ini bukan barang mewah, aku takut dia buang."


"Apa kamu melihat kemewahan dalam kehidupan Cashel dan ibunya? Meski apa yang mereka punya terlihat mewah hati mereka tetap sama, Ar. Kehidupan mereka sama sederhana seperti dulu. Hanya saja sekarang mereka sudah berbeda secara finansial. Hati Nuna tetap sama. Nggak ada yang berubah. Kalau hati Nuna nggak berubah, itu artinya didikannya ke Cashel juga tetap sederhana."


"Kapan aku boleh ketemu sama Cashel? Sekali saja, Bian. Aku ingin bareng dia sehari saja."


"Aku nggak bisa bantu banyak, Ar. Aku nggak janji untuk bisa memenuhi apa yang kau mau. Tapi aku akan berusaha untuk melunakkan hati Nuna. Aku nggak mau mempertemukan kalian secara sembunyi-sembunyi. Kau punya hak atas Cashel, tapi tidak denganku. Akan salah jika aku mempertemukan kalian di belakang Nuna. Semua harus dilakukan dengan terbuka, biar sama-sama enak."


"Kau masih peduli padaku?"


"Bentuk kemanusiaan." Bian mengulas senyum tipisnya.

__ADS_1


Arga lalu menyerahkan kado yang ia bawa pada Bian. Ia percayakan benda itu padanya, entahlah, ia hanya merasa Bian memang punya niat baik padanya.


Saat Arga bangkit dari duduknya, kedua orang tua Nuna datang dan melempar pandangan pada kedua pria yang berdiri berdekatan.


__ADS_2