Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
38. Permainan Waktu


__ADS_3

Sore itu Arga pulang dengan kehampaan. Seulas senyum yang sempat ia sematkan beberapa saat yang lalu itu seakan tinggal kenangan dan entah apakah suatu saat nanti ia tersenyum semanis itu dengan alasan yang sama atau tidak.


Dan siapa sangka kehampaan dan kekosongan Arga ia bawa hingga lima tahun kemudian. Bertahan dengan sesuatu yang sama jujur saja membuat ia bosan. Tanpa anak, tanpa kebahagiaan, dan hidup di bawah rongrongan wanita yang melahirkannya.


Apakah selama lima tahun ini Arga hanya duduk diam tanpa usaha untuk menemui Nuna dan anaknya? Tentu saja tidak. Berbagai cara sudah ia tempuh diam-diam untuk mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan ia sampai nekat mengunjungi rumah Nuna yang berada di kampung.


Butuh waktu bertahun-tahun lamanya bagi Arga untuk mendapatkan alamat Nuna. Menjalin asmara serta pernikahan yang mendadak, dan usia pernikahan yang singkat, membuat Arga tak tahu di mana rumah mantan istrinya itu.


Hari itu adalah hari pertama ia melangkahkan kaki di kampung halaman mantan istrinya. Ia berhasil mendapatkan rumah Nuna dengan usaha yang tidak main-main.


Namun entahlah, yang terjadi setelah perceraiannya dengan Nuna sama sekali tidak berjalan susuai dengan ekspetasinya. Sudah jauh-jauh datang ke rumah untuk sekedar menyapa sang anak, tapi lagi-lagi hanya kesia-siaan yang ia dapat. Sama persis seperti beberapa waktu yang lalu. Dan untuk yang kedua kalinya, Arga kala itu pulang dengan harapan kosong.


"Nuna sama keluarganya udah lama pindah dari sini, sejak anaknya usia dua tahun Nuna kerja di luar negeri. Pas anaknya udah lima tahun mereka pindah dan rumah ini di jual."


Penjelasan itu masih saja berisik di telinganya. Ia sudah berusaha sejauh ini dan masih tidak membuahkan hasil apa pun. Hanya lelah dan kekecewaan yang selalu saja ia rasa setelah perpisahannya dengan Nuna. Penyesalan pun rasanya tak mau pergi dari kehidupannya meski ia tahu, tak ada gunanya tenggelam dalam rasa yang sekarang ia arungi.


Dan rupanya, kehampaan yang dirasakan Arga tak hanya terjadi pada mantan suami Nuna itu. Ada sosok laki-laki lain yang juga merasakan hal yang sama seperti Arga, namun beda alasan.


Ya, sosok itu adalah Bian. Jangan ditanya bagimana keadaannya sekarang. Nasib perekonomiannya yang sekarang, tak semujur kehidupan percintaannya. Siapa yang tidak kenal Daiyal Abian yang sekarang? Pemilik restoran mewah dan berbagai cabang di mana-mana, namun masih hidup dalam kesendirian bahkan di saat sang adik sudah memiliki satu anak.


Lima tahun yang lalu adalah kehancuran kedua dalam kehidupannya perihal percintaan. Perasaan yang tak bisa jauh dan semacam ketergantungan dengan Nuna membuat Bian berpikir ingin menikahi Nuna. Meskipun ia tak tau apakah rasa yang ia rasakan ini cinta atau hanya karena terbiasa bersama. Namun, Bian tak peduli itu. Yang ia pedulikan hanya ia yang tak bisa jauh berlama-lama dari Nuna dan anaknya. Hingga suatu malam saat melakukan panggilan video call seperti biasa, ia mengutarakan apa yang ia rasa.

__ADS_1


"Nuna, bisakah kita bersama seperti ini terus tanpa ada jarak? Sudah lama kita berdiri dengan jarak yang jauh. Apa nggak ada keinginan untuk mengikis jarak diantara kita?"


"Maksudnya gimana, Bian? Kamu ingin aku ke sana?"


"Iya, aku mau kamu dan Cashel di sini, tapi bukan sebagai teman biasa. Aku mau kamu dan Cashel jadi teman hidup aku. Apa kamu bersedia?"


Nuna seketika merubah raut wajahnya, "Kenapa? Kenapa harus aku?"


"Aku nggak tahu. Bukannya tidak semua hal butuh alasan? Kalaupun Aku melakukan sesuatu ada alasannya, bukankah tidak semua orang harus tahu alasan aku melakukan sesuatu?"


"Dan aku adalah salah satu orang itu? Aku nggak boleh tahu alasan kamu melakukan ini? Aku nggak boleh tahu alasan kamu menjadikan aku teman hidup? Padahal kamu tahu latar belakang aku."


"Bukannya aku nggak mau, Bian. Tapi aku masih punya mimpi untuk membahagiakan orang tuaku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan membahagiakan mereka. Karena selama aku hidup sejauh ini, aku hanya membuat mereka kecewa dan merepotkan mereka. Jadi aku ingin melakukan sesuatu dulu sebelum aku memutuskan untuk aku menikah dengan seseorang."


"Boleh aku tahu apa mimpimu? Maksudku dengan cara apa kamu membahagiakan mereka?"


"Aku ingin memanjakan mereka di usia tua. Aku mau melihat mereka hanya duduk santai menikmati masa tuanya di rumah tanpa melakukan pekerjaan apa pun. Dan untuk mewujudkan itu, aku harus menjadi orang kaya, kan? Dan bulan depan aku akan berangkat ke luar negeri untuk mewujudkan impianku." Nampak dari layar ponsel Bian mata wanita itu mulai berkaca-kaca.


Sementara Bian terpaku di tempat. Ia seperti sedang merangkai kata demi kata yang Nuna keluarkan. Ia terdiam seakan kapasitas otaknya terbatas untuk mencerna kalimat Nuna.


"Maksudnya gimana, Nuna? Kamu mau ninggalin aku, sorry maksudnya Cashel? Kamu bisa berangkat ke luar negeri pasti hasil dari memaksa kedua orang tuamu, kan?"

__ADS_1


Nuna tertawa kecil. Ia membenarkan ucapan Bian dengan tawanya itu. Mau bagaimana lagi? Sebenarnya ia juga tidak mau meninggalkan buah hatinya, tapi jika ia terus berada di rumah, ia yakin ia tidak akan bisa berkembang dan bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia tidak mau masa depan anaknya tidak terjamin, ia tidak mau kehidupan anaknya kekurangan, tidak ada orang tua yang ingin meninggalkan anaknya dengan durasi waktu yang lama, tapi jika memang itu adalah pilihan satu-satunya dan demi masa depan anaknya. Kenapa tidak dilakukan? Itulah yang ada dalam pikiran Nuna kala itu.


"Pergi ke mana?" Bian masih memaksakan keingintahuannya meskipun tiba-tiba hatinya terasa perih.


"Hongkong. Aku di sana nggak akan lama kok, aku akan fokus kerja di sana habis itu aku pulang."


"Berapa lama?"


"Lima tahun aja. Itu nggak akan terasa kalau kita menjalani dengan bahagia, kan?"


Dari perbincangan itu, Nuna mengatakan akan meninggalkan ponselnya di rumah agar Bian masih bisa melihat Cashel dengan bebas seperti biasanya. Sempat jadi pertanyaan dan penolakan dari Bian, kenapa harus ponselnya yang ditinggal? Padahal ia bisa memberikan nomer adik atau ayahnya agar tetap bisa berhubungan dengan Cashel.


"Kalau pakai ini enak, kamu bisa ngobrol sepuasnya. Nanti kalu Cashel udah bisa mainin hp, kan bisa dipake buat hubungin kamu sampai puas tanpa harus menunggu Nizar atau Ayah di rumah."


Meskipun Bian ragu dan perasaannya merasa tidak enak dengan alasan Nuna, pria itu tetap mengiyakan keinginan wanita itu.


"Ya udah, kalau itu mau kamu aku bisa apa? Janji ya hubungi aku kalau udah punya HP lagi di sana. Aku ke rumah kamu boleh? Sekali aja Nuna."


"Lain kali akan aku ajak kamu ke sini."


Perasaan Bian yang tak tenang dan kepikiran dengan alasan Nuna nyatanya terbukti setelah lima tahun kemudian.

__ADS_1


__ADS_2