
"Semua ini gara-gara kamu, Lia. Coba kamu nurutin apa mau Arga untuk adopsi anak, dia nggak akan ke mana-mana. Kamu tuh masih untung, nggak di tinggal sama suami kamu dengan keadaan kamu sekarang. Nggak semua laki-laki bisa menerima keadaan kamu, sedangkan dia masih bertahan denganmu selama tujuh tahun ini. Tapi suamimu ngajak adopsi anak aja nggak mau."
"Kenapa Ibu jadi nyalahin aku? Arga nggak pernah mempermasalahkan hal ini, yang masalahin tuh cuman Ibu. Ibu yang minta dia buat ambil anak Nuna, Ibu nggak sadar juga kalau apa yang Ibu lakukan itu bisa buat Arga tertekan. Ibu yang harus introspeksi diri. Jangan bisanya nyalahin orang aja." Lia lalu meninggalkan Ibu mertuanya dan berjalan menuju kamar.
Sudah dua minggu ini Arga tak pulang dan tak bisa dihubungi. Ia sudah bertanya pada teman-teman sekantornya dan ternyata tak ada yang tahu karena rupanya Arga sudah satu bulan yang lalu resign dari sana. Lia tak tahu lagi harus cari ke mana dan akhirnya ia lebih memilih untuk diam menunggu keajaiban dan harapan untuk Arga segera pulang.
°°°
Sementara di lain tempat, Nuna dengan senyum yang mengembang sempurna menyeret dua koper besar dan juga satu tas ransel di punggungnya. Begitu banyak barang yang ia bawa. Bukan barang pribadinya saja, tapi banyak oleh-oleh juga untuk seluruh anggota keluarganya.
Dengan menyebutkan satu alamat baru di sebuah kota kecil, Nuna mengendarai taksi menuju ke rumah barunya. Rumah yang tak pernah ia ketahui bagaiamana bentuk dan rupanya. Karena selama lima tahun ini tak pernah sekalipun ia bertandang ke rumah.
Nuna sampai di rumah saat dunia hampir gelap. Sudah terdengar adzan maghrib di mana-mana. Dengan langkah yang ringan dan senyum yang masih merekah ia berjalan seraya menatap rumah besar yang berada di depannya. Hanya satu lantai, tapi cukup mewah dan besar dilihat dari luar. Hal ini mengingatkan pada rumah Bian. Rumah yang besar dan satu lantai, apa kabar pemilik rumah itu? Pikir Nuna dalam hati.
Kakinya menginjak teras saat sang Ibu hendak menutup pintu. Kedua wanita itu sempat mematung sesaat sebelum akhirnya Nuna beranjak memeluk ibunya dengan tangisan. Ibu Nuna masih tak bergeming, beliau seperti sedang mencerna apa yang terjadi. Wanita di depannya ini sungguh tak beliau kenali, sebelum akhirnya
"Ibu sehat, kan?" Nuna mengurai pelukannya melihat sang Ibu yang tak kunjung membalas dekapannya.
"Kamu Nuna? Nuna anak Ibu? MasyaAllah, Nak. Kamu ... anak Ibu kenapa jadi cantik begini? Ibu sampai pangling. Yah, anak kita pulang, Yah. Cashel, Ibu pulang, Nak," teriak Ibu Nuna dengan riang.
__ADS_1
Semua orang dipanggil tentu saja berhamburan keluar, mereka semua terpaku satu sama lain saat bertatap pandangan. Meskipun sering bertemu melaui sambungan video call tetap saja saat bertemu secara langsung ada bedanya. Ayah dan adik Nuna sedikit melongo dengan kecantikan Nuna yang bukannya memudar karena bertambahnya angka diusianya, namun yang terjadi justru wanita itu semakin cantik dan terlihat pandai merawat diri setelah pulang dari luar negeri.
Pandangan Nuna turun pada bocah yang berdiri diapit oleh Ayah dan adiknya. Nuna berkaca-kaca melihat sang anak yang tumbuh dengan sehat dan tampan. Meskipun tak bisa dipungkiri wajahnya masih tetap sama, masih tetap menyerupai sang Ayah.
Nuna berhambur dan berlutut memeluk sang anak. Ia ciumi seluruh wajah anak itu hingga tak tersisa. Ia ingat betul, ia meninggalkan Cashel di saat anak semata wayangnya itu masih tertidur lelap. Kala itu usianya masih dua tahun, ia yakin jika ia berpamitan secara langsung ia tak akan pernah bisa berangkat saat itu.
"Anak Ibu sehat? Kamu jauh lebih ganteng dilihat langsung, ini Ibu, Nak. Maaf Ibu ninggalin Cashel terlalu lama."
"Aku sehat, Bu. Aku dirawat dengan baik sama nenek kakek. Ibu juga cantik kalau dilihat langsung."
Setelah beberapa saat acara tangis menangis itu mereka melaksanakan kewajiban terlebih dahulu dan kembali bersantai di depan televisi. Nuna dibantu dengan sang adik membongkar seluruh koper dan juga tas yang berisi banyak oleh-oleh berupa barang-barang dari luar negeri dan juga banyak pakaian. Semua bahagia dengan apa yang Nuna bawa.
"Restoran? Ke mana pun kamu mau akan Ibu antar ke sana. Kita belajar, yuk. Ibu mau tahu anak Ibu ini bisa apa aja sekarang." Dengan manja anak laki-laki kelas satu SD itu meminta gendong sang Ibu. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Cashel tak berhenti bercerita mengenai kesehariannya.
Seulas senyum kelegaan akhirnya tersungging begitu saja di bibir ketiga orang dewasa yang mengamati Nuna dan Cashel hingga punggung wanita itu lenyap termakan jarak.
°°°
"Iya aku pulang sekarang, lagian kamu kalau ke rumah kenapa nggak bilang dulu?" Bian mengomel di sepanjang restoran. Ia yang sedang mengecek laporan keuangan harus tertunda karena sang adik yang datang tanpa kabar.
__ADS_1
"Ya biasanya, kan ada di rumah. Ya aku nggak bilang lah. Lagian kamu punya Bibi kenapa nggak suruh nginep aja sih, heran." Bianca tak mau kalah.
"Berisik!"
Adik kakak itu memang masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah diantara mereka. Walaupun Bian berubah drastis dengan kepribadiannya di depan sang adik ia tetap sama.
"Hai, mau ke mana? Baru juga mau nyusul." Seorang wanita cantik dengan rambut sebahu berdiri di ujung anak tangga paling bawah. Beberapa bulan terakhir Bian memang sedang dikejar oleh salah seorang teman sang adik yang sepertinya sedang berusaha mendapatkan hatinya.
"Pulang." Bian berusaha melewati wanita itu dengan mengambil jalan di sampingnya, namun dengan gesit Naya menghadangnya kembali.
Bian memejamkan mata untuk menahan diri agar amarahnya tidak meledak. Ia serasa sudah bosan setiap kali harus menghadapi Naya yang datang tiba-tiba.
"Minggir, Naya."
"Ikut. Sebelum pulang kita jalan, ini masih sore, kita malmingan sebentar aja."
"Nggak," jawab Bian singkat seraya kembali berusaha untuk melewati Naya. Dan usahanya yang kedua ini berhasil. Namun seperti biasa, ia masih bisa digapai oleh wanita itu.
"Lepas!" titah Bian dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1