Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
46. Salah Paham


__ADS_3

Nuna dan Bian saling tatap dalam kebisuan. Siapa yang tidak bingung jika berada di posisi Bian. Merasa tidak punya salah apa-apa, bahkan terakhir komunikasi masih sangat baik, ia juga tidak melakukan kejahatan pada wanita itu mau pun keluarganya. Bagaimana bisa Nuna jadi memperlakukan ia seperti seseorang yang pernah melakukan kesalahan atau pernah menyakiti hatinya di masa lalu.


"Na, se.... "


Belum usai Bian meneruskan kalimatya sudah datang karyawan pria itu dengan membawa Shanum yang menangis. Dengan segera Bian menjemput keponakannya dan kepergian Bian yang hanya berjarak beberapa meter dengan jarak Nuna itu dijadikan kesempatan untuk perempuan itu segera pergi dari sana.


Dasar, emang aku perempuan macam apa? Udah nikah kok mau bicara, mau ngobrol, mana maksa. Ntar istrinya salah paham gimana? Dasar bodoh!


Nuna menggerutu dalam hati. Tak ia sangka ia akan bertemu di sini dengan pria yang sebenarnya ia hindari. Entahlah, rasa apa yang sedang berkecamuk dalam dadanya. Ada rasa senang dalam hatinya melihat Bian, ada rasa kesal kenapa sikapnya masih sama lembutnya seperti dulu, ada rasa sakit saat ia melihat seorang anak dalam gendongannya.


Rasa yang campur aduk datang secara bersamaan itu tak terasa mengantar mereka hingga rumah.


"Ibu, Om tadi siapa? Teman Ibu, ya?" Cashel langsung mengajukan pertanyaan begitu turun dari motor.


"Iya, teman Ibu. Udah, ya jangan tanya lagi. Kita nggak usah ke sana lagi, kita merayakan ulang tahun kamu di tempat lain. Tempat yang bagus bukan di sana aja."


"Aku maunya di sana."


Nuna mengatur napasnya untuk mengontrol emosi yang tidak stabil ini. Ia tahu jika ia meleadeni sang anak sekarang yang ada adalah amarahnya. Ia tak mau membentak anaknya yang baru ia temui kemarin. Akhirnya wanita itu hanya mengiyakan dan meminta Cashel untuk bersih-bersih sementara dirinya mencari cara untuk membujuk anaknya agar mau mengerti kondisinya.


"Kenapa, Na?" Ibu Nuna yang menyaksikan perdebatan singkat anak cucunya itu duduk di sofa sebelah Nuna.

__ADS_1


"Tadi pulang sekolah tuh kita ke restoran yang kemarin diceritain Cashel dan Ibu tahu aku ketemu sama Bian di sana. Mungkin Ibu nggak tahu ini, ya. Dia itu udah nikah Bu. Dia udah punya anak, bahkan tadi itu di restoran dia juga ngajak anaknya, tapi dengan entengnya dia ngajak aku ngobrol. Mana dia maksa, nanti kalau istrinya tahu gimana? Kan nggak enak nanti dikiranya aku ada hubungan apa-apa."


"Terus kenapa kamu kesal begitu? Hubungannya sama ulang tahun Cashel apa? Emangnya yang punya restoran itu Bian?"


"Aku nggak tahu sih yang punya restoran itu Bian atau bukan. Tapi kalau aku lihat tadi tuh dia nitipin anaknya ke karyawan restoran itu cuman buat ngejar aku. Masa pengunjung berani nitipin anak kelas ke karyawan restoran, sih Bu? Kan nggak mungkin banget."


°°°


Sama seperti Nuna tadi, sepanjang perjalanan pulang wanita itu menggerutu karena tingkah Bian, pria itu pun sama. Ia berjalan menuju restoran dengan menggerutu pula.


Saat sampai di teras restoran, ia teringat bahwa tas Cashel tertinggal. Ia menelisik meja di mana tempat duduk ibu dan anak yang mendebatnya tadi. Beberapa detik matanya mencari, akhirnya ia temukan seonggok tas berwarna hitam besandar pada sandaran kursi. Tanpa pikir panjang pria itu mengambil dan membawanya ke kasir.


"Simpan tas ini dan jangan berikan pada siapa pun yang ingin berniat mengambilnya, kecuali perempuan yang tadi berniat untuk booking lantai dua untuk acara ulang tahun anaknya. Kau ingat wajahnya?"


"Bubungi saya kalau perempuan tadi datang ke sini lagi."


Tanpa menunggu jawaban dari karyawannya ia melipir pergi. Ia mengurungkan niatnya untuk mengerjakan sesuatu di rumah keduanya itu. Apa yang terjadi tak sesuai ekspetasi membuatnya kesal, untunglah ada Shanum yang berada dalam dekapannya. Jika tidak, mungkin ia akan melampiaskan amarahnya pada semua orang.


Bian mengira bahwa ketika sampai rumah kekesalannya itu akan perlahan menghilang dan ia bisa berpikir dengan tenang, bagaimana caranya untuk bisa kembali bicara atau berhubungan baik-baik dengan Nuna. Tidak ada habisnya jika ia memikirkan Nuna yang sekarang. Pikirannya begitu berkecamuk mengenai perubahan Nuna yang begitu drastis, tidak hanya pada sikapnya tapi juga penampilannya.


Jujur saja di balik kebingungannya dan juga terkejutnya dengan respon yang diberikan oleh perempuan itu padanya. Di sisi lain Ia juga terkesima sekaligus terpesona dengan penampilan wanita itu yang jauh terlihat muda dan cantik dari sebelumnya. Ia jadi khawatir jika ia tidak segera mendapatkan hati perempuan itu, maka hatinya akan berlabuh pada pria lain. Tidak-tidak, ia sudah menunggu selama lima tahun untuk bertemu dengannya. Ia tidak akan melepasnya untuk kali ini. Apa pun yang terjadi, Nuna harus ia dapatkan.

__ADS_1


Pintu terbuka dari dalam begitu Bian hendak membukanya. Pikiran Bian yang semula kekesalan dan juga terkejutnya hilang jika sampai rumah, nyatanya yang terjadi justru sebaliknya. Ia kembali dikejutkan dengan keadaan adiknya yang nampak menangis.


"Ca, maaf Mas nggak bilang bawa Shanum. Tapi kamu nggak perlu kayak gini dong. Rumah ini aman, gimana mungkin ada penculik. Kamu pasti mengira kalau Shanum diculik, kan? Udah-udah, jangan nangis nih, ini anak kamu nih, pegang. Apa-apa nanya dulu jangan asal nangis."


Tangis Bianca bukannya mereda, justru semakin tersedu dan terdengar keras. Hal itu membuat Bian semakin bingung. Shanum sudah berada dalam gendongannya, kenapa ia masih menangis? Begitulah kira-kira pikir Bian.


"Ada apa sih, Ca? Kamu nangisin apa? Jangan kenceng-kenceng nangisnya. Nanti kalau ada yang dengar gimana? Nanti dikiranya Mas apa-apain kamu. Berantem kamu sama Riko? Ke mana Riko?" Dengan bingungnya Bian menuntun adiknya untuk masuk ke rumah. Tak lucu jika ia membiarkan adiknya meraung di depan rumah dan di dengar oleh para tentangga.


Pria itu menuntun adiknya untuk duduk di sofa ruang tengah. Memberinya segelas air lalu, "Kalau udah tenang cerita sama Mas ada apa? Kamu kenapa nangis kayak begitu? Kalau ada apa-apa ngomong kayak dulu, kayak biasanya, kan kamu ngomong."


Biancan meminum sedikit air lalu ia letakkan gelas itu ke meja. Setelah sedikit tenang dan bisa mengendalikan emosinya ia berucap, "Mas yang udah nggak kayak dulu lagi. Dulu sekecil apa pun kalau ada masalah Mas ngomong. Mas cerita, tapi sekarang kenapa Mas punya masalah sebesar ini enggak kasih tahu aku?" Bianca kembali menangis tersedu.


Bian merespon dengan mengerutkan kening. Ia tak mengerti apa yang dimaksud adiknya. Masalah? Masalah apa? Masalah apa yang tidak ia ceritakan pada adiknya?


"Masalah besar? Masalah besar apa?"


"Mas masih juga berkelit sama aku? Kenapa aku mengetahui ini harus dari orang lain, nggak dari mulut kamu sendiri?"


"Kamu tahu apa? Coba deh nangisnya berhenti dulu, kamu tenang dulu, baru cerita."


"Aku udah tahu apa yang kamu sembunyikan, Mas. Aku udah tahu semuanya, aku tahu apa yang kamu rasain. Pokoknya aku mau kita harus segera berangkat ke luar negeri untuk proses penyembuhan penyakit kamu ini. Kamu harus sembuh, kamu masih muda, aku nggak mau dengar penolakan."

__ADS_1


Bianca seakan tidak sanggup menatap Bian, akhirnya pergi begitu saja ke kamarnya. Sementara Bian masih mematung di tempat. Otaknya masih mencerna kalimat adiknya yang sulit ia mengerti. Hingga akhirnya entah menit ke berapa, ia tersadar sesuatu.


Pria itu bangkit dari duduknya, dan, "Bianca, sepertinya kamu salah paham," ujarnya sambil berlari.


__ADS_2