Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
79.


__ADS_3

Malam harinya, Cashel yang ditunggu kesadarannya akhirnya membuka mata. Meski benturan di kepala cukup keras untungkah anak kecil itu tidak kehilangan memorinya. Meski ia mengeluh sakit di kepalanya, tak mengurangi rasa syukur Nuna dan Bian yang menunggu sadarnya anak itu dengan sabar.


"Nanti habis minum obat, insyaallah sakitnya akan berkurang. Om minta maaf nggak gagal menjaga kamu, ya. Maaf sudah membuat Cashel sakit." Bian mengelus pelan puncak kepala Cashel yang masih terbungkus perban.


"Iya, Om nggak apa-apa. Yang penting kita semua selamat."


"Minum dulu obatnya nanti biar bisa istirahat lagi."


Seperti biasa, anak kecil itu selalu menurut tanpa banyak bertanya. Anak kecil itu hampir memejamkan mata saat tangan Bian masih bergerak-gerak di puncak kepalanya.


Nuna hanya menatap dua laki-laki yang berada dalam penglihatannya. Betapa bahagianya ia saat ini, tidak ada kata yang bisa mewakili hati yang kini sedang ditumbuhi dengan ribuan bunga.


"Aku nggak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurku pada Tuhan atas kehadiran kamu dalam hidup aku, Bian. Memiliki kamu dan dimiliki kamu adalah hal yang paling membahagiakan dalam sepanjang hidup aku. Terima kasih untuk kasih sayang kamu buat anakku, kamu mau nerima dia seperti anak kamu sendiri. Bukankah laki-laki seperti itu sangat jarang?"


"Kamu nggak akan pernah selesai mengucapkan terima kasih kalau setiap apa yang aku kasih kamu katakan itu. Belajarlah terbiasa dengan apa yang aku beri. Kita bisa bersyukur bareng-bareng, kita dekatkan diri sama Tuhan. Kita minta untuk jaga hubungan kita sampai jannah. Mau?"


Nuna tak tak tahan duduk berhadapan dengan ranjang Cashel sebagai pemisah, wanita itu bangkit dan berjalan ke arah Bian dan duduk di samping kursi rodanya.


"Mau peluk," ujarnya manja.

__ADS_1


"Boleh," kata Bian merentangkan tangan kanannya dan merangkul pundak Nuna dengan hangat.


Saat sedang mesra-mesranya dan menikmati momen berdua, pintu ruangan dibuka dengan kasar. Kedua insan yang sedang beradu dalam pelukan itu sedikit terlonjak dari tempatnya. Ekspresi syok ditunjukkan oleh Nuna saat ia tahu pemilik tangan yang membuka pintu dengan kasar.


"Inilah yang saya sebut tidak tahu diri dalam diri kamu, Nuna. Kamu tidak mengizinkan anak saya untuk bertemu sama anaknya, tapi kamu minta darahnya untuk anakmu. Wanita nggak tahu diri."


Bu Ningsih tanpa basa basi langsung memaki dan memberikan tamparan keras di pipi Nuna. Luka yang belum kering benar itu seketika kembali mengeluarkan cairan merah segar.


Bian yang hanya bisa duduk di kursi roda seketika mendorong kursi roda di depan Nuna agar wanita tua itu tidak bisa lagi menyentuh Nuna. Setidaknya itulah harapannya.


"Berani sekali Anda menyentuh Nuna." Mata Bian memerah menahan amarah. Jika saja ia setidaknya bisa berdiri, tanpa banyak bicara ia akan menyeret wanita itu, tak peduli beliau tua atau muda, wanita atau bukan, tak ada yang terima jika orang yang dikasihi diperlakukan dengan kasar.


Tatapan Bian sudah semakin ****** dan tajam, "Pergi sebelum saya panggil satpam. Ini bukan waktunya mendebat. Lebih baik pulang dan istirahat. Anda tidak merasa diri Anda sudah tua? Tidak punyakah keinginan untuk berubah sedikit? Berubah menjadi manusia yang lebih baik. Biar malaikat Raqib punya catatan nama Anda dalam daftarnya. Biar saya beritahu supaya tidak terjadi kesalahpahaman di sini. Tidak ada yang meminta darah Arga, tidak ada yang menyuruh atau memohon pada anak Anda untuk memberikan darahnya pada anak kami. Itu bisa terjadi atas kemauan anak Anda sendiri. Lagi pula memangnya kenapa kalau ayah kandungnya memberikan darah untuk anaknya sendiri? Itu adalah hal yang sangat wajar. Kalau saya punya darah yang sama seperti Cashel, sungguh seujung tutup botol pun saya tidak akan menerima darah dari anak Anda. Apa yang Anda butuhkan? Apa yang Anda mau untuk mengganti darah yang sudah mengalir di dalam tubuh anak kami, uang?"


Ada yang menghangat di situasi yang menegangkan seperti ini, yaitu hati kecil Nuna. Mendengar dua kata ajaib dari mulut Bian membuat Nuna seolah dilupakan oleh rasa sakit yang baru saja ia terima di pipinya. Bahkan darah masih ia biarkan mengalir di pipi halus yang terdapat banyak luka itu.


"Saya memang tidak punya banyak uang seperti kalian, tapi bukan berarti semuanya bisa selesai dengan uang."


"Bukankah dulu Ibu mendewakan uang? Ibu benci saya karena saya bukan tipe menantu yang Ibu mau. Banyak uang sangat penting bagi Ibu."

__ADS_1


"Tapi tidak dengan darah anak saya. Cashel harus ikut saya dan Arga untuk membayar apa yang Arga beri ke kalian."


Tak Nuna sangka yang ia pikirkan begitu cepat terjadi. Dengan kondisi Bian yang seperti ini apa yang bisa ia lakukan untuk sang anak? Sekuat tenaga ia berusaha tak memperlihatkan air matanya. Ia tak mau apa yang ia lakukan justru membuat Bu Ningsih merasa menang.


"Kalau begitu ganti dulu apa yang saya keluarkan untuk kebutuhan saya dan Cashel selama saya menjadi istri Arga. Nafkah yang seharusnya saya terima, tapi diberikan pada Ibu, waktu yang saya habiskan selama sembilan bulan untuk membersihkan rumah dan mengabdi pada Ibu, masa depan saya yang hilang karena saya hamil cucu Ibu, nama baik saya yang hilang karena lidah pahit Ibu, gantikan semua itu dengan waktu dan uang. Sanggup? Mungkin Ibu sanggup membayar uang yang saya habiskan dan saya rugikan selama menjadi menantu Ibu, Ibu juga bisa mengembalikan nama baik saya sebagai korban lidah Ibu, tapi bisa Ibu ganti waktu saya saat mengabdi di rumah Ibu? Bisa ganti masa depan saya? Kalau bisa, silakan temui kami dan ambil Cashel!"


Nuna dengan tegas dan berani mengucapkan kata demi kata agar menjadi sebuah kalimat yang membuat Bu Ningsih tidak berkutik. Dan wanita tua itu seketika diam seribu kata. Bahkan untuk mengarahkan matanya pada Nuna saja rasanya ia tak bisa


Dalam diamnya, Bu Ningsih sedang berpikir bagaimana cara mengambil Cashel tanpa harus melewati Nuna dan Bian.


"Tunggu apa lagi? Pintu keluar ada di belakang Anda. Perlu saya dorong dengan kursi roda saya agar Anda keluar?"


"Awas kalian! Saya akan buktikan kalau saya bisa mendapatkan apa yang saya mau tanpa melewati kalian. Lihat saja nanti!"


Bu Ningsih berbalik badan dan di saat bersamaan pintu kembali dibuka dari luar dan memperlihatkan Arga yang membungkuk dengan napas terengah-engah.


"Ibu apa yang Ibu lakukan di sini? Ayo pulang, Tolong jangan membuat suasana semakin keruh mereka semua belum baik-baik saja. Tolong jangan menambah beban mereka." Arga bejalan mendekati ibunya dan meraih tangan wanita yang melahirkannya itu. Matanya lalu beralih pada Bian dan Nuna.


"Kau sudah bangun, Bian? Maaf kalau kehadiran ibuku mengganggu kalian, sekali lagi aku minta maaf. Permisi." Arga menyeret ibunya keluar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Nuna ataupun Bian.

__ADS_1


__ADS_2