Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
50. Obrolan Dua Wanita


__ADS_3

Setelah satu minggu berlalu, Bian yang sempat patah hati tanpa sebab yang jelas akhirnya perlahan membaik. Ia sudah bisa menelan nasi meski masih tak seberapa, tapi itu jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu.


Sang adik yang seharusnya sudah kembali pulang bersama degan suaminya memutuskan untuk tinggal depan sang Kakak hingga keadaan membaik. Suami Bianca yang cukup pengertian memberikan kebebasan pada istrinya itu.


Selama tinggal di ruangan kakaknya, Bianca mencari informasi mengenai di mana Nuna tinggal. Ia mencari informasi itu pada kakaknya sendiri. Namun, karena Bian sendiri tidak tahu banyak mengenai Nuna yang sekarang, ia hanya mendapat infomasi di mana Cashel sekolah. Akhirnya pagi-pagi sekali ia menunggu di depan gerbang sekolah dengan harapan bisa bicara dari hati ke hati dengan Nuna.


Setelah 15 menit menunggu, akhirnya yang ditunggu menampakkan nantang hidungnya. Bianca segera menghampiri Nuna begitu Cashel sudah masuk ke dalam sekolah.


"Mbak Nuna tunggu!"


Nuna yang sudah sempat membelokkan setirnya terpaksa urung meneruskan. Begitu tahu siapa yang memanggilnya, ia matikan motornya dan melepas helm yang terpasang.


"Bianca, kamu ada urusan apa di sekitar sini?" Nuna bertanya seraya melihat sekeliling.


"Ada urusan sama Mbak. Aku sengaja tadi nungguin kamu di sini. Aku mau bicara sebentar, Mbak."


"Mau bicara soal apa, Ca? Kalau kamu mau ngomongin Bian aku nggak mau."

__ADS_1


"Kalau memang kamu ada masalah sama Mas Bian, Mbak nggak ada masalah sama aku, kan? Jadi Mbak nggak keberatan, kan kalau kita ngobrol sebentar, dengerin aku sebentar aja Mbak. Habis itu terserah Mbak mau ngapain, Mbak mau memutuskan untuk melakukan apa terserah Mbak. Mau menjauh dari aku dan Mas Bian silakan, mau kembali berhubungan dengan baik juga silakan. Tapi berikan aku satu kesempatan untuk bicara."


"Apalagi yang perlu dibicarakan sih? Aku rasa dengan status kita yang sudah amat jelas berbeda ini sudah memberikan kejelasan, kan? Apalagi yang harus aku dengar?"


Bianca sedikit mengerutkan kening ketika Nuna membicarakan soal status. Ia tak paham, tapi ia tak peduli. Bukan itu yang menjadi tujuannya jauh-jauh kemari. Yang terpenting sekarang adalah Nuna yang harus membantunya untuk memberikan semangat hidup pada Bian agar percaya bahwa dirinya bisa sembuh seperti sedia kala. Tidak ada yang lebih penting selain hal ini.


"Mbak, bisa kita cari tempat yang lebih enak untuk ngobrol? Aku nggak ngerti maksudnya Mbak ini ngomong apa soal status, tapi kita lupakan ini dulu. Ini yang aku mau omongin jauh lebih penting, ini soal kehidupan Mas Bian. Mbak, aku cuman punya Mas Bian, dia keluargaku satu-satunya. Jadi kalau kamu nggak mau ngomong sama dia atau nggak mau berhubungan lagi sama dia, tolong lakukan ini buat aku, ya, please." Bianca menyatukan telapak tangannya memohon.


Nuna semakin dibuat heran. Ia sempat berpikir dalam hati kenapa Bian memanfaatkan adiknya untuk urusan pribadinya seperti ini. Lagipula kenapa Bianca juga mau disuruh-suruh seperti ini. Apa untungnya melakukan ini? Pikir Nuna dalam hati.


"Langsung ke intinya aja. Ada apa? Apa yang mau kamu bahas, apa yang kamu mau bicarain sama aku soal Bian? Aku juga ada urusan lain, waktuku tidak banyak."


"Mas Bian sakit. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Itu pun aku diberitahu oleh temanku yang kebetulan dekat sama Mas Bian. Dia..."


"Tunggu? Apa maksudnya dekat?" Nuna tak sanggup menahan keingintahuannya.


"Iya, jadi salah satu teman kuliahku dulu ada yang dekat sama Mas Bian. Ya cuman sekedar dekat aja. Yang aku tahu meraka hanya teman, tidak menjalin hubungan spesial karena dihatinya masih ada satu nama yang ingin dia perjuangkan. Aku beberapa hari yang lalu diberi tahu dia kalau Mas Bian punya sakit kanker testis. Temen aku itu dengar dari mulut Mas Bian sendiri. Dan sekarang temen aku itu udah perlahan menjauh. Mungkin karena tahu Mas Bian sakit. Tapi percayalah Mbak, Mas Bian tidak pernah sehancur ini ketika temanku itu mulai menjauh darinya. Dia bertingkah seperti orang yang sedang patah hati setelah kalian bertemu waktu itu. Mas Bian kayak nggak ada semangat untuk sembuh. Aku udah berulang kali bilang dan bujuk dia untuk ikut aku berobat, tapi dia selalu beralasan bahwa dia nggak apa-apa. Tapi sikapnya buat aku sedih. Dia susah makan, hanya melamun seharian. Aku nggak tahu lagi harus gimana. Sikapnya yang ini mengingatkan aku dengan beberapa tahun yang lalu. Tahun di mana dia di tinggal menikah dengan pacarnya."

__ADS_1


"Memang ke mana istrinya? Kenapa kamu harus minta tolong sama aku untuk masalah sebesar ini?"


"Istri? Mbak ngerti yang aku jelasin tadi nggak sih? Gimana ceritanya Mas Bian punya istri kalau dia juga lagi dekat sama temen aku? Sama temen aku tuh cuma deket Mbak, nggak pacaran apalagi menikah. Dia belum menikah sama sekali, bagaimana ceritanya punya istri?"


"Terus bayi perempuan yang pernah di bawa ke restoran itu siapa? Itu anaknya Bian sama istrinya, kan?"


"Bayi perempuan? Sebentar." Bianca lalu mengambil ponsel yang berada di tas, mengotak-atiknya sebentar mencari gambar Shanum untuk ia tunjukkan pada Nuna. Apakah yang dimaksud bayi perempuan itu adalah anaknya.


"Ini maksudnya?"


Nuna mengangguk mantap.


"Astaga Mbak Nuna ini anakku. Mas Bian belum menikah gimana ceritanya dia punya anak?"


Nuna sedikit menganga mendengar fakta yang baru ia dengar. Ia selama berminggu-minggu salah paham dengan status pria yang masih menghantui pikiranya meski ia berusaha untuk melupakan.


Berita ini entah angin segar atau sekedar angin yang menyejukkan baginya. Tapi yang jelas ada sedikit kelegaan dan bunga yang mekar di suatu tempat saat mendengar Bian belum menikah. Entahlah, Nuna merasa dirinya sedang plin plan untuk urusan Bian. Terkadang ia ingin Bian segera melupakannya terkadang juga ia memikirkan ingin bersama dengan pria itu. Entah kenapa ia merasa sangat labil untuk urusan perasaannya kali ini.

__ADS_1


"Mbak, semenjak Mbak menghilang dari kehidupan Mas Bian, dia itu berubah total. Mbak tahu sendiri, kan setelah Mbak melahirkan mau diakui atau tidak, hubungan kalian itu cukup dekat, meskipun kalian berhubungan dengan jarak jauh, tapi komunikasi sekalian lancar, hubungan kalian baik-baik aja, itu merubah Mas Bian banget. Aku yakin sebelum hari itu Mbak juga tahu sedikit banyak gimana Mas Bian. Orangnya dingin, cuek, angkuh, pemarah, emosional, sedikit-sedikit bicaranya ngegas, tapi setelah Mbak Nuna pulang kampung Mas Bian berubah banget. Dia udah nggak se-emosional dulu. Hari-harinya juga ceria, berat badannya juga naik, dia kelihatan ceria banget pokoknya. Dia kayak menemukan cahaya dalam kehidupannya. Kita bicarakan itu lain kali. Aku akan menceritakan apa yang terjadi ketika Mbak Nuna berada di luar negeri. Aku akan ceritakan semuanya sampai tuntas, tapi itu lain kali aja, ya. Yang terpenting sekarang itu Mbak Nuna harus bantu aku untuk membujuk Mas Bian supaya mau berobat. Dia masih muda, aku nggak mau dia kehilangan masa depannya karena dia nggak punya semangat untuk sembuh."


Nuna mengusap wajahnya kasar, entah apa yang sekarang ia rasakan. Beberapa detik yang lalu ia merasakan perasaan aneh ketika mendengar Bian belum menikah, tapi di detik ini ia juga merasakan sakit ketika mendengar sekali lagi bahwa Bian memiliki masalah dalam tubuhnya. Apalagi sakitnya bukanlah sakit yang ringan.


__ADS_2