Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
26. Obrolan Pria


__ADS_3

Kedua pria yang baru bertemu hari ini itu kini duduk di taman rumah sakit yang tidak jauh ruangan Nuna. Mereka duduk di salah satu bangku panjang yang menghadap sebuah pohon besar. Di hari yang sudah mulai menunjukkan intensitas panas matahari itu ada beberapa orang pasien yang menikmati udara segar ini.


"Maaf Pak, kalau ucapkan saya tadi terlalu lancang. Saya tidak bermaksud untuk mengatur Nuna, tapi hanya menyampaikan apa yang dikatakan Dokter tadi pada saya."


"Saya tidak mempermasalahkan itu, Bian. Saya justru berterima kasih karena kamu sudah sangat baik dan membantu banyak anak saya. Nuna sudah menceritakan semuanya, termasuk kamu yang sudah banyak membantunya. Saya sampai bingung harus ngomong apa, rasanya terima kasih saja tidak cukup."


"Bapak tidak perlu melebih-lebihkan apa yang saya beri. Jujur saja, saya pribadi kasihan jika melihat Nuna yang menderita seperti itu, saya tahu dia sendirian di sini tinggal bersama mertuanya yang tidak menyukainya ditambah lagi suaminya yang salah paham. Sebenarnya saya sudah pernah menjelaskan sama suaminya Nuna, bahwa hubungan kami sebatas pekerjaan. Bahkan saya baru mengenal Nuna ketika dia sudah menikah. Saya juga nggak tahu siapa yang mengarang cerita bahwa Nuna itu hamil anak saya. Nuna memang hanya mengenal saya di sini, tapi Nuna tidak pernah menceritakan apa yang dia alami selama di rumah itu. Setiap saya tanya dia selalu punya jawaban dan alasan untuk tidak menceritakan apa yang sudah dilakukan suaminya dan juga Ibu mertuanya itu. Itu yang membuat saya respect sekaligus kagum sama dia."


Ayah Nuna tersenyum kecil. Nasihat yang beliau berikan sesaat sebelum pernikahannya beberapa waktu lalu ternyata digunakan anaknya. Seburuk apa pun pasangan, sebaiknya kita tidak mengumbar pada siapa pun. Itulah yang di tekankan olehnya pada anak-anaknya.


"Apa rencana Bapak setelah ini?"


"Bapak mau bawa Nuna kembali pulang setelah anaknya bisa dibawa bepergian jauh.  Ya mungkin satu bulan setelah dia melahirkan, Bapak rasa bisa dibawa pulang. Untuk sementara biarkan di sini dulu sama ibunya. Yah, setidaknya sampai apa yang Nuna mau bisa dia wujudkan."


Bian hanya menganggukkan kepala pelan. Ada rasa yang aneh saat Ayah Nuna mengatakan bahwa Nuna akan di bawa pulang. Entah rasa apa, Bian sendiri bingung.


Pembicaraan para pria itu berakhir setengah jam kemudian. Cukup banyak yang mereka obrolkan. Dari obrolan itu keduanya menjadi sedikit lebih mencair dan akrab lebih cepat. Mereka berjalan Beriringan menuju ruangan Nuna.


"Bu, Ayah pulang dulu, ya. Nizar, kan di rumah sendirian. Kalau lama-lama kasihan juga dia siapa yang ngasih makan?"

__ADS_1


"Iya Ayah pulangnya hati-hati, ya. Jaga diri baik-baik di rumah, jangan lupa makan, jangan kecapean, jangan ngomelin Nizar terus, dan satu lagi, Ayah jangan begadang dan kebanyakan minum kopi. Kasih tau Nizar juga jangan pulang malam-malam, nggak boleh kelayapan sampai tengah malam. Dan...."


"Jangan makan atau minum yang terlalu manis," potong Ayah Nuna dengan cepat. "Ibu, Ayah sudah terlalu sering mendengar itu. Bahkan Ibu yang pergi hanya membutuhkan waktu setengah hari saja selalu bilang itu. Ayah udah hapal diluar kepala. Udah tenang aja, Ibu ninggalin Ayah bukan sama bayi. Semua akan aman terkendali. Udah Ayah balik dulu, kalau kelamaan ganti Nizar yang ngomel ke Ayah." Ayah Nuna beralih pada sang anak.


"Nuna, Ayah pulang dulu, ya. Kamu jangan stres-stres. Jaga kesehatan dan kebahagiaan kamu, ya." Ayah Nuna mengecup kening anaknya.


Ayah Nuna hendak beranjak dari tempat, namun Nuna menarik pergelangan ayahnya. Lelehan air mata sudah jatuh di pipi wanita itu.


"Ayah, aku minta maaf kalau aku banyak salah, aku udah mengecewakan Ayah. Aku nggak bisa banggain Ayah. Aku nggak bisa buat Ayah bahagia, aku minta maaf." Nuna tak tahan, ia semakin terisak jika mengingat bahwa ia menjadi anak yang gagal, namun kedua orang tuanya seakan mengabaikan hal itu.


Ayah Nuna lalu mendekap sang anak dalam pelukan. Semua yang berada di sama hanya diam melihat pemandangan yang mengharukan itu, tak terkecuali Bian yang masih berdiri di sana.


"Kamu tidak pernah gagal menjadi anak. Memang jalannya sudah begini. Sudah, Ayah bilang jangan stres, kamu sayang sama Ayah dan Ibu, kan? Harus berpikir yang bahagia-bahagia saja."


"Iya. Aku janji akan bahagia. Ayah hati-hati pulangnya, sekali lagi aku minta maaf dan doakan persalinan aku yang entah kapan, berjalan dengan lancar."


"Untuk masalah mendoakan, kamu dan Nizar nggak perlu minta, Nak. Ayah sama Ibu setiap waktu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian." Sekali lagi Ayah Nuna mengecup singkat kening anaknya.


"Bapak yakin tidak mau saya antar ke stasiun saja, Pak?"

__ADS_1


"Tidak, Bian. Terima kasih sudah banyak membantu anak Bapak. Semoga Allah membalas kebaikan kamu sesuai dengan apa yang kamu berikan ke Nuna."


Ibu Nuna lalu mengantar sang suami keluar. Untuk sementara sepasang suami istri yang tidak pernah berhubungan jarak jauh itu untuk pertama kalinya harus berpisah untuk beberapa waktu. Kini tinggallah Bian dan Nuna yang berada di satu ruangan berukuran sedang itu.


"Gimana, udah lega perasaannya?" Bian berusaha untuk mencairkan situasi ketegangan yang terjadi sejak tadi dengan memulai obrolan ringan.


"Udah. Makasih, ya kamu udah buka pikiran aku. Aku merasa beruntung punya orang tua seperti mereka. Meskipun aku sudah seburuk ini, mereka masih menganggap aku anak. Kamu nggak ke kedai?"


"Kedai itu milikku, mau aku buka jam berapa juga terserah aku. Apa kau mengusirku setelah semua kebaikan yang aku berikan?"


"Tidak, bukan begitu. Bukan itu maksudku, Bian." Nuna merubah wajahnya menjadi sedikit khawatir.


Dan ekspresi itu berhasil membuat Bian tertawa kecil. Respon yang sama sekali tidak pernah Nuna lihat selama ia mengenal pria itu.


"Bian."


"Hm?"


"Makasih, ya. Kamu udah baik banget sama aku meskipun aku udah pernah melakukan kesalahan sama kamu. Aku nggak tahu lagi harus ngomong gimana." Nuna kembali menitikkan air mata. Entahlah, ia merasa hari ini ia begitu mudah menangis.

__ADS_1


"Bisa bahas yang lain? Aku bosan membicarakan kebaikan yang aku beri."


Tak berselang lama Ibu Nuna kembali ke ruangan. Bian yang melihat wanita itu cukup lelah akhirnya berinisiatif untuk mengajaknya pulang. Namun, beliau enggan meninggalkan Nuna sendirian. Sekeras apa pun Bian membujuknya, sekeras itu juga Ibu Nuna menolak dengan halus.


__ADS_2