Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
60. Sakit Yang Kembali Tersentuh


__ADS_3

"Biar aku yang bawa Cashel. Kamu bawa tasnya aja." Bian mengikuti langkah Nuna yang berjalan menuju kamar anak satu-satunya.


"Rumah sepi, orang-orang ke mana?" tanya Bian sembari meletakkan Cashel ke tempat tidur dengan pelan.


"Mungkin mereka lagi ke rumah sodara. Ada yang nikah beberapa hari lagi. Di dekat kampung lama."


"Kamu nggak ikut?"


"Nggak, cukup Ayah sama Ibu aja. Nanti yang urusin rumah sama toko siapa?" Nuna bicara dengan dengan kesibukannya mengeluarkan baju basah Cashel ke bak. Dan melipir ke dapur untuk membuat minuman. Ia sadar sejak tadi langkahnya diikuti oleh Bian, namun ia diam saja seakan ia mengizinkan pria itu untuk mengikutinya.


Bian memperhatikan wanita itu yang sibuk mempersiapkan minuman untuknya. Matanya tak berkedip sama sekali saat melihat wajah wanita itu, wajah yang membuat dunianya seakan teralihkan dengan rasa sakit yang sempat singgah begitu lama.


Hingga detik ini pun ia tak pernah menyangka akan jatuh hati pada sosok Nuna yang ia kenal sederhana dan selalu ia katai bodoh. Wanita ceroboh yang selalu bertindak gegabah tanpa memikirkan resiko yang ia tanggung, bahkan di saat kondisinya membawa nyawa lain selain nyawanya sendiri.


"Kenapa dari tadi kamu repot sendiri? Nggak usah bikin minuman, kita baru aja pulang dari restoran. Lebih baik kita bicara hal lain yang sekiranya kebih penting."


"Apa lagi, Bian? Kamu nggak cape apa?" Nuna bertanya seraya berjalan menuju ruang tamu.


Belum sempat sampai di ruang tamu, Bian menarik tangan wanita dan ia sandarkan punggung Nuna ke dinding. Kedua tangannya mengepung tubuh Nuna agar tak ke mana-mana.


"Kamu masih punya hutang penjelasan. Apa yang buat kamu nangis?" Tatapan Bian tajam, namun pancaran ketulusannya tidak hilang.

__ADS_1


"Aku udah nggak nangis, kenapa masih dibahas?"


"Setelah apa yang terjadi kamu masih melakukan hal yang sama? Kamu tahu aku akan terus bertanya sebelum aku mendapatkan sebuah jawaban."


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku tenang? Yang sudah berlalu nggak usah dibahas." Nuna menyingkirkan tangan dan berjalan kembali ke ruang tamu.


"Justru karena kamu nangis ketemu Arga itu menandakan kamu belum tenang, kamu belum sembuh dari masa lalu kamu. Kalau kamu udah sembuh nggak akan ada reaksi apa pun saat bertemu dengan masa lalu mu."


"Tidak ada manusia mana pun yang benar-benar selesai dari masa lalunya, Bian. Aku nangis bukan karena Arga. Hanya saja aku sakit hati melihat dia yang begitu loyal pada istri barunya itu. Aku sakit hati, dulu aku harus berkeja untuk membeli kebutuhan aku sendiri. Aku harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan aku dan Cashel sementara aku punya suami." Tangis Nuna kembali pecah


Sungguh rasa sakit itu entah kenapa tak bisa pergi dari hatinya. Banyak sakit hati yang disebabkan Arga. Salah satunya adalah kepercayaan, hingga detik ini dan entah sampai kapan ia begitu tak mengerti dan tak bisa menerima sikap Arga yang sama sekali tak percaya dengannya saat itu. Ia terlalu mendewakan ibunya hingga setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya tampa pikir panjang ia iyakan.


Bian meletakkan dirinya di samping wanita itu. Helaan napas panjang ia perdengarkan sebelum akhirnya tangannya tergerak untuk mengelus pelan punggung wanita itu.


"Kehidupan kamu sekarang jauh lebih baik. Kamu bisa melalukan apa pun sendiri, kesusahan kamu sudah berlalu, tolong jangan menangis untuknya. Aku juga sama sepertimu, aku belum benar-benar sembuh dari seseorang di masa laluku. Tapi aku tidak pernah lagi menangisinya, itu hanya akan membuat luka kita akan semakin basah. Lihat aku, Nuna." Bian dengan pelan membuka tangan Nuna yang menutupi wajahnya. Wanita itu masih sesenggukan dengan mata merah dan sembab.


Kedua tangan Bian menangkup wajah janda satu anak itu dan menatapnya dengan teduh.


"Jangan pernah menyesali yang sudah lewat. Apa pun yang terjadi adalah pilihan kamu dan ada izin Tuhan di dalamnya. Siapa pun dan apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita akan selalu ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Karena Arga kamu jadi lebih kuat, kamu jadi lebih mandiri, kamu jadi lebih baik. Jangan lemah lagi hanya karena kamu ketemu sama dia."


Entah apa yang dirasakan Nuna kala itu, ia hanya merasa ia terlalu kuat. Sudah lebih dari tujuh tahun ia mengalami masa yang berat tapi ia tidak pernah sama sekali punya pundak hanya untuk meletakkan kepalanya sebentar. Dan detik ini, disaat Bian memberikan kalimat yang membuatnya tenang ia ingin sekali melakukan hal sederhana yang hilang selama ini.

__ADS_1


Keinginan itu hanya bisa ia keluarkan melalui sorot matanya, ia tak punya nyali untuk mendekap Bian meski hanya beberapa detik saja.


"Kamu boleh menangis hari ini, tapi besok jangan, ya. Dan hari-hari berikutnya, kapan pun dan di mana pun kamu ketemu sama Arga, jangan tunjukkan kelemahan kamu. Bisa?" Ibu jari Bian menghapus air mata yang sejak tadi tumpah. Sakit sekali rasanya melihat Nuna yang menangisi masa lalunya.


Nuna mengangguk untuk permintaan Bian. Ia sendiri tak tahu kenapa harus menangisi masa lalu dan manusia itu, yang ia tahu ia merasakan sakit hati dan ia keluarkan melalui air matanya.


"Sini, biar lebih tenang. Kamu pasti merindukan ini." Bian membawa kepala Nuna ke bahu lebarnya dan memeluknya dengan erat. Tak pernah ia sangka dekapannya itu akan dibalas oleh Nuna.


Kamu buat aku bingung, Nuna. Terkadang kamu memberiku harapan, tapi terkadang juga kamu buat aku hilang harapan.


Setelah beberapa saat saling berpelukan, Nuna melepas pelukan itu denga pelan.


"Terima kasih sudah membuat aku lebih tenang."


"Kamu nggak bosan setiap saat bilang makasih? Anggap saja itu adalah caraku membahagiakan kamu. Aku mana bisa melihat sumber kebahagiaan aku mengeluarkan air matanya apalagi untuk hal yang menyedihkan."


"Kenapa kamu melakukan ini, Bian? Aku rasa dengan apa yang kamu punya akan memudahkan kamu untuk mencari pendamping hidup yang baik. Wanita yang belum pernah menikah, bisa menjaga kesuciannya untuk suaminya saja, bisa...."


Nuna berhenti berucap ketika jari telunjuk Bian menempel di bibirnya.


"Aku memang mudah mencari seseorang yang kamu sebutkan tadi. Bahkan aku nggak perlu cari banyak yang terobsesi padaku. Tapi yang aku cari bukan itu. Aku mencari sebuah kenyamanan, kebahagiaan, kesucian hatinya, dan semua itu aku temukan di kamu. Itu terserah kamu jika kamu menilai diri kamu kotor, semua orang kotor pada porsinya, nggak ada yang suci. Kamu tahu? Aku seperti menemukan sesuatu saat kamu mengatakan bahwa suami adalah pakaian istri, begitu juga sebaliknya. Sangat jarang ada orang yang menerapkan itu. Mungkin banyak yang tahu kalimat itu, tapi tidak semua orang mau dan mampu menjalankannya. Dan aku menemukan itu di kamu. Kamu beda dari yang lain buat aku, Na. Aku juga dulu berpikir bahwa ini bukan cinta. Tapi kalau ini bukan cinta, kenapa bertahan hingga detik ini? Bahkan rasaku nggak buat kamu aja, buat Cashel juga. Aku seperti menemukan keluarga baru. Kamu boleh belum yakin atas rasa aku, tapi please, jangan halangi aku untuk membuktikannya."

__ADS_1


__ADS_2