
"Kenapa aku merasa dunia ini sempit? Kenapa setiap kita ke rumah sakit terus ketemu sama mereka."
"Udah, Sayang. Mereka adalah bagian dari masa lalumu, biarkan saja. Kita nggak perlu mikirin mereka apalagi memikirkan sesuatu yang buat kamu takut sendiri, hm? Udah, ya." Bian mengelus pelan punggung tangan Nuna berharap wanita itu bisa lebih tenang. Tiap kali ketemu Arga, wanita 29 tahun itu selalu pucat.
Mereka lalu melanjutan perjalanan menuju taman rumah sakit, Bian ingin menyegarkan dirinya dengan melihat udara luar yang sudah beberapa hari ini ia tak bisa menikmatinya.
Sementara di lain bagian, Arga nyaris pingsan mendengar kabar bahwa istrinya tak sadarkan diri setelah selesai operasi dan sang bayi dalam kondisi kritis lantaran memang dari awal kehamilan sudah sedikit ada masalah. Dan terjadi komplikasi saat operasi berlangsung.
"Astaga, apa yang terjadi sama hidup aku, Bu? Kenapa semua yang aku dapat perlahan pergi begini? Kenapa setiap aku hampir mendapatkan keturunan selalu ada saja masalah, kenapa Bu?" Arga menangisi kondisi anak istrinya yang tak berdaya di ruangan terpisah.
Dirinya sudah tak lagi mampu menopang tubuhnya dengan kedua kakinya. Ia terduduk lemas begitu saja dengan kepala yang ia letakkan di bahu rapuh ibunya. Bahu wanita itu nyatanya tak sekuat dulu, sudah banyak yang berubah dalam fisiknya. Namun tidak dengan hatinya, dalam lubuk hati paling dalam, wanita itu masih menyimpan rasa kebencian yang sama terhadap Nuna. Ia tetap saja tak suka pada wanita itu meski sudah banyak berubah dari Nuna mulai dari penampilan dan segi ekonomi.
Jika saja dari dulu Nuna memiliki ekonomi yang mapan seperti sekarang, mungkin saja yang terjadi sekarang tak akan pernah terjadi. Perpisahan, kehidupan anaknya yang berat dan seakan lebih banyak cobaan setelah kepergian Nuna. Dan semua yang terjadi pada Bu Ningsih sekarang.
"Sudah, Arga. Lebih baik kamu berpikir yang baik-baik saja. Kamu harus percaya kalau semua akan baik. Ini juga salah satu ganjaran perbuatan kamu pada Ibu. Kamu berani ninggalin Ibu buat perempuan kayak gitu."
Arga hanya diam. Dalam hati ia membatin rupanya sang Ibu tak pernah berubah. Beliau masih saja berucap dengan kalimat pedas dengan tak melihat keadaan. Ia sadar dan tahu bahwa dirinya salah, tapi bukankah tidak seharusnya dibahas sekarang? Ini bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan siapa pun, tak perlu diingatkan siapa yang salah dalam kondisi seperti ini, bukan?
Dan kondisi Anita rupanya tak ada perubahan hingga esok harinya. Bahkan, wanita yang baru saja melahirkan anak pertamanya itu malah mengalami penurunan kesadaran. Sementara anak perempuan yang masih terlihat belum siap atas kelahirannya sudah meninggalkan Arga dan ibunya untuk selama-lamanya. Bahkan Arga belum sempat melihat bagimana rupa sang anak sebelum ia memakamkan anaknya sendiri.
Arga baru mengetahui wajah sang anak di saat ia juga menguburkannya. Pria itu tak lagi menangis seperti kemarin. Justu ia sudah persis seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup dan menyisakan sedikit kewarasan dalam kehidupannya.
__ADS_1
Sejak dikabarkan anaknya tiada, Arga tak melakukan apa pun selain duduk diam menunggu istrinya. Ia terduduk dengan pandangan mata kosong dan tak menyahuti pertanyaan atau ucapan dari ibunya. Wajah bayi yang masih tercetak jelas diingatan membuat Arga semakin terlihat tidak ingin hidup lagi.
"Arga, kamu harus makan sedikit saja tidak apa-apa. Kamu dari kemarin nggak makan, perut kamu nggak ada isinya. Kamu nggak akan bisa jaga istrimu kalau kamu sendiri sakit. Ayo makan dulu."
"Aku akan makan setelah Anita bangun. Apa yang harus aku katakan padanya jika dia bertanya mengenai keadaan anaknya? Apa yang harus aku jawab?"
"Ya bilang jujur, nanti aja kamu pikirkan itu. Sekarang makan dulu, Ar."
"Aku nggak mau, Bu."
Entah sudah berapa kali Bu Ningsih memaksakan Arga untuk makan atau setidaknya minum meski hanya sedikit. Namun, semakin Bu Ningsih membujuk, kesedihan Arga akan semakin bertambah seakan ucapan dari ibunya adalah pupuk yang membuat subur kesedihannya.
Tidak ada yang tidak hancur jika menjadi Arga ia sudah menjadi sosok ayah seperti yang ia inginkan namun buah hati pertamanya tidak diakui olehnya sendiri dan ia hampir memiliki kembali buah hati dari darah dagingnya sendiri, namun Tuhan berkata lain. Sudah dua kali Arga gagal menjadi ayah, apa lagi yang bisa ia harapkan? Ia seperti sudah kehilangan arah dalam hidupnya.
Dan siapa sangka, ternyata Anita malam itu menutup mata untuk yang terakhir kalinya. Ia sudah menyerah dengan kehidupannya. Ia sudah berjuang selama dua hari untuk tetap bertahan, namun Tuhan menjemputnya untuk segera pulang.
Arga meraung mengguncang tubuh istrinya agar terbangun. Untuk kali ini ia benar-benar tak bisa menahan kehancuran salam kehidupannya. Hancur sudah semua yang ada dalam diri Arga. Ia bagaikan daun kering yang tertiup angin dan berterbangan di segala arah tak tahu tujuan.
"Kenapa Anita? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku juga? Kamu harapan aku satu-satunya. Tapi kamu juga tega ninggalin aku setelah anak kita? Kenapa kamu nggak mau berjuang sedikit buat aku, An?" Arga berusaha untuk mencegah petugas kesehatan yang membawa Anita pergi. Ia menahan ranjang berjalan yang akan memisahkan dirinya dengan sang istri.
"Tolong jangan bawa istri saya pergi, hanya dia yang saya punya," raung Arga menahan ranjang hingga luar ruangan.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Almarhumah harus segera kami urus. Tolong Bapak yang sabar dan tabah, kami tahu kesedihan Bapak. Tapi saya mohon biarkan kami melakukan tugas. Mohon pengertiannya, Pak."
Bian yang malam itu berada di tempat yang sama lagi-lagi mereka jadi saksi hidup hancurnya pria itu. Ia sempat melihat ada ranjang dorong yang dicegah oleh Arga berjalan ke ruang jenazah. Sementara Arga terduduk di lantai dengan badan yang nampak tak mampu ia gerakkan. Malam itu dirinya sudah diizinkan pulang. Ia beserta adik dan juga Nuna ikut menjemputnya malam itu, dan mereka melihat pemandangan yang begitu memilukan.
Nuna tak tahu apa yang terjadi, melihat dari tangisan Arga nampaknya ia seperti kehilangan orang terdekatnya. Apakah yang tadi di antar ke ruang jenazah adalah istrinya? Terka Nuna dalam hati.
Ia begitu benci Arga, tapi tetap saja sisi hatinya yang lembut dan terlahir sebagai perempuan merasakan kesedihan saat melihat orang yang ia kenal terlihat menyedihkan.
"Apa yang terjadi? Kenapa dengan mantan suaminya Mbak Nuna?"
"Sayang, kamu bisa masuk mobil dulu sama Bianca. Aku hampiri Arga dulu, ya. Dia kehilangan seseorang di saat sendirian. Aku dulu merasakan apa yang dia rasakan. Aku mau ke sana sebentar aja. Nggak apa-apa, kan?
Bian rupanya juga tersentuh hatinya. Benci yang ia rasa terhadap Arga sebenarnya masih ada, hanya saja dengan kedewasaan yang ia punya ia mengenyampingkan itu semua.
"Kenapa aku harus nunggu di mobil? Aku nggak boleh ikut kamu menemui dia?"
"Kamu mau emang?"
"Hanya berbelasungkawa, untuk melakukan ini kita nggak perlu mandang dia siapa, kan? Mau musuh, teman, orang yang benci kita, kita benci, mau banyak salah atau nggak, sebagai sesama manusia yang punya adab nggak ada salahnya kalau hanya sekedar memberikan kekuatan."
Bian tersenyum hangat. Ia tak pernah mengira bahwa calon istrinya itu bisa dewasa juga. Wanita itu hanya sering menunjukkan sisi kekanak-kanakannya selama ini.
__ADS_1
"Ya udah kalau kamu emang niat begitu. Kamu boleh tunggu di mobil aja, Ca."