Lost Feeling

Lost Feeling
Break Through


__ADS_3

Kedua matanya mulai berlinang, lalu secara perlahan tangisnya mulai membasuhi kedua pipinya. Ia dapat merasakan sebuah tangan yang terus mengusap kepalanya agar terlepas dari rasa amarah.


Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Hyunjae yang masih ingin memeluk dirinya. Tangan kirinya terdapat lumuran darah yang berasal dari tusukan yang dia berikan pada Hyunjae.


"Apa yang ku lakukan..."


Ia melepaskan pelukan itu lalu mulai melangkahkan kedua kakinya ke belakang dengan perlahan. Seluruh tubuhnya begemetar hebat saat melihat tetesan darah yang mulai menghiasi lantai bersih tepat di bawah Hyunjae berpijak.


"Hyunjae!" Teriak Nezra yang langsung berlari menuju Putranya.


"Aku melukainya..."


Hyunjae mulai menekan bagian tubuh bawahnya yang terluka dengan tangannya, "i-ini hanya luka ringan. Lazel, kemarilah." Dirinya tahu jika Lazel saat ini diambang ketakutan setelah melakukan tindakan yang berbahaya. Oleh karena itu ia berusaha agar tidak membuat kepanikan yang bisa membuat Lazel menjauh darinya.


Kedua iris merah muda itu terlihat keruh dan memberikan sorot pandangan yang menyesal, "tidak, aku melukainya... aku..." tangan kiri yang terdapat cincin pernikahannya dengan Hyunjae saat ini ternodai dengan darah.


"Lazel... kemari-" Hyunjae terkejut saat Lazel mulai berlari meninggalkan ruangan tersebut. "Tidak!"


"Hyunjae, jika kau masih sanggup pergi dan kejarlah dia. Dan Nezra akan tetap disini." Ujar Adam yang tiba-tiba berdiri di samping Luo.


Nezra menahan tangan Hyunjae, "t-tapi..."


"Aku tidak yakin bisa menahan mereka, lagipula banyak pelayan disini."


Nezra memasang wajah yang bimbang dan sedikit kesal pada situasi sekarang.


"Baiklah."


Hyunjae yang dalam keadaan seperti itu tetap pergi untuk membawa Lazel kembali.


"H-Hei, aku tidak setuju dengan tindakan kalian," kini Luo mulai berbicara mengenai pendapatnya. "Apa maksudnya jika aku membunuh-"


"Jangan ada yang meninggalkan tempat jika kalian masih membutuhkan kaki untuk berjalan." Sela Nezra yang menatap semua orang yang ada di sekitarnya.


"..............."


...◇• •◇...


Tangisnya terdengar kuat, rambutnya yang awalnya terlihat rapi saat ini mulai berantakan. Kedua matanya terus-terusan mengeluarkan air mata.


"Aku membunuh Hyunjae..."


"Mengapa aku melakukan itu, jika dia tidak disana maka..."


Bahkan setelah melakukan tindakan yang berbahaya, ia tidak sanggup untuk melakukan apapun lagi.


Wonhae yang kini hanya tinggal kenangan pada akhirnya Lazel menemukan siapa pelaku yang membunuh dirinya. Kecelakaan pada waktu itu adalah bagian rencana dari Pamannya.


Mengingat kepergian Wonhae hampir membuat dirinya putus asa dan tidak tahu harus berjalan ke arah yang mana. Namun kedua orang tuanya menikahkan dirinya dengan salah satu Putra dari Keluarga kaya. Ia berusaha untuk tetap menjalaninya meskipun jauh di dalam lubuk hatinya sangat menginginkan Wonhae.


Setelah itu Hyunjae... orang asing yang menggunakan mobil lalu dengan sengaja menabrakkannya ke arah Hyunjae. Jika saja saat itu dirinya terlambat satu detik, mungkin hidupnya tidak akan pernah kembali berwarna.


"Aku tidak membencimu... Hyunjae,"


"Cepat atau lambat aku sudah mengetahuinya jika suatu hari nanti hal ini akan terjadi,"


Di seluruh pikirannya hanya terbayang dengan kesalahan yang dia perbuat. Kecepatan mobil yang dia bawa sudah tidak terkendali lagi.


Sehingga sebuah jalur yang mendapatkan lampu merah ia lewati begitu saja dan membuatnya bertemu dengan pengemudi lainnya.


...◇• •◇...


"Shh!"


Ia tahu jika luka yang diberikan Lazel tidak begitu parah, namun darahnya sama sekali tidak terhenti. Lagipula ia masih berusaha melacak mobil Lazel dengan pelacak miliknya.


Namun ia merasa jika sebuah sinyal menghalangi arahnya.

__ADS_1


"Kalung..."


Hyunjae menghentikan mobilnya di tepi jalan dan mulai mengeluarkan ponselnya.


"Dapat!"


Setelah kejadian Lazel menyelamatkan dirinya dari maut, Hyunjae pernah meletakkan alat pelacak di balik buah kalung yang dikenakan oleh Lazel. Hanya untuk berjaga-jaga saja meskipun terkadang wanita itu tidak membutuhkan bantuan siapapun.


Akan tetapi... wanita sepertinya itu selalu memendam semuanya sendirian. Dan karena kesibukannya dengan pekerjaan ia harus melupakan pelacak yang sempat ia letakkan pada kalung Lazel secara diam-diam siaat wanita itu tengah tertidur lelap.


Hyunjae memperhatikan ponselnya yang terletak di hadapannya, ia seperti mendapatkan sesuatu yang menjanggal sehingga kedua tertekuk.


"Dia tidak bergerak?"


"Apa dia menemui seseorang?"


Hyunjae mempercepat laju mobilnya lalu saat mulai memasuki jalan yang lain. Ia melihat banyaknya kendaraan dan juga orang-orang yang berkumpul di tengah jalan yang terdapat sebuah tugu besar dengan lingkaran di sekelilingnya sebagai pembatas.


"Kecelakaan? Jalannya cukup-" kedua matanya membesar saat melihat bagian pintu mobil berwarna merah yang terangkat ke atas.


Ia menghentikan mobilnya tepat di pinggir kerumanan itu lalu segera keluar dari sana dan mulai berlari mendekat untuk melihat apa yang terjadi.


"Siapapun tolong wanita itu!"


"Bagaimana bisa dia menerobos lampu merah begitu cepat?!"


Hyunjae mencoba untuk menyelip keramaian itu. Setelah berhasil tiba di tempat tersebut ia sama sekali tidak bisa berkata-kata.


Sekumpulan orang termasuk pria berusaha untuk menyelamatkan seseorang dari dalam mobil yang kini sudah tidak sadarkan diri.


"LAZEL!" Teriak Hyunjae dengan kuat sehingga mengejutkan orang-orang di sekitarnya.


Pria beranting kembar itu langsung berlari mendekat dan berusaha mengeluarkan Lazel dari sana.


"T-Tuan, kita tidak bisa mengeluarkannya begitu saja, beberapa orang harus menyingkirkan benda yang ada di hadapannya."


"Dia Istriku." Lirihnya dengan kedua mata yang berlinang.


"I-Istri?!"


"Tunggu... bukankah dia adalah Tuan Direktur dari Perusahaan Pietra? Dan wanita itu adalah Nona Direktur?"


Hyunjae dan beberapa orang lainnya berusaha untuk menyingkirkan batu yang menghalangi Lazel, sebagian ada yang membantu dan juga tidak. Karena mungkin beberapa saat kemudian mobil itu akan meledak karena bagian depan mobil mulai berasap.


"Lazel, bangunlah. Aku disini," kedua tangannya menggenggam wajah yang berlumuran dengan darah. "Hei bangunlah, aku tidak ingin ditinggal." Kini Hyunjae nampak histeris karena satu orang wanita yang saat ini dalam keadaan hidup dan mati.


Kedua matanya terpejam rapat, bibir merahnya terlihat terluka, bahkan beberapa bagian kepalanya mungkin terluka sehingga mengalirkan darah begitu banyak.


"Tuan kita harus pergi dari sini." Kini orang-orang mulai kembali satu persatu karena terlalu sulit meyingkirkan batu yang menghalangi bagian depan.


"Kalian pergilah." Ujar Hyunjae yang meletakkan wajah Lazel pada dadanya


"Apa yang Anda maksud?! Ayo cepatlah keluar."


"Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Lirihnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.


Karena tidak ingin mengambil korban terlalu banyak, mereka memilih mundur dan mengevakuasi warga sekitar bersamaa dengan kendaraan mereka masing-masing.


Tangan kiri itu ia genggam erat, bahkan ia tidak sanggup untuk melihat ke bawah karena batu yang menindih sebagian tubuh Lazel.


"Aku akan mengangatnya dari depan. Gyuu, Kara dan Vicy, cobalah untuk mengangkatnya dari dalam," ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan berdiri di bagian luar mobil. "Dan Hyunjae... cobalah untuk mengangkat Lazel dari sana." Sambungnya.


Ia melihat seseorang dengan pakaian lengkap tengah berbicara padanya. Jujur saja hal itu membuatnya sedikit terkejut. "H-Hyunji..."


"Baiklah, aku akan menghitungnya sampai tiga. Setelah itu angkat." Ujar Gyuu pada Vicy dan juga Kara.


"Baik." Ucap kedua wanita itu bersamaan.

__ADS_1


"Satu."


"Dua."


"Kami hanya mencobanya saja, setidaknya bawalah Lazel secepat mungkin." Ucap Kara yang berada di sampingnya.


"Tiga."


Hanya dengan tiga empat orang, batu besar itu perlahan bergerak. Hyunji yang mengangkatnya di bagian depat membuat peluang bagi Hyunjae agar bisa membuka pintu bagian kiri.


"Sedikit lagi..." ucap Hyunjae yang melihat batu besar itu mulai terangkat.


Setelah mendapatkan posisi yang pas, Hyunjae langsung mengangkat kaki Lazel dengan perlahan lalu mengangkat tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


"Cepat menjauh dari sana!" Teriak seseorang yang berada di kejauhan.


Hyunjae memeluk wanita itu dan berusaha membawanya secepat mungkin menuju Rumah Sakit.


Hyunji, Gyuu, Kara dan juga Vicy sedikit terlambat sehingga ledakan mobil membuat mereka sedikit terpental ke depan. Atas usaha mereka, Hyunjae berhasil membawa Lazel keluar.


...◇• •◇...


Sebuah mobil mewah berwarna merah dengan merek LaFerarri baru saja mengalami kecelakaan hebat. Dengan kecepatan tinggi menerobos lampu merah sehingga membuat pengendara lain dengan kecepatan yang sama menabrak bagian belakang mobil yang dibawa Lazel sehingga mengubah arus dan menabrak tembok pembatas sekuat mungkin.


Menurut para saksi yang melihat kejadian itu, Lazel langsung tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di tubuhnya termasuk di bagian kepalanya.


Mobil kuning itu baru saja berhenti di depan Rumah Sakit milik Pietra. Dengan cepat Gyuu memanggil salah satu perawat dan meminta mereka untuk membawakan sebuah benda yang dapat meletakkan Lazel di atasnya.


Hyunjae meletakkan Lazel dengan perlahan. Para perawat langsung memasangkan alat pernapasan pada Lazel lalu segera membawanya ke ruang darurat.


Wajah yang selalu mencari masalah dengannya saat ini penuh dengan darah. Bibir yang selalu mencibirnya dengan kalimat kasar saat ini terdiam tidak berbicara. Kedua mata yang selalu menatapnya seperti musuh alami saat ini sedang tertutup rapat layaknya orang yang tertidur.


...◇• •◇...


"..............." ia memperhatikan dengan dekat jika pria itu nampak frustasi dengan masalah yang menimpa Lazel, bahkan yang hampir merenggut nyawa wanita itu sendiri. "Aku heran jika kau bisa terlihat sedih seperti ini. Apa itu adalah drama baru?" Tanya Gyuu yang sama sekali tidak memahami kondisi keadaan saat ini.


"..............."


"Seperti apapun dirimu... aku tetap tidak menyukaimu. Bahkan seseorang sepertimu itu sangatlah busuk."


"Ya... kau benar. Bahkan aku tidak berhak untuk mengucapkan apapun pada Lazel mengenai perasaanku."


Pria berambut kuning itu menyeringai, "perasaan? Perasaan yang mana? Masalahnya kau itu memiliki begitu banyak perasaan. Benar bukan?"


"Gyuu... Tuan Hyunjae." Ucap Kara yang baru saja tiba di Rumah Sakit bersama dengan Vicy dan juga Hyunji.


Hyunjae mengambil posisi berdiri dan menunduk pada kedua wanita itu, "aku berhutang pada kalian." Ucapnya dengan hormat.


"D-Daripada itu bukankah kondisi Lazel saat ini lebih penting?" Ucap Kara yang mengalihkan pembicaraan.


"Hyunjae, ikut denganku. Kau terluka bukan?" Ujar Hyunji yang baru menunjukkan dirinya.


"Tapi Lazel-"


"Kalian berdua adalah prioritas kami. Jangan melawan," Hyunji baru mendengar beberapa kata dari Ayahnya mengenai masalah hari ini. "Vicy, bukankah kau juga terluka? Ayo ikut denganku."


"B-Baik."


"..............."


Hyunji berbincang-bincang dengan Vicy. Sedangkan Hyunjae mengikuti kedua orang itu dari belakang dengan tatapan yang sendu.


"Aku menyesal..." lirihnya, sehingga membuat Vicy dan Hyunji menoleh ke belakang.


"Menyesal?"


"Apa maksudmu?" Tanya Hyunji.

__ADS_1


"Jika dari awal aku tidak seperti ini... mungkin kehidupannya akan jauh lebih baik." Lirihnya dengan wajah yang penuh penyesalan.


__ADS_2