
Sebuah boneka besar, yang melebihi tubuh manusia normal. Boneka itu memiliki rupa yang mirip atau memang menyerupai hewan jerapah. Namun boneka itu memiliki versi yang lebih lucu, selain tubuh yang bulat, wajahnya juga bulat dan memiliki kedua mata berwarna hitam. Loreng-loreng di tubuhnya semakin menarik perhatian. Belum lagi perutnya yang terlihat bulat.
Ia mendapatkan hadiah besar itu secara mendadak. Apa yang dia inginkan adalah maskot yang menggantung di langit-langit. Namun yang dia dapatkan adalah sesuatu yang lebih.
Dirinya juga berpikir jika kemauannya itu mungkin akan sedikit berbahaya untuk dilakukan. Oleh karena itu, ia akan menerima jerapah itu apa adanya.
Sehingga kedatangan seseorang sedikit membuatnya tak menyangka.
"Heul?"
"Wah~ boneka yang manis. Dimana Anda membelinya?" Tanya Heul yang mendekat dan memegang boneka tersebut.
"Ah, ini adalah pemberian, salah satu petugas yang bersamaku tadi memberikannya secara gratis untukku."
"Mengapa Anda tidak membelinya saja? Bukankah harganya cukup murah?"
"Hah? Tidak mungkin. Karena yang ku inginkan adalah maskot yang berada disana," Lazel mengarahkan telunjuknya pada tengah-tengah area luar batas. "Awalnya aku menginginkan mereka, dan ternyata mereka memberikan ku ini."
"P-Pantas saja mereka langsung memberikan yang lain. Mengambilnya saja seperti mempertaruhkan nyawa." Batin Heul.
Menurut pandangan dan penilaian Lazel. Heul memiliki tubuh dan tinggi yang mungil. Berbeda dengannya, yang harus menatap Manusia imut itu dengan menunduk.
Wanita itu merupakan satu-satunya wanita yang belakangan ini selalu bersama Hyunjae. Dia memiliki rambut hitam legam yang panjang, serta iris mata yang berwarna biru malam. Pakaian yang ia kenakan juga sangat unik, sehingga mendukung penampilannya.
"Hm... ternyata seperti ini wanita yang disukai oleh Hyunjae." Ujar Lazel setelah menganalisa Heul.
"Hm? Hyunjae? Apakah dia bersama Anda?" Tanya Heul yang sangat bersemangat.
"Y-Yah... tapi dia pergi entah kemana."
"H-Hahaha~ kebiasaan buruknya memang seperti itu. Mungkin saja dia sedang mencari wanita lain untuk pergi bersama."
"Hm... benarkah?" Lazel menanggapinya dengan santai, "dasar Hyunjae bajing*n! Aku sangat lapar." Sambungnya dengan kesal.
"A-Anda terlihat baik-baik saja."
"Hm? Memangnya aku kenapa?" Tanya Lazel wajah bingung.
"T-Tidak ada apa-apa!"
Lazel mempersilahkan Heul untuk duduk bersamanya meskipun sebagai basa basi. Namun wanita itu menuruti keinginannya.
"Apa dia memang tidak memiliki perasaan apapun, padahal aku berusaha untuk memprovokasinya." Batin Heul.
...◇• •◇...
Sudah dapat ditebak. Dari tutur kalimatnya saja, sudah pasti jika wanita bernama Heul itu berusaha untuk memprovokasi Lazel.
Akan tetapi... Lazel yang justru tidak memiliki rasa apapun merasa tidak peduli dengan apapun yang diucapkan Heul padanya.
Karena yang ada dipikirannya hanya... masa bodoh.
"!!!!" Sepertinya sesuatu yang telah ditunggu akhirnya datang, namun saat ini yang mengetahui dan yang menyadarinya hanyalah Heul seorang, "N-Nona Lazel apa aku boleh memanggil Anda... Lazel?" Tanya Heul pada Lazel yang duduk di sampingnya.
"Hm? Boleh."
"L-Lazel... a-apa kau... me-menyukai Hyunjae?"
"Whoa... pertanyaan yang tiba-tiba," balas Lazel dengan wajah yang santai. "Tidak." Sambungnya.
"O-Oh! Hyunjae!"
"Heul?" Ucap Hyunjae yang terkejut dengan kehadiran Heul, "kau disini?"
"Y-Ya! Aku sangat khawatir karena kemarin kau tiba-tiba meninggalkanku. Tapi syukurlah aku bertemu dengan Lazel, dia-"
"Hentikan," sela Hyunjae yang merubah sedikit wataknya. "Dan apa yang kau katakan? Lazel?"
"Y-Ya... memangnya kenapa?"
"Panggil dia Nona." Titah Hyunjae pada Heul.
"Hah~ biarkan saja. Itu hanya nama." Sahut Lazel yang masih bersantai dengan minuman dinginnya.
"Aku tidak peduli. Heul, kau harus memanggilnya dengan sebutan-whoaaa! Dari mana kau mendapatkan boneka itu?!" Tiba-tiba pandangannya beralih pada boneka jerapah berwajah imut dan memiliki ukuran besar, yang saat ini sedang duduk bersama Lazel.
__ADS_1
"Aku mendapatkannya secara gratis dari salah satu petugas disini."
"Hah? Memangnya apa yang kau lakukan sehingga mereka memberikan hadiah besar padamu?"
Telunjuknya mengarah pada langit-langit, "aku berharap jika aku memilikinya."
"Bodoh!!! Apa kau berniat membunuh petugas disini?!"
"Jangan berteriak padaku! Lagipula darimana saja kau?! Aku sangat lapar kau tahu!"
"A-Anu..."
"Oh! Aku hampir melupakanmu makhluk kecil." Tukas Lazel yang hampir memberi kepalan pada Hyunjae.
"Jadi... apa yang kau lakukan disini?" Tanya pria berjaket abu-abu itu.
"Awalnya aku ingin berbelanja. Tapi... setelah bertemu dengan La-Nona Lazel dia memberitahuku jika kau ada disini."
"Mengapa kau memberitahunya?" Kini Hyunjae kembali beralih pada Lazel.
"B-Bukankah berbohong itu tidak baik." Ujarnya dengan wajah polos.
"Ck! Kembalilah. Aku tidak bisa bersamamu." Ucap Hyunjae dengan kesal.
Tangan mungilnya meraih tangan Hyunjae dan menggenggamnya erat, "kenapa? Aku sangat khawatir padamu saat kau meninggalkanku se-"
"Hyunjae," Lazel memanggil pria bertubuh besar itu sambil beranjak dari tempatnya. Ia menatap ke arah Hyunjae, "Kau bisa menemaninya, aku akan pergi mencari makan sendiri."
"T-Tapi-"
"Benarkah? Apa boleh Nona Lazel?"
"Hm, tentu." Jawabnya singkat.
"Lazel, aku-"
"Jangan khawatir. Aku tidak selemah perkiraanmu." Selanya dan pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Hei Hyunjae, ayo pergi bersama." Ajak Heul.
"..............."
...◇• •◇...
Di depan parkiran yang cukup terik akan matahari, ia memeluk sebuah boneka jerapah agar tidak menyetuh tanah.
Ia merogoh sakunya dan meraih ponselnya.
Ramainya orang di sekitar, namun tetap membuatnya terasa sendiri. Tapi... hal itu sama sekali tidak mengganggu dirinya, karena kesendirian sudah terbiasa dalam hidupnya.
Sebuah mobil asing berwarna hitam berhenti di depannya, "hahaha~ boneka yang lucu." Ucapnya.
"Terima kasih. Apa kau mau?" Ujar Lazel yang langsung berniat menyerahkan boneka raksasa itu.
"Tidak tidak, apa kau sendiri?"
"..............." beberapa detik ia tidak memberikan jawaban. "Ya." Jawabnya singkat.
"Masuklah, aku akan mengantarmu." Tawarnya.
"Apa kau berniat menyulikku?" Tanya Lazel dengan terang-terangan.
"Tentu saja tidak!"
"Apa kau tahu, kakiku sangat sakit, jadi aku tidak bisa menghajarmu."
"AKU TIDAK PEDULI! LAGIPULA AKU TIDAK MUNGKIN AKU MENYAKITI SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA PIETRA! SEKALIGUS SUAMI DARI DIREKTUR HYUNJAE!"
"Oh, kau tahu bajing-pria itu?"
"Hei, kau baru saja ingin menyebutnya bajing*n bukan." Batin wanita asing itu.
...◇• •◇...
Lazel mengurungkan niatnya untuk memanggil taxi online untuk membawanya pulang, karena seseorang wanita asing memiliki tawaran baik untuk dirinya. Meskipun ada rasa was-was di dalam hatinya.
__ADS_1
Wanita itu masih mengetahui isi pikiran Lazel, "ayolah... aku tidak mungkin menyerang Istri dari Bosku sendiri."
Mendengar kalimat itu membuatnya menoleh. "Bos? Jadi kau adalah..."
"Yup! Aku adalah salah satu pegawai di Perusahaan Pusat Pietra."
"Wooooo aku sama sekali tidak tahu, bahkan Hyunjae bre-tidak memberitahukannya padaku."
"Breng*k... kau pasti ingin mengatakan itu." Batinnya.
"Tidak memberitahukannya... padaku," saat ini Lazel mulai mengalihkan pikirannya ke jalur lain. "Mungkin... wanita ini adalah salah satu, wanita simpanannya." Pikirnya.
"Kara Chiejun, tiga puluh tiga tahun. Salam kenal." Ia memperkenalkan dirinya.
Mendengar umurnya, mengingatjan dirinya pada seseorang, "menurut perkiraanku, kau memiliki umur yang setara dengan Hyunji." Ujarnya.
"B-Benarkah? I-Itu pasti ha-hanya kebetulan." Ujarnya dengan gugup.
Apapun identitas wanita itu, sepertinya tidak ada permasalahan bagi Lazel. Meskipun dia adalah salah satu simpanan Hyunjae, setidaknya Kara memiliki salah satu sifat yang berbeda dengan yang lainnya. Hal itu membuat Lazel sedikit tenang.
"Luka pada kaki Anda. Itu adalah efek atau akibat dari kecelakaan waktu itu bukan?"
Kepalanya kembali menoleh dengan wajah terkejut, "kau mengetahuinya?"
"Hehehe, sebenarnya aku adalah salah satu Bodyguard Tuan Hyunjae." Kekehnya.
"Hah? Tapi awalnya kau bilang jika dirimu itu adalah pegawai."
"B-Bukankah sedikit aneh mendengar seorang perempuan dengan kemampuan ototnya?"
"Hm?! Kau pandai bertarung?" Tanya Lazel yang mendadak semangat.
"Daripada bertarung. Ungkapkan saja dengan bela diri."
...◇• •◇...
Sepertinya saat ini Lazel mendapatkan sebuah teman baru. Mungkin belum dapat disebut dengan teman, lebih tepatnya seseorang yang baru saja dia kenal.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Lazel. Keduanya terus bercerita satu sama lain mengenai diri masing-masing. Meskipun baru bertemu, keduanya hampir seperti teman dekat, yang begitu mudahnya mengungkapkan segalanya mengenai kepribadian masing-masing.
Terutama bagi Lazel. Dirinya tidak menyangka jika Kara merupakan perempuan yang lihai dalam bidang bela diri. Karena sejauh ini dirinya hanya menemui para kaum wanita sepertinya yang sama sekali tidak bisa dikatakan pro. Namun saat ini dia benar-benar menemukan sesuatu yang langka.
Terlebih lagi, berbicara dengan Kara lebih menyenangkan dan menghilangkan stres yang ada di pikirannya.
"Hahaha! Dasar sialan! Awalnya kupikir jika kau itu adalah orang yang hanya bisa omong kosong. Tapi siapa sangka jika kau adalah salah satu Bodyguard Hyunjae," Lazel benar-benar tertarik untuk berteman dengan Kara. "Hyunjae adalah tipe manusia yang tidak pernah pilih kasih pada siapapun." Sambungnya dengan senyuman yang terukir lebar di wajahnya.
"Y-Ya kurasa itu memang benar," Kara sudah menduga bahwa sisi kejam Hyunjae bukan ditunjukkan pada anak buahnya saja. "Bahkan Nona Lazel mengetahuinya." Batinnya.
"Panggil saja aku Lazel." Ujarnya dengan wajah yang damai.
"Huh?"
"Lagipula kau itu lebih tua dibandingkan diriku."
Kara terlihat senang dengan tanggapan Lazel mengenai dirinya, oleh karena itu ia akan menuruti semua keinginan wanita yang lebih muda darinya, "haha~ sepertinya kita akan menjadi teman dekat." Ujarnya.
...◇• •◇...
"Mengapa kau muncul begitu saja di depan Lazel?"
"Kenapa kau marah? Bukankah aku sudah bilang jika waktu itu adalah kebetulan."
Sepertinya ia akan terus mendapatkan jawaban yang sama. Lagipula tidak mungkin jika Heul mengetahui dirinya sedang bersama Lazel di pusat pembelajaan.
Saat ini Hyunjae sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, oleh karena itu, ia tidak memiliki waktu lagi.
"Kalau begitu, aku akan pergi."
"P-Pergi? Bagaimana denganku? Apakah kau akan meninggalkanku?"
"Hah? Pernahkah kau berpikir jika dirimu bukanlah wanita satu-satunya yang pernah berbagi ranjang denganku?" Ujar Hyunjae yang terlihat semakin kesal.
Heul sudah menduga, jika Hyunjae saat ini mulai meletakkan sesuatu pada Lazel. Bahkan dirinya sempat salah mengira jika barang bawaan itu adalah untuknya, dan ternyata seluruh tumpukan barang mewah itu hanya untuk Lazel.
"Percuma," Heul menengahi. "Bukankah dia sudah mengatakannya, jika dia tidak menyukaimu,"
__ADS_1
"Lebih singkatnya. Siapapun pasanganmu, pernahkah dia menatapmu dengan perasaan cemburu? Kau hanyalah batu lonjakan baginya, bukan sebuah tempat untuk berharap."