Lost Feeling

Lost Feeling
Stuck is Really... Creepy


__ADS_3

"..............."


Beberapa orang yang masih berada disana saling berkumpul dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan mereka tidak menyangka jika jadwal padat Bos mereka belum berakhir, besok dia harus bertemu dengan tiga orang yang sebelumnya ia jamu.


Tidak lupa juga memberikan ucapan terima kasih pada seseorang yang mendapat permintaan kehadiran dari seorang Nona Direktur. Kehadirannya dapat memperjelas mengenai nilai serta kemewahan dari benda yang dia serahkan.


"Apa Bos masih di dalam?" Tanya Gyuu yang berbisik pada Vicy yang ada di sampingnya.


"Ya, aku melihatnya bersama dengan Sekretaris Byul." Jawab Vicy sambil memperhatikan pintu ruangan Lazel.


Sebelumnya Byul sudah memberitahukan pada mereka jika masih ada pertemuan di esok hari, dan itu harus dihadiri oleh Nona Direktur yang berkaitan dengan pembelian berlian dan juga perhiasan.


Salah satu dari perhiasan itu adalah barang baru yang sebelumnya diperkenalkan pada semua orang, dan kedua lainnya merupakan benda yang sama mewahnya, namun mungkin memiliki nilai yang sedikit miring dibandingkan benda utama.


Meskipun harganya terbilang miring atau lebih murah, angka nol di belakang angka utama tetap membuat dompet berteriak.


Cklek!


"Ku serahkan padamu, Byul."


"Baik Nona."


Terdengar suara pintu yang terbuka, serta ucapan Lazel pada Byul.


"B-Bos!"


Lazel menoleh pada beberapa pegawainya yang masih berada di tempat, salah satunya adalah Vicy dan juga Gyuu, "kalian masih disini? Kupikir aku sudah mengizinkan kalian untuk pulang lebih awal selain para Staff." Ucapnya dengan wajah yang cukup melelahkan.


"Y-Yah... kami hanya penasaran."


"Huh? Untuk apa?"


"Lagipula Personal Selling ini jarang diadakan, jadi kami penasaran dengan perhiasan yang Anda buat." Ujar Vicy yang menjadi perwakilan.


"Bukankah kalian sudah melihatnya terlebih dahulu sebelum para penonton?" Lazel benar-benar tidak memahami tindakan para bawahannya. Terlebih lagi, seharusnya benda itu akan terlihat saat mulai menampilkannya, tapi... Vicy dan Gyuu terus memberontak untuk melihatnya, hal itu membuat yang lainnya juga ikut memberontak.


Akan tetapi... ini bukanlah masalah yang besar, selagi akhirnya cukup memuaskan.


"Ngomong-ngomong... aku penasaran, berapa harga yang akan Anda tetapkan pada ketiga barang itu." Ucap Gyuu dengan ekspresi berpikir.


"Mengenai harga barang pertama itu adalah penetapan dari Perusahaan Pusat." Jawab Lazel dengan santai.


"Pusat?"


"B-Berarti da-dari Tuan Di-Direktur Hyunjae." Ucap salah satu pegawai lainnya.


"Yup, aku hanya menyetujuinya saja," angguk Lazel. "Lagipula menentukan jumlah angka nol itu sangat merepotkan! Ini karena aku berasal dari keluarga yang normal! Bahkan aku sendiri tidak bisa menghitung jumlah nol itu!"


"Aku tidak bisa mengingat angka nolnya." Ucap Lazel dengan wajah yang datar.


"..............."


...◇• •◇...


Setelah menyelesaikan segalanya, satu persatu pengawas, staff dan juga para pegawai kembali ke rumah mereka masing-masing.


Saat ia mulai mengantar Vicy dan Gyuu menuju lantai dasar, mereka sempat bertemu dengan Kara yang datang untuk menjemput Vicy. Pertemuan mereka cukup singkat, karena malam semakin larut, oleh karena itu Lazel tidak ingin membuat ketiga orang itu semakin berlama-lama di kantor.


Setelah semua urusannya selesai, kini sebuah masalah kecil mulai menimpanya.


"..............."


Saat memberikan perintah pada bawahannya untuk dapat pulang lebih awal selain para staff, ia melupakan sesuatu yang lebih penting dari itu semua.


Yaitu kunci ruangan salah satu lantai yang menyimpan berbagai perhiasan atau barang-barang penting lainnya.


"S-Sial, seharusnya aku tidak menolak permohonan Gyuu."


Sebelumnya Gyuu meminta pada Lazel untuk menetap bersamanya hingga keduanya kembali bersama, namun dengan sifatnya yang tegas, Lazel menolaknya dengan kasar. Dan pada akhirnya ia menyesali perbuatannya sendiri.

__ADS_1


...◇• •◇...


Saat memberi perintah untuk dapat meninggalkan kantor di awal waktu, ia menduga bahwa beberapa anak buahnya yang bekerja di lantai barang juga ikut mendengarkan kabar bahagia itu.


Mau tak mau Lazel harus melakukannya sendiri, lagipula para satpam juga berjaga di malam hari.


Ia meletakkan jas luarannya di atas pundaknya dan menggenggam tas mini berisi laptop di tangan kirinya.


Saat ini kantor benar-benar sunyi, namun lampu masih menerangi semuanya.


Saat mulai memasuki eskalator, sebuah ingatan telah membuatnya menghentikan langkahnya.


"A-Aku tidak membawa mobil," ucapnya dengan wajah yang penuh kehampaan. "Bangs*t! Bagaimana bisa aku tidak membawa kendaraan?! Pria keparat itu pasti sudah tertidur manis di atas ranjang."


Sepertinya keluhannya itu sama sekali tidak berguna, mau tak mau ia harus berjalan ke setiap lantai untuk mengunci ruangan barang.


Sreek!


"GYAAAAHHHHHHH!!!!!"


Hanya sebuah gesekan dari sebuah pendingin ruangan membuat dirinya berlari dan bersembunyi pada sebuah meja yang berada di ruangan para pegawai.


"A-Aku tidak takut!" Ia mengucapkannya dengan hati yang mantap.


Oleh karena itu dirinya mulai memberanikan diri dan perlahan mulai kembali melangkah. Tapi... listrik di malam itu mati begitu saja. Hal itu membuat Lazel kehilangan kewarasannya.


...◇• •◇...


Wanita berambut perak itu berlari sekuat mungkin menuju ruangan barang yang kini hampir dekat dengan dirinya. Meskipun merasa takut dengan hal-hal yang berbau mistis, namun ia tetap berusaha untuk mengunci ruangan tersebut.


Cukup singkat, usai ia berlari menuju ruangan itu, dirinya kembali berlari menelusuri tangga karena listrik yang padam membuat eskalator tidak berfungsi.


"Aku menyesal! Aku menyesal! Aku menyesal! Maafkan aku Gyuu! Suatu saat nanti aku akan mendengarkan ucapanmu!"


Perusahaan itu memiliki ukuran yang luas dan besar, namun Lazel berhasil sampai di lantai utama, dimana dirinya akan dipertemukan dengan pintu keluar.


Dengan wajahnya yang terlihat bersinar di bawah cahaya yang cukup gelap, "h-hahaha! Aku ber-"


Di situlah harapannya hancur...


"E-Eh... apa ini?" Kedua tangannya yang ingin mendorong pintu kaca itu sama sekali tidak bergerak, lebih tepatnya terkunci, "b-bohong kan..."


Wanita beriris merah muda itu mulai mengepalkan kedua tangannya dan memukul pintu kaca itu dengan kuat dan berusaha memanggil seseorang di luar sana. Pintu yang terbuat dari kaca itu merupakan kaca piliihan yang tidak mungkin dapat pecah begitu saja.


Oleh karena itu sedikit mustahil menghancurkannya dengan tangan kosong.


Tubrukkan kedua tangannya semakin melemah, "tidak ada harapan... para satpam tidak mungkin bisa mendengarku..."


"Kalau begitu..." kedua tangannya pun berhenti memukul kaca itu dan perlahan menurunkan keduanya.


Akan tetapi... tanpa aura yang terasa, tanpa ada jejak. Seseorang berdiri di belakangnya dan menempelkan kedua tangannya pada pintu kaca yang ada di hadapannya.


"!!!!" Lazel hampir berteriak karena hal itu, kedua tangan itu cukup besar untuk seorang laki-laki, bahkan urat-urat pada kedua punggung tangannya terlihat menyeramkan.


"S-Siapa dia? Penjahat?!" Lazel sama sekali tidak bisa menolehkan wajahnya ke belakang untuk memastikan siapa yang menghimpit tubuhnya.


"E-Ek!" Lazel sedikit menjerit saat orang yang ada di belakangnya itu mulai mendekatkan wajahnya pada tengkuk lehernya.


Ia merasa jika rambutnya berusaha untuk disingkirkan sehingga dapat menemukan lehernya.


Lazel semakin terpojok dan tidak mungkin mendaratkan serangan pada pria itu, bisa saja senjata tajam juga bersamanya. Lagipula posisinya saat ini sangat tidak menguntungkan, "g-gawat! Kalau terus seperti ini!-"


Lazel melihat tangan kanan pria itu yang menempel pada kaca pintu mulai bergerak.


"Pintu? Hancur?" Lazel cukup sulit mengartikan isyarat dari pergerakkan tangannya.


Wajahnya yang berawal dari ketakutan kini terlihat sedikit lebih baik, "k-kau ingin menghancurkan pintu ini?!" Tanya Lazel dengan suara yang sedikit gemetar.


Pria itu mengubah lima jarinya menjadi sebuah jempol, yang berarti ucapannya itu benar.

__ADS_1


Lazel mengangguk kecil, "hm! A-Aku akan menuruti semua permintaanmu! Kumohon hancurkan pintu ini! Tapi... bagaimana caranya agar pintu ini ha-"


"Okee~" pria asing itu merangkul kepala Lazel ke dalam pelukannya dan berusaha menghindarkan pecahan kaca itu menuju ke arahnya.


"Huh? Suara ini?"


KRAANG!


Lazel menutup kedua matanya dengan erat, lalu menggunakan tangannya yang kosong untuk merangkul pria itu tepat di lehernya.


"Selesai~" ujar pria itu yang masih memeluk Lazel.


"Aku tidak asing dengan suara ini." Ucap Lazel yang secara keseluruhan rasa takutnya menghilang.


Ia pun berusaha melepaskan pelukan itu darinya lalu melihat siapa yang sudah menjebak dirinya. Tubuhnya mematung dalam sesaat dan tidak hampir mengeluarkan kalimat Kebuh Binatang.


"Yo." Sapa pria itu dengan senyuman tanpa merasa bersalah.


"H-HYU-HYUNJAEEEE?!"


...◇• •◇...


"N-Nona, kupikir kantor Anda ada yang menerobos masuk."


"T-Tapi maafkan kami karena mematikan listriknya begitu saja dan mengunci pintunya!"


"Y-Ya tidak apa-apa," Lazel berusaha untuk tidak melepaskan amarahnya pada kelima satpam itu. "Sialan! Aku sangat takut karena kalian!"


Saat ini Lazel tengah berbincang dengan kelima satpam itu dengan hati yang menggebu-gebu. Namun pada akhirnya wanita berambut perak dengan penampilan yang cukup berantakan harus berusaha sabar.


Sedangkan Hyunjae, pria asing yang berhasil membuat Lazel ketakutan tengah berjongkok dan mengelus kepalanya yang mendapatkan pukulan kuat dari Istrinya.


"Ayo pulang." Ujar Lazel yang memasuki mobil lebih dulu.


"B-Baik."


Seseorang dibalik penyerangan itu ternyata adalah Hyunjae sendiri, yang diketahui telah berada di kantornya semenjak Personal Selling berlangsung.


"Huft..."


"!!!!" Hyunjae dapat merasakan jika hembusan nafas itu berisi dengan maut yang akan menyerang.


Bahkan ia melihat ekspresi Lazel yang saat ini cukup menyeramkan jika kembali diajak bercanda.


...◇• •◇...


Personal Selling usai pada jam sebelas malam, namun setelah itu Lazel harus kembali menetapkan jadwal untuk pertemuan besok.


Pada akhirnya, karena begitu banyak masalah yang menimpanya, saat ini tepat pada pukul satu lewat mereka berjalan menuju villa.


"Mau sekesal apapun, aku masih tidak percaya pada Hyunjae yang menghancurkan pintu itu dengan tangan kosong,"


"Kalau dia tidak berada di dalam... mustahil bagiku untuk terus berteriak," kini dibandingkan kesal dan marah, justru Lazel lebih memikirkan sisi positifnya. Dimana tanpa kehadiran Hyunjae, ia takkan bisa keluar. "Sepertinya aku harus berterima kasih padanya."


Ia menolehkan wajahnya pada Hyunjae yang fokus menyetir


"Ada apa?" Tanya Hyunjae yang merasakan jika seseorang menatapnya.


"Tidak, hanya saja... terima kasih." Ucap Lazel dengan wajah yang kembali terlihat santai.


"!!!!"


"Yaah~ jika kau tidak ada disana mungkin malam ini aku akan menginap."


Hyunjae tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan kalimat terima kasih dari Lazel. Mungkin ini adalah saatnya untuk menagih ucapan wanita itu sebelumnya.


"Berarti... dengan ini kau harus menuruti permintaanku bukan?" Ujar Hyunjae yang cukup senang dengan tawaran yang diberikan Lazel padanya.


"A-Apa?!" Wanita itu kembali memasang wajah panik dan menatap pria tampan itu.

__ADS_1


"Kau juga tidak memiliki hak untuk menolak karena aku sudah menyelamatkanmu," kini tangan kanannya mengemudi dengan serius serta tangan kirinya yang mengusap rambut hitamnya ke belakang. "Kau bersedia bukan?" Meskipun tatapannya masih lurus ke depan, namun Lazel sangat merasakan sebuah guncangan pada tubuhnya, terutama pada ekspresi senyuman Hyunjae yang cukup membuat sekujur tubuhnya bergetar.


"H-Hei, mengapa jantung ini tidak bisa berdetak dengan pelan?" Batinnya.


__ADS_2