
"Menyesal? Memangnya apa yang Tuan Hyunjae sesali?"
"Bertanya langsung mungkin akan membuat situasinya semakin parah, lagipula... aku tidak tahu mengapa Nona menjadi seperti ini,"
"Tapi aku merasa jika ada masalah besar yang menimpa keluarga ini."
Saat ini Vicy dan juga Hyunjae mendapatkan perawatan ringan atas luka mereka. Vicy mendapatkan beberapa goresan besi di kedua tangannya saat membantu Hyunjae dan Lazel, besi itu bisa saja berkarat dan menyebabkan iritasi.
Sedangkan Hyunjae, saat ini pria itu sedang mendapatkan perawatan khusus pada bagian perut kirinya yang terluka akibat tusukan pecahan benda tajam. Lukanya tidak begitu dalam, namun tetap saja bisa menimbulkan anemia atau kekurangan darah.
Melihat Hyunjae yang mendapatkan luka seperti itu, Vicy semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi. Namun siapapun enggan untuk memberitahukan padanya dan juga pada Kara.
"Apa boleh buat, kami hanyalah sebatas teman Nona, tidak lebih dari itu." Ucapnya dalam hati dengan perasaan yang sedikit sedih.
Saat Vicy masih mendapatkan pengobatan pada kedua tangannya, Hyunji menghampirinya dengan senyuman hangat.
"Maaf sudah melibatkanmu." Ucap Hyunji yang berlutut di hadapan Vicy yang sedang duduk di sebuah matras.
"T-Tidak apa-apa, lagipula Nona Lazel adalah teman kami." Tukas Vicy yang merasa canggung dengan perbincangan pertama kalinya dengan Hyunji.
"Jadi benar, jika Lazel memiliki beberapa teman," batin Hyunji. "Aku tahu jika kau bertanya-tanya pada situasi saat ini. Tapi... aku masih belum bisa menceritakannya padamu dan juga pada Kara."
"Ternyata benar..."
"Mungkin Lazel sendiri yang akan menceritakannya pada kalian."
...◇• •◇...
Ketiga orang itu saling terdiam dan tidak mengatakan apapun. Bahkan seharusnya pertemuan itu sedikit canggung. Di depan sebuah ruangan yang tertutup, dimana hanya tenaga medis saja yang bisa memasukinya. Beberapa saat yang lalu Nezra yang merupakan salah satu Dokter dari Rumah Sakit tersebut tiba dan ikut serta dalam pengobatan Lazel.
Mereka tidak tahu apa yang dilakukan para medis di dalam sana. Bahkan tidak ada yang tahu jika Lazel mendapatkan luka serius atau hal lainnya.
"Terima kasih sudah ikut membantu~" ucap seseorang dari belakang dengan nada yang santai.
"????" Keduanya menoleh ke belakang. Kecuali Ian yang saat ini terlihat sangat frustasi pada kondisi Kakaknya.
"Ian, Kakakmu akan baik-baik saja." Ujar Hyunji yang merasa bersalah pada Adik laki-laki Lazel.
"Memangnya apa yang dia pikirkan sehingga harus mengalami hal seperti ini?" Ucapnya dengan kedua mata yang sembab.
Baru saja ia mendapatkan momen dimana dirinya lulus dengan kehadiran Kakaknya dan juga Hyunjae. Namun setelah itu sebuah kabar datang dan membuatnya syok.
Ia mendengar langsung dari Hyunjae bahwa Lazel mengalami kecelakaan di sebuah jalan yang tidak jauh dari lampu merah. Mobil yang dibawa oleh Kakaknya menabrak pembatas tugu yang melingkar di bagian tengah jalan raya. Dengan kecepatan tinggi membuat beberapa dari batu itu hancur dan menjatuhi mobil Lazel. Belum lagi bagian depan yang sudah tidak terbentuk lagi.
Dan hebatnya, Lazel masih diberikan nyawa setelah kecelakaan tersebut.
Dan kedatangan Hyunji untuk membuat orang-orang yang ada disana mendapatkan ketenangan. Lagipula urusan yang lain sudah di tangani oleh Adam, yaitu Ayahnya. Saat ini ia hanya perlu mendengar kabar Lazel dan meringankan sedikit pikiran dari beberapa teman Lazel, termasuk Ian.
Lampu yang tadinya berwarna merah kini kembali hijau, dimana hasil pemeriksaan sudah selesai. Nezra melepaskan penutup mulutnya dan melihat beberapa orang yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang tegang.
Seharusnya ini tidak menjadi masalah yang serius, karena keselamatan Lazel jauh lebih penting dari apapun.
"Dengar, usahakan Hyunjae tidak mendengar keributan ini. Setidaknya biarkan pria itu beristirahat sejenak." Ujar Hyunji.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa," keluh Nezra dengan pikirannya yang kacau. "Buruk atau tidaknya aku tidak tahu apa yang harus-"
"Katakan saja Bu." Sela Hyunji yang sangat penasaran dengan kondisi Lazel.
"Rahimnya rusak." Ucap Nezra yang langsung pada intinya.
"??!!" Ucapan terang-terangan itu membuat semuanya terkejut.
"R-Rahim?!" Kejut Ian.
"Rusak? Apa memang separah itu?" Tanya Kara dengan wajah yang terkejut.
__ADS_1
"Kami belum bisa memastikannya, yang jelas untuk saat ini Lazel mungkin akan mengalami kesulitan dalam masa kehamilannya nanti,"
"Lebih tepatnya, mungkin sulit bagi Lazel untuk hamil dalam keadaan rahimnya yang kurang konsisten."
...◇• •◇...
"Tidak bisa hamil?"
"Hyunjae dengarkan Ibu, aku tidak ingin masalah ini akan memberatkan dirimu atau Lazel. Yang patut disyukuri saat ini adalah kondisinya,"
"Meskipun di tubuhnya terdapat beberapa luka yang cukup parah, setidaknya dia masih bisa bertahan tanpa melakukan operasi,"
"Padahal kecelakaannya begitu parah."
Nezra sebelumnya memutuskan untuk memberitahu Hyunjae secara langsung mengenai kondisi Lazel. Wanita itu di kedepannya akan sulit hamil atau mungkin tidak akan bisa hamil. Namun Nezra tidak mendapatkan kerusakan parah dalam rahimnya.
Akan tetapi kesalahan seperti ini bisa saja menjadi fatal.
"Memangnya apa yang harus ku pikirkan, Lazel memiliki masalah dalam rahimnya sehingga akan sulit untuk hamil. Bahkan kami tidak pernah memikirkan apapun mengenai hal seperti itu." Pikirnya.
"Apa kau ingin melihat Lazel?" Ujar Ibunya yang ingin melihat Putranya membaik.
"Boleh?"
"Tentu saja, bahkan teman-temannya lebih dulu melihat kondisinya."
...◇• •◇...
Wanita yang selalu meletakkan kedua tangannya di pinggang saat ini tengah tertidur dengan wajah yang penuh dengan perban dan luka gores lainnya. Kedua tangannya yang terbentang lemah dipenuhi dengan selang-selang kecil.
Mulutnya yang selalu berkicau kini terdiam. Rambut peraknya menjuntai cantik meskipun dalam keadaan yang kurang baik.
Pria yang hanya mengenakan jas itu menarik kursi lalu mendudukinya tepat di samping Lazel yang terbaring lemah.
Menurut cerita yang pernah dia dengar dari Ian, semua ciri-cirinya sama persis dengan foto yang ada di dalam ponsel tersebut. Ayahnya hingga kini belum menceritakan apapun mengenai masalah ini, perubahan Lazel membuatnya bertanya-tanya.
Ia juga tidak menyangka jika selama ini Lazel masih mencari pelaku yang sudah membuat Wonhae tewas. Dan ternyata dalangnya adalah Pamannya sendiri.
Untuk saat ini Lazel akan tetap di rawat hingga dirinya kembali siuman. Kerusakan yang dialami rahimnya cukup serius meskipun tidak memerlukan operasi.
Akan tetapi... mendengar kabar seperti itu membuat dirinya sedikit putus asa. Disaat ia mulai mencintai sosok wanita itu dan berniat untuk memulainya lagi sebuah masalah pun datang.
"Jika aku tidak melakukannya, mungkin kau tidak akan seperti ini,"
"Kau bahkan belum memberikan jawaban yang sesungguhnya. Karena aku tahu, jawaban seperti itu bukanlah keinginan dirimu."
"Pernyataan perasaanku terlalu memaksa waktu, setidaknya biarkan aku mengulang kalimat itu lagi disaat kondisimu membaik,"
...◇• •◇...
Untuk hal terbesar yang menimpa dirinya hingga terlihat sangat putus asa adalah kondisi Lazel dan juga bencana yang menimpa wanita tersebut.
Bahkan hari yang semakin malam senuanya masih berdekam di Rumah Sakit untuk menunggu Lazel membuka kedua matanya.
Di sisi lain, wanita berambut hitam itu tengah duduk dengan ekspresi wajah yang marah pada seorang pria yang ada di hadapannya.
"Beritahu aku, apa yang kalian rencanakan." Tanya Nezra pada Adam yang ada di hadapannya.
"Aku sudah memutuskannya, bahwa Lazel sendiri yang akan menceritakannya." Jawab Adam dengan tenang.
"Ck! Mengapa kalian menjalankan sesuatu tanpa sepengetahuanku?"
"Ada begitu banyak cerita Nezra, sehingga aku sendiri sulit untuk mengatakannya."
Saat ini dirinya sangat ingin menampar Adam dan memberinya caci makian. Tapi, melihat kondisi sekitar ia tidak bisa melakukannya, apalagi saat berada di Rumah Sakit. Selama Lazel dirawat Nezra pun tidak akan meninggalkan Rumah Sakit dan akan menjalankan tugasnya seperti biasa sembari mengawasi Lazel.
__ADS_1
"Bicara denganmu hanya membuatku muak," tutur Nezra yang melepaskan teleskop dari lehernya. "Pergilah dan minta pada anak-anak untuk pulang, aku akan tetap disini menjaganya." Ujarnya.
"Baiklah."
...◇• •◇...
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gyuu pada Vicy yang berjalan bersampingan dengannya.
"Hm, tapi Kara sepertinya tidak." Ucapnya dengan kedua alis yang tertekuk.
"????"
"Dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku."
Adam meminta pada teman Lazel untuk segera pulang karena malam semakin larut. Vicy dan Gyuu akan pulang bersama, namun sebelum itu mereka harus mengunjungi kantor untuk mengurus beberapa hal. Sedangkan Kara, dia akan pulang bersama Hyunji. Sebagai rasa terima kasihnya, Hyunji pun berniat untuk memberi tumpangan pada Kara.
Mobil hitam mengkilap itu mengeluarkan cahaya saat Hyunji menekan tombol di sebuah kunci yang dia pegang.
Kara semakin tidak nyaman saat Hyunji berniat untuk mengantarnya. Oleh karena itu Kara tiba-tiba menghentikan langkahnya, "T-Tuan, sebenarnya aku bisa-"
"Panggil saja Hyunji, kau terlalu formal." Selanya yang langsung menangkap pergelangan tangan Kara dan menariknya pelan meskipun ada sedikit rasa paksaan.
Hyunji membuka pintu mobil, "masuklah."
"A-Aneh sekali melihat mu bertingkah seperti ini." Ucap Kara yang mengikuti intruksi dari pria yang merupakan Kakak dari Hyunjae.
"Hm? Apanya yang aneh?" Tanya Hyunji yang masih berdiri di samping Kara dengan pintu yang terbuka.
"Biasanya aku yang selalu membukakan pintu untuk Bos, jadi aku baru pertama kali merasakannya."
"Hahaha~"
"Lucu? Memangnya dimana kalimatku yang lucu?" Pikirnya.
"..............." Hyunji mengambil posisi berlutut, namun sebelum itu ia menggerakkan tubuh Kara agar bisa menghadap padanya.
"A-Apa yang kau lakukan?"
Hyunji menarik ke atas rok yang digunakan oleh Kara.
Semburat merah menghiasi wajahnya, "k-kau!-"
"Lebam?"
"Huh??"
Hyunji mendapatkan sebuah lebam yang cukup membiru di bagian paha atas Kara, yang mungkin dia dapatkan saat membantu Hyunjae dan Lazel.
"Meskipun tidak berdarah, mungkin membuatmu berjalan terasa sangat sakit bukan?"
"Tapi... dari mana kau tahu?"
"Cara berjalanmu saja cukup aneh."
"B-Begitu ya," Kara tidak menyangka jika Hyunji mengetahui apa yang dia sembunyikan. "Hebat sekali, bahkan aku-"
Ia sedikit terkejut saat Hyunji mulai memegang lebam itu perlahan. Sedangkan dengan santainya pria itu mengangkat roknya begitu saja sehingga hampir menampakkan sisi malunya.
"Berilah air hangat, mungkin akan mereda." Ujarnya.
"B-Baik."
Hyunji pun kembali berdiri dan menepuk pelan pucuk kepala Kara dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum, "aku tahu kau itu kuat, jadi masalah seperti ini bukanlah sesuatu yang serius bagimu." Ucapnya dengan sorot mata yang tenang.
Hal itu membuat Kara hampir kehilangan oksigen hanya karena melihat orang yang dia sukai memberinya pujian.
__ADS_1