
Dua saudara kembar yang saling berpelukkan, Sang Kakak berusaha menenangkan Adik yang sulit untuk menerima keadaan. Seluruh perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, ia berupaya untuk meluapkannya pada Kakaknya saat ini.
Waktu yang Lazel habiskan untuk Ian tidak seperti dulu lagi. Mereka memiliki jalan yang berbeda, Lazel harus menjalankan kehidupan palsunya bersama dengan Hyunjae. Sedangkan Ian, ia selalu percaya dengan apa yang dikatakan Kakaknya dan apa yang dia lihat.
Lazel tahu jika saat ini dirinya benar-benar melakukan kesalahan yang besar, dimana dirinya sendiri membohong Ian dan tidak akan membiarkannya tahu hingga pada waktu yang pas.
"..............." melihat kedua saudara itu membuatnya sedikit terharu. Bahkan dirinya dan juga Hyunji tidak pernah mengalami hal seperti ini karena... mereka memiliki segalanya. Dan Lazel memang sanggup untuk melakukan semuanya sendiri.
Di posisi ini... Ian yang memeluknya dengan linangan air mata, bahkan sebagai Kakak ia tidak tahu harus merasakan hal yang sama atau apa. Karena dirinya sangat yakin bahwa ada saat-saat nanti dimana Ian akan mengatakan benci pada Lazel.
Ia sudah dapat menduga atau menebak apa yang akan dia dapatkan nanti, yaitu... keputusasaan.
...◇• •◇...
Irisnya yang berwarna merah muda layaknya caramel menatap Adiknya yang tertidur lelap. Hari semakin sore, dan hangat matahari semakin pudar. Ia tidak akan membangunkan Ian hingga pria itu terbangun sendiri.
Hyunjae akhirnya menunjukkan dirinya setelah melihat Ian mulai tenang, "apa yang kalian bicarakan?" Tanya Hyunjae dengan suara kecil.
"Sesuatu yang mungkin akan sangat sulit untuk ku beritahukan padanya." Jawab Lazel dengan suara yang rendah.
"Hm? Bukankah kau mempunyai diriku? Kau tidak harus memberitahunya seorang diri, kita bisa melakukannya bersama." Ujar Hyunjae yang mencoba untuk meringankan masalah Lazel, karena wanita itu terus memasang wajah suram.
"Apa kau tahu," kini Lazel mulai ingin mengatakan sesuatu pada Hyunjae. "Jujur... aku mulai tenang dengan sikapmu yang seperti ini."
"..............." awalnya Hyunjae tidak memberikan balasan apapun selain terdiam. Namun, perlahan wajahnya memerah karena malu. "A-Apa yang kau katakan?!" Tanya Hyunjae dengan suara yang pelan.
"Bukankah kau selalu mengatakan hal yang sama di setiap harinya?" Seringainya kecil.
"T-Tapi ini mendadak sekali."
Hyunjae habis-habisan mendapat karmanya sendiri. Sebelumnya ia terus menggoda Lazel dengan segala cara sehingga Lazel sendiri merasa repot dengan hal itu. Sejauh ini Hyunjae bena-benar berbeda dari sebelumnya. Biasanya pria itu selalu membuat keributan serius sehingga mereka lebih sering bertengkar karena hal sepele.
Entah hal ini harus di syukuri atau apa, namun melihat Hyunjae yang seperti ini membuatnya merasa jauh lebih baik.
Akan tetapi... ada sebuah aturan dimana perubahan Hyunjae tetap akan membuat Lazel melindungi dirinya sendiri. Lazel sudah berpikir jika Hyunjae telah jauh melangkah, oleh karena itu ia berusaha untuk menjalankannya sementara.
...◇• •◇...
Hari demi hari, Lazel selalu menghabiskan waktunya di rumah bersama dengan Gilver dan juga Yana. Pelayan setianya itu selalu membantu Lazel untuk melatih kedua kakinya agar dapat kembali berjalan seperti biasa.
Seiring berjalannya waktu, luka pada tubuh serta wajah Lazel semakin membaik dan memudar. Kini bibirnya yang selalu tertutupi oleh kapas kecil dapat kembali terbuka, saat berbicara luka kecil itu sudah tidak membuatnya kesulitan lagi.
Mengenai rahimnya... sakitnya tidak seberapa, namun terkadang nyeri pada rahimnya membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas. Hingga saat ini rasa sakit itu memudar dan tidak pernah ia rasakan kembali.
Hyunjae juga merupakan sosok yang paling penting, dia rea mengorbankan waktu istirahatnya demi memperhatikan kondisi Lazel. Kedua kakinya hampir dapat bergerak kembali seperti semula, usaha Lazel sepertinya tidak begitu buruk.
Ia mengitari Rumah Kaca disaat bosan, lagipula ada Yana bersamanya, jadi Hyunjae memberikannya izin. Waktu hampir menginjak satu minggu, apa yang dia rasakan pada kedua kakinya tidak sesakit seperti sebelumnya. Justru Lazel harus berterima kasih pada Hyunjae dan Yana yang selalu menemaninya.
Wanita berjubah putih itu melangkah pelan dengan rambut peraknya yang terjuntai panjang.
Wanita yang saat ini berposisi sebagai Pelayan mendekati Lazel dengan khawatir, "Nona, apa Anda tidak kedinginan?" Tanya Yana dengan memegang kedua pundak Lazel.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Mungkin beberapa menit lagi, Tuan Hyunjae akan tiba." Ujar Yana yang berusaha menyingkirkan rasa gelisah pada Nonanya dan mengingatkannya pada Hyunjae.
...◇• •◇...
"..............."
__ADS_1
Hampir satu rumah tidak pernah berbicara dengan Nona di rumah tersebut. Bahkan mereka selalu bertanya-tanya, sampai kapan beliau akan terus seperti ini.
Hyunji sebagai Putra Tertua pun merasa khawatir pada Ibunya. Selama ini Nezra lebih sering menghabiskan waktunya di kamar dengan sebuah laptop di hadapannya.
Nezra masih tidak memahami jalan pikir Lazel dan juga Hyunjae. Kedua orang itu sudah melakukan kesalahan besar dengan berbohong pada semua orang, termasuk pada Gion dan juga Lena.
Ia menyesal dan juga marah. Namun kemarahannya langsung terlontar begitu saja disaat dirinya marah. Namun di sisi lain ia juga merasa bersalah karena tidak kurang mengetahui seluk beluk masa lalu Lazel.
Untuk saat ini masalah Lazel hampir membuatnya tidak terkendali, lalu bagaimana dengan tindakan Hyunjae sebelum semua ini terjadi?
Bermain dengan banyaknya wanita di luar sana dan mengabaikan apapun, termasuk Istrinya hanya demi bersenang-senang.
Semua orang terlalu sibuk pada kesalahan fatal yang telah diperbuat Lazel tanpa memandang siapa Hyunjae sebenarnya.
...◇• •◇...
Tanpa terasa satu minggu pun berlalu dimana hari senin mulai mengganti posisi minggu.
Sebelum matahari menunjukkan cahayanya, Lazel sudah terbangun lebih dulu. Kedua matanya hanya menunduk ke bawah tanpa ekspresi. Sedangkan Hyunjae terus berjalan kesana kemari untuk mempersiapkan dirinya pergi bekerja.
Hyunjae menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Lazel yang kini terlihat kurang baik, "Lazel ada apa? Apa kau sakit?" Hyunjae menempelkan tangannya pada wajah Lazel dan memeriksa suhu tubuh wanita itu.
"Tidak~" jawab Lazel lalu menyingkirkan tangan itu darinya dengan perlahan.
Secara tiba-tiba pria beranting itu menunjukkan raut wajah yang bersedih, "hm... apa sebaiknya aku tidak perlu bekerja?"
"Ayolaah~ walaupun aku dalam kondisi yang tidak baik, ada Yana disini, dia bisa menjagaku." Tutur Lazel dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Benar juga," Hyunjae beranjak dari ranjang lalu membantu Istrinya untuk bangkit. "Pergilah mandi, aku akan memanggilkan Yana kesini."
"Oke." Angguknya.
...◇• •◇...
Hyunjae pergi dengan senyuman, Lazel pun melepaskannya tanpa merasakan kehilangan. Karena apapun yang terjadi, Hyunjae maupun dirinya harus merasakan hal yang berkaitan dengan kehilangan.
Kedua kakinya melangkah masuk dan mendapati Yana yang sedang merapikan Ruang Tamu.
"Nonaaa~ apa ada yang perlu Saya bantu?" Tanya Yana dengan penuh semangat.
"Tidak, tidak ada." Jawab Lazel lalu meninggalkan Yana yang kembali membereskan Ruang Tamu.
Menurut apa yang Lazel lihat, Yana berubah sangat jauh disaat dirinya dan Hyunjae mulai saling menyukai satu sama lain. Padahal selama ini hanya Hyunjae yang selalu mengungkapkan rasa cintanya pada Lazel. Wanit berambut perak itu hanya memberikan senyuman, tawa serta emosi sebagai jawaban.
Namun saat ini, ia berpikir bahwa semuanya memang harus berakhir. Entah secepat atau selambat apapun.
Tangannya membuka pintu kamar dengan perlahan lalu menatap ponsel yang berada di atas ranjang. Ia meraihnya lalu menggeser layar tersebut serta menempelkannya pada telinga kanannya.
^^^"Laazeeel~ ada apa? Mengapa kau menghubungiku? Apa kau kesepian? Apa aku harus kembali se-"^^^
"Sebenarnya aku menginginkan sesuatu." Ucap Lazel sembari menatap langit dari jendela kamarnya.
Mendengarnya saja Lazel tahu pasti jika pria itu sangat senang karena mendapatkan telpon darinya.
^^^"Hm? Apa itu? Katakan saja."^^^
"Bisakah kau membelikanku ramen?"
^^^"Ramen? Tentu!"^^^
__ADS_1
"Tapi, aku menginginkan yang berada di Distrik Ibu Kota, kau tahu bukan disana adalah tempat favoritku?"
^^^"Sangat jauh... tapi baiklah, aku akan membelikannya untukmu. Jadi, tunggu aku."^^^
"..............." tangannya mengepal tirai itu dengan erat. "Ya." Jawabnya singkat lalu mengakhiri panggilan tersebut.
Menurut yang dia ketahui, Hyujae akan kembali tengah hari. Namun karena dirinya meminta sesuatu, pria itu pasti akan telat kembali. Hyunjae akan melakukan apapun yang menjadi permintaan Lazel.
Sedangkan Yana... Pelayannya itu selalu berada di rumah dan tidak pernah berjalan ke luar tanpa seizin Hyunjae.
Kini masih sangat pagi, mungkin ia bisa mengurus semuanya tepat waktu.
...◇• •◇...
^^^"Lazel? Ada apa?"^^^
"Aku ingin bertemu dengan Gyuu, apa kau bisa menemaniku?"
^^^"Hm... bisa saja, tapi bukankah Hyunjae melarangmu untuk meninggalkan rumah?"^^^
"Aku sudah memberinya sogokan yang pas, oleh karena itu dia tidak berani memberikan komentar apapun."
^^^"Ohoo~ sepertinya aku mengetahui sesuatu."^^^
"Haha, kalau begitu bisakah kau kemari?"
^^^"Aku akan tiba lima belas menit."^^^
Panggilan itu berakhir. Setelah memeriksa bagian pakaian, tanpa sengaja ia menemukan jas yang familiar. Jas tersebut tak lain adalah milik Gyuu. Sebelumnya pria itu pernah memberikan jas itu untuk menggunakannya sementara karena sebuah minuman yang menumpahi dirinya.
Lazel hampir lupa pada kejadian itu. Dan kini ia berniat untuk mengembalikannya.
...◇• •◇...
Kedua kakinya melangkah menuruni anak tangga dengan sebuah tas mini yang berada di tangannya.
"Yana." Panggilnya.
"Ya?" Wanita berseragam putih hitam itu langsung datang ke hadapan Lazel, "N-Nona... Anda mau kemana?" Tanya Yana yang melihat penampilan Nonanya yang terlihat lebih rapi.
"Hyunji akan menjemputku untuk pemeriksaan."
"Benarkah? Kalau begitu-"
"Bisakah kau memasak untukku? Mungkin aku tidak akan lama." Selanya dengan senyuman di wajahnya.
"Oh! Baiklah!
Setelah mendapatkan perintah dari Majikannya, Yana pun bergegas menuju dapur dan mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Nonanya.
Tak lama ia menunggu, sebuah klakson berbunyi tepat di depan rumahnya.
"Itu pasti Kara." Tebaknya.
Sebelum pergi Lazel pun berpamitan pada Yana dan berjanji akan pulang dengan selamat. Meskipun dirinya mengucapkan kebohongan, itu semua hanya bisa dilakukan oleh dirinya saja.
Lazel menggunakan celana panjang longgar berwarna hitam, sebagai atasan ia memakai jaket yang berwarna sama.
Ia segera memasuki mobil tersebut dan mendapatkan Kara yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Yo." Sapa Kara yang berada di dalam mobil.