
"Aku tidak menyangka... jika E-Gyuu adalah Putra dari Keluarga Hojung,"
"Aktingnya luar biasa... bahkan dia bisa mengelabuhiku,"
"Seharusnya aku tidak boleh kesal, tapi..." kini amarahnya benar-benar terlihat. "Bagaimana bisa bajing*n itu masih bisa bicara dengan santai? Apa dia meremehkanku?"
Memikirkan kembali permasalahannya dengan Gyuu, sedikit kesal untuk diingat. Setidaknya satu hal membuat perasaannya sedikit lega, pria itu sama sekali tidak memiliki niat jahat pada Keluarga Pietra, dan sesuai dengan penjelasannya, dia hanya melakukan rencana di awalnya saja, karena...
"Menyukaiku? Hah? Dia menyukaiku? Apa karena diriku beraroma seperti uang baru?" Kini Lazel mulai meliarkan pendapatnya terhadap Gyuu.
"..............."
Berbeda lagi dengan seseorang yang sedang menyetir di sampingnya. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan saingannya, kini perasannya kembali membara. Egis yang selama ini dikenal oleh Lazel rupanya adalah Gyuu, pria yang lebih muda darinya, serta Putra dari Eun Hojung.
"Aku membenci pria itu. Bagaimana pun juga, dia sangat berbahaya!" Tuturnya dalam hati.
...◇• •◇...
Cahaya lampu menerobos kaca depan mobil dan memperlihatkan raut di wajahnya. Meskipun memiliki umur yang cukup tua, namun paras cantiknya tidak berubah, terutama pada keuda Putranya yang meneruskan sisi wajah Ibunya serta sifat dari Ayahnya.
Nezra awalnya sudah menduga sesuatu, pada akhirnya sesuatu itu adalah pengakuan Gyuu pada Lazel mengenai kebohongannya selama ini.
"Hihihi!" Kedua tangannya terlipat di depan dada dan menunjukkan ekspresi bersemangat, "dia menyukai Menantuku, apa aku harus menerima Gyuu sebagai Suami kedua Lazel?"
"Ahaaa~ mereka pasti akan berdebat setiap hari hanya untuk memperebutkan Lazel~"
"Tidak! Dasar bajing*n keparat! Tidak mungkin aku melepaskan Lazel ku begitu saja!"
"..............." melihat Ibunya yang mulai berulah lagi sangat mudah menebak apa yang sedang dia pikirkan.
Tetapi... mau bagaimanapun juga, ini patut disyukuri, Gyuu menjelaskan semuanya melalui Lazel lalu Lazel sendiri yang menjelaskan semuanya pada Ibunya. Dan pria kuning itu sadar atas kesalahannya pada akhirnya ikut menjelaskan semuanya pada Nezra.
"Ibu benci pembohong," ucapnya dalam hati sembari memperhatikan keadaan luar dari balik jendela mobil. "Lalu, apa yang terjadi pada Hyunjae dan Lazel nanti?"
...◇• •◇...
Di pagi hari berikutnya, pekerjaan akan menjadi sarapan kedua mereka. Serta kesibukan akan terus terjadi. Sebenarnya hal ini sudah lama terjadi, hanya saja kedua Manusia itu hampir merasa gila di setiap harinya hanya karena pekerjaan.
Setelah usai merapikan rambutnya di depan cermin besar itu, tangan serta kedua matanya sedang mencari sesuatu, "hm? Dimana pita kupu-kupu milikku?"
Pria yang masih memakai kemeja putih itu memunculkan kepalanya di balik pintu lemari, "apa kau gila?" Sahut Hyunjae sambil menunjuk lemari berukuran sedang yang berdiri di samping lemari pakaian, "di lemari itu hampir penuh dengan serangga." Sambungnya dengan ekspresi menyeramkan.
"Jangan menatap barang berhargaku seperti itu, mau ku lepas matamu?" Ucap Lazel dengan kesal.
Kali ini Lazel lebih dulu usai dan berniat untuk meninggalkan kamar itu sesegera mungkin.
"Lazel, aku akan menjemputmu." Ujar Hyunjae yang mempercepat persiapannya.
"Bawa mobil sendiri." Sahut Lazel yang kembali lagi dan meraih laptop berukuran besar.
"H-Hah? Tapi kau-"
Wanita yang memiliki rambut perak itu menoleh, "bawa mobilmu sendiri dasar keparat." Selanya dengan tatapan yang penuh dengan ancaman.
"B-Baik."
...◇• •◇...
Bersama di bawah atap yang sama. Dipisahkan oleh kamar serta tempat pekerjaan. Entah hubungan yang miris atau kasihan.
Aplic Pietra, sebuah perusahaan dimana mereka mengelola serta menciptakan berbagai macam perhiasan. Perusahaan Pusat berada di bawah kendali Hyunjae, perannya lebih besar dibandingkan peran Lazel.
Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Poni rambutnya telah menyatu hingga memiliki panjang yang setara dengan helaian yang lain. Kedua tangannya menggenggam stir itu dengan santai sambil memperhatikan jalanan dari layar kaca mobilnya.
Sebuah mobil dengan plat yang dikenal terus mengikutinya dari belakang. Dalam beberapa jarak lagi mereka akan terpisah oleh arah.
...◇• •◇...
__ADS_1
Gerbang Utama sudah terbuka lebar, sebuah mobil mewah berwarna merah itu memasukinya dengan kecepatan pelan. Selain basement, di bagian depan perusahaan itu juga memiliki parkiran yang memungkinkan hanya memuat lima hingga tujuh kendaraan beroda empat saja.
Lazel selalu memarkirkan kendaraannya disana, jika harus menelusuri basement terlalu lama dan melelahkan. Lagipula parkiran itu ciptaan mendadak darinya.
Jas hitam yang sudah formal untuk dikenakan selalu terlihat menarik di tubuhnya. Tangan kirinya membuka pintu mobil tersebut ke atas lalu melangkah keluar.
Ia menurunkan sedikit kacamatanya dan melihat suasana luar, "waah~ mataharinya benar-benar cerah." Ucapnya dalam hati.
Pada kunci tersebut terdapat sebuah tombol untuk membuka atau mengunci otomatis sebuah kendaraan. Setelah melangkah beberapa saat, ia melihat sebuah kendaraan yang menurutnya tak asing.
"Huh? Mobil siapa ini?" Lazel memperhatikan body serta plat yang dimiliki. Ia menduga bahwa warna mobil itu adalah kuning, "warnanya menyilaukan hidupku." Ujarnya yang merapatkan benda kembar yang menutupi kedua matanya
...◇• •◇...
"Selamat Pagi Nona Direktur." Sapa Byul yang sudah berada di lobi lantai dasar.
"Hei, apa aku memiliki pertemuan penting hari ini?" Tanya Lazel yang menghiraukan sapaan pagi
"Hm? Sepertinya tidak ada." Jawab Byul yang sedikit heran dengan pertanyaan dari Bosnya.
Lazel berpikir sejenak, "mobil itu mewah sekali untuk pegawai, t-tapi bukan berarti aku iri! Cih! Dasar!"
"N-Nona?"
"Ekhem! Ayo pergi ke ruanganku." Ujar Lazel yang melepaskan kacamatanya dan memperlihatkan wajah cantiknya.
"Baik."
"Nona Lazel sangat cantik hari ini."
"Hm! Hm! Kurasa Pak Direktur tidak salah dalam memilih."
Saat tiba di lantai Ruang Pribadinya berada, ia melihat Vicy yang berada di mejanya.
Gadis berparas manis itu melambaikan tangannya pada Lazel dan memberikannya senyuman, namun Lazel merasa jika ekspresi yang diberikan Vicy padanya terlihat aneh. Dengan hati layaknya Malaikat, Lazel membalas lambaian itu dan memberikan senyuman yang sama.
Sebelum ia memasuki ruangannya, seseorang dengan tubuh yang besar menghalangi jalannya. Hal itu membuat Lazel berhenti dari langkahnya.
Bahkan di pagi hari emosinya harus terlihat lebih dulu, "huh? Mengapa kau-" ucapan, emosi, serta raut wajahnya berubah seketika saat kepalanya mulai melihat ke atas.
"Selamat Pagi, Bos!" Sapanya dengan penuh hormat dan juga senyuman yang unik.
"G-Gyuu?"
...◇• •◇...
Sepertinya senyuman Vicy serta tingkah laku anehnya itu berhubungan dengan kehadiran Gyuu. Seharusnya hal ini tidak perlu diragukan lagi, karena pada awalnya pria berambut kuning itu memanglah bawahannya. Tapi... menjadikan sosok penting sebagai bawahannya... tidak seperti yang dia bayangkan.
Di sebuah ruangan yang dingin. Serta posisi duduk yang berada di belakang meja cokelat berukuran besar. Ia mendapatkan sambutan yang tak terkira.
"E-Ekhem! Hei, mengapa kau masih disini?" Tanya Lazel yang hampir merasa frustasi dengan masalah kemarin dan juga hari ini.
"Hm? Kupikir kau akan menendangku keluar." Ucapnya dengan wajah yang selalu terlihat ramah.
"Sialan! Apa kau benar-benar ingin ku tendang?!" Kini amukannya benar-benar terlihat. Dengan satu kali hembusan nafas yang tenang ia kembali duduk dan berusaha mengendalikan sisi Setannya, "aku tidak menyangka, jika perkataanmu tadi malam bukanlah candaan." Ujar Lazel yang menompang wajahnya pada tangan kanannya.
"Tentu saja bukan candaan."
Tadi malam...
"Oh, aku akan tetap bekerja di tempatmu."
"Tidak, aku mengharapkan resign darimu."
"Heeh~ tapi apa kau tidak ingin memarahiku? Menghukumku? Karena sudah membawa berkas-berkas penting bersamaku? Sehingga kau harus mengulang-"
"Oke, kau boleh kembali."
__ADS_1
Saat ini...
Sungguh pemikiran yang tidak setengah-setengah, bagaimana bisa dirinya memperkerjakan saingannya sendiri. Tapi apa boleh buat, sebagai kesalahan yang diperbuat, pria itu harus melakukan kerja paksa karena sudah membuatnya bekerja hingga berevolusi menjadi Jelmaan Panda.
Wanita berambut perak dengan anting kupu-kupu itu menyandarkan tubuhnya, "aku tidak akan memaksamu," kini Lazel mulai terlihat fokus. "Aku bisa saja mengeluarkanmu sendiri tanpa harus menunggu resign darimu." Sambungnya dengan serius.
Gyuu saat ini terlihat menyedihkan, ditambah dengan ekspresi yang dia buat, "t-tapi... I-Ibu Nezra mengizinkanku." Ucapnya dengan wajah yang menunduk ke bawah.
Wajahnya terlihat lelah, "haah~ Ibu... dia terlalu-" kedua matanya membulat dan tubuhnya mematung. "I-Ibu??" Lazel mengulangi kalimat itu dengan kuat.
Kedua tangannya membentang di atas meja, "HEI! DIA BUKAN IBUMU!"
...◇• •◇...
"Aku akan kembali bekerjaa~"
"Pergilah, aku tidak sanggup meladenimu."
Pria yang memiliki nama Gyuu itu baru saja keluar dari ruangannya setelah berbicara panjang lebar mengenai kesatuan dirinya dengan Ibu Mertua Lazel, yaitu Nezra.
Saat ini Lazel terlihat seperti Slime mencair, pagi harinya disambut dengan sesuatu yang buruk. Belum lagi sebuah kenyataan bahwa Gyuu mendapat dukungan dari Ibunya.
"Apa mereka itu berasal dari klon yang sama?" Lirihnya tanpa kekuatan untuk bangkit.
Dari apa yang sudah ia dengar, Eun bekerja seorang diri tanpa bantuan siapapun. Menurut pengamatan Lazel setelah dia mengetahui indentitas sebenarnya dari Egis yang merupakan Putra Hojung. Mereka memiliki seorang Kakek yang masih sanggup untuk bekerja.
"Jadi mengenai Ibunya... itu benar," ia masih mengingat, dimana Gyuu mengatakan padanya jika Ibunya telah tiada pasca melahirkannya. "Kurasa Eun Hojung itu menikah di umurnya yang sangat muda, lalu memiliki anak di usia muda, lalu..."
"Sialan! Yang mendapatkan Eun Hojung begitu beruntung!" Kini Lazel mulai berpikir ke arah lain.
"W-Wajahnya! Itu sangat luar biasa! Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika sosok keren dan muda itu adalah Ayah dari seorang Gyuu!"
"Argghh! Apa mereka itu Adik Kakak?! Mereka sama-sama terlihat muda!"
"Cih! Sugar Deddy memang sulit dijelaskan melalui kata-kata."
...◇• •◇...
Di sela-sela pemikiran Lazel yang belum stabil mengenai Eun Hojung yang memiliki wajah rupawan. Di sisi lain terdapat seorang pria dengan dua tindik di telinganya.
"Lazel tidak pernah bercerita jika aku tidak bertanya apapun padanya," ucapnya dengan kesal. "Y-Yah walaupun itu memang sesuatu yang wajar."
Sisi depresi yang dialami oleh Lazel dan Hyunjae sangat berbeda. Hyunjae terus memikirkan faktor negatif kehadiran atau kemunculan Gyuu di sekitar Lazel. Karena pria itu awalnya adalah bawahan Lazel, bisa saja pikiran wanita itu menjadi naif seketika.
Tangan kanannya mengusap wajahnya dan berusaha membuat dirinya sedikit tenang.
"Tidak! Aku tidak bisa mengabaikan masalah besar ini!"
Asisten yang berada di sampingnya itu hanya diam dan mengamati perubahan besar pada Tuannya.
Hyunjae meraih ponselnya lalu menggeser layar tersebut dengan jempolnya, setelah itu ia meletakkan ponsel mahal itu di salah satu alat pendengarnya.
^^^"Hyunjae? Ada apa? Apa ada ma-"^^^
"Lazel!" Ucapnya dengan nada yang tegas.
^^^"Y-Ya?!"^^^
"Aku dan Gyuu..."
^^^"A-Ada apa?! Kalian mendeklarasikan perang?! T-Tunggu dulu kau harus-"^^^
Terdengar jelas jika Lazel sangat menantikan kelanjutan dari kalimat itu.
"Siapa yang lebih tampan di antara kami berdua?!" Tanya Hyunjae yang heboh dengan penampilan dirinya dan juga Gyuu.
^^^"..............."^^^
__ADS_1