Lost Feeling

Lost Feeling
Pietra Family


__ADS_3

Matahari perlahan muncul dan memosisikan dirinya seperti biasa, cahaya merah berubah menjadi kuning cerah dan memberikan kehangatan bagi semua orang.


Jendela besar yang terletak di ruang tengah menampakkan pemandangan suasana pagi yang begitu indah. Jendela seukuran dinding itu tidak terutupi dengan tirai, sehingga dapat memperlihatkan segalanya yang terjadi di luar.


Di sebuah ruangan yang begitu luas, dengan nuansa putih. Terlihat seorang pria dengan piyama hitamnya sudah tidak tertata rapi tengah berbaring terlentang menghadap langit-langit.


Sedangkan wanita berambut perak itu belum membuka kedua matanya dan masih mengeluarkan nafas berderu pelan, rambut tebalnya berkibar dimana-mana sehingga memenuhi tubuh bagian depan pria itu.


Seluruh tubuhnya tidak bisa sembarang bergerak. Kedua matanya melirik ke atas dadanya lalu memasang wajah bingung, "kalau dipikir-pikir... bagaimana bisa dia tidur dengan posisi seperti itu?" Ia bertanya dalam hati.


"Dia memang tidak berat, tapi..." kedua tangannya yang besar serta tanpa tertutup kain mulai bergerak ke arah wanita yang tengah menidurinya dari atas.


Clink!


"Mmm..."


Suara nontifikasi di antara kedua ponsel yang bersebelahan itu berbunyi, otomatis gerakannya pun berhenti, dan Lazel pun mulai terbangun.


"Oh, akhirnya kau terbangun." Ujar Hyunjae yang mengangkat tangannya dengan sikunya di kedua sisi tubuhnya, "tidurmu nyenyak?"


Kedua tangannya memegang dua sisi ranjang, lalu perlahan berdiri dan menatap seseorang yang sedang bicara dengannya, "????" Samar-samar kedua matanya melihat wajah Hyunjae yang ada di hadapannya secara langsung.


Seketika kedua tangannya dan menyanggah tubuhnya sendiri menegang, "ya Tuhan, mimpi buruk apa ini." Ucap Lazel dengan kedua mata membesar.


Dengan kekuatan yang baru ON ia beranjak daei kasur dengan menggulungkan dirinya sendiri lalu melompat dari ranjang, "apa yang kau lakukan bodoh?!"


Pria itu berbaring dengan posisi miring, dengan piyama yang hanya menutupi bagian bawahnya, "hah?! Pagi-pagi kau memarahiku karena itu?!"


"Tentu saja! Kau pikir aku akan menerima tindakan kriminalmu itu!" Balas Lazel yang melindungi dirinya sendiri.


Perdebatan pagi mereka akhirnya dimulai.


"Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah membiarkanmu tidur di atas tubuhku!" Hyunjae mencoba membela dirinya, "bahkan sisa liurmu ku biarkan begitu saja." Sambungnya dengan wajah yang jelas-jelas berbohong.


Tanpa ia sadari sebuah bantal melayang di wajahnya dan membuatnya kembali terbaring.


"Bodoh! Hyunjae bodoh!" Hentakan kakinya bersamaan dengan ucapannya sambil meninggalkan kamar tersebut.


"Bwahahaha! Dia kalah." Ejek Hyunjae yang kembali menarik selimut


...◇• •◇...


Suasana di rumah mewah itu selalu terlihat ceria, jarang ada kesedihan yang menimpa keluarga mereka.


Dari lorong lantai atas ia berjalan dengan riang sambil bernyanyi pelan, dan akhirnya tiba di sebuah kamar yang terdapat dua daun pintu, "Hyunjii~ apa kau di dalam?" Tanya Nezra yang langsung memasuki kamar Putranya.


Seorang pria yang sudah membuka pakaian atasnya menatap datar ke arah Sang Ibu, "setidaknya Ibu mengetuk pintu sambil bertanya." Ujar Hyunji yang baru saja berganti pakaian.


"Kyaaaa! Aku melihat kotak-kotak!" Teriaknya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


...◇• •◇...


Sepasang Ibu dan Anak baru saja menuruni anak tangga, dan ikut bergabung di depan ruang televisi.


"Aku sudah membawa Hyunnie~" ujar Nezra yang berlari pelan ke arah sofa.


Sosok pria yang memiliki rambut hitam itu tengah duduk dengan ekspresi seperti biasa. Jarang baginya untuk bicara ataupun berkomentar mengenai sesuatu. Namun jika ia mulai berbicara maka hal itu adalah sesuatu yang serius.


"Apa yang ingin Ayah bicarakan?" Tanya Hyunji yang duduk di hadapan Adam.


"Saat liburan akhir tahun ayo pergi ke desa." Ujar Adam tanpa basa basi.


Ia berpikir sejenak sebelum membuat keputusan, "hm... tapi pekerjaan Ibu dan aku..."


"Tenang saja, aku sudah menyelesaikan sisanya."

__ADS_1


"Kalau begitu bagaimana dengan Lazel dan Hyunjae? Bukankah saat ini mereka masih bekerja?"


"Haha~" Nezra menyela pembicaraan dengan memegang pundak Hyunji. "Kita akan meninggalkan mereka." Ucapnya.


"Huh??"


"Intinya kita tidak boleh membicarakan hal ini pada mereka." Ujar Nezra


"H-Hm... baiklah."


"Ngomong-ngomong Hyunji," kali ini Adam kembali berbicara. "Kapan kau akan menikah?"


"..............."


...◇• •◇...


"Dadah~ Hyuniee~" tangannya melambai ke arah Hyunji yang berada di depan kemudinya.


Tangannya menggenggam jemari Ibunya, "Ibu pulang jam berapa?"


"Tidak perlu~ Ayah akan menjemputku, kyaaa! Seperti pasangan yang romantis~"


"..............."


Saat pergi ke kantor, Hyunji juga akan mengantar Ibunya ke Rumah Sakit dimana ia tempati.


Kini mereka tiba di depan gerbang Rumah Sakit dengan tulisan Pietra's berbingkai biru tua.


"Baiklah."


"Hati-hati sayang~"


Tangannya membalas lambaian dari Ibunya. Kaca mobil mewah itu terangkat ke atas lalu melesat pergi.


...◇• •◇...


Dengan otomatis, gerbang besar itu terbuka secara otomatis.


Lingkungan sekitar ramai dengan orang-orang atau mungkin bawahannya.


Setibanya ia di sana, Hyunji langsung mengunjungi lapangan belakang, dimana tempat untuk berlatih. Militer negara itu berada di bawah komandonya, tindakan serta keberaniannya mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai negara.


Pakaian atau seragam yang mereka gunakan sudah pasti hijau dengan banyak loreng.


Suara teriakkan serta hentakkan kaki saat berlatih dan berlari terdengar jelas dari lobi.


Memilih tempat yang sepi dan di hutan adalah pilihan Adam. Setidaknya jika ada kegiatan alam, mereka secara langsung dapat melaksanakannya tanpa menaiki kendaraan lagi.


"Yo! Hyunji." Sapa Han, sekaligus Sekretarisnya.


"Han, dimana Reiner?" Tanya Hyunji.


"Dia sedang melatih beberapa orang."


"Kumpulkan semuanya dari tingkat dua untuk berkumpul di luar." Titahnya pada Han.


Tangan kananya dengan sigap memberi hormat, "baik Pak!."


...◇• •◇...


"Hahaha~ obatnya harus diminum sesuai dosis yang telah di tentukan~" ujar wanita berjas putih itu dengan teleskop melingkari lehernya.


Sosok Dokter sepertinya memang harus stand by berada di Rumah Sakit. Namun saat ini bukan hanya dirinya yang berstatus sebagai seorang Dokter, cukup banyak Dokter yang ia rekrut untuk mengembangkan fasilitas Rumah Sakitnya.


Di ruangan ber AC itu dirinya hanya seorang diri, masker hitam yang ia gunakan untuk menutupi bagian mulut dan hidungnya ia buka lalu menatap data-data yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Tubuhnya terhempas ke sandaran kursiyang ia duduki, "huft... sepertinya aku harus pergi lagi."


Tok! Tok! Tok!


"Masuk." Setelah memakai maskernya kembali, ia pun mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Nona Nezra, ada yang ingin saya bincangkan dengan Anda." Terlihat seorang perempuan yang lebih muda darinya memasuki ruangannya.


"Ah~ tentu~" senyumnya ramah.


...◇• •◇...


Seperti itulah kesibukan Keluarga Pietra, mereka menjalankan bisnis masing-masing dan mempertaruhkan waktu istirahat mereka dan menambahkan jadwal yang sudah padat, menjadi lebih padat lagi.


Tetapi mereka semua dapat mengelola atau berpikir jika pekerjaan serumit dan seramai itu dapat segera diselesaikan dengan jalan pikiran.


Pekerjaan Adam?


Dia adalah seorang mantan Jendral yang kini sudah tergantikan oleh anaknya sendiri, Putra Pertamanya yang bernama Hyunji Pietra. Kedua anak dan Ayah itu memiliki jalan pemikiran yang sama serta memiliki hobi yang sama.


Militer adalah pusat kesehatan mereka, oleh karena itu Hyunji pernah mendapatkan latihan serius dari sana dan harus bertahan selama bertahun-tahun. Bahkan itu berlaku bagi Nezra, Ibu mereka.


...◇• •◇...


Kedua kakinya melangkah ke depan, pria tinggi dengan jas berwarna hijau tua sepanjang pahanya baru saja melepaskan topinya dan memberikan arahan secara langsung. Biasanya sosok sepertinya hanya memberi pengajaran pada tingkat-tingkat Mayor, Letnan, Kolonel dan lain-lain. Namun ia berusaha untuk meratakan latihannya serta didikannya pada semua anak buahnya.


Dalam posisi berdiri tegak itu, ia mlirikkan pandangannya ke bawah dan memperhatikan orang tersebut, "seorang gadis lagi?" Batinnya. "Sepertinya kita memiliki banyak gadis disini." Ucapnya dengan suara datar.


"Apa para gadis mendaftarkan diri mereka disini hanya untuk menjadi bahan takut bagi orang lain?"


"Atau karena lingkup Militer rata-rata dipenuhi dengan laki-laki?"


"Aku tidak peduli dengan semua alasan itu, karena..." kedua pandangannya yang sebagian tertutupi oleh poninya menatap dingin dan menusuk semua orang yang ada di sekitarnya,  "jika kalian gagal, maka disitulah kalian akan pergi meninggalkan tempat ini." Ucapnya dingin.


Hyunji yang terlihat happy dan bersikap biasa saja sangat berbeda jika dirinya sedang melatih. Sejauh ini, anggota yang berada di bawah komandonya secara keseluruhan berhasil dan memiliki pangkat-pangkat yang tinggi, serta bekerja di tempat lain atau meluncurkan pesawat-pesawat tempur untuk fokus latih tanding.


Dirinya bukan takut atau merasa kasihan, hanya saja tidak ada wanita yang pantas mendapatkan pelatihan darinya selain satu orang wanita yang pernah membuatnya kagum.


"Reiner, lanjutkan," titahnya. "Han, menghadapku." Sambungnya.


Kedua orang itu adalah Kartu As bagi Hyunji, dimana kedua orang itu adalah tangan kiri dan kanannya saat memberi perintah atau arahan.


Meskipun mulutnya begitu pedas, Hyunji tidak bisa menyakiti atau melatih seorang perempuan, akan lebih baik jika dirinya melatih seorang pria.


Bertahun-tahun menghabiskan waktu di Militer, segala upaya dan jerih payah telah dirasakan. Terutama dalam hal bela diri, apapun itu bentuknya, intinya mereka dapat melindungi diri dari berbagai serangan fisik.


Saat ini Han dan Hyunji sedang berdiri berhadapan secara langsung, dengan aba-aba yang diberikan maka pelatihan pun dimulai.


Han mulai memasang kuda-kuda dan akan bersiap untuk menyerang Hyunji.


Semua orang duduk dalam bentuk lingkaran agar dapat memperhatikan dengan jelas.


Han memiliki tinggi yang setara dengan Hyunji serta postur tubuh yang sama besarnya, namun jika dilihat dari kecepatan dan kekuatan, Hyunji lah yang pantas dipuji.


Baru saja tendangan melayang di hadapannya dengan kecepatan yang sempurna, namun tidak sesempurna milik Hyunji, tangkisannya begitu cepat sehingga penyerang merasakan sakit.


"Lan-"


"Pak, Anda mendapat panggilan dari Pemerintah." Seseorang gadis dengan celana pendek berwarna hijau datang dan memberikan laporan pada Hyunji.


Jenderal sepertinya sudah wajar mendapatkan panggilan secara terus menerus dari Pemerintah, karena mereka memiliki hubungan yang erat dalam kemiliteran.


"Siapkan mobilnya."


"Baik Pak.

__ADS_1


__ADS_2