
Dengan hati-hati ia meletakkan Lazel ke atas ranjang untuk membuatnya beristirahat.
"Shh!" Ringis Lazel dengan menggenggam pundak Hyunjae.
"A-Apa kau kesakitan? Apa aku menyentuhnya? Apa kau-"
"Diam, aku lelah mendengarkan rasa khawatirmu." Sela Lazel yang menjauhkan wajah Hyunjae darinya.
"T-Tapi..."
"Sebaiknya kau pergi mandi."
"A-Aku bau?"
"Ya."
"!!!!" Dengan langkah gontai pria itupun akhirnya memasuki kamar mandi.
...◇• •◇...
Ia mengingat jelas apa yang terjadi saat itu, saat-saat dimana ia mulai merasa tidak fokus pada dirinya sendiri pada kendaraan yang dia bawa.
Lazel cukup merasa jika pada waktu itu adalah akhir bagi ceritanya, dan ternyata tidak. Padahal hanya sedikit lagi ia bisa menyusul Wonhae tanpa penyesalan.
Tatapi... apa yang dia rasakan saat itu, Wonhae tidak memperbolehkannya untuk ikut. Dan di sisi lain, ia bergerak secara sadar jika dirinya tidak ingin pergi terlalu cepat. Sosok kabur yang berdiri di belakangnya terus menangis, air matanya dapat terlihat dengan jelas.
Kedua sisi yang berbeda itu membuatnya berpikir, manakah yang tepat? Dan manakah yang keliru?
Jika boleh jujur, sebelum mengetahui dalang kematian Wonhae, perasaannya sama sekali tidak bisa tenang. Ia menyadari bahwa rasa cintanya pada pria tersebut tidak salah. Dan disaat semuanya telah terungkap, justru dirinya merasa lega, merasa lepas dari beban yang dia pikul selama bertahun-tahun.
"Hebat sekali kau tidak menyadariku keluar dari kamar mandi."
"................" Lazel memalingkan wajahnya dan menemukan Hyunaje yang berdiri di hadapannya dengan tubuh hanya terbalut dengan handuk kecil di pinggangnya.
Namun tumpukkan perban yang melilit menutupi perut bagian bawahnya membuatnya terkejut, "H-Hyunjae..."
Pria itu merasa lebih terkejut melihat Lazel yang mulai trauma dengan apa yang dia lakukan sebelumnya
"Lemah." Ucapnya dengan wajah yang meremehkan.
"Huh?"
"Aku bahkan tidak bisa merasakan sedikit pun tikaman darimu." Ucapnya sembari membuka lemari pakaian.
"Aku tidak butuh candaanmu, bahkan aku tahu kau sempat meringis kesakitan."
"T-Tidak!" Gelengnya kuat yang tidak ingin kalah dari Lazel.
"Pria ini tidak pernah berubah," tuturnya dalam hati. "Hyunjae, kemarilah." Ujarnya.
Hyunjae menunda untuk mencari pakaiannya dan berjalan mendekati Lazel, "hm? Apa kau ingin memberiku sesua-"
"Maaf... aku tidak menyangka jika aku berniat untuk melakukan itu pada Paman," Lazel meraba luka itu dengan perlahan. "Padahal jika kau melaporkannya pada Polisi, mungkin aku-"
"P-Polisi?! Mana mungkin aku melakukannya! Lagipula," Hyunjae memeluk wajah Lazel. "Aku tidak mau ditinggal."
"..............." Lazel hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. "Apa kau tidak malu memelukku seperti ini?" Tanya Lazel yang perlahan mendorong Hyunjae.
"Hm? Bukankah kau yang seharusnya malu? Bahkan aku belum mengenakan apapun, dan masih mengenakan handuk."
"!!!!" Lazel mengeluarkan asap dari kepalanya dan wajahnya seketika memerah.
Hyunjae yang melihatnya sangat ingin menerkam wanita itu, namun ia lebih mementingkan kondisi Lazel untuk pulih secepat mungkin.
...◇• •◇...
Semua masih belum berakhir, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Salah satunya adalah tindakan Luo yang menyebabkan kerugian besar sebuah perusahaan dan kematian seseorang dalam sebuah kecelakaan yang direncanakan.
Untuk saat ini Lazel masih bertanya-tanya mengenai bukti dari ucapan Adam. Padahal selama ini ia hampir putus asa mengenai kasus Wonhae.
"Ada apa Lazel?" Tanya Hyunjae yang baru saja mengenakan piyamanya.
"Hyunjae, apa Paman Luo ditahan?" Lazel bertanya balik.
"Bukan hanya dia, bahkan Sepupu dan Bibimu juga mendapatkan getahnya." Jelas Hyunjae yang merebahkan tubuhnya di samping Lazel.
"A-Apa mereka juga ikut terlibat?"
"Entahlah, sebagai pengawasan saja, Ayah tidak ingin membiarkan satu tersangka pun lolos."
__ADS_1
"Aku ingin pergi menemui mereka besok."
"Begitupula dengan Ayah."
"..............." Lazel terdiam sebentar dan meremas kedua tanganya. "Bagaimana dengan Ibu Nezra?"
"Aku belum mendengar kabarnya sejak kau mulai memberitahu semuanya."
"Beliau pasti syok, lagipula aku tidak berniat untuk melanjutkan drama ini." Batin Lazel.
Hyunjae merubah posisi tidurnya menghadap Lazel, "ayoo tidurr, besok kita harus mengurus sisanya." Ujarnya dengan tangan yang menjuntai ke atas pangkuan Lazel.
"Hei Hyunjae."
"Apa lagi? Apa kau ingin aku memelukmu? Kema-"
"Bahkan jika kau menyukaiku... tidak ada alasan khusus jika aku memiliki perasaan yang berbeda denganmu."
"................." jujur saja, mendapatkan penolakan rasanya sungguh menyakitkan, tapi apa boleh buat. Selama ini yang dia rasakan hanya senang-senang dengan wanita di luar sana, sedangkan Lazel selalu menerima semua perilakunya. Hal itu merupakan perjanjian mereka sebelum menikah, Lazel benar-benar menjalaninya dengan hati-hati, namun ia selalu bertindak seolah-olah Lazel yang bersalah.
Pria berpiyama hitam itu bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk.
"Aku tidak begitu mengharapkannya. Bahkan jika kau memang tidak pernah menyukaiku, aku hanya perlu menyukaimu, dan berusaha untuk tetap melihatmu." Ujarnya dengan tawa yang pelan.
"Ayo tidur." Ujar Lazel.
Hyunjae menarik selimut untuk menutupi tubuh Lazel dan tubuhnya.
Ia memeluk wanita berambut perak itu dari belakang tanpa ada penolakan dari wanita itu sendiri.
"Ngomong-ngomong... mengapa kau tidur disini? Bukankah kau punya kamar sendiri?" Ujar Lazel.
"Shut, ayo tidur."
...◇• •◇...
Bahkan matahari masih bersembunyi dan hampir memperlihatkan langit yang mulai berwana. Seorang pria dengan piyama tengah berdiri di depan jendela kamar dengan sebuah ponsel yang menempel di telinganya.
"Aku tahu! Aku juga tidak akan membiarakan Lazel merasa bersalah."
^^^"................"^^^
"Apa kau bertengkar dengan Kak Hyunji?"
Ia memalingkan wajahnya ke belakang dan melihat wanita itu yang sudah terbangun dari tidurnya, "L-Lazel," ucapnya dengan gugup. "Apa aku membangunkanmu?" Tanya Hyunjae yang mematikan sambungan ponsel itu dan berjalan menuju Lazel.
"Ya, suaramu itu sangat berisik."
"M-Maaf," ucapnya. "Dia semakin terang-terangan." Batinnya.
Drrt!
"Hm?" Hyunjae mendapatkan sebuah nontifikasi pesan.
^^^'Obatnya diminum saat rasa nyerinya mulai terasa, dosisnya cukup tinggi jadi aku menyarankannya seperti itu.'^^^
"Siapa?"
"Ibu."
"Apa yang dia katakan."
"Dia merindukanmu."
"Sepertinya tikamanku itu kurang."
Hyunjae menyodorkan ponselnya sendiri ke arah Lazel dan membiarkan wanita itu membacanya sendiri.
"A-Aku hampir meminumnya tadi malam." Ucap Lazel dengan tangan yang menutup mulutnya.
"Hei! Setidaknya beri tahu diriku. Tunggu dulu, tadi malam?"
"Aku terbangun karena kau memelukku begitu erat, bahkan aku tidak bisa bernapas karena mu."
"M-Maaf."
Lazel meraih ponselnya dan mulai memainkannya.
Hyunjae merebahkan wajahnya ke atas ranjang dalam posisi duduk di atas lantai dan melihat wajah Lazel dari sana.
__ADS_1
"................." ia merasa sangat sedih melihat wajah Lazel yang penuh dengan luka gores dan tempelan plester. Bahkan kedua tangannya pun sama, serta kedua kakinya.
Hyunjae mengangkat tangannya dan mulai menyingkirkan rambut perak itu lalu mulai meraba wajah Lazel, "sakit?"
"Tidak juga, yang lebih sakit kedua kakiku."
"Hm?! Ada apa?! Apa begitu me-"
"Mundurlah wahai manusia aneh." Sela Lazel yang mendorong wajah Hyunjae.
Lazel mengangkat pakaian bawahnya. Karena saat ini ia hanya mengenakan dress sepanjang lutut maka sangat mudah untuk memperlihatkan beberapa luka yang dia dapatkan, salah satunya kedua pahanya yang membiru karena hantaman stir mobil yang tertindis oleh runtuhan batu besar.
"!!!!" Hyunjae memalingkan wajahnya dengan rona merah di kedua pipinya.
"Inilah yang sulit untuk membuatku berjalan." Lirih Lazel dengan memperlihatkan paha mulusnya di hadapan Hyunjae
"!!!!" Ia terkejut saat melihat kedua lebam kembar itu yang sedikit kemerah-merahan.
"Sejauh ini rahimku baik-baik saja meskipun terkadang sedikit nyeri. Namun kurasa kedua hal inilah yang membuatku kesulitan untuk bergerak." Jelasnya.
"Hantamannya begitu kuat. Meskipun hanya lebam, namun membuat Lazel sama sekali sulit untuk berjalan." Pikir Hyunjae.
"Tapi aku akan berusaha untuk tetap berjalan. Berdiam diri seperti ini bukanlah tipeku."
"Tidak perlu terburu-buru," sahut Hyunjae sembari menurunkan kembali pakaian Lazel. "Lakukan saja perlahan. Aku juga yakin, cepat atau lambat kau akan tetap kembali pulih."
Jujur saja, kalimat itu sangat sempurna untuk dijadikan motivasi. Tapi... ia tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Hanya duduk di atas kursi roda akan menghambat semuanya. Karena Lazel memiliki niat untuk menyelesaikan semuanya.
...◇• •◇...
"Selamat Pagi Nona." Sapanya dengan tubuh serta wajah yang menunduk.
"Y-Yana?" Lazel terkejut dengan kehadiran Yana di dalam rumahnya, "Hyunjae, kau..."
"Kau tidak bisa menolak, lagipula aku juga tidak bisa membiarkanmu sendirian di rumah saat aku bekerja." Jelasnya dengan wajah tak mau tahu.
"Ini sedikit berlebihan, padahal aku bisa-"
"Kau ingin cepat pulih bukan? Oleh karena itu aku memanggil Yana untuk banyak membantumu."
"Sepertinya akan semakin sulit jika aku terus membalas ucapanmu." Keluhnya.
"Saya turut bersedih atas apa yang terjadi pada Anda pada belakangan ini." Ucap Yana dengan sopan di hadapan Lazel yang hanya bisa duduk di atas kursi roda.
"Terima kasih. Kau bisa pergi, aku akan memanggilmu jika aku membutuhkannya."
"Baik Nona."
Selain harus menjaga Lazel, bukan berarti Hyunjae harus vakum dari pekerjaannya. Untuk sementara ini Hyunjae akan bekerja di kedua perusahaan sekaligus dengan bantuan dari Sekretarisnya dan juga Sekretaris Lazel.
Untuk sementara ini Hyunjae menginginkan kesembuhan total pada Lazel dengan beristirahat serta berlatih dengan perlahan.
Awalnya Hyunjae menolak untuk memanggil Yana kembali ke rumah. Namun melihat Lazel yang tidak bisa melakukan apapun membuatnya sedikit merasa bersalah.
Sedangkan Lazel... ia merasa jika dirinya sangat diuntungkan dalam hal ini.
...◇• •◇...
"Aku akan pergi bekerjaa~"
"Aku tahu, tapi menjauhlah dariku!" Ucap Lazel dengan geram yang bersusah payah menjauhkan wajah Hyunjae yang ingin menyentuhnya.
"Tapi bukankah sepasang Suami dan Istri harus melakukan sebuah ritual disaat kesayangannya akan pergi bekerja?" Ucapnya dengan ekspresi yang menyedihkan.
"Apa maksudmu! Aku tidak memahaminya! Dan cepatlah pergi!"
Pada akhirnya Hyunjae menghentikan tindakannya dan lekas memasuki mobilnya lalu pergi dari sana.
"Apa Saya salah lihat? Bukankah Tuan dan Nona semakin dekat? Saya turut senang melihatnya." Ujar Yana yang memegang kursi roda tersebut dengan Lazel yang menduduki kursi tersebut.
"Benarkah?" Sahut Lazel dengan tatapan yang lurus ke depan.
"Hm? Nona?"
"Apakah aku memang terlihat menyenangkan?"
"Tentu saja!" Jawab Yana tanpa melihat bagaimana ekspresi sesungguhnya yang ditunjukkan Lazel.
Senyumannya pudar, tatapannya terlihat datar seperti tidak mendapatkan perasaan apapun. Seakan-akan rasa senang yang dipikirkan Yana bukanlah sesuatu yang istimewa atau akan bertahan lama.
__ADS_1