
Syal biru laut itu mengitari lehernya, pakaiannya terlihat sangat tebal dan menutupi keseluruhannya.
Tangannya meraih kunci yang berada di lemari buku dan melewati pria berambut hitam yang tengah duduk di atas sofa.
"Eh? Kakak mau kemana?" Tanya Ian yang melihat Kakaknya ingin pergi. Dari lantai atas ia menyadari jika Kakaknya pasti ingin meninggalkan rumah.
Kepalanya mengadah ke atas, "aku akan pergi keluar untuk makan bersama dengan para karyawan kantorku." Jawabnya.
"Hm?" Saat menuruni anak tangga, ia melihat Hyunjae yang tengah bersantai disana, "apa Kak Hyunjae tidak ikut?"
"Aku dan Lazel berada di kantor yang berbeda, dan aku tidak ingin mengganggu mereka." Hyunjae mengambil alih pembicaraan.
"Kalau begitu biarkan aku ikut denganmu." Ujar Ian yang berlari mendekati Lazel.
"Hah? Kau-"
"Antarkan aku ke rumah Argo bukan ikut bergabung denganmu." Selanya dengan wajah datar.
"O-Oh..."
...◇• •◇...
Rasa tidak pedulinya memang sangat terlihat, Lazel pergi bersama Ian dan meninggalkannya seorang diri di rumah. Ian memang cukup tanggap mengenai situasi, tapi tanggapan itu dapat ditangkis dengan mudah.
Tetapi... ia terus berpikir jika wajah aslinya bukan seperti itu. Dirinya masih menduga jika wataknya yang lain itu ada namun enggan untuk ditunjukkan.
Ian Zoclis, pria muda yang pandai dalam bidang akademik maupun non akademik. Hal itu juga berlaku bagi Lazel, Kakaknya sendiri. Ian memiliki kepintaran dan kekuatan yang melewati rata-rata, serta seni bela dirinya begitu kuat sehingga mampu menaklukkan negara manapun yang ia tuju.
Hyunjae merebahkan dirinya di atas sofa dan melanjutkan pemikirannya mengenai Ian.
Ian memang anak yang baik, sejauh ini anak itu selalu terlihat sopan, namun kekuatan pada musuhnya begitu kuat.
"Lazel adalah penahannya, selama wanita itu baik-baik saja, maka dirinya juga baik." Gumamnya.
Lampu gantung yang terletak di langit-langit begitu cerah, berkilau dan cantik. Belum lagi kilauan tumpukan salju yang ada di halaman rumah.
"Ngomong-ngomong... disini sangat membosankan." Ucapnya dengan tubuh yang terletang. Bagian perutnya sedikit terlihat karena pakaiannya yang sedikit terbuka.
"Miaaw~"
Tangannya yang menjuntai ke bawah seketika memegang sesuatu yang lembut dan berlemak.
"Kalian senang bermain dengan Lazel, padahal aku yang sering memberikan kalian makan." Ucapnya kesal yang berbaring miring sambil memperhatikan kedua kucing itu.
Membahas mengenai kucing dan Lazel, ia kembali berpikir, mengapa Lazel memutuskan untuk merawat seekor kucing? Padahal dirinya tidak begitu menyukainya?
Tangan kanannya menepuk dahinya pelan, "kepalaku semakin sakit jika terus memikirkannya." Tukasnya.
...◇• •◇...
Rumah Utama terletak di Kota, namun daerah mereka seperti memasuki sebuah lorong yang panjang, sehingga jika melakukan sebuah aktivitas sedikit memerlukan waktu yang banyak.
Seluruh perkotaan ditutupi dengan salju putih, seluruh kendaraan bergerak dengan stabil.
Sebuah mobil hitam dengan plat asing, itulah kendaraan yang saat ini tengah dikemudikan oleh Lazel.
Kedua tangannya menggenggam stir mobil sambil bersantai dan mengoceh tanpa henti dengan Adiknya.
"Benar juga... setelah kau kembali dari Jerman, aku belum mendengar apapun darimu saat kalian berada disana." Ujar Lazel yang sedikit penasaran mengenai kehidupan Adiknya saat berada di Jerman.
"Tidak ada yang begitu menarik untuk diceritakan." Jawab Ian sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Hm? Pertandingannya? Bagaimana dengan refresing nya?"
"..............."
Tatapannya sekejap menoleh pada anak itu dan menatapnya dengan khawatir, "anak ini..." tangannya mencoba meraih Ian. "Bajing*n! Berani sekali kau memalingkan wajahmu saat bicara denganku!" Ucapnya yang mengepal kepala Ian dengan kuat.
"A-Aw! Sakit!" Jeritnya sambil berusaha untuk menyingkirkan tangan Lazel dari kepalanya, "b-baiklah lepaskan tanganmu dulu!"
Cegkramannya pun berakhir, "huft... sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Lazel.
__ADS_1
Pria berambut perak itu akhirnya memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya dan menceritakan sesuatu pada Kakaknya.
"Argo mengalami patah tulang di tangannya, hal itu terjadi karena dia berusaha untuk melindungi tulang rusuknya menggunakan tangannya."
"Apa?" Lazel sangat terkejut saat mendengarnya.
Kedua alisnya sedikit tertekuk, "lalu aku... membalasnya saat di pertandingan selanjutnya."
Seketika mobil berhenti mendadak dan membuat Ian terkejut.
Kedua irisnya yang berwarna pink menatap Saudara kembarnya itu dengan lekat, "Ian... apa yang kau lakukan?"
...◇• •◇...
"Baiklah~ baiklah~"
Ia baru saja memberikan makanan pada dua kucing bulat itu.
Lalu bergegas ke tempat lain untuk mengurus kandang kedua Majikannya.
"Hm... tidak begitu kotor," ia menatapi keadaan sekitar kandang kucing tersebut. "Daripada tidak melakukan sesuatu, lebih baik aku membersihkan kandang mereka."
Rumah terasa begitu sunyi, tentram, aman dan damai. Tanpa Lazel kesunyian bagaikan kuburan, namun jika wanita bermulut kasar itu muncul, kemungkinan besar perang Shinobi ke tujuh akan dimulai.
Ia membawa sebuah kandang besar itu menuju kamar mandi dan mulai membersihkannya.
Saat menyentuh air tanpa penghangat, ia merasa jika kedua tangannya akan segera membeku.
Rambut hitamnya yang terkadang terusap ke samping atau ke belakang kini turun secara keseluruhan dan hampir menutupi kedua matanya. Hidung mancung yang ia miliki, serta tubuh yang kekar.
Sepertinya hari itu akan menjadi satu hari tanpa Lazel.
Setelah usai Hyunjae mengeringkannya dan merapikan kembali kandang tersebut.
Suasana rumah masih tetap rapi seperti biasa, walaupun hidup tanpa pelayan, namun kehadiran Lazel dapat merawat rumah luas itu seorang diri.
Terkadang wanita itu bangun di pagi buta hanya untuk mengurus rumah. Mulai dari mencuci dan hal-hal lainnya.
Mengingat sesuatu yang seperti itu tanpa sadar membuatnya tersenyum.
Kedua kakinya pun menelusuri ruangan lainnya, yaitu kamar tidurnya dengan Lazel.
Cklek!
"Sepertinya wanita itu memiliki tenaga yang extra."
Awalnya Hyunjae berniat untuk membersihkan dan merapikan kamar tidur mereka, namun saat tiba disana, semuanya terlihat rapi dan bersih.
Karena baru kali ini memiliki waktu luang, Hyunjae membuat dirinya untuk memperhatikan sekitar kamar yang berisi barangnya dan juga barang Lazel.
Ia memalingkan wajahnya ke arah meja rias.
"..............." ia sedikit memberikan tatapan heran. "Sejauh ini hanya kamar ini yang kutemukan tanpa benda riasan apapun." Ujarnya dengan wajah datar.
"Saat sedang bermain, aku hampir melihat satu ton riasan di meja mereka."
Akhirnya ia berhenti di depan ranjang lalu menghempaskan tubuhnya ke atas.
"Haaah~ rasanya damai sekali tanpa wanita itu."
...◇• •◇...
Di sela-sela kebosanan Hyunjae yang meratapo rumah seorang diri. Kini Istrinya tengah bersenang-senang di Musim Dingin dengan semua karyawan kantornya.
Di sebuah kedai yang besar dan tidak terlalu mewah, mereka mengadakannya disana. Kedai itu dipenuhi dengan anggota karyawan dari perusahaan Aplic Pietra's.
Byul memang tahu bagaimana porsi yang dimiliki oleh Bosnya, tapi setiap melihatnya begitu mengerikan, "B-Bos ini sudah mangkuk ke berapa?" Tanya Byul dengan hati-hati.
Pria yang duduk di samping wanita berambut perak itu menyanggah dagunya di atas telapak tangannya, "jangan hanya bertanya mengenai mangkuk, lihatlah tumpukkan piring disana." Ujar Egis yang menunjuk ke arah samping Lazel.
Akan tetapi, sebanyak apapun porsi makan dari Bosnya. Pria beriris cokelat itu merasa tidak terganggu, justru dirinya lebih nyaman melihat Lazel apa adanya.
__ADS_1
"Ku dengar jika Kaeluarga Hojung sudah kembali." Ucap Byul tiba-tiba.
"Uhuk! Uhuk!"
"Gyaaahh! Kau hampir saja menyemburkan minumanmu ke arahku!" Teriak Byul pada Egis yang duduk di hadapannya.
"M-Maaf!"
"Dasar kau ini."
"Hojung?" Kini Lazel menangkap ucapan Byul mengenai sebuah Marga.
"!!!!"
"Ya, ku dengar mereka sudah tiba, tapi entahlah hingga saat ini mereka belum bersuara." Kini Byul mencoba menjelaskan apa yang dia ketahui mengenai Keluarga Hojung.
Lazel mendengarkan semua informasi yang didapatkan oleh Byul.
"Selain itu, Putra mereka sudah berada disini dalam waktu yang lama."
Byuurr!
"..............." mungkin kalimat terakhir itu membuat ******* yang mengerikan.
"Ah~ maaf maaf." Angguknya tanpa dosa.
Byul pun bangkit dan menatap tajam ke arah Egis, "EGIS! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Bentaknya sambil berlari mengejar pria berambut kuning tersebut.
Penjelasan dari Byul membuatnya sedikit berpikir pada keluarga itu. Sebenarnya siapa saja pasti akan mengetahui Marga itu, namun terkadang mereka bersifat terbuka dan tertutup. Kepergian mereka selama bertahun-tahun juga tidak disadari, dan kini sesuai rumor yang beredar, jika Hojung kembali ke negara itu membuat siapapun bertanya-tanya.
"Aku tidak terlalu mengenal mereka, tapi yang kutahu mereka itu licik seperti Ular, dan Anaknya sperti Rubah."
"Huh?!" Egis yang tengah berlari karena Byul yang mengejar dirinya sempat mendengar kalimat yang diucapkan Lazel.
"Hojung... aku hampir melupakannya karena pergi terlalu lama,"
"Dan kini kembali secara tiba-tiba."
"Yaah~ aku tidak begitu peduli." Ia melanjutkan makannya sambil melihat pertengkaran antara Byul dan juga Egis.
...◇• •◇...
"Egis minta minumanmu."
"H-Huh? Hah? T-Tapi-"
Sruput~
Vicy yang melihat dari kejauhan hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Sepertinya mereka akan kembali setelah melakukan makan dan minum bersama.
Lazel memperbaiki mantel dan juga syalnya, kedua irisnya yang berwarna pink menatap ke arah Egis "Egis, apa kau bawa kendaraan? Jika tidak aku akan mengantar-"
"A-Aku membawanya!" Egis langsung menjwabnya sebelum Lazel menyelesaikan ucapannya.
"Ada apa dengan anak ini?" Pikirnya. "Oh, baiklah."
Sebelum meninggalkan tempat, ia akan melihat kepergian Lazel terlebih dahulu. Mobil hitam itu pada akhirnya meninggalkan mereka yang masih berdiam diri.
Kepergiannya sedikit membuat Egis bersedih, sesuai dengan dugaannya. Mereka bertemu hanya pada jam kerja atau saat melakukan hal santai bersama seperti tadi yang mereka lakukan.
Tetapi... setidaknya hari itu cukup baginya untuk melihat wajah Lazel di Musim Dingin.
"Baiklah~ ayo pulang~" tangannya merogoh sakunya dan meraih sebuah kunci.
Ia menekan tombol di bagian kunci tersebut lalu sebuah suara dari mobil terdengar.
Mobil bergaya barat dengan warna kuning itu terparkir cukup jauh dari kedai sebelumnya. Setelah tiba di tempat ia membuka pintu mobil itu ke atas.
"Fyuh~ hari yang sedikit menyenangkan."
__ADS_1