
Di dunia ini ada dua pilihan... melukai atau dilukai. Meskipun mereka meronta dan ingin melindungi diri mereka sendiri tanpa perlawanan, itu mustahil untuk dilakukan.
Dilawan atau melawan... bahkan mereka harus menguras tenaga demi melindungi apapun yang berharga bagi mereka.
Tidak ada hidup tanpa timbal balik. Jika kau ingin kaya maka bekerjalah, jika kau ingin kuat maka berhentilah menangis. Hidup yang simple, tapi manusia bertingkah seolah-olah semua itu tidak ada gunanya dan menginginkan sesuatu yang mustahil.
...◇• •◇...
Di suasana yang hampir sama di setiap harinya, dan mereka tidak pernah tahu kapan waktu ini akan berakhir. Termasuk salah satu orang yang kini harus terpaksa menjauh dari seorang wanita.
Vicy baru saja kembali, dan lagi wajahnya memperlihatkan sesuatu yang bosan. Pria yang berada di sampingnya itu hampir tidak memiliki tenanga untuk melakukan apapun. Setidaknya tenaganya akan berguna hanya beberapa saat saja.
Gadis berhelai hitam itu sama sekali tidak sanggup melihat tindakan Egis yang begitu kekanak-kanakan.
"Apakah nyawamu masih ada?" Wajahnya terpangku oleh telapak tangannya dan menoleh ke arah kanan dengan tatapan datar.
Kedua matanya yang tertutupi sedikit dengan poni emasnya menoleh dalam kondisi kritis, "huh? Hm. Ya." Jawabnya singkat setengah hati.
"Pria ini bisa gila." Batin Vicy.
Perusahaan yang hampir satu bulan ditinggali oleh Direktur mereka masih berjalan lancar. Namun Byul sedikit kesulitan untuk mengatasi beberapa pertemuan dan rapat yang tertunda. Walaupun dalam keadaan seperti itu, seluruh kru, staff dan pegawai sangat gesit dalam mengerjakan pekerjaan mereka.
"Asisten Byul, ada panggilan untukmu."
Salah satu staff berteriak memanggil namanya.
Byul yang sedang membicarakan sesuatu dengan serius mendengar panggilan dari Staff, "ya, aku segera kesana."
Sudah tak terhitung lagi berapa orang yang menghubungi perusahaan dalam satu hari.
Baru saja dirinya melihat Egis yang mulai bicara dan kini kembali terdiam, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil posisi duduk menghadapi pria itu seutuhnya.
"Egis... aku tahu jika kau dan Bos begitu dekat, bahkan aku bisa melihatnya dari wajah masamu itu," ucap Vicy yang ingin mengucapkan sesuatu pada pria beriris cokelat tersebut. "Tapi..."
Kedua alisnya bertaut, dan timbul perasaan khawatir, "Nona Lazel sudah memiliki Suami, dan kau tidak bisa meletakkan kesedihanmu pada seorang wanita yang sudah menikah tanpa memiliki hubungan apapun."
"..............." akhirnya tatapannya tertuju pada Vicy yang mulai membicarakan sesuatu padanya.
Sebenarnya mengatakan hal seperti itu pada seseorang bukanlah hal yang mudah. Bahkan dirinya harus benar-benar menggunakan kalimat yang baik sehingga dapat di terima. Apalagi yang sedang ia bicarakan adalah mengenai kedekatan Egis dan Bos mereka.
"Kau dan Nona hanyalah sebatas Atasan dan Bawahan. Jangan pernah berpikir jika kau bisa bertindak lebih jauh,"
Vicy membuat wajahnya lebih santai, "jangan tersinggung, aku hanya berniat untuk menghindari rumor buruk mengenai kalian sebelum rumor itu sendiri yang akan mendekati kalian."
...◇• •◇...
Tangannya memutar-mutar mangkuk ramen dengan tatapan yang melamun.
Langit terlihat sangat cerah, jalanan dipenuhi dengan bunga-bunga beraneka macam yang ditanami di pinggir jalan. Banyak orang-orang yang berlalu lalang menuju kafe atau kedai jalanan yang ada di sekitar.
"Hubungan... ya..."
Tangan kanan yang mengenakan sebuah jam berwarna hitam itu menjauhkan mangkuk ramen yang masih penuh.
Kedua sorot matanya sangat hampa, apa yang dijelaskan Vicy padanya memang tidak salah. Justru gadis itu berusaha untuk menghindarkan omong kosong mengenai dirinya dan juga Lazel.
Tapi... disisi lain, pria itu juga berpendapat jika tindakannya itu tidak salah dan juga tidak keliru.
Tubuh yang tak kalah besarnya dari Hyunjae itu menyandarkan dirinya, "jika orang tahu apa yang terjadi padanya..." tatapan yang kosong menatap langit, "apa kalian akan mengatakan hal yang sama?"
Semestinya hal itu tidak perlu ia pikirkan, bahkan melibatkannya pada kehidupan pribadinya. Tapi... kedua matanya sama sekalu tidak bisa bekerja sama dengan hatinya.
"Kau pasti sangat kesepian..." dengan mudahnya ia berkata seperti itu, seolah-olah tahu mengenai sesuatu yang harusnya dirahasiakan dari semua orang.
__ADS_1
...◇• •◇...
Pagi hari selanjutnya...
Pagi yang sama, sehingga hampir menghabiskan satu bulan. Waktu selama itu, dirinya belum pernah mendapatkan kabar mengenai orang itu. Saat panggilan mulai terhubung, pekerjaan akan menjadi penghalang bagi mereka.
Sebelumnya ia sudah mendengar kepergian Lazel yang berbulan-bulan ke negara yang sama. Wanita itu selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, bahkan hampir di setiap bulannya ia mengunjungi negara asing.
》Pietra's Aplic Enterteiment《
"Paaaagiii~"
"Selamat pagii~"
Pagi hari yang selalu di hadapkan dengan setumpuk dokumen yang hampir terlihat seperti tumpukan sampah.
"Kapan waktu akan berakhir..."
...◇• •◇...
Si sebuah Keluarga besar, rumah mewah itu dipenuhi dengan orang-orang jenius yang hampir membesarkan sebuah nama hanya seorang diri.
Di sebuah ruangan dengan akuarium berukuran besar yang terletak di bawah bingkai foto yang besar. Lampu gantung bernuansa putih itu menerangi ruangan tersebut dengan cahaya gemerlapnya.
Matanya terlihat lelah di balik kacamata yang menggantung di pangkal hidungnya, "besok bulan akan berganti, apakah kedua anak itu akan segera pulang?" Ujar seorang wanita yang sedang fokus di depan layar laptopnya, "mereka terlalu giat bekerja."
"Bukankah kau sama saja?" Sahut Adam yang dari tadi menemani Istrinya bekerja.
Kedua telinganya seketika terangkat dan menatap pria itu dengan penuh perhatian, "aww Sayang~ apa kau kesepian tanpa diriku?" Ujar Nezra dengan wajah imut yang dibuat-buat.
"..............."
"Aku sudah bertanya pada mereka melalui pesan, tapi hingga kini aku belum mendapatkan balasan." Ujar seseorang yang baru saja turun dari tangga dengan wajah yang segar.
"Kau tidak menelponnya?" Tanya Nezra yang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Hm~" Nezra melemparkan senyuman manisnya. "Kita sangat beruntung memiliki gadis manis dan berbakat seperti Lazel." Ujarnya.
"Awalnya aku dan Ayahmu berniat untuk menggabungkan Aplic dan Group's menjadi satu, tapi..." ia menutup layar laptopnya dan menatap ke bawah dengan raut tak biasa. "Aku juga tidak bisa membebankan semuanya pada Hyunjae." Keluhnya.
"Pada akhirnya Lazel mengajukan dirinya untuk bekerja di bawah perintah Hyunjae. Hal itu bertahan hanya dua bulan, melihat ketangguhannya dalam bekerja, akhirnya aku dan Ayahmu dan juga Lazel membuat kesepatakan mengenai Aplic."
Hyunji tersenyum mendengarkan kisah Ibunya, namun apa yang ia khawatirkan sangat berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Ibunya. Melihat hubungan kedua orang itu, membuat rasa khawatirnya semakin memuncak.
"Dan lagi... ku dengar Keluarga Hojung sudah kembali." Ucapnya dengan tatapan datar.
"????"
Hyunji memalingkan wajahnya menatap Nezra, "Hojung?"
"Kepergian mereka cukup lama, dan kedatangan mereka sunyi sekali." Kekehnya.
"Siapa mereka?" Tanya Hyunji.
Duak!
"Jangan bercanda! Meskipun mereka baru kembali setelah sepuluh tahun, bagaimana kau bisa melupakan mereka!" Gertak Nezra pada Anaknya sendiri.
Kedua tangannya memegang pucuk kepalanya dengan gemetar, "b-bagaimana bisa aku mengingat orang yang tak begitu penting selama sepuluh tahun?!" Hyunji berbalik menyembur Ibunya.
"Itu karena daya ingatmu sangat lemah!"
"Lemah?! Kalau begitu mengapa kemarin Ibu mengatakan lupa meletakkan pisau? Dan pada akhirnya benda mistis itu berada di bawah bantal Ibu sendiri?!"
__ADS_1
"Sialan!" Tangannya yang begitu ringan menarik pakaian Hyunji, "apakah salah melindungi diri sendiri dari bahaya?" Tanya Nezra yang menempelkan wajah kesalnya pada Hyunji.
"BUAAT APAAA??" Hyunji hampir frustasi jika hanya bertengkar dengan Ibunya, "lagipula siapa yang akan berani menyerang Ibu di malam hari? Bukankah Ayah juga ada disana?!" Telunjuknya mengarah pada seorang pria yang tenang dalam pikirannya.
"Inilah efek samping jika kau belum menikah! Pemikiranmu itu sempit sekalii!!"
"Jangan menyalahkan keperjakaan Anakmu ini!"
"Memangnya kenapa? Aku adalah Ibumu!"
"@#&@#&@#&@#&!!"
"@@@!!"
Suasana rumah begitu ramai dengan dua orang yang saling berdebat, dari masalah sebuah keluarga hingga membela diri mereka sendiri agar menang dari lawan bicara.
...◇• •◇...
Membutuhkan hampir satu jam lalu mereka terdiam.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Adam yang mulai angkat bicara.
"Dasar bocah kampret ini! Jika bukan karena uang yang menjadi pawangku, tidak mungkin aku mengalah darimu!" Batin Ibunya dengan was-was.
"A-Aku takut dengan Ayah!" Batin Hyunji.
Meskipun keadaan kembali stabil, namun kedua tatapan Ibu dan Anak itu saling melemparkan tatapan maut satu sama lain.
"Mengenai hal ini... Keluarga Hojung selalu membuatku kesal." Ucap Nezra dengan ekspresi yang jelek.
"Meskipun begitu, jangan pernah meremehkan mereka, mereka itu sama liciknya dengan dirimu, Nezra." Kini Adam mulai berbicara.
"Hehh?! aku?? " Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya salah? Bukakankah Ibu memang licik?" Sahut Hyunji yang berpihak pada Adam.
"Dasar anak durhaka!" Tukas Nezra.
"Tapi... ku dengar mereka memiliki seorang Putra, apa itu benar?" Tanya Hyunji yang berdiri di belakang Ayahnya dan memegang kedua pundaknya.
"Ya, itu benar. Tapi... sejauh ini banyak orang yang belum mengetahui mengenai wajahnya." Jawab Adam.
"Tapi Hyunjae mengenalnya." Sahut Nezra
...◇• •◇...
Wajah pucatnya terbalut dengan keringat yang mengalir dari rambutnya. Cahaya mentari di siang hari berhasil membuat keringatnya keluar sebanyak itu.
Tubuh itu tertidur telungkup dengan selimut yang membungkus dirinya secara menyeluruh.
Nafasnya menderu dengan kuat sehingga membuat dirinya terbangun dengan kecepatan jantung yang tak terkendali. Ditambah dengan bantuan tangan seseorang yang memegang dahinya membuat dirinya terbangun.
"Kau baik-baik saja? Kau bermimpi buruk?" Tanya pria berpakaian biasa itu yang menatap dirinya dengan kedua alis yang tertekuk.
Untuk sesaat dirinya terdiam dan berusaha sadar dari hal yang pernah membuatnya terpuruk.
"H-Huh? Aku baik-baik saja." Ia menepis tangan yang masih menempel pada dahinya.
"????" Melihat dari raut wajahnya saja, dirinya yakin jika wanita itu baru saja mengalami mimpi buruk, sehingga tidak ingin mengatakn apapun padanya.
Ia membuka selimut itu yang membuat seluruh tubuhnya berkeringat, "aku akan pergi membasuh wajah." Ujar wanita itu yang bergegas meninggalkan kamar.
Rambut perak itu tergerai panjang yang membelakangi wajah cantiknya, pita kupu-kupu tergeletak begitu saja di atas ranjang.
__ADS_1
"..............." tatapannya tertuju pada kupu-kupu tersebut, lalu meraihnya dan menatapnya dari jarak dekat.
"Mimpi buruk... kah?"