
Siapa sangka wanita kasar sepertinya akan merasakan cinta dan juga rasa sakit di waktu yang singkat.
Tidak mudah menjaga dan mengontrol emosi yang ada di pikirannya. Jika hal itu menyangkut pada seseroang yang sangat ia cintai.
Sesulit apapun jalan yang ia ambil, sosok itu selalu ada untuknya dan diam-diam memberikan kalimat semangat serta dorongan dari belakang.
Senyumannya terlihat polos, hal itu sama saja dengan sikap yang dia miliki. Amarah sama sekali tidak pernah terlihat di wajahnya, melainkan gigi runcing yang selalu terpajang.
Bahkan... disaat orang itu meninggalkan dirinya, dia masih sempat memperlihatkan senyuman tulusnya seperti biasa. Lalu mati dalam keadaan tenang, seolah-olah kematian bukanlah apa-apa.
Oleh karena itu... sepertinya bukan masalah besar jika dirinya melakukan hal yang sama.
...◇• •◇...
"Haaa!! Hatchuu!!" Ia terbangun setelah merasakan sesuatu di wajah dan juga saluran pernapasannya.
Saat ini ia merasa jika sesuatu yang empuk dan juga berbulu sedang menindih wajahnya. Lazel mengangkat bola bulu itu lalu memperhatikannya dengan wajah datar.
Wajahnya kini terlihat sedikit kesal, "Gilver?"
"Haah~ jadi aku tertidur rupanya..."
Ia menyingkirkan Gilver dari wajahnya. Namun kucing berbulu perak itu kembali mendekati dirinya.
"Huh? Ada apa? Aku bukan Hyunjae. Tunggu saja hingga dia kembali." Ujarnya.
Jendela besar yang tertampang pada dinding tangga melihatkan warna langit yang berwarna jingga.
"Hm... apa besok akan menjadi musim semi?" Tatapannya sedikit terfokus pada cahaya cantik tersebut, "kupikir aku tidur cukup lama." Keluhnya.
Kursi roda yang ada di hadapannya itu. Ia menatapnya dengan kesal. Lalu dalam sekejap menggunakan kaki kirinya untuk menjauhkan benda tersebut darinya.
"Aku tidak membutuhkan benda merepotkan seperti itu." Ucapnya kesal lalu berdiri secara perlahan.
...◇• •◇...
Di situasi lain. Dimana Lazel sedang mengalami kesulitan dalam mengatasi dirinya sendiri dan juga emosi yang ada di pikirannya.
Saat ini seorang pria yang hampir melucuti seluruh pakaiannya tengah terduduk di atas ranjang dengan ekspresi yang datar seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tubuh besar dan juga lekukan itu mendapat raba dari seorang wanita yang bernama Heul. Wanita itu memiliki tubuh mungil berwajah bulat, dan umurnya jauh lebih muda dibandingkan Lazel.
Kedua tangannya terbentang ke arah kanan dan kiri. Dan membiarkan wanita itu melakukan apapun pada dirinya.
Rambut hitamnya terlihat sedikit basah dan seluruhnya menutupi dahi.
Kedua alisnya tertekuk, "ck!"
Ia menarik lengan wanita yang hanya terbalut selimut itu lalu menjatuhkannya sehingga dirinya mengambil posisi meniduri wanita tersebut.
Tangan kiri yang saling menggenggam, tangan kanannya mulai meraih wajah mungil itu dan memiringkan sedikit wajahnya serta berinisiatif untuk mendaratkan sebuah balutan lembutnya. Wajah yang semakin dekat, serta hawa ***** yang semakin tinggi.
Wanita yang berada di bawahnya itu tidak akan tinggal diam saja. Tangan yang tidak terbelenggu itu mulai meraba sesuatu yang lain, dimana kancing tersebut memang sudah terbuka dan memperlihatkan sedikit ****** ********.
Mulai dari meraba kaki Hyunjae yang terbuka di atas tubuhnya, lalu semakin beralih pada selangkangannya, dan-
"Aku bisa melakukannya! Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai orang-orang terdekatku lagi!"
"!!!!" Seketika sebuah ingatan membuat tindakannya berhenti.
"Hm? Ada apa Hyunjae?" Tanya Heul pada Hyunjae yang perlahan mengembalikan keadaan seperti semula.
Tangan kanannya menutup sebagian wajahnya dan memperlihatkan wajah khawatir, "L-Lazel." Lirihnya.
"Lazel? Apa dia menghubungimu? Kalau begitu-"
Pria itu menatap Heul dengan tajam dan penuh amarah, "pergi dari sini jal*ng!" Titahnya dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
"H-Hah? Ada apa? Memangnya apa yang-"
Tubuh besarnya membelakangi cahaya lampu dan mempertajam tatapannya, "apa aku harus membanting kepalamu itu ke lantai?" Tanya Hyunjae yang saat ini terlihat sangat mengerikan.
...◇• •◇...
Sepertinya hari itu akan menjadi hari yang sedikit buruk. Selain tidak ada ***** ia juga secara singkat menyingkirkan segalanya yang tidak bersangkutan dengan wanita berambut perak itu.
Lazel memiliki tubuh dan wajah yang unik. Tingginya hampir menyamai dengan seorang pria pada umumnya, sehingga keimutan serta feminim dari dirinya sama sekali tidak terlihat.
Akan tetapi... wanita seperti dirinya sangat banyak memendam masalah secara sendirian. Di balik raut wajahnya yang tertekuk ada sebuah kesedihan yang mendalam. Dibalik kepalannya yang kuat terdapat ribuan rasa sakit.
Betapa hebatnya wanita itu bisa mengatasi semuanya sendiri. Meskipun beberapa masalah memiliki konsekuensi yang besar.
...◇• •◇...
Bibir dan hidungnya mencoba untuk menahan sebuah sumpit yang dia gunakan untuk memakan ramen. Serta dengan kedua pandangan yang fokus pada layar televisi.
Tatapannya terus mengarah ke atas meja, "hm... aku penasaran dengan rasanya." Ujar Lazel sambil memangku Gilver dalam keadaan tertidur.
Kaki kanannya terjulur ke bawah sedangkan kaki kirinya terlipat ke atas sofa. Meja yang berada di ruangan itu ia dekatkan agar lebih mudah memakan ramen tersebut.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ramen yang ia diamkan telah siap untuk dimakan.
"Aku heran, bagaimana bisa Hyunjae bisa bermain setelah mendapatkan serangan mendadak dari orang yang tidak dikenal." Mulutnya mengunyah sambil membicarakan sesuatu sehingga ucapannya terdengar berantakan.
Brak!
"Sialan!" Ucapnya kesal.
"!!!!" Gilver yang ada di pangkuannya merasa terkejut sehingga membuka matanya dengan lebar.
Tangannya mengelus kepala Gilver, "k-kau terbangun? Maaf maaf, aku tidak sengaja," kekehnya. "Seharusnya aku mengejarnya saja! Semua ini karena Hyunjae yang mencoba untuk menghentikanku!" Ucapnya pelan.
Tangannya tiba-tiba terhenti, "tunggu... Hyunjae saat ini dia tidak di rumah," seketika wajahnya terlihat panik. "Bagaimana jika..."
"T-Tunggu dulu! Bagaimana jika aku akan mengganggunya?" Kini dirinya di ambang kebingungan,"t-tapi... aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
Lazel benar-benar berpikir dengan keras mengenai Hyunjae. Kecelakaan yang dilakukan dengan sengaja itu bisa saja terulang kembali, karena pelaku berhasil melarikan diri.
"Bagaimana ini... apa aku harus menghubunginya?" Tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat sembari berpikir, "tidak ada jalan lain!" Ucapnya tegas dengan tangan yang langsung menekan panggilan.
...◇• •◇...
Kuku bercat hitam itu ia gigit karena merasa gugup saat mencoba untuk menghubungi Hyunjae.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya panggilan itu mendapatkan jawaban.
^^^"Ada apa?"^^^
"M-Maaf mengganggumu!" Ucap Lazel yang sedikit gugup, "ada apa dengannya? Mengapa suaranya seperti itu?" Pikirnya.
^^^"..............."^^^
"Gawat... sepertinya aku memang mengganggunya," batinnya khawatir. "Bisakah kau berhati-hati?" Kini Lazel mulai berbicara pada intinya.
^^^"Hati-hati? Untuk apa?"^^^
"Pelaku yang hampir membuatmu celaka sempat meloloskan diri. Tidak akan ada konsekuensi lagi jika hal itu kembali terjadi, oleh karena itu aku mencoba untuk mengingatkanmu."
^^^"Itu saja?"^^^
"Hah?! Dengarkan aku dasar arogan! Aku mencoba untuk melindungimu, setidaknya untuk kali ini gunakan kemampuanmu untuk melindungi dirimu sendiri!"
Saat ini emosinya benar-benar meluap karena mendapat tanggapan ringan dari seseorang yang ia coba untuk menyelamatkannya dari maut.
"Apa kau tahu betapa khawatirnya aku jika hal yang sama kembali terulang?! Jika aku bersamamu mungkin aku bisa mengatasinya!"
__ADS_1
Nafasnya tersenggal-senggal, dan untuk kedua kalinya Gilver kembali terbangun karena tingkahnya, "g-gawat, sepertinya aku berlebihan." Batinnya.
Di sisi lain, dimana waktu yang berjalan secara bersamaan. Di depan sebuah pintu masuk berwarna hitam dengan ganggang perak.
Kedua kakinya masih berdiri disana dengan tangan kanan yang mengusap rambut hitamnya ke belakang dan mulai memperlihatkan tawanya meskipun wajahnya terlihat menunduk, "hahahahaha!"
^^^"Hah?! Kau tertawa?! Kau... kau benar-benar mengesalkan!"^^^
Hyunjae melepaskan ponsel itu dari telinganya dan menatap layar ponselnya sendiri, "dia mematikannya." Ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawanya agar tidak diketahui oleh Lazel jika dirinya sudah berada di depan pintu rumahnya.
Dengan percaya dirinya ia ingin membuat kejutan kecil untuk wanita beriris merah muda itu.
Cklek!
Dengan wajah yang berseri serta senyumannya yang tak tertandingi, "Lazel~ aku pu-"
"Gyaaaahh!!! Makhluk menyerupai Hyunjae memasuki rumah!!"
"..............."
...◇• •◇...
"Apa-apaan kau ini. Ternyata kau sudah tiba," ujar Lazel yang melanjutkan makannya. "Dan kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Kau justru menjawab panggilanku."
"..............."
Kejutan kecil yang ia harapkan sepenuhnya gagal, dan itu karena refleks tak terduga dari Lazel yang mengucapkannya secara terang-terangan. Mau tak mau ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Lazel.
Keduanya tengah menghabiskan waktu di ruang tengah. Kepulangan Hyunjae membuat Gilver sedikit bersemangat, karena sebelumnya kucing gemuk itu terus tertidur di pangkuannya tanpa melakukan apapun.
Pria berkaos hitam itu sedang memangku Gilver yang kini sedang duduk manis dan menatapi sekitar, termasuk menatapi Lazel yang tidak pernah mengajaknya bermain.
Lazel membalas tatapan Gilver dengan ganas, "mengapa kau menatapku hah?! Apa kau ingin bertengkar?" Ancamnya dalam hati, "cih! Kau ini memang merepotkan." Tuturnya kesal.
Tangan dan mulutnya kembali bergerak dan menghabiskan ramen tersebut.
"Lazel..."
"Hoh? Ada apa?"
"Tidak."
"Oh, aku tahu..." ia mulai menjauhkan ramen itu dari Hyunjae. "Aku tidak akan memberikannya." Ucapnya dengan tegas.
"Lagipula aku juga tidak menginginkanya." Tukas Hyunjae yang memasang wajah geli.
Tangannya terkepal dengan erat dan menatap Hyunjae penuh kekesalan, "bajing*n ini..." ia memilih untuk melanjutkan makannya. Tapi... ada sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya. "Mengapa dia pulang secepat ini?"
Ia segera menyelesaikan makanan di dalam mulutnya lalu bertanya pada Hyunjae.
"Kenapa kau pulang begitu cepat? Apa kau melupakan sesuatu?" Tanya Lazel dengan ekspresi yang sama sekali tidak berubah.
Pria bertindik itu memalingkan wajahnya, "ah... aku lupa, jika ada sesuatu yang lebih penting untuk ku lakukan." Jawabnya.
"Hm... apa itu pekerjaan? Aku bisa membantumu."
"Tidak perlu," Hyunjae bangkit dari duduknya dan mendekati Lazel yang berada di sofa yang sama dengannya. "Mulai besok aku akan membatasi dirimu dengan ramen." Ucapnya lalu mengambil alih ramen dari tangannya.
Kedua tangannya seketika terasa hampa dan juga ringan, "huh?! Apa maksudmu? Apa kau mencoba untuk bertarung denganku?" Tanya Lazel dengan wajah yang berusaha menahan rasa kesalnya.
Hyunjae memegang ramen itu di tangan kirinya, lalu membungkukkan tubuhnya sehingga wajah mereka saling bertemu, sambil menjulurkan telunjuk tangan kanannya dan menyentuh perut Lazel.
"Pencernaanmu akan terganggu jika kau terus mengkonsumsi makanan instan seperti ini." Ujarnya lalu memakan ramen yang ada di tangannya.
"H-Hei! Kembalikan makananku!" Ucap Lazel yang saat ini tidak bisa berkutik melawan Hyunjae.
Hyunjae meninggalkan Lazel sambil berjalan menuju dapur, "tunggu disana honey~ aku akan membawakan makanan sehat untukmu." Ujarnya dengan tangan yang melambai.
__ADS_1
"Hyun... jae sialaaaan." Ucapnya dengan geram.