Lost Feeling

Lost Feeling
Strength


__ADS_3

Tatapannya mengarah pada telapak tangan kanannya yang saat ini tertutup rapat dengan perban putih. Efek samping dari melempar sebuah besi panjang itu sedikit menyakitkan bagi telapak tangannya. Sebelum melakukan hal gila itu, Lazel sempat meremukkan pita kupu-kupunya di dalam genggamannya sendiri, sehingga memberikan luka-luka kecil yang cukup banyak dan juga dalam.


Beberapa hari sudah berlalu, dan hari yang berlalu itu. Dirinya selalu mendapatkan tingkah Hyunjae yang sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya pada kejadian yang lalu.


Bahkan memikirkannya saja sama sekali tak nampak.


Dan terlebihnya lagi. Pria bertindik itu selalu bertindak aneh, sehingga selalu membuat Lazel bingung.


"Hei, aku mau makan-"


"Akan ku ambilkan."


"????"


Saat ini mereka berada di ruangan yang selalu sama, wanita berkaos hijau itu tengah duduk di atas sofa yang bersampingan dengan Hyunjae bersama dengan pekerjaan Kantornya.


Salah satu sifat anehnya adalah yang barusan saja terjadi. Hal itu cukup lama berlangsung, namun masih dipertanyakan oleh wanita perak tersebut.


Oh! Musim Dingin sudah berakhir dua hari yang lalu. Kini setelah satu bulan lebih akhirnya mereka merasakan sensasi hangat dan panas dari matahari. Tepatnya di bulan Februari, dimana Musim Semi datang.


Kelima jari tangan kirinya membentuk pistol lalu ia tempelkan pada dahinya, "aneh... benar-benar aneh. Aku selalu heran dengan tingkah lakunya," pikir Lazel, kedua matanya kembali menyorot pada sebuah meja yang ada di hadapannya. "Dan... mengapa dia selalu di rumahku? Bersama dengan tumpukkan pekerjaannya."


Pria berkemeja putih bergaris hitam itu kembali ke ruangan sebelumnya dengan sebuah nampan yang ada di tangannya, "ini makananmu." Ia menyerahkannya pada Istrinya yang kini sedang menatapnya dengan tajam.


Tatapannya saat ini sedikit mencekam dan ia mengarahkannya pada pria itu, "Hyunjae... kau sangat cocok untuk jadi babu." Ujarnya dengan terang-terangan.


Hyunjae melirikkan matanya, "hm... apa kau mau tidak bisa kembali berjalan?"


Tap!


Tangannya menutup mulut Hyunjae dengan cengkraman mautnya, "jaga mulutmu! Aku hanya heran dengan sikapmu!" Balas Lazel dengan emosi yang meluap-luap.


Wajah Hyunjae kini mengarah pada Lazel dan berusaha melepaskan cengkraman wanita itu dari wajahnya, "a-apa kau berniat membunuhku?" Tanya Hyunjae yang seketika mengurungkan niatnya.


"Ya, karena aku sangat kesal padamu." Balas Lazel tanpa ampun.


...◇• •◇...


Selama Lazel belum mendapatkan kesembuhan total, Hyunjae selalu merawatnya dengan baik. Selain itu, Hyunjae juga mengatur pola dan juga menu makanan yang dimakan oleh Lazel.


Kedua tangannya terlipat di depan dada lalu mengadahkan kepalanya ke langit-langit, "haah~ pria itu sangat aneh. Bahkan aku tidak pernah melihatnya pergi kemanapun." Keluhnya.


Kini wanita berambut perak itu kembali berpikir mengenai Hyunjae.


"Kepulangannya waktu itu memang mendadak, dan... sikapnya..."


Lazel bukanlah wanita yang bodoh, meskipun dia selalu menggunakan otot dan teriakan untuk berbicara. Tapi wanita itu memang tidak memahami apapun. Salah satunya adalah sikap Hyunjae yang memiliki perubahan.


Untuk saat ini, ia tidak mengetahui pasti mengenai atau alasan dibalik sikapnya. Tapi... yang pasti adalah, pria itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Sebenarnya hal ini tidak perlu di tanggapi dengan serius, tapi...


"Aarghh! Terlalu banyak tapi di setiap kalimatku!!" Ucapnya dengan kesal, "mau bagaimana lagi. Tingkah lakunya itu sangat membuat diriku penasaran." Sambungnya dengan niat setengah-setengah.


"Kalau begitu... mengapa kau tidak bertanya pada orangnya secara langsung?"


Seseorang datang dari balik sofa dan melangkah mendekat.


"Ah~ ini dia... orang yang selalu membuatku kesal, akhirnya dia kembali." Batin Lazel yang merasa lelah.

__ADS_1


Meskipun Hyunjae mengerjakan pekerjaannya di rumah. Namun bebannya dan kesibukannya terlihat sama. Bahkan Lazel tidak pernah menyentuh sedikit pun pekerjannya, karena semua itu berjalan di bawah kendali Hyunjae untuk sementara waktu.


Pria berpakaian rapi itu kembali duduk di samping Lazel dan mulai menatap layar laptop.


Ia menghadapkan seluruh tubuhnya ke samping,"ngomong-ngomong..." Lazel mendekatkan tubuhnya dan menjulurkan tangan kanannya, lalu meraih pipi kiri Hyunjae. "Mengapa kau selalu disini hah? Tidakkah kau sadar jika kau itu pengganggu dalam hidup damaiku?" Tanya Lazel yang semakin jenuh dengan kehadiran Hyunjae.


"Mengapa kau begitu nekat menyerang orang itu dengan benda berbahaya?" Hyunjae bertanya balik.


"..............."


Pria itu merubah posisinya sehingga tubuhnya menghadap ke arah Lazel. Kini kedua tangannya berada di kedua sisi wanita itu lalu menatap wajahnya, "untuk seorang perempuan sepertimu... jujur saja. Itu membuatku khawatir pada seorang wanita yang sama sekali tidak ragu pada benda yang dia pegang,"


"Mudah saja, setidaknya kau berpikir terlebih dahulu pada benda yang kau pegang. Tapi... tidakkah kau berpikir jika benda itu bisa saja mengenai nyawa seseorang? Bagaimana jika benda itu mengenai diriku se-"


"Cukup," sahut Lazel yang kini mengembalikan posisinya. "Sepertinya kau sangat penasaran mengenai hal ini." Ucapnya dengan tatapan datar.


...◇• •◇...


Setidaknya seseorang memiliki umur dua puluh ke atas, mungkin mereka yang melakukan kejahatan akan diletakkan pada penjara sungguhan yang terletak di Kantor Kepolisian.


Akan tetapi... seseorang yang memiliki umur di bawah angka itu akan diletakkan di penjara anak yang mungkin mendapatkan hukuman ringan, sesuai dengan umur muda mereka.


Paling lama adalah berbulan-bulan. Atau mungkin tergantung dengan kejahatan apa yang mereka lakukan.


"Selama tujuh bulan... aku pernah berdekam di dalam penjara anak." Ucap Lazel yang sedikit tertekan untuk mengungkapkannya.


"NANI?!" Hyunjae membuat ekspresi jelek saat mendengar kejujuran Lazel.


"Sebenarnya kau ini ingin tahu atau bagaimana?" Tanya Lazel dengan wajah kesalnya.


"A-Aku mau tahu." Ucap Hyunjae yang sangat siap untuk menceritakannya.


"Demi melindungi Ian... aku mematahkan tiga tangan dari tiga anak yang umurnya lebih tua dibandingkan diriku,"


"Mereka terdiri dari satu perempuan dan dua pria. Dengan emosi yang cukup sulit untuk ku kendalikan, tanpa sadar... aku melakukan kekerasan."


Wajahnya berpaling ke arah Hyunjae dan tersenyum miris, "apa kau ingat saat aku berhasil menyentuh kepala Hyunji lalu membantingnya ke lantai?"


"Sebenarnya itu adalah perjanjian."


"Perjanjian?"


...◇• •◇...


Mungkin sekitar dua atau tiga belas tahun. Dimana Lazel masih menjalani masa remajanya bersama dengan kesendiriannya.


Sudah tidak asing lagi mendengar Zoclis bersaudara yang memiliki kekuatan besar dalam melakukan pertandingan atau pertarungan yang sering disebut dengan bela diri.


Sang Adik sudah menepati janji pada Kakaknya mengenai kekerasan yang boleh dilakukan dalam pertarungan yang sah.


Hingga pada suatu hari... anak muda itu terlibat dengan janjinya dan berusaha tetap menjalankannya tanpa membuat Kakaknya kecewa.


Akan tetapi... akibat janji yang dibuat oleh Lazel, Adiknya menjadi tak sadarkan diri karena menahan bully serta pertarungam berat sebelah yang dilakukan oleh senior Lazel.


Setelah mengetahui hal itu... dalam sekejap, Lazel menghilang dari rumah sakit yang berjanji akan menemani Adiknya hingga tersadar kembali.


Di sebuah lapangan yang bersih dan juga cukup banyak orang yang menonton. Langit saat itu terlihat amat cerah, serta rumput-rumput hijau yang terus menari karena hembusan angin.


"Apakah kalian... pelakunya?" Tanya Lazel dengan rambut perak yang terkepang ke belakang.

__ADS_1


Kedua irisnya terlihat cantik jika dipadukan dengan suasana langit.


"Hahahaha! Ku dengar jika Zoclis tidak bisa menggunakan kemampuannya karena janji pada Kakaknya~" ejek salah satu laki-laki yang lebih tua dibandingkan dirinya.


"Apa-apaan itu? Bukankah itu sangat kekanak-kanakan?"


Setelah mendengarnya, Lazel terkejut dan juga sedikit senang jika Ian benar-benar mengingat janji yang dia buat. Tapi... karena janji itu... membuat Ian dalam bahaya.


"Hahahaha! Apakah kau juga berjanji pada Adik Manjamu itu mengenai-"


"Baiklah... kira-kira, siapa saja yang ingin melawanku?" Kedua kakinya mulai bergerak. Kaos biru dengan lengan panjang itu terlipat ke atas.


"Huh?"


"Bukankah kalian datang untuk membuatku tumbang seperti Ian?" Tanya Lazel yang memperlihatkan wajahnya dengan ekspresi remeh.


Sebenarnya... sebelum kejadian itu. Banyak orang-orang atau anak-anak yang mengingatkan pada mereka mengenai kekuatan Zoclis bersaudara. Tapi... entah mereka memendam sesuatu atau mencari tahu siapakah yang lebih kuat, hal itu tidak diketahui sama sekali.


Akan tetapi... kedatangan Lazel kali ini berbeda. Jika Ian memang tidak dapat mengangkat tangannya pada orang lain tanpa tujuan yang jelas, maka Lazel sendiri yang akan menjadi perisai bagi Adiknya.


Sangat beruntung karena janji itu hanya berlaku bagi Adiknya.


Mereka yang datang secara bersamaan, sorakan penonton asing yang sangat berisik. Dengan satu gerakan yang memiliki makna tertentu, kedua tangan itu berhasil mematahkan salah satu ketiga lengan orang yang telah melukai Ian.


Teriakan miris terjadi karena menahan rasa sakitnya yang mereka derita.


Pertarungan itu memang tidak menjatuhkan setitik darah. Namun gadis itu langsung bertindak pada sesuatu yang dapat membuat musuh tumbang dalam sekejap, meskipun hal itu memiliki sebuah resiko yang besar.


Tubuhnya masih berdiri dengan tegap. Namun kedua irisnya menatap tajam ke bawah dan melihat ulat-ulat yang mengeliat di atas tanah karena rasa sakit.


"Seharusnya kalian bersyukur, karena Ian masih memegang janjiku..."


"Seharusnya kalian berpikir seperti ini... untuk apa aku membuat janji pada seseorang untuk tidak menyakiti orang lain tanpa tujuan yang jelas?"


...◇• •◇...


Setelah kejadian itu, orang-orang yang menonton memanggil Polisi dan mengungkapkan kejadian yang terjadi pada hari itu. Serta... membuat laporan mengenai tindakan seorang gadis muda yang memiliki rambut berwarna perak.


"Haah~ cerita yang lama~" ucap Lazel yang terlihat senang dengan cerita lamanya.


Sedangkan Hyunjae. Hampir di seluruh cerita, ia tidak bisa bernapas dengan benar.


"Lalu saat aku bertemu dan bertarung dengan Hyunji..." kini Lazel melanjutkan ceritanya saat ia bertemu dengan saudara Hyunjae. "Meskipun aku berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa... pada akhirnya Hyunji berhasil mengalahkan diriku." Sambungnya dengan wajah meremehkan.


"Saat Hyunji memenangkan pertarungan kecil, dia pun membuatku berjanji, janji yang sama terhadap janji Ian padaku,"


"Sial! Seharusnya aku tahu jika saat itu Hyunji lebih kuat dibandingkan diriku!"


Sepertinya memang banyak yang tidak ia ketahui tentang Lazel, tentang masa lalu yang dia alami bersama dengan Adiknya.


Wajahnya seketika menunduk dan merasa khawatir di dalam lubuk hatinya, "kau..."


"????"


"Kau pasti tidak pernah menyangka jika hal itu pernah terjadi bukan?" Ujar Lazel yang sama sekali tidak ingin memperlihatkan wajahnya, "aku mengerikan bukan? Seorang perempuan yang hanya bisa berpikir dan berbicara menggunakan kekerasan, memiliki tindakan yang buruk, memiliki jalan hidup yang-"


"Hahaha~ sepertinya banyak hal yang tidak ku ketahui tentangmu." Sela Hyunjae yang tersenyum dan juga tertawa.


"..............." ia mengangkat wajahnya dan menatap Hyunjae.

__ADS_1


Kedua matanya terbuka dan menatap Lazel dengan lekat, "kau adalah kau... untuk apa heran dengan dirimu sendiri?"


__ADS_2