Lost Feeling

Lost Feeling
Something Unexpected


__ADS_3

Setelah berhasil menghusir Hyunjae dari perusahaannya, ia pun ikut keluar dan mencari keberadaan Byul. Sebenarnya bukan atas usahanya sendiri saat Hyunjae pergi, melainkan pemikiran pria itu sendiri yang sadar jika kehadirannya itu sangat mengganggu.


Awalnya ia memang memberikan Byul beberapa pekerjaan karena Egis yang mendadak hilang entah kemana. Dan kini ia membutuhkan Byul, oleh karena itu dirinya sendiri yang akan mencari keberadaan Asistennya.


Hingga sampai pada lantai utama, atau lantai dasar dari perusahaan tersebut. Dimana para staff utama bekerja disana.


Menelusuri lantai sejauh ini juga tidak membuahkan hasil.


Selain langkah kaki yang selalu bergerak, pandangannya juga menoleh kemana-mana agar bisa menemukan Byul.


Pada akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada staff yang berada di sana.


"Huh?" Langkah kakinya berhenti begitu saja saat merasakan sesuatu yang jatuh dari kepalanya.


Ia pun menoleh dan menundukkan wajahnya ke lantai.


Tangan kanannya meraba rambut belakangnya, "r-rusak?" Lirihnya.


Pita kupu-kupu berwarna perak yang ia kenakan di belakang kepalanya rusak begitu saja dan terbelah menjadi dua. Padahal ia merasa jika sebelumnya tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Bos?"


"????" Ia menoleh saat melihat dan mendengar seseorang memanggil dirinya. Dan itu adalah Byul sendiri yang baru saja tiba entah dari mana.


Pita itu berada di dalam genggamannya dan berjalan ke arah Byul, "Byul, dari mana saja kau?" Tanya Lazel pada Byul yang begitu merasa kedinginan karena hawa bersalju.


"Haha~ jangan khawatir Nona, aku baru saja kembali setelah mengantar barang."


Byul sedang menjelaskan mengenai situasinya, namun yang Lazel lihat adalah Hyunjae yang berada di depan gerbang.


"Apa Nona membutuhkan saya?"


"Hyunjae... mengapa dia masih disini? Apa dia sedang menunggu seseorang?" Dari postur tubuh dan pakaian yang dikenakan, ia sudah dapat menduga jika pria itu adalah Hyunjae. Terutama dari merek mobil yang sempat ia lihat di basement.


"U-Um... Nona?"


...◇• •◇...


"Perasaan apa ini?" Tanpa sadar ia menggenggam erat pita kupu-kupu rusak di dalam telapak tangannya sehingga membuat darah mengalir dari sela-sela jarinya, "m-memangnya kenapa jika Hyunjae sedang menunggu seseorang?"


"N-Nona! Tangan Anda!" Byul terkejut pada darah yang mulai menetes ke lantai karena kepalan tangannya.


Benda yang rusak pasti meninggalkan serpihan yang tidak rata, sehingga membuat beberapa dari bagian mereka memiliki permukaan yang tajam, itulah yang membuat tangannya terluka.


"Minggir." Lazel menyingkirkan Byul dari hadapannya dan bersiap untuk berlari menuju gerbang.


"Nona?!"


"!!!!"


Ia berlari begitu saja disaat Hyunjae masih berdiri di samping mobilnya.


"K-Kenapa aku berlari?! Memangnya apa yang terjadi?!" Bahkan dirinya sendiri tidak memahami tindakan yang ia perbuat.


Di atas tanah yang masih membeku, ia berlari begitu mudahnya dengan high heels yang terpasang di kedua kakinya.


Kemeja putihnya tertampang jelas karena jas yang ia kenakan tidak menyatu dengan kancing.


Suara deruman kendaraan tiba-tiba terdengar di telinganya dan membuatnya berlari sambil menoleh ke arah lain. Kuat bunyinya membuat jantunhnya berdetak dengan cepat.


Suara itu ia hubungkan dengan posisi Hyunjae.


"T-Tidak." Lirihnya.


Larinya semakin cepat, membutuhkan waktu beberapa menit untuk tiba disana karena jarak gedung utama dengan gerbang cukup jauh.


"Hyunjae!" Teriaknya sekuat mungkin.


Hyunjae merasa jika ada seseorang yang meneriaki namanya, oleh karena itu ia menolehkan wajahnya dan melihat Lazel yang berlari sekuat mungkin ke arahnya.


Suara mobil itu semakin terdengar, sudah dipastikan jika mobil tersebut melaju dengan sangat cepat.

__ADS_1


Kini yang lebih mengejutkannya lagi adalah, Hyunjae berusaha menjauh darinya dengan memasuki mobilnya.


"Bajing*n!" Umpatnya.


Di atas tanah yang dingin beserta dengan larinya yang semakin cepat, Lazel sama sekali tidak memikirkan efek samping dari tindakan bahayanya.


Saat hampir tiba disana, bersamaan dengan Hyunjae yang ingin menutup pintu mobilnya.


Dengan satu langkah yang kuat, ia membuat tubuhnya terdorong secepat mungkin lalu berusaha meraih tangan Hyunjae.


Hyunjae begitu terkejut saat melihat Lazel dengan cepat tiba di sampingnya, "L-Lazel, apa yang-"


"PEGANG TANGANKU!" Teriaknya.


Tap!


Lazel menggunakan tangan kanannya untuk menarik Hyunjae dan menggunakan tangan kirinya untuk membuat pertahanan yang ia hantamkan sekuat mungkin di bagian mobil agar tidak kehilangan keseimbangannya saat mendarat.


Dengan satu tarikan ia membuat Hyunjae keluar dari sana dan membuat pria berambut hitam itu terpental ke belakang.


Dan seketika...


BRUAAAK!!


Hantaman kuat baru saja terjadi. Mobil asing yang mungkin memiliki berat dua kali lipat baru saja menabrak dengan kekuatan penuh ke arah mobil Hyunjae.


...◇• •◇...


Teriakan pun terjadi. Serpihan kaca berterbangan dan terlempar kemana-mana, Hyunjae melindungi Lazel dengan memeluknya dan membelakangi tabrakan maut tersebut.


Saat kondisi sedikit membaik, kedua tangannya memegang kedua pundak Hyunjae dan menatap tajam ke arah mobil asing itu.


"Dia kehilangan keseimbangan!" Ujar Lazel lalu mendorong Hyunjae agar menjauh darinya dan berlari mengejar mobil tersebut.


"Lazel! Apa yang kau lakukan!" Teriak Hyunjae.


Lazel berlari mendekati mobil itu karena kehilangan keseimbangan saat menabrak kendaraan yang Hyunjae bawa serta licinnya jalan karena salju. Dengan rasa amarah yang besar, tanpa pikir panjang ia berusaha agar bisa menghentikan mobil itu dengan tangan kosong.


"Mereka gagal. Oleh karena itu sulit untuk fokus." Lazel menatap sekitar sambil berlari dan akhirnya menemukan sesuatu yang cukup panjang dan juga tajam.


Ia meraih benda tersebut lalu berusaha membidik dengan benar, "baik... laaah!!" Ia lemparkan sekuat mungkin besi runcing yang berada di pinggir jalan.


Hyunjae yang ikut berlari di belakangnya melihat tindakan wanita berambut perak itu, dan menatapnya seolah-olah tak percaya apa yang akan dilakukannya, "L-Lazel, kau... apa kau berniat membunuh mereka?"


Akan tetapi... perkiraan Hyunjae sedikit keliru, besi runcing itu berhasil mengenai salah satu ban belakang mobil pelaku. Sehingga membuatnya bergerak tak terkendali di tengah-tengah jalan.


"Mereka ingin kabur?!" Pikir Lazel.


Ia melihat jika pelaku tak dikenal itu mencoba untuk melarikan diri dengan keluar dari mobilnya.


Jaraknya semakin dekat, dirinya membutuhkan beberapa jarak untuk mengambil ancang-ancang.


Dengan satu lompatan serta kaki yang siap mendaratkan sebuah tendangan maut. Sorot kedua mata yang haus akan pertarungan itu menatap Sang Pelaku dengan tajam, "jangan... harap... kau... bisa... lolos dariku."


DUAK!


Tendangan telak, yang membuat kepala pelaku terpental ke kaca mobil, sehingga membuat kaca tersebut pecah dan membuat beberapa bagian lainnya mengalami kerusakan akibat tendangannya.


"Bajing*n... kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Ujar Lazel yang terlihat berantakan berusaha mendekati orang itu.


"Kau akan-"


"B-Bunuh saja aku! T-Tapi aku tidak bisa memberitahumu!" Ujar pria asing itu dengan pakaian serba hitam yang berusaha menutupi identitasnya.


Lazel terdiam dan menatapnya bingung, ia pun berpikir sejenak, "seorang pria... memberitahu? Jangan-jangan..."


Ia menarik kerah baju pria itu dan membuka seluruhnya, "siapa... siapa yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?" Tanya Lazel dengan kedua matanya yang dingin.


"B-Bunuh aku! A-Akan lebih baik kau membunuhku!"


"Jadi benar... tapi... bagaimana bisa mereka memiliki nyali yang besar untuk menyerang anggota Keluarga Pietra?"

__ADS_1


"Apalagi Hyunjae... orang yang tidak ada bedanya dengan Hyunji,"


"Dan lagi... kupikir ada orang lain bersamanya, ternyata orang ini hanya sendiri."


"Bagaimana bisa... bagaima-"


"Lazel!"


"Huh?!" Tubuhnya seketika terkejut karena kedatangan Hyunjae, dan pria yang ada di genggamannya lolos begitu saja. Lazel pun ingin kembali mengejarnya, "sia-"


"Hentikan!" Hyunjae tiba tepat waktu dan berhasil menghentikan tindakan ceroboh dari Lazel.


"Mengapa kau menghentikanku?!" Tanya Lazel yang belum bisa menghentikan emosinya.


"Apa kau akan terus mengejarnya dengan tangan kosong? Kau pikir kau bisa mengatasinya?" Ujar Hyunjae yang memusatkan pandangannya pada Lazel.


Lazel semakin melebarkan kedua matanya dan membalas tatapan Hyunjae, "aku bisa! Aku bisa melakukannya! Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai orang-orang terdekatku lagi!"


"Bagaimana kau bisa berdiam diri begitu saja?! Bagaimana jika kau-"


Hyunjae menarik lengan Lazel lalu memeluknya dan mengelus punggung wanita itu, "tenanglah."


"Huh?"


"Untuk saat ini aku baik-baik saja, dan kau juga sama. Itulah yang paling terpenting," ujar Hyunjae dengan nada rendahnya. "Dia... mengkhawatirkan diriku, dibandingkan keselamatannya sendiri, juga... menganggapku sebagai orang terdekatnya." Batin Hyunjae yang memikirkan tindakan nekat dari Lazel demi menyelamatkan dirinya.


...◇• •◇...


Rambut peraknya tergerai panjang, kedua iris pinknya berkilau bagai berlian, kulit putih pucat yang dia miliki memiliki beberapa bagian yang terluka dan juga lebam.


Lazel melepaskan pelukan Hyunjae lalu beralih pada tubuh serta wajah Hyunjae, "kau! Bagaimana dengan keadaanmu?" Tanya Lazel yang merasa was-was karena masalah sebelumnya.


"Haha~ bukankah kau saat ini yang harus dipertanyakan?" Hyunjae bertanya balik dan tersenyum karena tingkah laku Lazel.


"Ah~" wanita itu akhirnya memperhatikan dirinya sendiri dan terkekeh di hadapan Hyunjae.


Saat ini mereka berada di tengah jalan yang tidak jauh dari perusahaan Lazel. Beberapa saat kemudian beberapa mobil berdatangan dan menghadap ke arah Lazel dan juga Hyunjae.


"Nona Lazel, Tuan Direktur. Apa kalian baik-baik saja?" Tanya seorang pria yang berpakaian lengkap, atau sering disebut dengan bodyguard. Dan mereka adalah bawahan Hyunjae.


"Kami mendapatkan panggilan dari salah satu staff di Perusahaan Aplic mengenai kekacauan ini." Jelas bodyguard tersebut.


Jika diperhatikan lagi, saat ini mereka berada di tengah jalan dengan kondisi yang begitu berantakan. Belum lagi orang-orang yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Untuk saat ini izinkan Saya untuk membawa kalian ke Rumah Sakit."


"Baiklah." Jawab Hyunjae yang merasa kesakitan di daerah punggungnya.


Suara sirine Polisi pun terdengar. Hal ini sudah dapat di duga, tidak mungkin warga sekitar akan diam diri mengenai kekacauan ini.


"Sisanya, jelaskan apa adanya mengenai hal ini pada Polisi. Lazel harus dibawa ke Rumah Sakit terlebih dahulu." Titahnya.


"Baik Tuan."


"Tapi aku bisa menjelaskannya pada mereka." Sahut Lazel yang sama sekali tidak ingin bergerak dari tempatnya.


"Sulit dikatakan... tapi pelaku berusaha mengincar diriku. Ini aneh, oleh karena itu kita harus memikirkannya terlebih dahulu sebelum menjelaskannya pada Polisi." Hyunjae menjelaskannya pada Lazel dengan nada pelan.


"Benar juga... aku tidak menyangka jika ada seseorang yang berani menyentuh Keluarga Pietra dengan cara kotor seperti ini." Batin Lazel yang masih memperhatikan keadaan.


Hyunjae memegang erat kedua tangan wanita itu, "kalau begitu-"


"Ack!" Rintih Lazel tiba-tiba.


Hyunjae melihat ke arah bawah, "kakimu." Ujarnya yang melihat beberapa lebam pada pergelangan kaki Lazel.


Wanita itu terkekeh kecil, "aku baik-baik saja, ini hanya-uwaaa!"


Ia menyeringai dan menyipitkan kedua matanya, "hm~ sepertinya kali ini Nona Pemarah itu menjadi Putri Yang Terluka." Ucap Hyunjae yang saat ini sedang merangkuh Lazel pada pelukannya.


"!!!!" Wajah putih pucatnya itu sangat kentara dengan sesuatu yang merah. Oleh karena itu saat ini wajahnya memerah karena malu seperti tomat yang matang.

__ADS_1


__ADS_2