Lost Feeling

Lost Feeling
"Close Your Eyes"


__ADS_3

"Pendapat... ku?" Hyunji menunjuk dirinya sendiri dan menatap tak percaya pada Adiknya.


"Wajahmu menjengkelkan saja." Tukas Hyunjae yang kembali meluruskan pandangannya.


"Y-Yah... ini sangat langka kau tahu. Jarang sekali kau ingin berbicara seperti ini," ujar Hyunji. "Jadi... apa yang ingin kau ungkapkan?"


"Untuk saat ini aku akan mendengarkan terlebih dahulu ceramahmu, setelah itu aku akan-"


"Kau ini keras kepala! Bagaimana bisa kau menduakan, tidak tidak. Bagaimana bisa kau berpaling dari Lazel demi wanita lain? Apa kau tidak pernah berpikir resiko yang akan kau terima? Dan kau tidak pernah memikirkan perasaan Ibu,"


"Bukan karena wajahnya. Kau tahu sendiri bukan, jika Lazel memiliki mulut yang liar, serta tindakan yang di luar batas? Tapi apa yang ada di hatinya, kau harus menatap sejenak menuju hatinya bukan perilaku kasarnya."


"..............." bahkan ia belum menyelesaikan kalimatnya. Namun Hyunjae tidak menyangka jika Kakaknya akan bicara banyak mengenai Lazel.


Sebenarnya, apa yang dikatakan Hyunji itu ada benarnya dan ada juga kalimat yang harus diberi tanda tanya. Karena tidak semua pemikiran orang akan sama.


"Bagaimana jika ku katakan seperti ini..." ia mulai memasang wajah serius. "Lazel memiliki pria lain. Aku tahu jika dia berusaha menyembunyikannya, tapi-"


"BWAHAHAHAHAHAHA!!!" Hyunji menyela kalimat Hyunjae dengan tawanya yang keras.


"Hyunjae! Jangan berteriak!" Teriak Ibunya dari Ruang Tengah yang terdengar hingga Ruang Utama.


"Hyunji yang melakukannya! Bukan aku!" Sahut Hyunjae dengan kesal.


Hyunji menutup mulutnya serapat mungkin dan menahan tawanya sebisa mungkin.


Hyunjae menarik kerah Hyunji lalu menggoyangkannya sekuat mungkin, "dan kau! Mengapa kau menanggapinya dengan tawa hah?!" Ucapnya kesal.


"Hei, hei, kau sedang tidak bercanda kan?" Tanya Hyunji dengan air mata yang berlinang karena tawa.


Hyunjae melepaskannya dengan perasaan kesal.


"Menurutmu aku sedang bercanda?"


"Dan kau mempercayainya? Kau mempercayai ucapannya dan kau mempercayai instingmu?" Kini Hyunji membalas wajah serius Hyunjae dengan lebih serius, "sungguh, kau orang yang bodoh." Sengirnya.


Hyunjae menanggapi ucapan Kakaknya dengan raut tak suka, "huh? A-"


"Seharusnya kau lebih menasihati dirimu sendiri dibandingkan orang yang tidak sama denganmu,"


"Jangan pernah menyamakan orang lain dengan dirimu. Karena kau dan mereka itu berbeda,"


"Lazel berkali-kali melihatmu dengan wanita lain bukan? Dan apa tanggapannya? Dia hanya diam? Dia hanya memasang wajah dingin dan datarnya? Dia memasang tatapan seolah-olah tidak peduli?"


"..............."


Hyunji sedikit terkejut dengan ucapan Kakaknya.


"Mengapa kau terkejut? Aku benar bukan? Karena memang itu kenyataannya. Aku menjamin seratus persen, sangat mustahil Lazel melakukan seperti yang kau pikirkan,"


"Kau sendiri bahkan tidak pernah melihatnya? Aku juga tidak pernah melihatnya, kau pikir Ibu melihatnya? Ayah melihatnya?"


"Kau hanya melindungi diri dari Ayah dan Ibu, lalu menutup mulut jutaan manusia dengan uang yang kau miliki."


Perkataan Hyunji benar-benar membuatnya terdiam dan tidak memberikan balasan apapun. Sepertinya acara perbincangan antara Kakak dan Adik itu tidaklah sia-sia. Mungkin saja berkat apa yang dikakatan Hyunji dapat membuatnya sedikit sadar.


"Jika kau memang tidak menyukainya maka jangan paksa dirinya untuk mengungkapkan kebohongan lainnya hanya untuk menghindari perdebatan denganmu,"


"Aku tidak tahu apakah kau akan mengingat ucapan ku ini," Hyunji memegang pundak Hyunjae. "Aku tidak bisa memastikan, kau akan menyesal atau tidak. Tapi aku bisa menjamin bahwa kau akan merasakan kehilangan, sehingga berkata mustahil untuk dapat menemukannya kembali."


"..............."


...◇• •◇...


Ia menggenggam sebuah tangan yang berkulit sama dengan kulitnya.


Hatinya sangat gelisah dan merasa khawatir. Kakaknya memang seorang wanita yang pandai memakai berbagai topeng dan juga melakukan drama di hadapan orang lain. Sehingga siapapun tidak akan tahu dibalik ekspresinya maupun tindakannya.


Bahkan hanya sebuah pikiran dapat membuatnya frustasi dan depresi. Bahkan semenjak kedua orang tuanya masih ada, Kakaknya masih terlihat kelelahan dan berusaha menyembunyikannya.


Jujur saja, bahkan Ian sama sekali tidak pernah tahu jika Hyunjae tidak mengetahui apapun mengenai Lazel.


"Kak... bisakah kau tidak keras kepala untuk ke depannya,"


"Dan bisakah aku membuat hal ini menjadi hal yang terakhir? Terakhir untuk melihatmu menangis."


"Yang kumiliki hanyalah dirimu... tidak ada lagi yang akan bersamaku. Jadi tolong... jangan membuat dirimu terbebani sehingga membuatku merasa gila."

__ADS_1


Ia mencium punggung tangan itu dengan lembut dan meletakkan secerah harapan pada Kakaknya.


...◇• •◇...


Saat ini, di Ruang Tengah. Beberapa orang sudah memenuhi rumah besar itu.


Terlihat seorang wanita yang memiliki rambut hitam itu tengah memikirkan sesuatu dengan serius.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Adam yang baru saja berkumpul bersama.


"Masa depan Ian... aku harus menjadi pengganti Lena untuk menjadi Ibunya," ucapnya dengan serius. "Tapi aku tidak tahu apakah dia akan setuju."


Di tengah-tengah pikirannya yang kacau balau, kedua Putranya menghampiri Ruangan yang sama, namun Hyunjae melewatinya begitu saja dan menuju lantai atas.


Hanya melihatnya saja, ia sudah tahu kemana tujuan Anak itu, "apa yang kalian bicarakan?" Tanya Nezra pada Hyunji yang duduk di sebelahnya.


"Tidak ada apa-apa~"


"Ck! Kasihan sekali Putraku ini."


"Huh? Memangnya untuk apa Ibu mengatakan itu?"


"Karena kau belum memiliki seorang Istri." Ucap Adam dan Nezra bersamaan.


"..............."


...◇• •◇...


Cklek!


"Apa dia sudah bangun?" Tanya Hyunjae yang memasuki kamarnya dan menemui Ian yang sedang menjaga Kakaknya.


"Belum." Gelengnya.


"Sudah." Sahut seseorang.


"K-Kau mengejutkanku Kak."


Lazel membangunkan tubuhnya dengan bantuan Ian dan menyandarkannya pada sebuah tumpukkan bantal di punggungnya.


Ian memegang wajah Lazel, "apa kau baik-baik saja?"


"Ya." Angguknya.


Pria muda itu turun dari ranjang lalu tersenyum ke arah Kakaknya, "kalau begitu aku akan turun, ada yang harus ku bicarakan dengan Nona Nezra." Ujar Ian.


"..............."


Kepergian Ian membuat Lazel khawatir, ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ian pada Nezra. Ia juga tidak bisa menghentikannya, karena tidak semua akan berjalan sesuai kemauannya.


Di samping itu, dirinya melupakan tentang Hyunjae yang sedang menatapi dirinya dari jarak dekat.


"Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Hyunjae.


Ia menoleh, "oh, aku melupakanmu." Ucap Lazel dengan polos.


"Huft... aku harus memakluminya, karena tidak semudah itu akan melupakan apa yang telah terjadi." Batinnya.


"Bergantilah," ucapnya tiba-tiba. "Kau pasti lelah bukan? Jadi bersihkan dirimu lalu istirahatlah." Ujarnya dengan nada rendah.


"Dia... dia seperti bukan Lazel, wanita itu pasti akan berteriak dan mengeluarkan kalimat emasnya." Pikir Hyunjae.


"Hei, apa kau mendengarkanku?"


"Ah~ ya, aku akan bergegas."


Hyunjae meraih handuk di dalam lemari. Sejenak ia kembali memperhatikan wanita itu.


Berbeda... sangat berbeda. Apa yang dia lihat bukanlah Lazel yang dulu. Saat ini pandangannya terhadap apapun benar-benar tidak berguna.


"Hyunjae."


Sebelum pria itu memasuki kamar mandi, Lazel kembali memanggilnya, oleh karena itu ia menghentikan langkahnya dan kembali menolehkan wajahnya.


"Ada apa?"


Lazel bersiap untuk beranjak dari ranjang, "aku akan keluar dan menunggu, kau pasti-"

__ADS_1


"Di luar banyak orang. Apa yang akan mereka pikirkan mengenai tindakanmu?" Sela Hyunjae yang masih lengkap dengan pakaian serba hitamnya.


"B-Benar juga, tapi apa yang harus ku lakukan?" Tanya Lazel yang sedikit kebingungan.


Pria bertubuh lebih tinggi darinya itu melangkahkan kakinya mendekati Lazel lalu mengangkat tangan kanannya dan menutup kedua mata wanita itu dengan tangan besarnya.


"Tutup saja matamu jika kau tidak ingin melihatnya." Ujarnya yang dapat merasakan bulu mata Lazel dari telapak tangannya.


...◇• •◇...


Tubuh dengan handuk yang melingkari pinggangnya, ia baru saja meninggalkan kamar mandi dan memasuki kamar.


Ujung-ujung rambutnya masih terlihat basah dan menetes di atas lantai.


"..............." ia juga melihat jika Lazel kembali merebahkan tubuhnya dan berpaling ke arah lain.


Secepat mungkin ia meraih pakaian tebal dari dalam lemari. Jaket berwarna biru dan celana panjang dengan warna hitam, semua kainnya terasa hangat saat di kenakan.


"Berbaliklah, aku sudah mengenakan pakaianku." Ujar Hyunjae yang kini sedang duduk di atas kursi sambil menggosok rambut hitamnya menggunakan handuk kering lainnya.


Lazel pun kembali duduk lalu melihat Hyunjae yang sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin.


"Kemari." Ucap Lazel.


"Huh?" Ia melihat wajah Lazel dari pantulan cermin.


"Ayolah, kau pasti tahu bukan jika aku tidak suka mengulangi kalimat yang sama?" Ujarnya.


Dengan secepat kilat, Hyunjae meninggalkan tempat itu dan duduk di samping wanita berambut perak.


"A-Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Hyunjae yang menatapi dirinya serius.


"Haah~ bisakah kau bertingkah seperti biasa? Ini sedikit berlebihan bagiku." Tukasnya yang meraih handuk itu dari tangan besarnya.


Lazel meminta pada pria itu untuk duduk di lantai dan menyandar pada ranjang. Hyunjae bergerak sesuai dengan apa yang ia katakan.


Tangannya yang memegang sebuah handuk mulai mengusapkannya pada rambut Hyunjae.


"Hah? Untuk apa kau melakukannya?"


"Terima kasih," ucapnya tiba-tiba. "Selain Ian, kau bisa mengatasi diriku saat hilang kendali." Sambungnya.


Tangannya terus mengusap kepala Hyunjae dan membuatnya perlahan mengering.


"Tanpa kau mungkin... aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan."


Meskipun sudah terbiasa mendengar teriakan serta ocehan kasar dari Lazel. Tapi sangatlah jarang mendengarkannya dengan nada selemah ini.


"Dan maaf," tangannya seketika terhenti dan membuat Hyunjae kebingungan. "Aku melukaimu."


"Untuk apa kau mengatakannya? Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, aku sudah mengatakan hal yang aneh mengenai dirimu dan temanmu."


"Daripada itu... pasti sakit bukan? Seharusnya aku sempat memberikannya obat."


Sepertinyan Hyunjae merasa sesak sendiri saat mendengar keluhan maaf dari Lazel. Oleh karena itu ia berbalik arah dan meninggikan badannya dengan kedua lulut serta meraih kedua tangan Lazel dan ia tempelkan pada wajahnya.


"Apakah itu sesakit ini?" Tanya Hyunjae dengan wajahnya yang tampan dan sombong.


"Buka mulutmu." Titahnya.


Mendengar kalimat terang-terangan dari Lazel membuatnya salah tingkah dan salah mengartikannya, "h-hah?! A-Apa yang-"


Sebelum dirinya melangkah mundur, Lazel menatap tajam pada Hyunjae lalu menekan rahangnya sehingga rongga mulutnya terbuka sesuai dengan keinginannya.


Kedua matanya memperhatikan bagian bawah bibir Hyunjae dengan jempol yang menahan gigi bawahnya, "hm... kurasa darahnya berhenti dengan cepat, tapi tetap terasa sakit saat mengunyah makanan." Jelasnya.


Hal itu mungkin biasa bagi Lazel, namun saat ini Hyunjae seperti mendapatkan serangan telak yang hampir membuat dirinya salah tingkah.


Karena mulutnya yang masih terbuka, air liur Hyunjae mengalir di tangan putihnya dan membuat Hyunjae langsung melepaskan tangan Lazel darinya.


"Fyuh~ syukurlah tidak ada yang fatal." Ujarnya dengan perasaan lega.


"Kau! Mengapa kau melakukan itu?!" Tanya Hyunjae sambil meraih tisu dan membersihkannya dari tangan Lazel.


"Tentu saja aku harus melakukannya, karena hampir semua orang yang mendapatkan pukulanku mendapatkan luka parah pada rongga mulut mereka, sehingga membuat beberapa gigi mereka lepas," penjelasan serta alasannya membuat Hyunjae meneguk liurnya sendiri. "Tapi kau memiliki tubuh yang kuat, itu membuatku lega."


"..............."

__ADS_1


__ADS_2