
Terkadang perasaan yang ada dalam diri wanita dan pria itu berbeda, bahkan tidak ada yang menduga jika perasaan tersebut bisa menghilang begitu saja, sama halnya dengan Lazel. Kepergian seseorang yang penting dalam hidupnya berhasil meninggalkan bekas luka yang luar biasa, sehingga dirinya tidak mampu menampung perasaan apapun lagi.
Akan tetapi... setelah menikah dengan sosok yang memiliki segalanya, perlahan ia mulai kembali pada titik awal. Ia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri meskipun mendapatkan beberapa bantuan dari pihak keluarga pasangannya.
Meskipun begitu, Lazel tidak pernah membayangkan akhir dari drama yang mereka buat. Sejauh ini yang dia lakukan hanyalah memanfaatkan keadaan.
Namun hingga saat ini, tingkah mauapun tutur kata yang dilontarkan Hyunjae semakin aneh. Bahkan ia tidak bisa berpikir, bagaimana bisa pria itu mendadak berubah tanpa alasan. Tapi, Lazel berusaha menangkisnya sebisa mungkin, karena tidak ada kalimat manis yang berujung kebohongan.
Degup jantungnya semakin kuat, bahkan sorot wajah yang dia lihat membuatnya merasa takut. Sorot itu adalah pemandangan yang sudah berkali-kali ia lihat.
"M-Menerkam? Apa yang ingin dia lakukan?" Batin Lazel yang berusaha untuk tetap terlihat tenang, meskipun jantungnya kini tidak terkendali dengan jelas.
Kedua tangannya mulai bergerak, begitupula dengan posisinya saat ini. Yang ingin dia lakukan adalah menghindar dari pria itu.
"Lepas." Lirih Lazel dengan kedua alisnya yang tertekuk, hal itu membuat wajahnya terlihat benar-benar tidak menyukai sesuatu.
"..............." sedangkan Hyunjae hanya memasang wajah yang sama dan sama sekali tidak melonggarkan kedua tangannya yang berada di belakang Lazel.
Sesuatu telah berusaha menyadarkan dirinya, apapun yang pria itu sentuhkan pada Lazel. Itu hanya membuat wanita beriris merah muda itu merasa jijik.
"A-Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku dengan kedua tanganmu yang kotor itu." Ujar Lazel yang semakin memanas serta tubuh yang semakin menegang.
"Memangnya siapa yang ingin menyentuhmu?" Sahut Hyunjae dengan ekspresi wajah yang tak terkira.
"Huh??"
"Hm?"
"T-Tapi kau..."
"Aku hanya menyuruhmu untuk duduk disini, kau pikir aku akan melakukan apa ha?"
"T-Tidak! Tidak ada!" Gelengnya sekuat mungkin.
"Hoo~ benarkah~" Hyunjae mencoba untuk menggoda Lazel yang dia pikir sedang membayangkan sesuatu. "Bagus... kini dia tidak tegang seperti tadi." Batin Hyunjae yang mulai merasakan ketenangan di dalam diri Lazel.
Lazel yang awalnya merasa takut dan juga tegang, dalam seketika membaik. Bahkan kedua tangannya kini tengah mencengkram pakaian Hyunjae, "bajing*n! Kau ini selalu membuatku kesal!" Ujarnya dengan emosi yang meluap-luap.
"Mengapa kau selalu mengutukku?!" Balasnya dengan nada yang sama, "apa kau tahu... tatapan itu hanya ku tunjukkan padamu, hanya padamu, bahkan aku tidak pernah menatap orang lain dengan seperti itu." Batinnya.
"Arrgh! Kau ini menjengkelkan sekali..."
...◇• •◇...
"..............."
Hari ini sedikit berbeda, yaitu perbedaan dalam diri Lazel. Wanita itu mengambil tidur di awal waktu dan menyiapkan alarm untuk besok pagi.
Hyunjae yang ada di sampingnya bertanya-tanya, memangnya apa yang membuat Lazel harus menolak pertemuan itu?
Rambut panjangnya yang berwarna perak itu kini berada di mana-mana, posisi tidurnya yang terlentang dengan sebuah tangan boneka yang ada di pelukannya.
Sedangkan seseorang yang ada di sebelahnya itu memainkan beberapa helaian rambut cantik itu. Melihat Lazel yang cukup nyenyak untuk tertidur sudah membuatnya sedikit lega.
Setelah berdebat sedikit, Lazel langsung mengeluarkan kalimat emasnya dan mulai mengutuk Hyunjae. Mengingatnya lagi membuat lekukan di bibirnya itu menciptakan senyuman yang indah.
Drrt!
"????" Hyunjae mengangkat tubuhnya dan menoleh pada meja kecil yang berada di samping Lazel.
Getaran ponsel itu bisa saja membangunkan Lazel, oleh karena itu ia perlahan meraihnya dan melihat siapa yang menghubungi Istrinya di malam hari.
Setelah melihat layar ponsel itu raut wajahnya pun membaik, "Ian?" Ucapnya pelan.
Ia beranjak dari kasur dan berjalan pelan mendekati jendela agar tidak membangunkan Lazel. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
^^^"Kak, apa kau sibuk?"^^^
"Ian, ini aku."
^^^"Hm? Suara ini... Kak Hyunjae! Bagaimana kabarmu?"^^^
"Aku baik~"
__ADS_1
^^^"Ngomong-ngomong dimana Kak Lazel?"^^^
"Dia sudah tidur, bahkan aku tidak tahu mengapa dia tidur secepat ini?"
^^^"Oh! Itu pasti karena besok!"^^^
"Besok?"
^^^"Hm, besok adalah hari kelulusanku. Sebagai perwakilan, Kakak lah yang akan datang untukku."^^^
"H-Huh?" Hyunjae sedikit terkejut setelah mendengar kalimat itu dari Ian.
^^^"Ada apa? Apa Kakak tidak memberitahumu?"^^^
"T-Tidak..."
^^^"Haah~ dia itu tidak pernah berubah."^^^
...◇• •◇...
Cahaya semburat putih dan juga cahaya bulan menyinari sebagian tubuhnya yang tidak terbalut pakaian. Bahkan piyama itu dibiarkan terbuka begitu saja dan hanya menutupi kedua lengan serta punggungnya.
Setelah usai berbincang dengan Ian melalui ponsel, akhirnya ia tahu, mengapa Lazel menolak pertemuan di esok hari.
Hari-harinya yang disibukkan dengan pekerjaan, bahkan waktu istirahatnya selalu terkuras di setiap saat. Namun ia masih sanggup untuk meluangkan waktunya untuk Adiknya. Kini Ian tidak memiliki siapapun, bahkan dia harus hidup seorang diri tanpa bantuan siapapun.
Dan disaat inilah peran Lazel dimulai, dimana dirinya harus sanggup menjadi Ibu, Ayah dan juga Kakak di waktu yang bersamaan. Belum lagi tugasnya sebagai Istri dari Hyunjae. Namun karena terdapat masalah di Rumah Tangga mereka, Lazel tidak pernah menyeretkan hubungannya dengan Hyunjae pada masalah apapun.
Perlahan ia kembali ke sisi ranjang yang lain, dimana Lazel hampir menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Namun dengan adanya Hyunjae, ia mulai memperbaiki posisi tidur wanita itu.
"Lebih tenang jika seperti ini..." ucapnya pelan dengan tangan yang menyentuh kepala Lazel.
Ia selalu membayangkan keributan yang dibuat oleh Lazel, namun saat wanita itu tertidur, semuanya pun kembali sunyi dan tenang.
Mengingat hal itu membuat Hyunjae tertawa pelan.
...◇• •◇...
Posisinya saat ini menyamping dengan gaya yang menguasai seluruh ranjang. Dalam posisi tidurnya yang seperti itu, wajahnya tertutup sedikit oleh kain yang berwarna hitam, serta rambut yang sudah tidak teratur lagi.
Suara pintu pun terdengar dari kamar mandi, dan memperlihatkan sosok pria dengan handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
"..............." bahkan ia tak menduga jika Lazel dapat tertidur setelah semua gangguan yang dia buat.
Ia mendekat dengan rambut yang masih meneteskan air ke atas lantai.
Seringainya pun terlihat, kedua tangannya mulai terangkat ke atas dan membuat lekukan tubuhnya semakin terlihat. Ia mulai mengacak-acak rambutnya, sehingga tetesan air mengenai wajah Lazel dan membuat wanita itu terbangun dengan ekspresi yang lucu.
"A-Apa ini?!" Tangannya mulai meraba dan mengusap wajahnya sendiri.
"Bwahahahaha! Akhirnya kau terbangun!" Ucap Hyunjae dengan tawa yang kuat.
Lazel menyadari jika sosok yang ada di hadapannya itu adalah Hyunjae, namun apa yang dia lakukan benar-benar di luar batas.
"Ohoo~ mimpi yang bagus~" ujar Lazel yang kembali merebahkan tubuhnya dengan kedua mata yang melebar menatap tubuh sexy itu.
Hyunjae mengeritkan dahinya, "mimpi?" Ia pun memperhatikan dirinya sendiri lalu sebuah sinyal berhasil menyadarkannya, "hm~"
Dengan posisi Lazel yang menyamping, Hyunjae pun membentangkan kedua lengan besarnya di hadapan Lazel dengan mimik wajah serta tubuh yang menggoda.
"Jadi ini mimpi~" ujarnya dengan menyentuhkan tangannya pada wajah Lazel.
"GYAAAAAAAHH!"
...◇• •◇...
Tubuhnya berdiri tegap di hadapan cermin dengan pakaian formal yang membaluti tubuhnya. Rambut peraknya terikat rapi ke belakang dengan menyisakan sedikit rambut di depan kedua telinganya.
Saat ini ia tengah memperhatikan dirinya dengan tampang emosi, seolah-olah kesal pada dirinya sendiri.
"Sepertinya aku pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya," Lazel mulai berpikir mengenai adegan tadi pagi. "Tangannya itu..." tangannya yang merapikan dasi seketika beralih pada pipinya, dalam sekejap semburat merah terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Kedua tangannya menggebrak meja yang ada di hadapannya dan menatap cermin yang memantulkan dirinya, "sangat terasa! Bahkan aku tidak menyadari jika itu bukanlah mimpi!"
"Dan lagi..." dengan gerakan patah-patah ia menoleh ke belakang, dimana letak ranjang berada.
"Mengapa piyamanya ada bersamaku?! Memangnya dosa apa yang telah ku perbuat?!"
Ia pun berinisiatif untuk menyingkirkan piyama itu dari hadapannya.
"Kupikir pria itu tidak menyadarinya. Oke, seperti ini," dengan satu kali tendangan, piyama hitam itupun terlempar yang bersamaan dengan masuknya Hyunjae ke dalam kamar Lazel.
"..............." Hyunjae memperhatikan fenomena itu dengan wajahnya yang datar. "Bukankah sebelumnya dia menyukai piyamaku?" Batinnya.
...◇• •◇...
"Menelponku?"
"Ya, oleh karena itu aku akan ikut."
Hyunjae memberitahu Lazel bahwa Ian sempat menghubunginya saat ia sudah tertidur lelap.
"Tunggu, tunggu. Ini tidak ada hubungannya denganmu." Ucap Lazel yang mulai menghalangi Hyunjae untuk memasuki mobilnya.
"Ada."
"Apa?"
"Dia Adik Iparku bukan?"
"A-Adik Ipar?!"
"Salah?! Memangnya apa yang salah?!"
"Y-Yah... ini pertama kalinya bagiku untuk mendengarnya secara langsung darimu."
"O-Oh..."
...◇• •◇...
Saat ini mereka mulai menuju ke tempat Ian bersekolah. Lazel cukup yakin jika hari ini sekolah itu akan sangat ramai. Beberapa buket bunga dan juga boneka sudah memenuhi bagasi dan juga kursi belakang.
"Apa kau akan membatalkan pertemuan itu?" Tanya Lazel pada Hyunjae yang fokus menyetir.
"Tentu saja."
"Tapi... bukankah kau bisa menghadirinya?"
"Hari ini kelulusan Ian bukan? Oleh karena itu dia lebih penting dari apapun."
"H-Huh?! Apa ini?! Aku merasa jika Ian ku akan direbut!" Tuturnya dalam hati, "????" Kini ia mulai beralih pada dua anting pemberiannya.
"Apa kau ingin membuat jantungku melompat ke luar? Berhentilah menatapku."
Plak!
"Wajahku tidak seburuk itu bodoh!" Ujar Lazel dengan pukulan telak di dahi Hyunjae, "aku hanya heran, apa kau tidak pernah mengganti kedua anting itu?"
"Untuk apa?"
Karena kesal dengan tanggapan yang begitu ringan, Lazel pun menarik atau mencubit pipi Hyunjae dengan kuat, "apa kau ingat? Setiap aku membersihkan rumah, aku selalu menemukan tindik atau anting dimana-mana. Terutama laci kamarku."
"Aku sudah membuang semuanya, kau ingat bukan?" Jawabnya dengan tatapan yang fokus ke depan.
"S-Semua?! Tapi bagaimana dengan pemberian dari Heul? Bukankah-"
"Lazel, sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama."
"????"
"Mungkin terdengar bodoh atau menjijikan tapi..."
Lampu merah membuat Hyunjae menginjak rem perlahan lalu berhenti tepat di bawahnya. Ia pun memalingkan wajahnya ke samping kanan dan menatap Lazel.
"Bisakah kau berhenti membahasnya? Dan berikan satu kepercayaanmu padaku."
__ADS_1
"..............."