Lost Feeling

Lost Feeling
Nervous


__ADS_3

"Hatchuu!"


"A-Anda baik-baik saja Nona?" Tanya salah satu Staff yang saat ini berada di ruangan Direktur bersama dengan Asisten Bos.


"Ya," Lazel mengusap rongga hidungnya dengan telunjuknya. "Bisakah kalian membawa salah satu seseorang yang sangat mengetahui mengenai permata atau perhiasan?"


Byul memikirkan sejenak, "hm... sepertinya Saya mengenal seseorang dengan ciri-ciri yang Anda sebutkan." Ujarnya.


"Benarkah?" Ia meraih lembaran kertas kosong lalu menuliskan beberapa kata, "kalau begitu tolong bawa dia ke sini, atas permintaanku." Sambungnya dan menyerahkan surat itu pada Byul.


"Baik Nona."


Setelah memberikan perintah singkat, kedua orang itupun meninggalkan ruangannya.


Sepertinya ia belum lama menempati kantor, namun pekerjaan sudah menunggunya. Cukup banyak dokumen yang harus dia tanda tangani, atau membuat sebuah skripsi untuk malam nanti.


Kini laptop yang ia singkirkan mulai berada di hadapannya lagi, "bajing*n! Aku harus membuat ulang kembali! Jika bukan karena Hyunjae, pekerjaanku pasti sudah selesai!" Ujarnya dengan wajah yang tertekuk.


...◇• •◇...


Kedua matanya terus tertuju pada sebuah pintu besar berwarna hitam, dimana ruangan tersebut merupakan Ruangan Direktur, yang berarti tempat pribadi milik Lazel.


"..............." gadis yang memiliki deret di sampingnya itu terus menatapnya dengan curiga, bahkan tatapannya itu mungkin saja sangat mudah untuk ditebak, namun pria berkepala kuning ini sama sekali tidak menyadari apapun.


Vicy mencoba untuk memberanikan dirinya untuk bertanya pada Gyuu. Tangannya menepuk pundak pria itu, "h-hei, apa kau-"


Namun dengan lebih cepat, Gyuu memutar tubuhnya ke arah Vicy dan memegang kedua lengan gadis itu, "Vicy! Mengapa La-Bos belum memanggilku?!" Ia bertanya dengan wajah yang serius.


"A-Aku tidak tahu!" Kepalanya menggeleng dengan cepat, "a-apa aku akan diitimidasi karena menyentuh anggota Keluarga Hojung?!"


"Kau terlihat tegang, apa kau baik-baik saja?" Kini Gyuu melepaskan kedua tangannya dan bertanya pelan pada Vicy.


"Huh?? Kupikir dia berniat untuk diam-diam memperhatikan ruangan Bos, ternyata tidak," tuturnya dalam hati. "A-Aku baik-baik saja." Jawabnya dengan pelan sambil mengangguk.


"Hei..." Gyuu menatap Vicy dengan tajam dan mencekam. "Tingkahmu itu aneh." Ujarnya yang kini benar-benar memberikan tusukan pada tatapannya.


"Benarkah?! Ku-Kupikir aku hanya bersikap seperti biasa." Vicy berusaha untuk tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan apapun.


"Sudah kuduga..." Gyuu hanya memberikan senyuman tipis pada tindakan Vicy yang mudah terbaca. "Kau pasti merasa canggung dengan diriku." Kini Gyuu bertingkah dengan normal dan menghadap pada meja kerjanya.


"..............."


"Inilah sebabnya aku tidak ingin mengungkapkan siapa diriku yang sebenarnya, dan... berteman dengan siapapun pasti membuat mereka ti-"


"Apa yang kau maksud?" Kini Vicy mulai sedikit tahu tentang apa yang di khawatirkan oleh Gyuu, "y-yahh... awalnya kami juga merasa terkejut dengan identitas aslimu, tapi..."


"Kupikir tidak ada yang berbeda denganmu, meskipun kau Egis atau Gyuu, mereka berdua memiliki segala sisi yang sama,"


"Kupikir Bos juga berpikir seperti itu."


Gyuu sama sekali tidak bisa membuka suara setelah mendapatkan motivasi dari teman kerjanya, padahal gadis bernama Vicy itu merupakan seorang gadis yang masih berumur belasan tahun.


Gyuu menatap Vicy dengan kedua pipi yang merah serta mata yang berkaca-kaca, "k-kau..."


"Eh? Kau menangis?"


"T-Tidak!" Dengan cepat ia mengusap air matanya yang berlinang, "kini sudah kupastikan! Jika La-Bos tidak membenciku!" Ucapnya dengan tegas.


"Untuk apa juga dia membencimu?" Pikir Vicy.


"Hehehe, berarti aku masih bisa dekat dengannya." Ucapnya dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ternyata kau masih menyukai Bos..." tutur Vicy dalam hati. "Selama itu baik untukmu dan tidak membuat langkah yang lebih dari ini... kurasa rasa sukamu itu akan berjalan dengan baik."


...◇• •◇...


Saat ini kembali pada seorang wanita yang memiliki paras unik. Kedua tangannya terlentang ke atas meja dan meletakkan laptop besar itu di tengah-tengah. Kondisinya saat ini tidak begitu bagus, penampilannya terlihat berantakan.


Meskipun saat ini ia seperti akan mati, namum hal itu tidak akan dia biarkan. Setidaknya permasalahan utama akan usai lalu mungkin dirinya bisa mati dengan keadaan damai.


"TIDAAAK! MASIH BANYAK YANG INGIN KU LAKUKAN! JANGAN MATI SEKARANG!" Teriaknya tiba-tiba.


Ruangan besar itu hanya ada dirinya seorang, bahkan teriakannya begitu menggema.


"Haah~ aku tidak sanggup memegang stampel atau memegang pena," ia mengangkat kedua tangannya secara perlahan. "Li-Lihat, mereka mulai menggila, dengan bergerak tanpa intruksi dariku." Ucapnya dengan wajah yang serius.


Selain memberikan stampel dan tanda tangan, ia harus mengetik ulang sebagian penjelasan yang akan diperkenalkan pada khalayak. Dan hal itu membutuhkan waktu ekstra, setidaknya setengah hari atau sebelum malam tiba, sepertinya pekerjaannya akan selesai.


"Tidak ada liburan bagiku... bahkan Natal dan Tahun Baru masih sangat kurang untukku..."


"B-Bagaimana ini... kedua tanganku tidak ingin berhenti mengamuk."


Tok! Tok! Tok!


"Masuk~"


Dengan kekuatan yang tersisa, ia berusaha memperbaiki kacamatanya dan juga posisi duduknya.


Gyuu memunculkan dirinya dari balik pintu dan, bukan hanya dirinya saja, Vicy juga ikut serta. "Bos! Ayo ma-UWAAA!!"


Tapi Lazel tidak memperbaiki penampilannya, selain pada kacamata yang dia kenakan.


...◇• •◇...


"A-Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Vicy yang mengkhawatirkan kondisi Lazel yang tidak terlihat baik-baik saja.


Gyuu dan Vicy menyadari sesuatu, jika Nona Direktur belum meninggalkan ruangannya hampir berjam-jam. Gyuu yang memiliki mulut cabai terus bergumam tidak jelas mengenai Lazel. Waktu juga sudah melewati tengah hari, oleh karena itu mereka berdua memutuskan untuk mengajak Lazel untuk pergi makan siang.


Tak terasa, waktu sudah melewati tengah hari, begitu sibuknya dengan pekerjaan, ia sampai melewatkan makan siangnya.


Ia kembali mengangkat kedua tangannya yang bergetar, "m-mungkin tangan-tanganku yang seperti ini, karena rasa lapar yang menguasai diriku..." ujar Lazel yang belum menggerakkan dirinya dari ranjang.


"L-Lazel mulai berhalusinasi!" Ucap Gyuu yang merasa panik duluan.


"C-Cepat bawa dia menuju makanan!" Sahut Vicy yang berdiri di samping Lazel.


...◇• •◇...


Dan kini beralih pada sebuah ruangan terbuka. Salah satu meja diisi dengan tiga orang, dan mereka terdiri dari Lazel sendiri, Vicy dan juga Gyuu.


Saat ini mereka berdua seperti sudah melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan jiwa Lazel dengan makanan.


Wanita tanpa jasnya itu hampir mengurung dirinya di dalam ruangan ber AC hingga berjam-jam. Pekerjaan membuatnya harus menetap dan menyusun semua kalimat yang akan dia ucapkan pada Personal Selling nanti.


Rambut peraknya terikat ke belakang dan menyisakan dua helaian rambut kiri dan juga kanan. Pita kupu-kupu sudah menjadi pelengkap dalam hidupnya yang terletak di punggung kepalanya.


Kalung perak itu terlihat jelas yang berada di luar kemeja putihnya.


"M-Makannya lahap sekali..." ucap Vicy yang hanya mengucapkannya di dalam hati.


Sedangkan Gyuu, pria itu terus tersenyum dan tidak membiarkan kedua matanya berkedip sedikit pun. Seperti yang dikatakan oleh Vicy sebelumnya, meskipun Gyuu menyembunyikan identitas aslinya, namun dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan sifatnya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya makan mereka pun usai.

__ADS_1


"Haah~ aku ingin membeli minuman dingin." Ujar Lazel yang terlihat meleleh di atas kursi.


"Kalau begitu aku saja." Sahut Vicy yang mengajukan diri."


...◇• •◇...


Kepergian Vicy membuat Gyuu mendadak canggung di hadapan Lazel. Sedangkan wanita yang baru saja disebutkan itu tengah duduk dengan posisi kaki menyilang, kemeja berlengan panjang itu ia gulung setinggi siku. Tangan kirinya bertengger pada kursi yang dia duduki, sedangkan tangan lainnya memainkan ponsel.


"A-Aku sangat gugup!" Batin Gyuu.


"Oh, benar juga, Gyuu-"


"YA?! ADA APA?!" Pria berambut kuning itu langsung merespon ucapan Lazel, bahkan ia belum menyelesaikan kalimatnya.


Suara tinggi yang dia keluarkan membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah mereka berdua.


"!!!!" Ponsel yang ada di genggamannya itu bisa saja melayang pada wajah Gyuu.


"O-Oh maaf."


Lazel memasukan ponselnya ke dalam sakunya lalu mulai menatap Gyuu, "hei, kau ini aneh sekali. Memangnya apa yang kau pikirkan hingga segugup ini?" Tanya Lazel dengan kedua iris yang menatap iris pria itu.


"T-Tidak... ha-hanya saja..."


"Haah~ sepertinya aku lebih menyukai Egis dibandingkan Gyuu." Sela Lazel yang kembali menyandarkan punggungnya.


"!!!!" Salah satu telinganya langsung terbuka dengan lebar saat Lazel mengucapkan sesuatu yang menarik.


"Egis lebih terbuka, jujur saja... aku sangat merindukannya saat ini."


"A-Ap-"


"Kau menghalangi, bisakah kau pergi?" Ucapnya ketus pada Gyuu.


"..............."


Kini Gyuu mulai tersadar, jika ucapan Vicy itu benar. Bahkan Lazel lebih menyukai sifat yang dimiliki Egis. Meskipun mereka memiliki nama yang berbeda, namun sifat yang mereka miliki sangat menarik.


"Apa itu tidak mengganggumu?" Kini Gyuu mulai bersuara kembali setelah terdiam beberapa menit.


"Hm? Apa?"


"Aku menyukaimu, bukan sebagai Bos, Nona Direktur atau apapun itu... melainkan aku mencintaimu." Kini tatapannya terlihat berbeda dengan sebelumnya.


Lazel tidak memberikan balasan apapun selain raut wajahnya yang sangat datar, "jadi?"


"E-Eh?"


"Memangnya kenapa jika kau menyukaiku? Atau mencintaiku?" Kini Lazel bertanya balik.


"A-Aku sama sekali tidak bisa memahamimu."


"Singkat saja... yang kau suka itu aku, sedangkan aku tidak menyukai siapapun termasuk dirimu, simpel bukan?" Jelasnya tanpa menyaring apapun.


"!!!!" Bagai panah api yang menusuk jantungnya, tanggapannya begitu mengerikan saat dilontarkan melalui kata-kata.


"Selagi kau tidak menggangguku atau menghambatku, kau bukan masalah bagiku," kini Lazel mulai memasuki fase serius, dimana ekspresi wajahnya sama sekali tidak bisa terbaca. "Prioritas utamaku adalah rahasia dibalik hubunganku dan juga Hyunjae." Kini Lazel memulai pada sebuah inti dari permasalahan sebenarnya.


"Aku tidak menyangka jika kau memata-matai diriku hanya untuk mengetahui apa yang terjadi padaku..." perlahan kedua alisnya tertekuk dan mengepalkan tangannya yang berada di atas meja. "Tapi syukurlah, hal itu sudah wajar terjadi jika kau menyukai seseorang." Sambungnya yang kini mulai bersantai.


"Mengapa kau melakukan ini... setidaknya apa yang kau lakukan? Kau pikir ini adalah sebuah permainan? Yang ku tahu kalian adalah-"

__ADS_1


"Sebagai seseorang yang kau suka, dan sebagai seseorang yang ku rindukan. Aku akan memberitahumu sesuatu," kedua tangannya terlipat ke depan. "Kami berdua... menikah dengan cara saling memanfaatkan satu sama lain." Ujarnya dengan kedua matanya yang terlihat dingin.


__ADS_2