
^^^'Aku akan menginap di rumah Argo.'^^^
"..............." tangan besarnya memegang sebuah ponsel putih dan membaca sebuah nontifikasi yang baru saja berdering, dan ternyata pesan dari Adik Iparnya sendiri. "Okee~ aku akan memberitahukannya pada Kakakmu saat dia terbangun." Ucapnya pelan lalu meletakkan ponsel itu di tempat semula.
Selama Musim Dingin berlangsung. Entah siang atau sore, kapanpun itu, langit tetap memiliki warna yang sama selain di malam hari. Langit yang berwarna abu-abu keputihan itu mendukung Musim yang dingin. Matahari terbit pun yang dirasakan tetap dingin, cahayanya saja tidak dapat menembus gumpalan awan-awan di langit.
Jendela besar yang ada di samping mereka terbuka lebar dari tirai-tirai berwarna jingga.
Di atas sebuah ranjang yang besar kini masih di tempati oleh dua pasangan. Salah satu dari mereka sudah terbangun, dan satunya lagi tengah tertidur lelap.
Wanita itu tertidur menghadap dirinya yang sedang duduk menyandar pada sandaran ranjang. Bukan hanya menghadap, namun wanita itu juga menggunakan perut Hyunjae sebagai bantal tidurnya.
"Nyenyak sekali dia tidur," ujar Hyunjae yang sedikit menundukkan kepalanya ke bawah. "Ah~ bukankah dia bilang akan memanaskan makanan yang dibawa untukku?"
Tangannya menyingkirkan selimut yang menutupi bawahnya dan juga sebagian tubuh Lazel. Ia juga meraih bantal lain untuk memindahkan kepala Lazel, secara perlahan ia melakukannya tanpa membuat wanita berambut perak itu terbangun.
Setelah berhasil melakukannya, Hyunjae turun dari sana perlahan dan berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pinggangnya serta tersenyum licik.
Pria dengan celana panjang itu menatap Lazel yang masih tetidur dengan wajah puas," "hahahaha~ kau tertipu. Kau pikir aku tidur tanpa mengenakan apapun?" Ejeknya dalam hati.
Hyunjae meraih pakaian tebal dari dalam lemari lalu mengenakannya, setelah itu dirinya meninggalkan kamar dan membiarkan Lazel tertidur.
...◇• •◇...
Di sebuah Ruang Makan yang rata-rata memiliki warna emas. Kedua Anak dan Ayah itu menikmati makan dengan saling berhadapan.
"Gyuu, bagaimana dengan sesuatu yang kau pantau itu?"
Pria berambut kuning itu menaikkan salah satu alisnya, "hm? Apakah Ayah masih memikirkan hal itu?"
"Tentu saja, bukankah kau sendiri yang mengatakannya?"
"Hm~ benar juga," pria berpakaian santai dengan iris cokelat miliknya. Ia meletakkan peralatan makan dan menghadapkan wajahnya ke arah Ayahnya dengan ekspresi tersenyum. "Aku terlanjur menyukainya, jadi aku melupakan semua rencana yang ku susun dari awal." Senyumnya tanpa dosa.
Sedangkan Ayahnya membalas senyuman Anaknya dengan raut dan hati yang sama, namun dengan emosi yang berbeda.
"Dasar anak nackal! Bukankah dia sudah memiliki seorang Suami! Sadar diri kau wahai Bujank!" Bentak Ayahnya pada Putranya sendiri dengan kedua garpu yang hampir melayang.
"Aku tahuu! Tidak mungkin Putra tampanmu ini melakukan tindakan kriminal!" Balas Anaknya dengan menyiapkan nampan untuk melindungi dirinya dari serangan Ayahnya sendiri.
"Huft... aku dapat menebak jika Keluarga itu sudah mengetahui kedatanganku."
"Hah? Bukan hanya mereka. Bahkan hampir satu dunia telah tahu," ucap Anaknya dengan wajah malas. "Lagipula identitasku hampir ketahuan karena hal itu." Batinnya.
"What?! Mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?!"
"Itu salah Ayah sendiri yang tiba-tiba datang dan memamerkannya di Instangram milik sendiri. Bukankah Ayah sendiri yang bilang jika kembali akan dilakukan dengan diam-diam?" Batin Gyuu dengan wajah memelas.
"G-Gawat! Mereka akan tahu!"
"Untuk apa Ayah terkejut lagi?! Lagipula apanya yang gawat?! Bukankah sudah ku katakan jika mereka sudah tahu? Tidak, semuanya hampir tahu!"
"B-Benarkah?!" Ayahnya kembali terkejut.
"Suuudaah berapaa kali ku katakaan!"
Akhirnya keributan seperti biasa pun terjadi.
...◇• •◇...
__ADS_1
Kembali pada dua pasangan tanpa perasaan. Pria berambut hitam itu tengah duduk di atas sofa yang berada di Ruang Tengah sambil menikmati siaran televisi bersama dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah seperti tupai.
"Untung saja makanan ini tidak keluar dari pemanas." Ucapnya sambil mengunyah makanan.
Kini hampir tiga jam Lazel tidak terbangun, biasanya wanita itu selalu terbangun di dalam kurun waktu yang cepat. Apalagi tertidur di hari yang menjelang sore.
Suara kandang tiba-tiba terdengar rusuh dan membuat Hyunjae menghentikan aktivitasnya.
"????" Wajahnya berpaling ke belakang, dimana dia meletakkan kandang Cherry dan Gilver di tempat yang sama. Suara erangan kucing juga mulai terdengar, "apa mereka mau keluar?" Pikirnya.
Ia meletakkan makanannya yang melihat apa yang terjadi.
Setibanya disana ia melihat jika kedua kucing itu meronta agar pintu kandang itu terbuka.
Ia menatap kedua kucing itu dengan prihatin, "ck! Aku mengurung kalian agar tidak menggamgguku makan. Makanan kalian itu habis, jadi jangan-"
"Miaaaaaw~" Cherry menyela dengan mengeluarkan suara yang lebih kuat.
Hal itu membuat Hyunjae naik darah, "dasar gemuk tak tahu diri! Bukankah sudah ku bilang makanan kalian habis?!"
"Miaaw~"
"Kenapa? Kalian mau memakan makananku? Tidak akan kuberikan!"
Saat ini jika seseorang melihatnya, bagikan orang gila melawan hewan tak berakal.
"Sudah kuduga. Bahkan dengan kucing kau sama gilanya." Sahut seseorang dari belakangnya.
"Huh?!" Ia menoleh dan melihat siapa yang menyahut pertengkarannya dengan Cherry, "Lazel? Kau terbangun?" Hyunjae mendapati Lazel yang menyandar pada sebuah tembok sambil memperhatikan tingkahnya dengan para kucing-kucing tersebut.
"Ya," wajahnya terlihat segar, mungkin ia baru saja membasuh wajahnya. Kedua kakinya mendekat ke arah kandang kucing dan memperhatikan sekitarnya. "Hm, kandang mereka terlihat bersih. Oleh karena itu biar aku yang membeli makanan untuk mereka." Ujarnya.
"Oh! Biarkan aku-"
"Huh? Kau pikir aku akan menyerahkan uangku lagi padamu?" Sela Hyunjae dengan wajah jeleknya.
"Huh? Terus? Apa maksud dari perkataanmu itu?"
"Aku akan ikut denganmu, di rumah sendiri itu membosankan."
"..............." entah mengapa saat ini Lazel terlihat tidak berdaya dan terlihat memalukan di hadapan pria yang hampir di setiap harinya membuat dirinya naik darah.
Tangannya menutup sebagian mulutnya dan menjauhi wanita itu, "pfft! Kau pikir aku akan memberimu uang lagi? Dasar wanita bermata uang." Ejek Hyunjae yang berusaha menahan tawanya di hadapan Lazel.
"Ahh~ aku ingin menamparnya." Batin Lazel dengan kesal.
...◇• •◇...
"Biar aku yang menyetir." Ujar Hyunjae yang menghentikan langkah Lazel menuju kursi mengemudi.
"Huh?"
Pada akhirnya Hyunjae yang akan membawa mobil itu.
"Kau terlihat masih mengantuk, apa tidurmu begitu lelap dan nyenyak?" Tanya Hyunjae dengan mendekatkan wajahnya pada Lazel dan membuat ekspresinya terlihat licik dan mengejek dirinya.
"Ahh~ sungguh, aku ingin menamparnya." Batinnya kesal.
Lazel masih tidak mengetahui apa tujuan Hyunjae untuk ikut dengannya. Yang ada di pikirannya saat ini masih terlihat buyar karena rasa kantuknya.
__ADS_1
Toko makanan kucing tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di pusat pembelajaan khusus hewan termasuk hewan yang dipelihara.
Keduanya turun dan memilih makanan dan cemilan yang akan diberikan pada dua kucing yang ada di rumah.
"Yang ini." Lazel memilih makanan yang sama seperti sebelumnya.
"Tidak! Yang ini lebih enak!" Hyunjae menunjukkan yang lain.
"Hei bodoh, memangnya ini untuk dirimu? Darimana kau tahu jika pilihamu adalah rasa yang enak?" Tanya Lazel yang selalu berhasil naik darah karena berdebat dengan Hyunjae.
"Itu karena aku lebih banyak berinteraksi dan rajin memberikan mereka makan."
"Dasar si bodoh ini, untuk apa dia berinteraksi dengan hewan? Apa seperti itu salah satu cara merawat kucing?" Pikirnya.
Setelah menghabiskan waktu untuk berdebat sehingga menarik perhatian dari orang lain, akhirnya Lazel menyerah untuk menyemburkan kalimatnya pada Hyunjae, dan membiarkan pria itu bertindak semaunya.
...◇• •◇...
Saat ini mungkin mereka akan langsung kembali ke rumah setelah membeli makanan untuk para kucing.
Tetapi... pada sebuah persimpangan, Hyunjwe membuatnya bertanya-tanya pada sebuah jalur yang mereka lewati. Jalur yang saat ini mereka lewati adalah jalur yang berlawanan dengan arah Rumah Utama.
"Hyunjae, kau mau ke-" sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kemana mereka akan pergi. Lazel memotong ucapannya karena tahu apa yang sedang pria itu lakukan. Karena semuanya sudah terjawab di depan matanya sendiri.
Sebuah Hotel yang cukup ternama, Hyunjae menghentikan mobil itu tepat di depan Hotel. Sebelum turun dari sana, ia sempat menghubungi seseorang.
^^^"..............."^^^
"Ya, aku sudah tiba." Ucapnya singkat pada ponsel yang menempel pada telinganya.
Setelah perbincangan singkat itu, Hyunjae langsung menutup panggilan itu lalu menghadap wanita yang ada di sampingnya, "Lazel, kau-"
"Aku tahu, keluarlah." Selanya dengan wajah yang datar dan sedingin salju.
"Oh, baiklah." Pria itu memakai masker dan hood agar tidak dikenali banyak orang.
Dan kini... wanita berpita kupu-kupu merah itu sendiri di dalam mobil tanpa mengarahkan pandangannya pada kepergian Hyunjae.
Sesuatu seperti ini tidak perlu di bingungkan atau di pertanyakan lagi. Karena keadaan maupun situasi yang tidak pernah jelas itu selalu terjadi hampir di setiap harinya. Dan yang hebat adalah rasa tahannya pada situasi itu, situasi yang selalu menyeret dirinya untuk terus terlibat.
Ia menancapkan gas lalu pergi secepatnya dari sana.
...◇• •◇...
Saat ini dirinya belum tiba di rumah, sebuah toko bunga yang berada di pinggir jalan membuatnya sedikit tertarik. Oleh karena itu ia menyempatkan diri untuk membeli beberapa.
Lalu kembali ke dalam mobil dan pergi ke suatu tempat, tempat yang penuh dengan semua rasa, termasuk rasa sakit yang pernah dia alami dalam seumur hidupnya.
Tempatnya cukup jauh dari kediaman Pietra, tapi tindakannya itu selalu terjadi di setiap bulannya.
Setelah melewati atau menempuh jalan yang cukup panjang. Akhirnya ia tiba di sebuah pemakaman yang bernuansa hijau, namun kini tertutupi dengan salju.
Sebuah spanduk besar yang terletak di antara kedua pilar gerbang.
Di atas tumpukkan salju, warna yang hampir menyamai dengan rambutnya, serta iris bagaikan berlian dan juga caramel.
Setelah melewati beberapa makam yang tersusun rapi, akhirnya ia tiba di sebuah makam dimana seluruh perasaannya tumpah pada makam itu.
__ADS_1
Tertera beberapa tulisan yang asing, bahkan tidak semua orang mengetahuinya. Tahun yang begitu jauh dengan tahun yang sekarang, hal itu menandakan jika orang itu sudah lama meninggalkan dunia.
"Yo, Wonhae." Sapanya dengan tersenyum.