
"Hoaaaaam~"
"Kau mengantuk?"
"Tentu saja, meskipun disana masih sore, disini hampir tengah malam, bahkan lebih."
Suasana malam walaupun melewati tengah malam masih ramai seperti pagi hari atau sore. Jika dilihat dari sisi keindahan dan juga suasananya, Amerika jauh lebih menarik, meskipun ada beberapa negara lain yang tak kalah saing.
Mobil hitam itu berbelok tepat di samping hotel yang mereka tempati. Basement cukup ramai dengan pengendara yang keluar masuk.
Setelah memarkirkan mobil, keduanya pun lekas keluar dan memasuki hotel.
Hyunjae dapat melihat dengan jelas jika Lazel terlihat begitu kelelahan. Ia sedikit berpikir, jika saat ini dia ada di negara mereka, apa mungkin Lazel akan melakukan hal yang sama? Jika iya mengapa dirinya begitu kelelahan?
Setibanya mereka di depan kamar wanita berjas merah itu menoleh, "apa kau tidak memesan kamar yang lain?" Tatapannya terlihat begitu kelelahan.
Alis pria itu bertaut, "maksudmu?"
"Kau tidak berencana satu kamar denganku bukan? Lagipula bukankah kau selalu-"
"Untuk saat ini tidak," tangannya mengusap ke belakang kepala. "Aku khawatir jika Ibu akan kembali menghungi kita berdua dan bertanya mengenai satu sama lain." Jelasnya.
"Jadi? Apa kau akan berbagi kamar denganku?"
"Jika iya kenapa?" Ia melihat wajah Lazel yang memasang penghalang untuk dirinya sendiri, "dan mengapa kau memasang wajah yang mengesalkan." Sambungnya.
"Ah~ sebenarnya-"
"L-Lazel, hidungmu berdarah!" Ucap Hyunjae dengan ekspresi sangat terkejut.
"Huh?" Tangan kanannya memegang rongga hidungnya dan melihat darah segar yang mengalir dari sana. "K-Kenapa..."
"!!!!"
Hyunjae menggenggam lengan wanita itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
Ia membawa Lazel ke sofa dan membiarkannya duduk untuk sementara sedangkan dirinya mencari tisu dan juga air hangat.
Sedangkan Lazel menatap dirinya bingung, pekerjaan terkadang selalu mengejar dirinya dan menyeret dirinya, namun hal seperti ini tidak pernah terjadi. Kini bukan hanya tangan kanannya saja, tangan kirinya bahkan pakaiannya juga terkena tetesan darah.
Hyunjae tiba dengan beberapa kain dan tisu di tangannya. Ia duduk di sebelah Lazel dan memengang kepalanya perlahan lalu memberinya arahan, "angkat kepalamu." Ujarnya.
"Huh? Tapi-"
"Bisakah kau mendengarkanku kali ini?"
"..............." pada akhirnya ia menuruti perkataan Hyunjae.
Bahkan Lazel terkejut jika pria berkacamata itu mengusap darah yang ada di hidungnya mengenakan tisu sambil memegangi kepalanya yang sedang mengadah ke atas untuk menghentikan pendarahannya.
...◇• •◇...
Suara gemercik air memenuhi ruangan. Suasana yang begitu sepi, namun pemandangan kota dari jendela besar itu begitu memukau. Cahaya mereka berkelip di bawah sinar bulan dan di bawah bintang.
Selagi menunggu giliran untuk membersihkan badan, ia duduk sejenak dan menstabilkan dirinya. Beberapa saat sebelumnya ia mengalami pendarahan dari hidungnya, setelah mendapatkan bantuan dari Hyunjae semuanya menjadi membaik. Bahkan mereka tidak sempat memanggil Dokter, namun pria itu yang turun tangan secara langsung.
"Jarak negara kami dengan Amerika tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat. Tapi mengapa disana selalu hujan dan disini cerah?" Pikirnya.
"Disini cuacanya cukup bagus, walaupun aku tidak pernah bertahan lama disini."
"Tentu saja! Aku lebih memilih disana dibandingkan di sini!"
"????"
Begitu ributnya berdebat dengan pikiran, sehingga dirinya tidak menyadari jika seseorang telah berada di belakangnya dan meratapi tingkah lakunya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
Wanita yang masih duduk di tempat yang sama dengan kemeja hitam itu baru saja menoleh, "kau sudah selesai rupanya." Ujarnya yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Oh~ aku paham," pria berambut hitam dengan bagian ujung yang masih terlihat basah dengan tetesan air itu mendekat. "Apa kau kesal karena tidak bisa berdebat denganku? Oleh karena itu kau berdebat dengan pikiranmu sendiri."
Kedua irisnya berdelik dan menatap sombong ke arah Hyunjae, "yaa~ aku sangat kesal, sehingga ini melemparmu dari sana." Tunjuknya pada sebuah jendela yang besar.
"Hm~ apa kau tidak takut mengenai pidana?" Wajahnya saat ini benar-benar menggoda.
Ia tersenyum miris, "dan apakah kau tidak malu hanya mengenakan handuk di hadapanku?"
"Malu?" Tubuh kekar itu semakin mendekat dan membuat punggung wanita itu menghimpit dinding, "pada Istriku sendiri? Pantaskah aku malu?"
"Istri?" Wanita itu bukannya merasakan sensasi yang lain, justru dirinya mengeluarkan seringainya, "waah~ aku terkejut-"
"Hidungmu berdarah lagi." Sela Hyunjae yang menunjuk pada hidung Lazel.
"Heh?" Tangannya kini meraba di tempat yang sama seperti tadi. "L-Lagi?! Ada apa sebenarnya ini." Kejutnya.
"Hm~" tatapan pria itu menatap Lazel dengan ekspresi langka. Ia tersenyum miring. "Kau memikirkan hal nakal mengenai diriku-"
Buagh!
"Ack!"
Kepalan mendarat dengan perfect ke arah perutnya yang berotot.
Wanita dengan rambut perak yang terkepang itu berlari dari hadapan Hyunjae, "dasar! Bodoh!" Tuturnya.
"Hahahaha~" tawa Hyunjae.
...◇• •◇...
Ruangan itu gelap, dan yang menemani hanyalah cahaya dari kota dan langit biru malam.
"Terima kasih Byul, aku berhutang budi padamu." Ucap Lazel yang terdengar lega akan sesuatu.
Ia terduduk di sebuah sofa mungil, "ya, mungkin kali ini akan sedikit lama."
^^^"..............."^^^
"Belum semuanya selesai, bahkan ini belum disebut sebagai permulaan."
Ia menghubungi Byul di malam hari, untuk menanyakan perihal keadaan Karyawannya termasuk Asistennya sendiri.
Di sela-sela perbincangannya dengan Byul, seseorang terbangun karena ocehannya itu.
Hyunjae meraba sisi ranjang di sebelahnya dan menyadari jika tidak ada orang lain selain dirinya, "di mana gadis mata uang itu?" Ia pun terbangun dan memperhatikan sekitar.
Pada akhirnya ia beranjak dan memperbaiki ikatan piyama hitam yang dirinya kenakan.
Sosok wanita dengan iris pink caramel tengah menatap pemandangan kota sambil menempelkan ponselnya di telinganya.
Awalnya ia ingin mengganggu, tapi melihat keadaan seperti itu, ia lebih yakin jika orang yang sedang dalam panggilan itu begitu penting baginya, sehingga meluangkan waktu di tengah malam hanya untuk menelpon.
"Haha~ tenang saja Byul, aku baik-baik saja. Jika usai pekerjaan kalian, segeralah pulang, kalian pasti lelah." Ujar Lazel.
"Byul? Asistennya bukan?" Kedua tangannya yang terlipat ia turunkan, "dia membahas pekerjaan disaat sperti ini?! Apa wanita ini waras?" Pikirnya.
Mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya, ia menjadi sedikit prihatin dan juga khawatir.
Pria itu mendekat tanpa membuat suara, tubuh besar dan tinggi itu sangat kentara untuk dilihat melalui piyama hitam yang berkain tipis.
Tap!
__ADS_1
Tangan kanannya yang besar ia letakkan di atas kepala Lazel.
Secara otomatis wanita beriris pink itu terkejut dan langsung menoleh, "H-Hyunjae, kau mengejutkanku." Ucap Lazel sembari memegang dadanya.
"U-Um... kita lanjutkan besok, sampai jumpa." Ucapnya pada ponselnya yang masih terhubung.
"Jadi... apa yang kau lakukan disini?" Tanya Lazel dan menyingkirkan tangan itu dari kepalanya.
"Istirahatlah." Ujar Hyunjae yang membalas tatapan dingin Lazel pada dirinya.
"Bisakah kau urus dirimu sendiri? Daripa-" ucapannya terputus. "H-Hei! Apa yang kau lakukan?!"
Dengan mudahnya Hyunjae membawa tubuh Lazel di pundaknya dan membawanya ke atas ranjang.
"Bajing*n ini! Turunkan aku sialan!" Ucap Lazel yang memukuli tubuh pria itu.
Hasilnya tentu saja mustahil, meskipun ada perempuan seliar Lazel, namun ia masih bisa dibilang mustahil untuk menyetarakan kekuatannya dengan Hyunjae yang memiliki tubuh tiga kali lebih besar darinya.
Sepertinya memang mustahil untuk dilakukan oleh Lazel.
Saat tiba di atas ranjang, Hyunjae menghempaskanya begitu saja, namun wanita itu mulai bergerak dan ingin melarikan diri.
Dengan satu lengan yang besar, ia berhasil menangkap Lazel dan memaksanya untuk tidur dan menahan tubuhnya menggunakan tangannya sendiri dalam posisi memeluk tubuh wanita berambut perak itu.
"Tidur denganmu?! Satu ranjang?! Tidak tidak, aku tidak mau!" Tubuhnya terus meronta dan menolak tindakan Hyunjae padanya.
"Diam dan tidurlah, aku tidak ingin terlibat dalam masalahmu." Ujar Hyunjae yang memeluk Lazel ke dalam dekapannya tepat di depan dadanya.
"Aku tidak peduli! Lepaskan dasar bang-"
"Ingin berkata kasar lagi?"
"Memangnya kenapa baji-"
"Aku akan menciummu jika mengatakannya." Ancaman Hyunjae membuat Lazel kehilangan pikirannya.
"H-Huh? Coba saja jika berani." Ia mencoba tegar dan berani.
Hyunjae membangkitkan kepalanya dan menatap Lazel yang berada di bawahnya, "oh, kau ingin?" Wajahnya sudah siaga untuk mendaratkan sesuatu.
"..............." Lazel tak melakukan apapun atau membalas apapun yang Hyunjae katakan pada dirinya, ia lebih memilih untuk diam dan membiarkan kondisi mereka seperti itu.
"Hm~ anak baik." Pujinya yang lebih mendekatkan tubuhnya pada Lazel.
"Kenapa kau mendekat ba-Hyunjae."
Kedua matanya menyipit, "hm~ dia ingin berkata kasar lagi~" batinnya. "Kau hangat, dan juga wangi, setidaknya aku mendapatkan imbalan selagi menjagamu agar tidak lari."
"Aku tidak akan lari!"
"Benarkah~ kita tidak akan tahu."
"Bajing*n keparat ini!!!" Batinnya saat ini benar-benar kesal.
Mau tak mau mereka akan tidur dalam posisi seperti itu. Hyunjae bukanlah manusia yang tanpa perasaan, ia memang lebih mendekatkan dirinya pada Lazel, namun tetap memberinya ruang untuk bernapas. Bahkan tangannya yang lain ia letakkan di bawah kepala Lazel.
Di bawah atap yang sama, di atas ranjang yang sama serta memiliki masalah yang sama. Keduanya melakukan hal yang sangat sederhana untuk dilakukan Pasangan Suami Istri, namun bagi mereka ini adalah pertama kali untuk dilakukan.
Setelah berdebat dengan Hyunjae, kedua matanya pun terpejam. Hyunjae pun dapat merasakannya dari tubuh yang ia peluk mulai lemas dan mengeluarkan nafas yang hangat dan pelan.
Untuk memastikannya, Hyunjae menundukkan wajahnya, "apa dia sudah tertidur?" Tangannya menyentuh wajah putih pucat itu sambil mencubit pipinya pelan. "Dia langsung tertidur?! Secepat ini?!"
Tatapannya beralih pada hal lain, "lihatlah kedua alisnya. Baru pertama kali aku melihatnya tanpa lekukan ke bawah seperti wanita emosian." Tawanya pelan.
Untuk berjaga-jaga, ia tidak melepaskan pelukannya dari Lazel dan membiarkannya hingga pagi tiba. Lagipula, posisi seperti itu tidak begitu buruk baginya.
__ADS_1
Melihat Lazel yang sudah tidur dengan tenang, akhirnya ia bisa mengistirahatkan serta memejamkan kedua matanya, lalu tertidur lelap di atas ranjang bernuansa putih.