
"Huft... " tangannya mengelus pelan perutnya yang sudah terpenuhi dengan nafsunya. "Untung saja gaun ini tidak memiliki karet di bagian perut, kalau tidak..." bahkan ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Pria yang berjalan di sampingnya tertawa melihat tingkah Lazel yang begitu kekanak-kanakan. Dari cara berjalannya saja sudah sangat lucu.
"Pfft!" Egis tak mampu menahan tawanya.
Lazel menoleh dan merasakan sesuatu yang mencurigakan, "huh?? Apa yang sedang kau tertawakan?"
"Dari cara berjalanmu, kau seperti wanita yang sedang hamil." Ejek Egis.
"Haaah? Apa-apaan itu?!" Tukas Lazel dengan amarah.
Dari sisi pandang pria itu dan Lazel, mereka berdua menganggapnya sebagai bahan candaan. Tapi pembicaraan mereka mulai terpatok pada sebuah titik.
Menyantap ramen di malam hari akhirnya usai, mereka tidak memperdulikan masalah berat badan atau hal lainnya, selagi apa yang menjadi hobi mereka masih bisa di nikmati.
Keduanya pun memasuki mobil berwarna kuning itu.
Egis meraih seat belt, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya, "aku masih tidak menyangka."
"Hm? Tentang apa?" Tanya wanita itu.
"Apa kau masih belum memiliki anak? Dan lagi... keluar dengan pria asing seperti ku, apalagi kau sudah memiliki seorang Su-"
"Aku adalah wanita asing? Tapi kau memperlakukan diriku dengan baik," sela Lazel yang dapat menangani situasi dengan baik. "Kau sudah tahu tindakanku pada orang yang tidak jelas mengenai asal-usulnya." Ia berbicara sambil mengangkat tangan kanannya dan mengepalnya sekuat tenaga.
Egis mengangguk paham, lalu kembali bertanya, "Ah~ satu la-"
"Anak?" Wanita itu seolah-olah tahu apa yang akan ditanyakan Egis padanya.
"..............."
Tangannya memperbaiki jas yang ia kenakan dari pemberian Hyunjae, "aku belum memikirkannya, lagipula kami berdua sama-sama memiliki kesibukan yang padat." Jelasnya tanpa ekspresi.
Egis sudah mendapatkan apapun yang ia tanyakan. Dan mungkin bagi dirinya langkah ini cukup ekstrim, sehingga dirinya berani untuk menanyakan sesuatu yang bersifat privasi.
Ia juga sangat mengetahui wajah dibalik senyumannya yang tajam dan terlihat seperti meremehkan orang lain. Oleh karena itu Egis tidak membuka mulut lagi dan segera mengantar Lazel kembali.
...◇• •◇...
Setelah hampir setengah jam, akhirnya mereka tiba di sebuah kediaman yang mewah. Dimana sebuah tembok besar dan berpagar mengelilingi kedua villa tersebut.
"Kupikir kau akan teridur." Ujar Egis yang ikut keluar dari mobilnya.
Lazel menggeleng pelan, "tidak mungkin, aku pernah kembali ke rumah saat subuh, jadi hal ini sudah biasa."
"W-Wah."
"Ngomong-ngomong, mengapa kau ikut keluar?"
"B-Bukankah tidak sopan jika hanya mengucapkan salam dari dalam mobil, tidak salah juga kan aku keluar." Ujar Egis yang sedikit ling lung karena tindakannya.
Wanita bergaun merah itu berpikir sejenak, "hm... aku tidak pernah mendengarnya, tapi itu tidak buruk." Tukasnya sambil tersenyum.
Lazel meninggalkan Egis dan berjalan menuju villanya.
"Haha~ meskipun selalu melihat dirimu mengenakan jas dan juga celana, namun malam ini kau terlihat berbeda, kau seperti perempuan pada umumnya tapi memiliki karateristik yang berbeda." Pria beriris cokelat itu memberanikan dirinya untuk memuji Bosnya.
Kedua langkahnya terhenti saat ingin melangkahi garis gerbang.
Wanita berambut perak itu sedikit menoleh, kupu-kupu yang masih terhias di bagian belakang begitu terlihat lebih cantik.
"Ku anggap itu sebagai pujian," ucapnya lalu kembali melanjutkan jalannya. "Selamat malam~"
"H-Haha~"
Selepas kepergian Lazel dari hadapannya, wajahnya kembali memperlihatkan sosok yang sedih, kedua alisnya terlihat datar, kedua matanya menatap ke arah depan dengan sendu.
Di sisi lain, Lazel baru saja tiba di larut malam, dan seketika pikirannya mengingat sesuatu. "Mobil Egis... kurasa aku pernah melihatnya, tapi dimana?"
...◇• •◇...
Mobil mewah dengan edisi terbatas itu baru saja tiba di sebuah rumah mewah yang tidak bedanya dengan kedua villa milik Lazel maupun Hyunjae. Perbedaan dari keduanya hanyalah tata letak yang terpisah, sedangnya yang ada di hadapannya itu sangat besar dan memiliki halaman yang amat luas. Air mancur dengan lampu-lampu putih menghiasi sekitarnya.
Terlihat dari gesekan bannya dan juga semen, semua Pelayan yang menunggu kehadiran Tuan Muda mereka sudah menduga bahwa Tuan mereka mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Pintu mobil itu terbuka, lalu seseorang yang tidak asing keluar dari mobil tersebut dengan keadaan yang masih terlihat rapi.
Tatapannya juga sangat ramah, namun mulutnya selalu terbungkam.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan..."
...◇• •◇...
"WAAAAAA!!!"
"A-Ada apa Nona?!" Teriakan dari Majikan mereka membuat beberapa pelayan berlarian dan memeriksa apa yang terjadi.
Mereka melihat wanita yang berpenampilan biasa sedang terlihat sangat depresi akan suatu hal, "a-aku lupa menceritakan sesuatu pada Egis mengenai pria bertopeng!!" Teriaknya dengan heboh.
"????"
...◇• •◇...
Langit kembali gelap, namun tidak ada pertanda jika hujan akan turun. Mungkin beberapa saat lagi rintikkan itu akan membiat basah keseluruhan kota.
Di pagi hari, kesibukkannya pun kembali. Meskipun tidak mendapatkan tidur yang cukup, setidaknya ia dapat bergerak dan pergi menuju kantor.
Yana dan pelayan lainnya sedang membersihkan rumah. Kepala Pelayan itu tengah membersihkan balkon kamar Majikannya lalu melihat Tuan Mudanya dan mobil merah khas milik Lazel saling melewati satu sama lain tanpa bersapa.
Kedua tangannya menggenggam lemah pagar yang ada di hadapannya sambil menatap keduanya dengan sedih.
Malam sebelumnya...
"Nonaa~ selamat datang kembali~" sapa Yana yang melepaskan jas itu dari pundaknya.
"Yana, siapkan air hangat untukku." Titah Lazel.
"Baik!" Ia pun kembali bertanya, "apakah Tuan Muda Hyunjae sangat menikmati waktu dengan An-"
"Jangan bercanda, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang merepotkan seperti itu." Setelah mengatakan sesuatu yang begitu singkat, wanita dengan iris pink itu segera menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Sedangkan Yana berdiri sambil memasang wajah bingung, "huh?"
Setelah mengingat kejadian malam itu, Yana merasa jika semuanya berjalan lancar, dengan menggunakan akting seperti biasa. Lagipula dirinya tidak mendengar suara Hyunjae saat bersamaan dengan Nonanya.
"Sampai kapan mereka akan seperti ini..." keluhnya.
...◇• •◇...
"Apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Byul yang melihat Bosnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya, Tuan baru saja menelpon perusahaan untuk bertanya mengenai kedatangan Anda."
"Tinggalkan aku sebentar."
"Baik Nona."
Rambut perak itu ia satukan ke belakang dan menghempaskannya begitu saja. Tangannya meraih ponsel yang ada di samping laptopnya, dan memeriksa sesuatu mengenai penerbangan
"Huft... sangat mendadak."
...◇• •◇...
"Oh, aku juga."
"Nani?"
"Mengapa kau terkejut?"
"Tentu saja bodoh! Seharusnya kau membicarakan hal ini terlebih dahulu denganku!" Bentaknya.
"Bukankah aku sudah menghubungi perusahaanmu untuk menyiapkan dua tiket?"
"Yaa tapi-"
Telunjuknya menempel pada mulut Istrinya, "shut! Mulutmu bau." Ujarnya.
"Dasar brengs*k!"
Hyunjae baru saja tiba di perusahaan Lazel, dan memberitahukan sesuatu mengenai mereka berdua.
"Jadi... apa kau sudah mendapatkan Pilotnya?" Tanya Lazel sambil meminum cokelat hangatnya.
"Sudah tapi yang lebih ku khawatirkan adalah dirimu." Ucapnya.
Sepertinya ia baru saja mengucapkan sesuatu yang salah di mata wanita itu, karena saat ini Lazel menutupi dirinya sendiri sambil menatap jijik ke arahnya.
Tentu saja membuat Hyunjae kesal dan hampir membuang minuman yang ada di hadapan Lazel, "hei, ekspresi macam apa itu?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, dan tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang bukan urusanmu." Kini pembicaraan mereka hampir memotong satu pohon dengan satu tebasam.
Wajahnya menyeringai, "huh? Bagaimana kau begitu yakin?"
"????" Kedua irisnya seketika menatap Hyunjae dengan fokus.
"Bukankah hanya satu malam dirimu akan tetap kelelahan?" Ujar pria berjaket hitam dengan kalung salib yang terletak di luar.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Lazel dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Haha~ jangan pikir aku tidak mengetahuinya." Ujar Hyunjae yang semakin membuat wanita yang ada di hadapannya semakin menatap dirinya dengan sorot yang bukan biasa.
Wajahnya menemukan celah mengenai ucapan Hyunjae padanya, "jadi dia melihatku tadi malam." Pikirnya santai.
"Aku tahu ini bukan urusanku, tapi bukankah hari ini-"
"Teima kasih atas pujiannya." Selanya sambil tersenyum dengan ekspresi dingin.
Kedua alisnya bertaut, "pujian? Apa aku baru saja memujinya?" Bingung Hyunjae.
Wanita berjas hitam itu berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Hyunjae, "hal itu membuktikan, jika diriku memiliki banyak tenaga, sehingga dapat merobek mulut seseorang dengan satu tangan." Ucapnya lalu meninggalkan Hyunjae seorang diri.
...◇• •◇...
BRUAK!
"??!!"
"Ehh? Apakah pintu ini rusak?" Ucapnya santai yang menatap pintu ruangannya sendiri.
Bantingan pintu kaca membuat seluruh pegawainya terkejut. Seluruh orang dapat mengetahui jika baru saja Bos mereka menggenggam ganggang pintu ruangannya sendiri sehingga membuat pintu itu rusak seketika.
Byul langsung menghampiri Lazel dan menjauhkan Bosnya dari tempat itu, "Nona! Berhati-hatilah, mungkin saja serpihannya dapat melukai Anda."
"Panggil petugas segera!" Titah Byul pada pegawai yang ada di sekitarnya.
"Baik!"
Dengan santai, ia melanjutkan pekerjaannya seperti tidak terjadi apapun.
Byul yang berdiri di sampingnya menatap khawatir pada Lazel. Bisa saja jika pintu tersebut akan rubuh dan mengenai Bosnya.
...◇• •◇...
"A-Apa?!"
"Ya, aku melihatnya, pegawai lainnya juga. Tenaga Bos begitu mengerikan."
Egis didatangi oleh Vicy dan mengulangi cerita yang Nona Direktur lakukan.
Vicy memberitahukan pada Egis mengenai kejadian saat berada di kantor, dimana kericuhan terjadi karena tindakan dari Bos mereka.
"Suaranya begitu kuat, aku juga tidak menyangka jika pintu itu bisa mengalami kerusakan separah itu." Ujar Vicy.
Egis terdiam sambil menyimak ucapan Vicy yang bercerita mengenai Lazel, meskipun dirinya sudah mengetahui bagaimana kepribadian dari Bosnya.
Tapi sedikit membingungkan, saat mengetahui kerusakan pada pintu, dan yang mengalaminya adalah Bosnya sendiri.
"T-Tunggu dulu!" Di tengah-tengah pergosipan hangat mereka, seketika Egis mengingat sesuatu.
"Huh? Apa apa?"
...◇• •◇...
Ia melihat dari kejauhan jika wanita yang sering dekat dengannya saat ini sedang berjalan mendekati mobil merahnya.
"..............." sepertinya niat untuk menghibur sama sekali tidak tercapai, melihat situasinya
tidak begitu memungkinkan. "Pulang secepat ini?"
Keadaannya juga masih membingungkan dan menimbulkan banyak pertanyaan di kepalanya.
Tubuhnya berdiri menyandar pada sebuah tembok yang ada di sampingnya, serta kedua tangan yang melipat di depan dada, "haah~ lebih baik ku biarkan untuk sementara."
...◇• •◇...
Tangan kanan yang memegang stir dengan kuat, serta tangan kiri memegang ponsel yang sedang melekat dengan telinganya.
Ia mempercepat gasnya dengan dorongan kaki, "aku dalam perjalanan."
__ADS_1