Lost Feeling

Lost Feeling
Black Butterfly?


__ADS_3

Bukan hanya dirinya saja, wanita itu juga terlihat kelelahan setelah berlari menelusuri seluruh ruangan tersebut.


Di dalam Ruang Tengah terdapat dua sisi tangga yang menuju lantai dua. Yang terletak di bagian kanan dan juga kiri, selain itu mereka memiliki bentuk lengkung yang saling berhadapan.


Ia bisa saja terus berlari menghindari pria itu dengan melewati sisi tangga lainnya. Namun entah sampai kapan dirinya akan bertahan dengan permainan melelahkan itu.


Ia berpikir mengenai hal ke depannya, setelah membutuhkan beberapa detik untuk berpikir, akhirnya wanita itu melepaskan ramen tersebut dari tangannya dan meletakkannya di sampinngnya, "baiklah, aku menyerah." Ujarnya dengan hembusan nafas.


"????"


"Aku tidak sanggup melakukan permainan konyol ini." Perlahan ia menuruni anak tangga dengan memegangi handrail tangga sepanjang langkahnya.


Lazel sudah tidak memperdulikan perihal ramen, oleh karena itu dengan santainya ia turun tanpa waspada terhadap Hyunjae yang hampir ia lewati.


Ramen terlihat sendiri karena ditinggal oleh Lazel.


"Ambil se-"


Tubuhnya seketika tertarik oleh sebuah tangan yang langsung mendekap pinggangnya.


Wajahnya tersenyum, "tertangkap~" ujar Hyunjae yang mengurung Lazel pada sebuah pilar yang terletak di bagian tangga.


Kedua tangannya menempel di samping kepala Lazel dan memberikan ruang yang sempit agar wanita itu tidak bisa melepaskan diri darinya.


Wanita itu memperlihatkan urat-urat kesalnya, "apa lagi yang akan kau lakukan?" Tanya Lazel yang kembali merasa ingin menghajar pria itu.


"Hm? Bukankah aku sedang menangkapmu?" Ucapnya dari jarak yang cukup dekat.


"Buat apaa?? Bukankah aku sudah meletakkan ramen itu disana?" Ujarnya dengan emosi sambil menunjuk ramen yang menyendiri.


"Aku hanya ingin mencoba."


Alisnya bertaut, "mencoba?"


"Mencoba untuk menangkap kupu-kupu yang terus terbang menghindariku," pria itu terus berbicara dalam kondisi yang berantakan. "Pada akhirnya aku bisa menangkap kupu-kupu yang sulit dicari." Kekehnya.


"Dia mengingat ucapanku saat berada di Rumah Kaca?" Lazel tidak menyangka jika Hyunjae akan mengucapkan kalimat itu sebagai alasan. Tapi, ia berpikir pernyataan dari Hyunjae mungkin sedikit keliru.


Oleh karen itu dirinya akan memberikan sedikit kebenaran.


Kakinya berdiri dengan menyilang, tangan kirinya menggantung pada lengan besar yang berada di samping wajahnya.


Kedua pipinya mengembang karena senyuman cantiknya, "jadi kau berpikir jika aku mudah untuk ditemukan dan juga ditangkap?" Tanya Lazel yang menatap kedua iris abu-abu itu dengan iris pinknya.


"Hm? Tentu saja." Jawab Hyunjae dengan kedua matanya yang membulat.


"Haha~ bahkan aku belum menyebut ini sebagai hal yang serius, ini hanyalah sebuah permainan," ujar Lazel yang memperlihatkan sorot merendah. "Mungkin suatu saat nanti kau harus mencobanya dengan serius." Lanjutnya dengan menyeringai.


"..............."


...◇• •◇...


Serangga kecil, yang tumbuh dari sebuah kepompong. Kedua sayapnya terlihat sangat indah dan juga unik, siapapun pasti akan sedikit tertegun dengan corak yang mereka miliki.


Tetapi... jika sebuah kupu-kupu terbang menjauh dan menghilang begitu saja, mustahil akan mendapatkannya lagi. Meskipun beribu-ribu banyaknya serangga kecil cantik itu, hal yang serupa tidak bisa ditemukan.


Perkataannya mungkin begitu ringan dan tidak perlu dianggap serius, namun sorot dari wajahnya terlihat begitu kuat, sehingga untuk menolak atau mengabaikannya sedikit sulit.


"..............."


Kaos hitam yang ketat dan kedua lengan yang besar masih berada di tempatnya.


Tatapan mereka masih terus mendalami satu sama lain. Sehingga membuat salah satu dari mereka berdua semakin kesal.


"Sampai kapan kau akan mengurungku hah?" Tanya Lazel yang merasa pegal pada kedua kakinya.

__ADS_1


Hyunjae memperhatikan sekitar wajah dari Lazel, "hm... rasanya menyenangkan melihat wajah pucatmu itu dari dekat." Ujarnya yang diiringi dengan ejekan.


"Pergi sebelum aku menendangmu." Ucapnya kesal.


Mendengar ancaman dari Lazel membuat dirinya kembali bersemangat untuk mengerjai wanita itu, "apa kau bisa melakukannya?" Hyunjae menunjukkan ekspresi yang menerima tantangan dari Istrinya.


"..............." wajah datarnya menatap Hyunjae yang terus meremehkan dirinya, ia mengambil ancang-ancang lalu,


DUAK!


Sebuah lutut mendarat di sebuah tempat yang semestinya harus dijaga.


...◇• •◇...


Ia duduk dengan manis, "apa aku boleh makan lagi? Ian tidak akan mengomeli diriku kan?"


Saat ini wanita berambut perak itu tengah kembali ke depan meja yang terletak di Ruang Tengah dan mulai bingung dengan makanan yang ada di hadapannya.


Sedangkan pria bertubuh besar itu masih berada di depan pilar sambil berlutut serta menahan sesuatu yang terletak di bagian tubuhnya karena baru saja terkena serangan maut.


Kedua tatapannya menoleh ke belakang dan memperhatikan wanita berpita kupu-kupu, "w-wanita itu memang mengerikan." Seharusnya ia kesal, namun karena rasa sakit yang begitu luar biasa, dirinya tidak bisa mengekspresikan emosi di wajahnya.


Ramen yang berada di tengah anak tangga seketika hilang dan kembali pada genggaman Lazel yang kini sudah siap untuk disantap.


Ia melihat Hyunjae yang melewati dirinya," "hm? Mau kemana kau?" Tanya Lazel yang selesai mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Hyunjae meraih jaketnya yang berada di belakang sofa lalu melirik tajam ke arah Lazel, "jarang sekali kau bertanya mengenai tujuanku."


"Aku hanya ingin meminta bantuan darimu untuk mengambilkan minum." Ujarnya dengan wajah tak berdosa.


"Aku akan mandi." Ucap Hyunjae lalu bergegas pergi dari sana.


"Cih! Kupikir dia akan pergi ke dapur." Tukasnya.


...◇• •◇...


Suara lonceng mendekati dirinya, dan ia tahu siapa makhluk-makhluk itu.


Ia menatap ke atas ranjang dan melihat Gilver yang bermain serta Cherry yang bergulin-guling di hadapannya, "mereka keluar?"


Kini yang terakhir adalah Hyunjae, pria itu baru saja memasuki kamar setelah dua makhluk berbulu itu, "aku baru saja memberikan mereka makan, jadi-" ucapannya seketika terhenti dan melihat keadaan Lazel yang membuatnya tak habis pikir.


"Apa kau mengandung bola bulu?" Tanya Hyunjae yang melihat Lazel tengah terduduk lemah di atas sofa dengan perut bundarnya.


"Diamlah sebelum aku melemparmu." Ucapnya dengan tatapan tajam.


Makan malam yang dia lakukan sedikit berlebihan, sehingga membuatnya kekenyangan.


Hyunjae langsung melompat ke atas ranjang dan bermain dengan Gilver dan mencoba untuk memberikan ciumannya pada kucing gemuk itu.


"Sepertinya dia menyukai kucing. Aku bisa melihat tingkah lakunya saat bermain dengan kucing." Batinnya yang memperhatikan keasikan Hyunjae dan Gilver.


Drrt!


"Lazel, ponselmu berdering." Ujar pria berjaket hijau yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Aku tidak sanggup berdiri, bisakah kau mengambilkannya?" Keluhnya.


Tangannya pun beralih pada sebuah meja yang berada di dekat ranjang lalu mengambil ponsel putih itu.


Ia memperhatikan layar ponsel, "Byul." Ucapnya.


"Angkat."


Ponsel itu menempel pada telinganya, "ya?"

__ADS_1


^^^"..............."^^^


"Ah~ ya, ini aku," Hyunjae tak menyangka jika bawahan Lazel akan terkejut saat mendengar suaranya. "Lazel? Dia ada bersamaku, apa ada yang ingin kau sampaikan?"


Pria itu mendengarkan apa yang ingin dikatakan Asisten Lazel padanya, ia juga memperhatikan Istrinya yang semakin bertingkah semakin liar.


"Huh? Siapa itu?"  Ia baru saja mendengar kalimat yang asing.


Di sela-sela panggilan, Lazel sedang bermain dengan Cherry. Bermain dengan kucing tidak begitu mengesankan, mereka hanyalah hewan bertubuh sedang dan memiliki bulu lebat serta wajah bulat seperti bola.


Semua itu terlintas di pikirannya, salah satunya adalah, apa yang menyenangkan dari kucing?


Hyunjae bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati Lazel yang tengah duduk santai bersama Cherry, "Byul ingin mengajakmu untuk pergi bersama ke sebuah restoran di esok hari." Ucapnya sambil menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.


"Whoaa~ aku tidak menyangka jika Byul akan memikirkan hal ini." Ujar Lazel yang merasa senang dengan ajakan itu.


"Dan... itu adalah rekomendasi dari Egis." Ucapnya lagi yang belum selesai dengan perkataannya.


...◇• •◇...


Awalnya ia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi siapa sangka jika Byul akan membawa nama Egis dalam hal ini. "Anak itu... kupikir dia hanya memikirkan makanan untuk dirinya saja." Pikirnya.


"Egis? Siapa dia?" Tanya Hyunjae yang masih berdiri di hadapannya.


"Salah satu karyawanku." Jawabnya dengan singkat tanpa memandang wajahnya pada Hyunjae.


Sepertinya sebuah masalah kini kembali hadir dan membuat keduanya berdebat.


"Baru ku dengar jika bawahan bisa sedekat itu dengan Bosnya." Kekehnya.


"Apa kami terlihat dekat?" Ia mengangkat pandangannya pada Hyunjae, "kau tidak mengetahui apapun, jadi berusahalah untuk tidak ikut campur dalam hal apapun yang bersangkutan dengan diriku."


Kedua tangannya terlipat, "ho~ sepertinya aku tahu. Apakah dia adalah salah satu pria mu?"


"..............."


"Aku penasaran, memangnya sehebat apa dia di atas ranjang?"


"Jaga ucapanmu," kini ia berdiri dari duduknya dan menatap kedua mata Hyunjae dengan alis yang berkerut. "Aku tidak peduli ucapanmu mengenai diriku, tapi aku tidak bisa menerima jika kau melakukannya pada orang lain."


Baru saja kesenangan mengiringi mereka, kini masalah yang selalu sama kembali datang dan membuat keduanya mulai berselisih.


Tangannya mulai mengetik sesuatu di ponselnya lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Byul?" Kakinya melangkah mendekat jendela dan menatapi pemandangan salju di malam hari.


^^^".............."^^^


"Ya, aku baik-baik saja. Besok aku akan ikut bergabung, tapi jangan beritahu mengenai keputusanku pada Egis."


Setelah melakukan panggilan dengan Byul, ia berbalik dan menemui Hyunjae yang masih berada di tempatnya.


"Ayolah~ apa yang sedang kau pikirkan?"


"Kau selalu bersikap begitu suci dan juga keras kepala, tanpa tahu kau memiliki sifat yang lain."


Tangan kirinya memijat keningnya, "tolong... aku tidak ingin membahasnya lagi," keluh Lazel. "Bukankah kau tidak berhak tahu mengenai apapun yang ku lakukan? Jadi diamlah." Ia meninggalkan Hyunjae dan tidak ingin meneruskan permasalahan itu.


Dress hitam bagian belakang itu menyeret lantai mengikuti langkah kakinya.


"Kau sangat hebat Lazel." Puji Hyunjae pada Lazel.


Kedua kakinya yang melangkah pun berhenti, "Hyunjae, biar kuberi satu kemudahan untukmu," wanita berambut perak itu kembali menoleh dan menatap Hyunjae dari beberapa jarak. "Jika kau bisa bersenang-senang? Mengapa aku tidak bisa?" Ucapnya dengan wajah meremehkan.


Kata-kata yang pernah terucap, kini terdengar lagi.

__ADS_1


__ADS_2