Lost Feeling

Lost Feeling
Swimming Pool


__ADS_3

"Tidak mau." Jawabnya enteng.


Tawaran yang telah dibuat oleh Hyunjae mendapatkan tolakan mentah begitu saja. Seolah-olah wanita bermata sinis itu tidak mau membuat dirinya merasa lelah.


Hyunjae yang masih merebahkan tubuhnya menatap Lazel dengan tatapan biasa,  "oh, aku ingat. Kau tidak bisa berenang bu-"


Brak!


Bantal berbentuk segi empat dengan warna putih itu baru saja mengenai wajahnya dengan tepat sasaran.


"Aku akan membersihkan rumah. Jadi pergi saja sendiri." Ujar Lazel yang meraih setumpuk rambutnya dan menjadikannya satu ikatan yang cantik.


"Ck! Kau tidak seru." Tutur Hyunjae yang meninggalkan rumah Lazel dan beralih pada rumahnya sendiri.


"Apa peduliku sialan!"  Jawabnya dalam hati.


...◇• •◇...


Di antara kedua Villa itu memiliki salah satu kolam renang yang besar. Dan yang memilikinya adalah Hyunjae. Dapat diakui jika Lazel merupakan wanita yang hebat dan mampu melakukan segala hal, namun dirinya sangat lemah di bidang renang.


Bahkan saat melakukan renang di Rumah Utama ia hampir menghembuskan nafas terakhirnya.


Seorang wanita dengan kaos serta celana panjang itu sudah mempersiapkan segala peralatan untuk membersihkan rumah nan besar itu.


Dalam sehari tidak dapat membersihkan rumah tersebut. Oleh karena itu Lazel akan memulainya dari Ruang Utama. Dengan kekuatan yang dia miliki, ia mampu melakukannya sendiri.


"Huft... syukurlah pria itu sudah pergi." Keluhnya sambil memperhatikan sekitarnya yang terlihat sedikit berantakan.


"Ngomong-ngomong... dimana Gilver?"


...◇• •◇...


Baru saja seorang pria menggunakan kedua kakinya untuk melompat setelah melakukan ancang-ancang. Kolam dengan bentuk persegi panjang itu memantulkan dasarnya dengan warna biru berpola batu.


Dalam sekejap pria itu memunculkan dirinya dan membuat bola berbulu yang ada di atas pelampung merasa terkejut.


Tubuh kekarnya begitu terlihat luar biasa, dua pundak lebarnya dan kedua tangan besarnya yang mengusap rambut basahnya ke belakang.


Perlahan ia mendekat ke arah kucing tersebut, "hahaha! Apa kau terkejut... Gilver?"


Hyunjae memegang pelampung itu dan mengusapkan wajahnya pada bulu-bulu tebal Gilver.


"Miaaw~"


"Benar juga... hebat sekali kau tidak takut pada air." Pikirnya sambil memperhatikan kucing perak itu yang kini berusaha turun dari pelampung.


"Kau bisa berenang?" Tanya Hyunjae yang perlahan mengangkat tubuh Gilver ke atas air.


"Whoooaa!! Lazel harus melihatnya, bahkan kucing segemuk dirimu masih bisa berenang. Luar biasa." Ujar Hyunjae yang melepaskan Gilver begitu saja.


Seperti di film-film yang pernah dia lihat. Kebanyakan dari hewan kecil sepertinya bisa melakukan renang dadakan. Entah memang naluri alam mereka atau faktor lainnya. Namun saat ini Gilver terlihat luar biasa dalam renangnya, sehingga membuat sisi kanak-kanak Hyunjae terbangkitkan.


...◇• •◇...


Hari yang menurutnya begitu panas, membuatnya menghabiskan waktu di dalam kolam renang. Awalnya ia akan mengajak Lazel untuk pergi bersama, namun wanita pemarah itu menolak dengan alasan membersihkan rumah terlebih dahulu.


Membersihkan rumah sebesar itu bukanlah hal mudah, bahkan adanya pelayan pun masih membuatnya khawatir.


Lazel adalah tipe wanita yang selalu berusaha menyibukkan dirinya dalam setiap hal. Dia selalu berusaha agar apa yang terus ia pikirkan dalam sejenak berhenti.


Kedua tangannya sibuk membersihkan sebuah meja besar yang ada di ruangan tersebut. Sehingga sebuah benda membuatnya sedikit bertanya-tanya.


Kedua tangannya membuka lebar kain tersebut dan memperhatikannya, "bukankah ini pakaian Hyunjae?" Ujarnya dengan wajah yang datar.


"Pria itu! Semenjak dia berada disini, seluruh barangnya ada dimana-mana!" Ucapnya kesal.


Di tempat yang selanjutnya. Mereka selalu menyembunyikan pakaian-pakaian Hyunjae yang entah bagaimana bisa berada di sana.

__ADS_1


Sejak hari itu, Hyunjae selalu membuat dirinya tinggal bersama dengan Lazel di bawah atap yang sama. Bahkan mereka harus berbagi ranjang yang sama.


Lazel sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini selagi pria itu tidak mengganggu dirinya. Meskipun kalimat itu sudah berkali-kali terlibat dengan dirinya.


"Oh! Aku juga harus memberikan barang-barang belanjaan pada Ian." Ucapnya tiba-tiba.


"Kalau begitu... setelah membersihkan ruangan ini, aku akan pergi memberikannya."


...◇• •◇...


Sepertinya waktu telah berjalan jauh, sehingga Hyunjae tidak menyangka jika Lazel belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dinginnya air serta sejuknya udara membuat ia enggan meninggalkan kolam renang itu.


"Whooaaa!!!" Tangannya terus bertepuk saat melihat hewan kecil itu yang mampu berenang di atas air.


Gilver yang berenang ke arahnya dengan wajah lucu, kedua tangan besarnya langsung meraih kucing tersebut ke dalam pelukannya.


Beberapa trik juga sudah diberikan oleh Hyunjae. Semakin dilakukan, semakin menggila sisi kanak-kanaknya. Kebahagiaan pria itu sangat sederhana, kesukaannya pada kucing begitu terlihat. Bahkan Lazel yang merupakan pemilik dan juga orang yang sudah mau mengotori tangannya untuk membawa kucing itu tidak terlalu menyukai hewan berbulu itu.


"Mengapa Lazel tidak begitu menyukai kucing... lalu untuk apa dia merawatnya?"  Kini ia mulai mengingat sesuatu pada Lazel yang pernah mengatakan pada dirinya jika ia tidak terlalu menyukai kucing.


"????" Wajahnya berubah saat ia mulai memperkirakan alasannya, "apa ini ada hubungannya dengan Wonhae?" Gumamnya.


"Gilver, bermainlah sendiri." Ujar Hyunjae yang menurunkan kucing perak itu dari pelukannya.


Hyunjae melepaskan Gilver agar bermain sendiri, sedangkan ia akan memantau kucing itu dari jarak dekat.


Hyunjae beralih pada pinggir kolam yang terdapat tangga. Ia mendudukkan dirinya di tepi kolam tersebut dengan kedua tangan yang menyanggah ke atas.


"Wonhae... memangnya apa yang spesial dari pria itu sehingga membuat Lazel begitu menyukainya?" Ucapnya dengan wajah kesal.


"Apa dia setampan diriku?"


"Dia memiliki tubuh yang bagus melebihi tubuhku?"


"Apa dia hebat di atas ran-tidak, Lazel tidak pernah melakukan hal itu." Ucapnya dengan hati-hati.


Entah Lazel pandai menyembunyikannya atau memang dirinya tidak menyembunyikan apapun. Untuk saat ini dirinya hanya menerima serta mempercayai Lazel dengan apa yang dirinya lihat.


Tapi... setelah kemunculan Wonhae yang tidak diketahuinya. Entah mengapa dirinya selalu merasa kesal. Bahkan ingin benar-benar membuang pria itu sejauh mungkin.


"Haaah~ sangat sulit memahami apa yang kurasakan saat ini." Keluhnya dengan wajah yang melayu.


Kedua sorot matanya terbuka kembali dengan sipit, setiap memikirkan wanita berambut unik itu, ia selalu mengingatnya dengan sikapnya yang buruk. Tapi... terkadang apa yang dilakukan oleh wanita itu terlihat lembut dan juga tulus.


Apapun keadaan yang dapat menyeret dirinya pada masalah, senyuman di wajahnya selalu terlihat. Wajahnya sama sekali tidak bisa satu pemikiran dengan hati. Mereka selalu bertolak belakang. Sehingga Hyunjae sama sekali tidak memahami setiap ekspresi yang ditunjukkan.


Seketika, ia mengingat kejadian di pusat perbelanjaan. Dimana untuk pertama kalinya ia melihat Lazel dalam keadaan seperti itu. Mengingatnya saja membuat wajahnya kembali memerah.


"Ngomong-ngomong... kulitnya itu sangat putih!" Ucapnya dengan rasa terkejut, "bagaimana bisa seorang wanita bisa terlahir secantik diaa!!"


"Eh?? Cantik?" Ucap tiba-tiba dari seseorang.


"??!!" Ia memalingkan wajahnya ke belakang dan melihat Lazel yang berdiri disana, "L-Lazel?"


Hyunjae merasa sangat terkejut setelah melihat siapa yang mendatangi dirinnya.


"Oh, aku paham." Wanita itu terlihat biasa.


"B-Bukan begitu! Maksudku-"


"Aku juga mengakui jika Heul adalah wanita yang cantik," selanya yang mulai berjalan ke arah Hyunjae. "Tapi... mengenai masalah kulit, sepertinya hanya aku dan Ian yang memiliki warna kulit yang lebih putih, lebih tepatnya pucat." Sambungnya.


Hyunjae memasang wajah bingung, "hah? Sejak kapan aku membicarakan Heul?" 


"Yah... lagipula memiliki warna kulit seperti kami terlihat aneh. Hidup seperti mayat." Tutur Lazel yang mulai memperhatikan kedua punggung tangannya sendiri.


Tubuh besar itu kembali meluruskan pandangannya sambil memperhatikan Gilver yang kembali ke atas, "irismu berwarna merah muda, serta bibirmu seperti darah. Wajahmu itu sangat sempurna Lazel." Ujar Hyunjae.

__ADS_1


Kepalanya seketika meninggi, "hm? Apa kau baru saja memujiku?"


"!!!!"


...◇• •◇...


Tanpa sadar sebuah kalimat terlontar begitu saja. Sehingga membuat dirinya berbalik merasa gugup dan juga malu.


"Hei hei, apa kau memujiku?" Kini Lazel beranjak dari duduknya dan semakin mendekati Hyunjae yang masih di dalam kolam, "Gilver~ kemari~" panggilnya pada kucing perak tersebut.


"Hei, jawab." Kini tangannya menyentuh salah satu pundak Hyunjae yang terlihat besar.


"T-Tangannya menyentuhku!"  Batinnya berteriak.


"Y-Ya! Kau puas?"


"Heee~ kau adalah orang kedua yang memuji diriku." Ucap Lazel.


"Hm? Siapa yang pertama?" Secara tiba-tiba kalimat Lazel barusan membuatnya merasa penasaran pada orang pertama yang belum ia ketahui.


"Wonhae." Jawabnya singkat.


"Sudah kuduga!" Batinnya kesal, "hm?" Kini sesuatu telah membuatnya berpaling.


Hyunjae memperhatikan pakaian yang dikenakan Lazel, "Lazel... bukankah baju itu..."


"Oh, kau membelikannya bukan? Seleranya pas dengan keinginanku. Terima kasih."


"Tentu saja aku tahu. Tidak mungkin aku akan membelikanmu gaun yang seksi." Tuturnya kesal.


"Hah?! Kau pikir aku suka memamerkan tubuh?!" Kini emosinya mulai memuncak.


"Apa salahnya?!" Hyunjae kini merubah posisinya dengan menghadap Lazel dan meletakkan kedua tangannya di atas.


Tangannya kini menekan kedua pipi Hyunjae dengan kuat, "tentu saja salah! Aku tidak suka memperlihatkan tubuhku pada siapapun!"


"Ap-Apa maksudnya?!" Hyunjae berusaha melepaskan cengkraman maut itu dari wajahnya.


"Entahlah! Aku juga tidak memahaminya!"


"Jika kau menemukan seseorang yang kau cintai... sangat sulit untuk menyembunyikan apapun darinya." Ucap Hyunjae yang membuat Lazel menghentikan tindakannya.


"..............."


Kalimat Hyunjae kembali serius sehingga membuat tangannya melepaskan wajah pria itu.


"Haah~ aku tidak tahu itu kapan. Tapi itulah kenyataannya."


"Mustahil."


"Huh?"


"Kau pikir ada pria disana yang menyukaiku? Bahkan diriku lebih kuat dari mereka." Jelasnya yang duduk manis di pinggir kolam.


"Sifat inilah yang mungkin membuat pria disana tidak menyukaimu," batinnya. "Tidak akan ada yang tahu... seburuk apapun penampilanmu, sikapmu atau apapun itu," Hyunjae membuat wajah Lazel menatap dirinya.


"Kau spesial. Itulah kalimat singkat yang mereka berikan padamu." Sambungnya.


"Romantis sekali. Bahkan aku hampir melupakan sensasi ini." Ujar Lazel yang menatap sinis ke arah Hyunjae.


Wanita itu sama sekali tidak memahami perasaan lama itu. Yang dia rasakan hanya rasa sakit dari sebuah penderitaan yang menghantui dirinya. Dari kedua tatapannya yang menatap langit saja sudah dipastikan jika hidupnya terasa hampa.


Entah apa yang ada di pikirannya, tangan kanannya meraih kepala Lazel sehingga kedua tatapan mereka kembali bertemu, "bagaimana jika orang itu adalah... diriku." Ucapnya dengan wajah yang sulit di kondisikan.


"??!!" Yang Lazel rasakan hanyalah rasa kejutnya, serta perasaan lain yang belum diketahui.


"Apa pendapatmu?"

__ADS_1


Nafasnya begitu terasa. Tangannya yang masih basah memegang rambut peraknya. Serta tubuh besarnya itu meneteskan air yang membuat sebagian pakaiannya basah.


__ADS_2