Lost Feeling

Lost Feeling
Ten Years Of Openness


__ADS_3

Setelah semuanya kembali membaik, kini Lazel ingin memulai semuanya dengan kenyataan. Dimana kemungkinan kenyataan tersebut akan sulit untuk di terima. Namun Hyunjae yang hanya kegirangan atas kesadaran Lazel sama sekali tidak memikirkan apapun.


Sedangkan wanita beriris pink itu sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Karena semua ini termasuk dari salah satu tujuan akhirnya.


Bahkan ia sendiri tahu bahwa rahimnya mengalami kerusakan saat kecelakaan sebelumnya. Nezra yang sudah memberikan pemeriksaan disaat dirinya terbangun sudah menjelaskan semuanya.


Rasa sedihnya memang terasa, namun perasaan itu tidak akan berguna.


"Lazel kau memanggilku?" Ujar Nezra yang datang bersama dengan Hyunjae dan Hyunji.


"Ya," angguknya. "Ian, pulanglah. Kau pasti lelah."


"Tidak, aku masih mau bersamamu." Tolaknya.


"Kau bisa melihatku lagi nanti, jadi pulanglah."


"Baiklah, kalau begitu jaga dirimu."


Kepergian Ian membuatnya sedikit lega karena untuk saat ini ia tidak akan melibatkan Ian.


Sedangkan Hyunji baru saja datang dan ingin melihat keadaan Lazel. Dan kini yang tersisa hanyalah mereka bertiga, Lazel merasa jika ini sudah cukup baginya.


"Kurasa ini cukup panjang untuk terjadi, bahkan kami berdua harus memberikan kebohongan di setiap harinya." Jelas Lazel.


"Hm? Sebenarnya apa yang ingin kau-" Hyunjae mendadak terdiam dan mulai sadar apa yang ingin diucapkan Lazel. "Lazel... jangan bilang kau..."


"Jangan menghalangiku, Hyunjae." Sahutnya.


"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Nezra.


"Ibu, atau lebih tepatnya adalah Nona Pietra," kini di balik topeng yang selalu ia kenakan mulai nampak jelas apa yang selama ini dia sembunyikan. "Aku dan Hyunjae. Kami berdua tidak pernah berniat untuk saling menyukai, melainkan saling memanfaatkan."


"L-Lazel?!" Hyunji terkejut dengan apa yang dikatakan Lazel pada Ibunya.


"A-Apa maksudmu..."


...◇• •◇...


"Aku menolak."


"..............." melihat dari wajahnya saja ia tahu jika gadis itu akan menolak tawarannya. "Kalau begitu ayo buat kesepakatan."


"????"


"Aku akan mencari sesuatu yang tidak kau ketahui, sebagai balasannya, penuhi permintaanku."


Wajahnya pun mulai bereaksi, "kematian Wonhae?"


"Aku akan mencari tahu dalangnya."


"Aku tidak bisa mem-"


"Aku tidak pernah meminta kepercayaan darimu, setidaknya kau dan Hyunjae bisa berbicara terlebih dahulu."


Tindakan keluarga besarnya cukup melewati batas, setidaknya yang dia inginkan hanyalah hidup seperti biasa tanpa usikan dari orang lain. Namun ternyata semua itu salah, sulit untuk berubah jika sudah memiliki benci dari awal.


Sesuai dengan saran sebelumnya yang dia dengar dari seorang pria yang merupakan Ayah dari dua Putra dari keluarga Pietra. Ia berniat menemui pria bernama Hyunjae itu secara langsung.


Setelah memikirkannya berulang kali, apa yang dia lakukan saat ini tidak akan pernah dibayangkan oleh banyak orang.


"Kita hanya perlu berpisah saat aku berhasil membangun sebuah saham di Amerika." Jelasnya.


"Sebagai balasannya aku akan menjadi sosok yang akan menelan uangmu."


"Tenang saja, aku akan menyiapkan segalanya. Tapi kau harus menyetujui hal ini."


"Apapun untuk uang." Seringainya.


"Dan aku tidak ingin kau ikut campur pada setiap urusanku."


"Urusanmu?" Tawanya, "hei~ aku hanya mencintai uangmu saja~"


Padahal baru saja ia kehilangan sosok yang amat berharga dalam hidupnya, lalu datang seseorang dan melamar dirinya dengan setumpuk kesepatakan. Demi merubah dan juga membalas dendam, ia pun rela mengorbankan apapun demi tujuannya.


Mudah saja, jika Adam tidak berhasil menangkap pelakunya, setidaknya masih ada kesepakatan lain yang dia buat bersama dengan Hyunjae. Setidaknya mereka hanya perlu melakukan drama panjang yang mungkin akan menyeret mereka ke dalam masalah.


Sehingga mereka melakukan pernikahan dan mulai membuat keluarga yang palsu.


...◇• •◇...


Baru saja semuanya merasa senang dengan kembalinya kesadaran Lazel. Tapi dalam seketika wanita itu kembali membuat situasinya menegang.


Bahkan setelah mengatakan semua itu, Lazel masih bisa berada di keadaan tenang dan seolah-olah semuanya memang akan berakhir disini.

__ADS_1


Suara langkah kaki mendekatinya dengan cepat lalu sebuah tamparan keras mengenai pipi kanannya.


"APA KAU SADAR ATAS APA YANG KAU KATAKAN?!" Teriak Nezra yang memenuhi ruangan itu.


"Tentu saja." Jawabnya santai. Meskipun begitu, baru kali ini dirinya melihat emosi Nezra yang tak tertahankan. Lagipula hal ini sudah wajar terjadi setelah apa yang mereka jalani hingga saat ini.


"Kau!-"


"Ibu! Menjauhlah!" Ujar Hyunjae yang menghalangi Ibunya untuk mendekat ke arah Lazel, "aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Lazel."


"Hyunji! Mengapa kau terdiam, dia-" Nezra terkejut setelah diberikan reaksi oleh Hyunji. "Hyunji mengapa kau-tunggu, jangan-jangan..."


"Aku sudah mengetahuinya." Ucapnya dengan wajah yang menunduk.


Awalnya Nezra menganggap bahwa semuanya adalah kesalah pahaman saja, namun siapa sangka jika kepercayaannya selama bertahun-tahun seketika harus rubuh dan menjatuhi dirinya sendiri. Padahal apapun yang dia lakukan demi Lazel. Apalagi dirinya sudah menganggap wanita itu sebagai anaknya sendiri.


Kini... Nezra mulai merasakan sebuah sakit yang hampir merobek perasaannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa bertahun-tahun lamanya yang terjadi hanyalah sebuah settingan atau drama.


"Waktumu hanya sampai sembuh total, lalu... menjauhlah dari Hyunjae." Ujar Nezra lalu meninggalkan mereka begitu saja.


"Ya, aku mengerti."


...◇• •◇...


"Mengapa kau mengatakannya pada Ibu? Apa kau tidak berpikir bahwa baru saja kecelakaan meninmpa mu,"


"Kau mengatakan semuanya seolah-olah dapat mengatasinya dengan mudah. Dan lagi, aku tidak menyangka jika kau dan Ayah juga memiliki kesepakatan lain,"


"Lazel, cobalah untuk berpikir-"


"Agar terus berbohong pada mereka?" Kini Lazel mulai membiarkan dirinya bersuara, "Melakukan drama yang memuakkan ini?"


"Kalau begitu jawab pertanyaanku, memangnya mau sampai kapan kau menginginkan situasi seperti ini?" Pertanyaannya cukup mudah, namun ia tahu akan mendapatkan jawaban seperti apa, dan itu sangatlah salah.


"Bukankah aku mengatakannya, jika aku dapat membangun saham di Amerika?" Jawab Hyunjae.


"Tidak, kau salah."


"Ha? Apa yang salah?"


"Kau mencintaiku bukan?" Kini secara terang-terangan ia menghakimi perasaan Hyunjae sendiri.


"..............."


"Mau hari ini, besok, lusa atau kapanpun itu, kau akan terus mengatakan hal yang sama. Karena kau akan berusaha untuk tetap menahanku, benar bukan?"


"..............."


"Berakhir sudah..." kini Lazel mulai menatap kedua tangannya yang terdapat beberapa luka gores. "Kurasa ini cukup."


Tap!


"????" Wajahnya mengadah ke atas dan melihat Hyunjae yang menggenggam pelan kedua tangannya serta memberinya tatapan lembut.


"Ibu sudah mengatakan sebelumnya, jika kau sudah sadarkan diri, kau diperbolehkan untuk pulang." Jelasnya.


"Pulang?"


"Ayo."


"A-Ah~ maaf, bukannya aku tidak mau. Tapi aku masih sulit untuk berjalan." Ujar Lazel sembari menahan perutnya.


"M-Maaf, aku begitu bersemangat karena melihatmu yang sudah sadarkan diri."


"Bersemangat apanya? Kau juga tidak mendapatkan apapun jika aku terbangun."


"Tidak, kau salah."


"Hm?"


"Aku bisa menghabiskan waktu berdua denganmu, bukankah itu menyenangkan."


"Haha~ candaan yang bagus."


...◇• •◇...


"I-Ibu dengarkan ak-"


Bruak!


Tangannya kecilnya membuka kedua daun pintu itu dengan kasar.


"Dasar kau bajing*n! Bagaimana bisa kau ikut membohongiku!" Ucapnya langsung dengan wajah yang berurat-urat.

__ADS_1


"Nezra, bisakah kau mengetuk pintu-"


"Adam! Mengapa kau membohongiku?! Kau pikir sepuluh tahun adalah waktu yang singkat?! Waktu yang sebentar?!"


"Aku tidak menyangka jika selama ini kalian memainkan drama di belakangku!"


Di dalam sebuah ruangan khusus yang sering digunakan Adam untuk mengerjakan pekerjaannya. Nezra mendatangi Suaminya sendiri dengan bentakan yang amat kuat, bahkan Hyunji sendiri sedikit kesulitan untuk menangani Ibunya.


"Jadi Lazel sudah mengatakannya..." lirih Adam.


"Kalian membohongiku... padahal sudah berulang kali aku melihat wajah senang Lazel saat bersama dengan Hyunjae,"


"Tapi ternyata kalian mengetahuinya jika hal itu adalah kebohongan, namun kalian tetap melakukannya hingga sejauh ini,"


"Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan? Dan mengapa kalian melakukan ini..."


"Hyunji, tinggalkan kami." Adam beranjak dari duduknya dan mulai berjalan ke arah Istrinya dan juga Putranya.


"A-Apa Ibu akan baik-baik saja?"


"Aku akan menanganinya."


Sesuai permintaan dari Ayahnya, Hyunji pun meninggalkan ruangan itu dan membiarkan kedua orang tuanya saling bicara.


...◇• •◇...


Kini tubuh putih itu terdapat memar merah dan luka-luka akibat kecelakaan sebelumnya. Bahkan hampir di setiap wajahnya terdapat plester yang menutupi luka kecil. Bibir merahnya juga mendapatkan luka sobekan yang cukup sakit, oleh karena itu Hyunjae akan berhati-hati saat mengajak Lazel berbicara.


Saat ini... Lazel akan sulit menggunakan kedua kakinya untuk berjalan. Reruntuhan batu membuat kedua kakinya mati rasa sehingga berdampak pada bagian rahimnya.


Wanita berambut perak itu hanya terdiam di atas kursi roda yang saat ini di dorong oleh Hyunjae.


"????" Ia telah berulang kali melihat tangannya yang terus bergerak menyingkirkan rambut-rambutnya.


"Lazel."


"Hm?"


Hyunjae menghentikan pergerakannya dan berjalan ke hadapan Lazel, lalu meraih sesuatu dari sakunya.


Sebuah pita kupu-kupu berwarna biru malam dengan titik salju di kedua sayapnya mulai ia letakkan pada punggung kepala Lazel dan merapikan sedikit rambutnya.


"Mengapa ada bersamamu?" Tanya Lazel.


"Aku sering menggunkannya saat di kantor."


"Ha?"


"Bukankah kau pernah bilang jika rambutku mulai memanjang? Jadi aku menjempitnya saja dengan pita ini."


"Bukankah kau hanya perlu memotongnya saja?"


"Kurasa modelnya akan jauh lebih baik jika kau yang memotongnya."


"Aku tidak bisa memotong rambut."


"Benarkah?"


"Yaa."


Keduanya tiba-tiba terdiam dan situasi menjadi canggung.


"K-Kalau begitu ayo pulang."


...◇• •◇...


Suara bantingan terdengar jelas dari ruangan yang tertutup rapat itu. Semua pelayan sama sekali tidak memberanikan diri untuk memasuki ruangan tersebut.


Sedangkan Hyunji khawatir pada situasi di dalam sana. Ia sangat yakin jika saat ini Ibunya sedang melampiaskan amarahnya pada Ayahnya. Awalnya Hyunji tahu jika akhirnya akan menjadi seperti ini, namun ia tak menyangka akan separah ini.


Lazel memang tidak bisa di prediksikan,  wanita itu bisa saja membuat situasi berubah menurut ucapannya.


"Hm?"


"T-Tuan dan Nona besar berhenti."


Cklek!


Hyunji melihat Ibunya yang keluar dengan nafas yang menderu.


"I-Ibu!"


"Hyunji... kumohon jangan bohongi Ibumu lagi. Apa benar alasan lain Lazel melakukan ini demi membalas dendam pada keluarga besarnya?"

__ADS_1


"Y-Ya itu benar."


"Lain kali... mendengar tentang keluarganya, dari Lazel secara langsung."


__ADS_2