
Meskipun keduanya sama sekali tidak mengucapkan perjanjian apapun, namun pada awalnya Lazel lah yang membuat kesepakatan tersebut. Dengan adanya kesepatakan itu, maka ia akan menuruti permintaan atau permohonan wanita itu. Ditambah dengan bayaran yang akan diberikan, oleh karena itu Hyunjae tidak mungkin akan melepaskan Lazel begitu saja.
Lagipula Lazel harus menuai apa yang sudah dia tanam. Entah dalam kondisi serius atau bercanda, namun Hyunjae akan tetap menanggapinya, sesuai dengan apa yang diucapkan Lazel padanya.
Tirai yang sudah terbuka lebar itu memperlihatkan cahaya mentari menerangi suasana ruangan tersebut meskipun jendela masih tertutup rapat. Pendingin ruangan masih menyala hingga membuat suasannya lebih sejuk.
Saat ini... Lazel yang ingin segera menghilang dari sana, saat ini tidak mampu untuk bergerak sedikit pun. Dengan tubuh serta tangan besar yang dimiliki oleh Hyunjae, ia menggunakannya untuk mengunci Lazel ke dekat tubuhnya, dimana ia saat ini sedang memanggulnya.
Hyunjae menggunakan lengan kirinya untuk menahan bokong Lazel, sedangkan lengan lainnya ia gunakan untuk menahan punggungnya.
Kedua matanya terlihat melebar dan menatap Hyunjae yang lebih rendah darinya, "k-kuat!"
Lazel tidak percaya jika Hyunjae mampu memanggul seluruh tubuhnya semudah itu. Hanya seperti itu saja sudah membuatnya sangat yakin jika kekuatan pada tubuh Hyunjae sangatlah besar.
Saat ini urat kekesalannya mulai terlihat di dahi, "lalu... apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Lazel yang saat ini masih bisa menahan emosinya.
"Kau akan menuruti segala permintaanku bukan?" Kini Hyunjae kembali menyatakan sesuatu yang sudah dia dengar dari Lazel sendiri, dan ia berniat mengulanginya lagi.
Mendengar kalimat yang tidak tepat dengan pemikirannya, tangan kanannya langsung meraih punggung kepala Hyunjae lalu ia dekatkan dengan wajahnya, "segala?! Aku hanya akan mengabulkan permintaanmu apa saja! Dan itu berlaku hanya satu kali kau tahu!"
"Huh t-tapi-"
"Jangan tapi dasar bajing*n, apa kau ingin menghalangi pekerjaanku lagi? Sehingga aku harus kembali di larut malam? Tidak, lebih tepatnya menjelang pagi. Apa itu yang kau mau?"
"Setidaknya biarkan aku bekerja! Aku hampir frustasi dengan tumpukan dokumen sehingga aku ingin membakarnya dalam sekejap!"
"Apa kau tahu, gara-gara kau Personal Selling yang mungkin berjalan di pagi hari harus tertunda di malam hari, dan bahkan setelah itu semua aku harus mengadakan pertemuan kedua dengan pada klien yang menginginkan benda kemarin."
"................." Hyunjae tidak memberikan jawaban atau kritikan apapun. Karena hampir semua yang dikatakan oleh Lazel benar apa adanya. Justru saat ini moodnya mendadak turun sehingga raut wajahnya sedikit sayu serta kedua telinga yang menurun.
Memangnya dia hewan?
"Maaf." Ucap Hyunjae, lalu menurunkan Lazel dari kedua tangannya.
Melihat ekspresi Hyunjae, kini membuat dirinya bersalah, "apa perkataanku tadi sangat kasar?" Pikir Lazel yang kembali khawatir pada sikap Hyunjae.
"Kalau begitu hati-hati di jalan." Ujar Hyunjae yang meraih piyamanya yang terkapar di atas lantai.
"..............." tangannya mulai meraih ganggang pintu dan melangkahkan salah satu kakinya. "Kau bisa meminta apapun saat pekerjaanku usai, setidaknya tunggulah hingga aku selesai dengan beberapa urusanku." Ucapnya lalu meninggalkan kamarnya begitu saja.
"H-Hm?" Sepertinya kepergian Lazel adalah sesuatu yang patut di syukuri, karena saat ini Hyunjae tidak dapat menahan rona merah di wajahnya serta di kedua telinganya.
...◇• •◇...
Tangannya menggenggam stir dengan kuat dan erat, hal itu sebagai mewakilkan bagaimana perasaannya saat ini. Dirinya bahkan tidak tahu, apakah Hyunjae menyadari bahwa ia merasa canggung setelah malam itu.
Pertama saat di mala hari, dimana mereka sedang melakukan perjalanan pulang. Saat itu Hyunjae mengucapkan beberapa kata yang membuatnya habis terguncang, ditambah dengan ekspresinya yang sedikit menyengat.
Kedua, bagaimana bisa ia mengizinkan pria itu untuk tidur bersamanya. Karena rasa kantuk yang luar biasa membuat dirinya tidak bisa berpikir dengan baik. Dan saat ia terbangun di malam hari karena merasakan sesuatu yang dingin di dahinya.
Dan pada saat itu yang terjadi adalah... ia menemukam sosok pria bertubuh besar tengah tidur menghadap dirinya dalam jarak yang sangat dekat, posisi tidurnya yang lebih tinggi dari Lazel membuat pria itu tidur dengan mengecup dahinya.
Lazel tidak tahu apakah itu di sengaja atau tidak? Dirinya juga sedikit terkejut jika bibir Hyunjae memiliki sensasi dingin.
__ADS_1
"Aarghh! Berhenti memikirkan sesuatu yang tidak penting!"
Kakinya menginjak gas lalu melaju cukup cepat dibandingkan sebelumnya.
...◇• •◇...
"Selamat pagi Vicy~" seorang pria dengan jas rapi itu melambaikan tangan ke arah seorang gadis.
"Gyuu, selamat pagi juga."
Gyuu memperhatikan sekitar, lalu memgang lengan kiri Vicy agar mendekat padanya, "hei, apa Bos sudah tiba? Aku tidak melihat mobilnya di-"
"Ada apa mencariku? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya seorang wanita yang berdiri di belakangnya dengan tatapannya yang datar.
"Hik!" Gyuu terkejut melihat kehadiran Lazel yang baru saja dibicarakan saat ini berada bersama mereka dengan beberapa dokumen di tangannya, "Vicy! Mengapa kau tidak memberitahuku jika Bos ada disini!" Bisikannya cukup terdengar oleh Lazel.
"Diamlah! Itu salahmu sendiri karena pagi-pagi mencari Bos tanpa kepentingan!" Vicy menyingkirkan Gyuu darinya sehingga membuat pria berambut kuning itu terpental ke bawah, "Bos? Itu..." Vicy sedikit bertanya-tanya mengenai tumpukan kertas yang dbawa oleh Lazel tanpa bantuan siapapun.
"Aku ingin kau membuat salinan ini, masing-masing ada dua lembar. Bisa bukan?"
"Bisa, tapi... biasanya Anda mengandalkan Byul. E-Eh! Bukan berarti saya tidak mau, h-hanya saja-"
"Hahaha~ Byul adalah Asistenku sekaligus Sekretaris. Sesuai dengan ucapanmu, seharusnya ini adalah pekerjaannya, tapi saat ini aku memberikan tugas penting lainnya, oleh karena itu aku akan mengurusnya sendiri." Jelas Lazel sembari menyusun dokumen itu di atas meja Vicy.
"Ahaa~ seperti itu..." Vicy menarik kerah Gyuu yang masih bersantai di atas lantai. "Jika Anda membutuhkan sesuatu, panggilah Gyuu untuk sementara waktu. Sepertinya Anda hanya akan lebih mudah kelelahan jika harus melakukan semuanya sendiri." Jelasnya sambil tersenyum.
"Oh! Ide bagus."
"Huh? Ada apa? Apa yang bagus?"
...◇• •◇...
Beberapa saat yang lalu, salah satu staff yang berada di lantai utama membawa tiga orang yang memiliki pertemuan dengan Nona Direktur Perusahaan Aplic Pietra. Mereka tak lain adalah orang-orang yang akan membeli perhiasan Lazel saat melakukan Personal Selling pada kemarin malam.
"Whooa... mereka pasti orang kaya." Lirih Vicy yang memperhatikan tiga orang yang baru saja keluar dari lift bersamaan dengan staff yang bekerja di lantai utama.
"Biasanya mereka akan membeli perhiasan dari perusahaan ini dengan harga yang dapat membuat rekening menjerit," Gyuu mulai kembali saat membantu Vicy membuat beberapa salinan dokumen, "tapi... mereka akan mendaur ulang perhiasan tersebut menjadi barang-barang mewah lainnya dan mencampurkan perhiasan yang dia beli dari Bos. Meskipun nilai jualnya rendah dibandingkan harga beli pada perhiasan perusahaan ini, setidaknya mereka bisa menghasilkan barang sepuluh atau lebih sehingga bisa mendapatkan untung yang sama pada saat melakukan pembelian pertama." Gyuu memberikan penjelasan yang dia ketahui sesuai dengan pengetahuannya.
Setelah memberikan penjelasannya pada Vicy, ia mulai dapat melihat jelas jika tepat di kepala Vicy asap-asap konslet mulai terlihat.
"K-Kau baik-baik saja?!" Tanya Gyuu sambil mengguncang kedua pundak Vicy.
"H-Hahaha aku baik-baik saja," Vicy mengangguk dan mengusap wajahnya. "Tapi, bagaimanapun juga mereka sangat luar biasa, terutama Bos."
"Yaah~ pada mulanya penjelasanku mengenai orang itu masih memberikan kalimat mungkin. Karena setiap keterampilan tergantung dari pembuatnya,"
"Setelah melihat gaya mereka, sepertinya sangat mudah untuk menebaknya jika mereka memiliki salah satu orang yang dapat diandalkan dalam hal yang berkaitan dengan emas."
"Lalu? Bagaima dengan perusahaan ini?" Tanya Vicy dengan wajah polos yang menyebalkan.
Gyuu menyandarkan punggungnya pada kursi yang dia duduki, "hei, kau bekerja disini sudah bertahun-tahun bukan? Bagaimana kau tidak bisa memikirkannya." Ujarnya dengan wajah yang sedikit dibuat-buat.
"Oh... iya."
__ADS_1
"Tanggapan macam apa itu?!"
"Haha~ aku lupa, aku juga mulai mengingat dimana Bos pernah membuatkannya untuk Tuan Direktur." Ujar Vicy sembari menyusun salinan dan juga berkas asli di tempat yang berbeda.
Gyuu yang awalnya terlihat tidak bersemangat, seketika membangkitkan tubuhnya dan menatap ke arah Vicy, "T-Tuan Direktur?"
"Tentu saja."
"Hyunjae..."
"Kyaa! Mereka sangat romantis!"
".................."
...◇• •◇...
"Kalau begitu kita sepakat."
"Sepertinya Anda masih sedikit gugup mengenai hal ini, tapi syukurlah atas kerja keras yang Anda lakukan, semuanya menjadi mudah." Ucap salah satu tamunya dengan nada yang ramah.
"Y-Ya... sebenarnya hal seperti ini harus dengan kehadiran Tuan Hyunjae," Lazel merasa tidak nyaman karena mungkin membuat ketiga pelayannya merasa terbebani. "L-Lagipula aku tidak suka jika pria otot itu ikut campur dalam pertemuan." Batinnya kesal.
"Kalau bisa, apakah Anda bisa menghitungnya kembali? Karena yang menentukan nilainya adalah Perusahaan Pusat, sehingga saya tidak bisa melakukan apapun termasuk membantu kalian jika sesuatu terjadi."
"Baiklah~ baiklah~"
Lazel yang duduk di hadapan mereka bertiga hampir merasa mual dengan angka nol yang begitu panjang sehingga hanya menyisakan dua angka dengan tanda koma di antara angka tersebut. Belum lagi harga barang lainnya.
"Sesuai harapan kami, perhiasan yang Anda perlihatkan pada Personal Selling di malam hari senilai... dua triliun."
...◇• •◇...
"Oh, mereka mulai keluar." Ujar Vicy pada Gyuu.
"Bos juga!"
"Shh! Nanti Bos akan mendengarmu!"
Saat ini mereka berdua sangat penasaran terhadap pertemuan itu sehingga harus melakukan pengintaian dengan mengintip dari celah-celah tertentu.
Mereka menduga bahwa Bos mereka sedang mengantar kepergian ketiga pelanggannya.
...◇• •◇...
"Hahaha! Jika akan coba mengajak Bos dan juga Kara yang kau sebut Kakak-UWAAAA!" Gyuu yang awalnya berbincang dengan santai seketika terkejut saat melihat seseorang.
"Ada apa?!" Vicy seketika histeris karena Gyuu meninggikan suaranya sehingga membuatnya hampir terjatuh dari kursinya.
"W-Wajah bos! T-Terlihat tak berdaya!" Ucap Gyuu yang memperhatikan Lazel yang baru kembali ke lantai itu.
"A-Apa Bos baik-baik saja?" Tanya Vicy dengan khawatir.
Sedangkan apa yang ada dipikiran Lazel saat ini, "n-nol... angka itu tidak memiliki nol... a-apa aku bisa membeli pabrik ramen dengan dua angka berkoma?"
__ADS_1